Arya baru saja mengerjakan tugas sekolah. Mungkin karena itulah, otaknya lancar jaya.
Nasihat dari Arya langsung Rafli patuhi. Ia membuang cangkulnya ke belakang, sembarang. Kemudian menatap ke arah depan.
Posisi keduanya berada di samping mobil yang terparkir. Menatap ke arah maling tadi, yang berjalan misterius.
"Terus, gimana?" Rafli bertanya. Nadanya seolah tengah 'melunjak', atau terburu-buru. Komat-kamit sebab takut maling akan kabur.
"Dia kayaknya mau ke depan sana. Gimana kalau telepon Bagas? Rumahnya ada di sana, dia bisa hadang."
Saran dari Arya diterima. Rafli langsung menelepon Bagas, dan tak hampir dua menit, urusan itu telah selesai. Beruntung Bagas juga sedang mengerjakan tugas, sehingga masih terjaga.
"Tuh maling, kayaknya lagi nunggu jemputan. Kawanannya," komentar Arya. Terus memperhatikan maling yang sudah cukup menjauh, berdiri di pertigaan gelap gulita.
Arya balik memandangi Rafli. "Raf, terus polisinya?"
Pria itu membenarkan cara berdiri. Tersenyum lebar. "Ya, tentu aja sebentar lagi datang," ucapnya yakin. Tapi, kemudian pria itu kembali mengawasi maling yang masih berada di pertigaan sana. Berada di dekat Arya, keduanya seolah merupakan mata-mata. "Tapi, Yak. Apa gak apa-apa kita begini? Kenapa gak bangunin warga? Kayaknya, itu lebih simpel."
"Ya, gue mana kepikiran–eh!"
Mata kedua laki-laki itu langsung membelalak. Tak mengira, bahwa di pertigaan sana, terjadi suatu hal yang cukup ricuh.
Arya dan Rafli mengenalinya. Ya, dua orang berbeda gender itu sedang berusaha melawan maling yang tampak terkejut, juga khawatir.
Bagas ngapain bawa Billa!?
Arya dan Rafli langsung berlari ke arah pertigaan. Suara-suara yang dapat membuat beberapa orang terganggu perlahan mulai terdengar.
Rt 01 ini memang memiliki rumah yang berjajar, sehingga dapat dengan mudah suara didengar.
Billa. Perempuan itu sungguh hebat bukan main. Rafli sampai tidak bisa berkata-kata lagi, saking kagumnya. Benar-benar. Penghargaan sabuk hitam pencak silat, memang tidak salah Billa miliki. Perempuan dengan rambut hitam terurai tersebut mampu membuat si Maling kewalahan.
Sepakan kaki bertubi-tubi, tubuh yang menghindar dengan lincah, lalu beberapa pukulan yang terus diarahkan pada bagian depan. Diakhiri dengan Billa yang berhasil membuat Maling kesandung dengan kakinya yang sengaja 'menyandung'.
Saat Billa ingin menendang perutnya, tiba-tiba saja—seorang pengendara motor memukul punggung perempuan itu dengan kayu. Membuatnya tersungkur ke blok latar begitu saja.
Itu sakit. Sangat.
Tapi, akan lebih sakit jika saja tadi; Bagas tidak dengan cepat mendorong tubuh pengendara motor. Sehingga pemotor itu sedikit kehilangan keseimbangan, dan berakhir tidak dapat dengan kuat memukul punggung Billa.
Rafli adalah orang yang langsung menolong Billa. Perempuan tadi telah sangat berjasa. Seperti halnya seorang teman yang melihat temannya benar-benar terluka.
Arya?
Laki-laki itu memilih untuk menduduki tubuh si Maling tadi— yang hendak bangun. Kemudian mengunci kedua tangannya yang sengaja dipelintir.
Kericuhan terjadi. Bahkan suaranya sudah benar-benar jelas di jam dua malam ini.
Empat remaja SMA itu melakukan tugasnya masing-masing. Hanya saja, terhalang oleh waktu, juga penerangan. Benar-benar gelap. Andai saja bahwa ini pagi hari, semuanya pasti dapat dengan sangat jelas terlihat.
Bagas. Laki-laki itu memukuli pengendara motor. Membuat pria dewasa dengan penutup wajah itu kewalahan. Tapi, begitu ada kesempatan, pengendara motor berhasil kabur dari pukulan Bagas.
Ia memperbaiki posisi dan menjaga kesemimbangab. Kemudian dengan motornya, ia serong ke samping kiri lalu melaju cepat.
