Senin ini, Arya benar-benar masuk sekolah. Bahkan hingga sudah memasuki istirahat yang ke-2.
Meski beberapa jam lalu, kejadian si Maling terjadi. Maling tadi hanya dua. Ternyata, mereka masihlah remaja 18 belasan tahun— tetangga kampung dekat jalan raya sana. Lalu salah satu fakta adalah, rumah yang 'dimaling' adalah rumah Rafli. Tak heran lagi. Rumahnya memang yang paling mewah di rt 01. Untuk kabar Maling saat ini, Arya tidak terlalu tahu. Ia langsung tidur pulas setelah kejadiannya.
Tentu, alasan kuat adalah karena Bunda-nya. 'Arya harus sekolah, sekolah itu penting. Apalagi sekolahnya cuma deket, satu kampung'. Yah, ia sudah terbiasa sebenarnya. Dalam hampir satu semester ini, Arya bahkan belum mengambil libur sama sekali. Meski dirinya berjenis kelamin laki-laki yang selalu dikaitkan dengan 'pemalas', tetapi untuk urusan berangkat sekolah; dirinya berbeda.
"Wah, padahal ngeri, tu, Yak. Lo lawan malingnya langsung?"
Untuk yang ke-7 kali, pertanyaan yang sama ditunjukkan pada Arya.
Dia menganggukkan kepala dengan mantap. Daripada keluar kelas, lebih baik duduk di dalam saja sambil mengobrol dengan teman-temannya.
"Iya, Pal. Ngeri, 'kan? Yah, meski gue cuma bagian yang dudukin tubuh si Maling, biar gak kabur aja." Arya berujar. "tadi, tuh, pokoknya Billa yang paling keren. Lo kalau lihat, buhh … sampe gak berani lagi natap tu perempuan."
Arya dapat menunjukkan bagaimana kuat dan hebatnya Billa menghadapi maling; menggunakan ekspresinya. Kentara jelas bahwa Arya juga kagum terhadap salah satu temannya tersebut.
"Tapi, Billa gak apa-apa, to, Yak?" Rehan— siswa tampan yang masuk sebuah klub sepak bola bertanya. Laki-laki itu baru saja duduk pada kursi yang diambil dari bangkunya. Mendekatkan pada meja Arya, agar dapat lebih mudah menjangkau obrolan.
"Billa gak apa-apa. Gak ada yang serius kata bunda gue," jawab Arya enteng.
Di sampingnya, Bagas menganggukkan kepala. Tidak ada Rafli di kelas ini. Orang satu itu benar-benar izin tak masuk sekolah.
"Oh, syukur, deh. Orangnya baik meski caranya sedikit bar-bar, sebenarnya," timpal Rehan.
"Lo suka?"
Semua tatapan anak laki-laki lantas tertuju hanya pada Rehan.
"S–suka!? Enggak, lah!" Rehan menyanggah cepat.
"Padahal kita tanyanya nyantai, tapi jawabnya langsung gugup gitu," ucap Nauval.
Rehan menghela napas. "Ya, kalian kayak nuduh."
"Ayun!" Bagas adalah orang yang memanggilnya. Pas saja ia melihat Ayun yang berjalan di dekatnya, mungkin ingin keluar kelas.
"Apa?"
"Lo kemarin kenapa gak ikut kejar Maling?"
"Kejar maling? Emang tuh cewe bangun?" Kini malah Arya yang menimpali Bagas. Jam dua tadi, tak sekalipun, tuh, Arya melihat Ayun.
Bagas menepuk punggung sahabatnya. "Iya. Ayun ikut. Dia juga ditelepon Billa, tapi gak tahu kenapa malah gak ikut kejar Maling. Milih pulang si Ayun." Bagas kemudian mendongakkan kepalanya menatap Ayun yang masih berhenti. "kenapa, Yuk?"
Ayun meneguk saliva pelan. "Aku mau kejar, sebenarnya. Tapi, aku sadar bukan siapa-siapanya."
Eh, buset!
***
Selepas pulang sekolah, Arya mendapati sebuah mobil terparkir di samping rumahnya. Jadi, anak laki-laki itu terus bertanya dalam hati.
Tamu?
Ia ingat, bahwa bunda-nya pagi tadi bilang akan bekerja— seperti biasa. Tapi, mengapa bisa ada tamu? Siapa yang menjamu? Lebih tepatnya, bagaimana bisa pintu rumahnya terbuka? Bukankah bunda-nya sedang bekerja?
Arya merasakan detak jantungnya mulai bertalu dengan cepat. Selama 17 tahun ini, Arya hanya melihat mobil terparkir di samping rumahnya, 3 kali. Semuanya adalah deretan teman-teman bunda-nya yang berkunjung ketika hari raya. Selain 3 kali itu, hanya beberapa tetangga atau tamu tetangga yang izin memarkirkan mobil sejenak.