Hanya saja, ternyata sudah ada sekitar tiga kepala keluarga yang menghadang. Menghalangi jalan pengendara motor itu tiba-tiba.
Keributan di pertigaan kampung ini; terjadi.
Saat ternyata, orang-orang sudah mulai menyadari dan bangun. Mereka keluar rumah masing-masing. Semakin banyak, dan semakin ricuh. Antara semangat mengebu-ngebu sebab adanya maling, dan tenaga yang baru saja terlelap dibangkitkan.
Tiga orang, lima orang, sepuluh orang, dan semakin bertambah. Beberapa di antara mereka mulai menangkap pengendara motor seakan sedang bermain 'kucing dan tikus'.
Kemudian beberapa di antaranya ikut membantu mengamankan si Maling—yang sudah pasrah dalam keadaan. Beberapa pula mengecek kondisi Billa yang punggungnya sempat terkena pukulan kayu. Kemudian ada pula, yang tak kebagian tugas dan memilih berdiri seraya menutup mulut. Membuat adegan kaget bukan main dan saling memberikan pendapat pada kawanannya.
Biasanya, bagian terakhir dilakukan oleh para ibu-ibu.
Tapi, seperti ibu-ibu kebanyakan.
Mama-nya Rafli, Mama-nya Arya, dan Mama-nya Billa langsung berlari berhambur pada anaknya masing-masing. Jelas, mereka panik.
Satu detik setelahnya, barulah suara sirine polisi terdengar. Ada sebuah mobil polisi dan dua motor polisi yang mulai parkir di dekat pertigaan ramai ini.
Bagas didatangi oleh Budhe. Wajah kental khas Jawa-nya sungguh kentara akan kekhawatiran. Wanita paruh baya tersebut langsung memeluk Bagas, yang selama ini selalu ia anggap anak sendiri.
"Bagas gak apa-apa, to, Le?" Budhe bertanya selepas pelukan itu berakhir.
Anggukan dibarengi senyuman menjadi jawabannya. "He'em, Budhe. Bagas gak apa-apa. Terus, Pakdhe mana, nggeh?"
"Pakdhe ikut nangkep sing mau nolongi si Maling-e, itu," jawab Budhe.
Bagas sekali lagi mengangguk. Tatapannya langsung ia arahkan ke depan sana, di mana Billa sedang dibobong oleh ayahnya. Kemudian ibunya, mengikuti dengan raut khawatir yang tak bisa disembunyikan lagi.
Sementara Rafli terus dibanjiri oleh perhatian Mama-nya yang hangat. Menanyakan kondisi, kabar, apa ada luka, apa tidak apa, dan sederet pertanyaan lain yang— jujur saja. Sebenarnya tak perlu ditanyakan.
Padahal putranya sedang berdiri utuh, sehat lahir batin.
"Gak apa-apa beneran, Ma. Aku juga tadi cuma berdiri aja, gak ikut-ikutan," kata rafli menenangkan.
Tapi, Mama-nya menggeleng kuat. "Nanti izin gak sekolah dulu. Kita ke rumah sakit, ya."
Kemudian di sampingnya, dua ibu dan anak saling berdiri berhadap.
Putranya menundukkan kepala dalam. Sementara, sejak tadi yang dilakukan Bunda-nya hanya berbicara panjang lebar.
Tahu apa yang Arya dapatkan pertama kali, ketika Bunda-nya datang? Itu adalah hadiah spesial.
Sebuah jeweran di telinga.
"Siapa yang nyuruh lawan Maling-Malingan begitu? Bilang ke bunda, 'kan, bisa, Yak. Beruntung kamu masih hidup. Kalau enggak? Uang PeIPe tahunan gak bisa bunda ambil lagi." Dinda memarahi putranya.
Tadi, Dinda benar-benar langsung bangun ketika ada suara beberapa tetangga yang keluar rumah. Apalagi saat melihat kamar putranya yang kosong dengan jendela terbuka. Tak bisa diuraikan bagaimana kekhawatiran ibu dari satu anak itu.
Lalu seperti biasanya, Arya hanya bisa terdiam. Jika dirinya hanya diam seperti ini, biasanya Bunda akan lebih cepat menyelesaikan sesi marah-marahnya.
Meski kali ini lebih cepat selesai. Dinda langsung menghentikan aktivitas mengeluarkan semua kekhawatirannya— saat seorang polisi berjalan mendekat. Yah, tampaknya, semacam interogasi dimulai.
Dinda tersenyum ramah sebagaimana seseorang yang menerima tamu.
"Selamat ... pagi, Buk, Dik. Boleh berbicara sebentar?"