Begitu masuk ke dalam, kemudian mendapati ruang tamu sederhana. Sudah ada beberapa cemilan di atas meja. Lalu … ada seorang anak laki-laki seusianya? Juga ada bunda, ternyata. Kemudian, seorang pria 40 tahunan yang tak Arya kenali.
"Oh, Arya udah pulang?"
Arya menganggukkan kepala.
"Sini, Yak. Salam dulu sama Pakdhe," lanjut Dinda.
Kembali, Arya mengangguk. Lalu mengarahkan pandangan ke arah pria tadi, yang sebenarnya terasa baik. Arya lantas membungkukkan sedikit punggungnya, lalu menegakkan tubuh kembali. Menyalimi tangan pria yang dipanggil 'Pakdhe'. Sebagaimana sopan santun yang melekat pada orang-orang Jawa.
"Sana, ganti baju dulu, Yak." Dinda berucap setelahnya.
Arya mengikuti, menganggukkan kepala dan berjalan ke belakang. Tak lama setelahnya, Arya kembali lagi di ruang tamu; dengan sudah pakaian yang berbeda. Kaos warna hitam dengan tulisan 'Piye Kabare? Enak Jamanku, to'. Kemudian celana jeans biasa yang panjangnya di atas betis.
Arya mengambil kursi dari ruang makan, kemudian menaruhnya di dekat bunda. Duduk di sana, lalu terdiam.
"Wah, sudah besar, to, ternyata, ki." Pria yang sejak tadi dipanggil Pakdhe mengucapkan rasa kagumnya. "dulu, terakhir ketemu Pakdhe, waktu kamu masih 4 tahun. Inget ra, ya?"
Arya dengan pelan menggeleng. Ia tidak ingat, beneran.
"Kok gak inget, piye iki? Itu, loh, Yak. Pakdhe yang ajak jalan-jalan ke Kaliwangi," ujar Dinda mengingatkan.
Tak selang lama, Arya langsung mengangkat kepalanya. Ekspresi yang biasa orang-orang tampilkan ketika teringat sesuatu. "Oooh … Pakdhe Sules, ya, Bund?" Ia menatap bunda-nya. Wanita itu menganggukkan kepala.
"Ha-ha, masih ingat ternyata, ya, Le." Pakdhe Sules menimpali hal itu.
Kemudian, perbincangan lanjut kembali. Dinda dan Pakdhe Sules bercerita banyak hal. Terkadang Arya hanya mampu mendengarkan, karena tidak tahu apa-apa.
Rasanya seru, menikmati hari yang ditemani senja, dengan beberapa cangkir teh hangat. Kemudian camilan lezat bikinan Dinda.
Ya, tidak hanya Arya sebenarnya. Ada laki-laki seusianya juga di situ, ia hanya terdiam dan menjawab seperlunya jika ditanya. Tampak tak pandai bersosialisasi.
Lalu, hingga tanpa terasa Pakdhe Sules yang menyadari bahwa hari telah semakin larut. Berhenti sejenak karena Magrib, kemudian berlanjut sebentar. Karena setelahnya, Pakdhe Sules mulai berpamitan.
Ya, Arya bahkan tidak sadar. Bahwa kini hanya tinggal dirinya, bunda-nya, dan seorang laki-laki seusia Arya. Pakdhe Sules telah pulang, dengan mobilnya tadi. Karena Pakdhe merupakan seorang sopir pada sebuah rumah orang kaya. Jadi, beliau harus dengan cepat pulang.
Dinda merangkul anak laki-laki di sampingnya, kemudian menatap ke arah Arya.
"Yak, kenalan dulu," ujar Dinda tersenyum.
"Kenapa harus kenalan?" Arya tidak seharusnya balik bertanya seperti itu. Karena setelahnya, ia mendapatkan pukulan ringan di kepala.
"Lah, kalian, 'kan, seumuran, ta, Yak. Kenalan!" Kini Dinda melepaskan rangkulannya. Menepuk punggung anak laki-laki itu. Membuatnya mendongak menatap Dinda, tetapi kemudian beralih ke arah Arya.
"Wahyu Andhika Kusuma," ucapnya memperkenalkan diri.
"Oh …." Meski laki-laki di depannya tidak mengulurkan tangan, tetapi Arya nekat melakukannya. Pria itu menarik tangannya, kemudian mengajak berjabat tangan.
"Arya Pratama." Arya tersenyum. Kemudian beberapa detik setelahnya, jabat tangan itu selesai.
"Jadi, gue panggil apa?" Lantas Arya setelahnya bertanya.
"Wahyu, Yak." Ini adalah jawaban Dinda.
"Wahyu?" Arya menatap ke arah laki-laki di depannya. Kemudian, menggeleng. "gak, gak, Bun. Aryak panggil Andhika aja, biar keren."
Suka-suka Arya, deh.