Seseorang Misterius

1026 Kata
Oyen. Dia adalah kucing menggemaskan dengan bulu orange serta sedikit gradasi putih. Bulu-bulunya tidak terlalu lebat, dan dia termasuk terawat. Karena berada di tangan Ayunindya—seorang perempuan pecinta kucing. Akhir-akhir ini, kabar mengenai Oyen telah tersebar luas di kampung, terutama rt 01. Beberapa ada yang merasa iba, dan beberapa lupa merasa bahwa hal itu memang wajar. Diketahui, Oyen sudah menyukai Bandowoso—kucing jantan milik Mas Rafa—kakak lelaki Rafli. Kemudian, entah karena alasan apa, tiba-tiba saja Oyen menghilang. Ayu yang tahu kebiasaan itu tidak merasa terlalu panik. Ia tahu bahwa Oyen adalah kucing pintar yang tahu arah pulang seperti biasanya. Kepulangan Oyen satu hari setelahnya membuat Ayu kaget. Pasalnya, setelah dilihat ada beberapa tanda-tanda, Oyen dinyatakan sedang hamil. Jangan tanya bagaimana ekspresi Ayu kala itu. Ia bahkan sudah kalang kabut dan tidak tahu harus memikirkan apa lagi. Daripada memarahi kucing kesayangannya, Ayu malah menangis selama dua jam. Arya bahkan masih ingat ketika melihat wajah Ayu yang sembab. "Lo kenapa?" "Oyeeen …." Perempuan itu kembali menangis, dan malah masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Arya yang mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Aneh." Tidak berselang lama, berita mengenai Oyen dan Bandowoso yang melakukan hal tak senonoh pun, tersebar. Arya jadi mengerti, mengapa Ayu sampai menangis seperti itu. Bandowoso, dia kucing jantan kaya raya. Mas Rafa menitipkannya di rumah Rafli, karena istrinya—Mbak Lintang—alergi terhadap bulu kucing. Bandowoso hidup mewah. Bahkan, rumahnya bersinggah pun menjadi rumah termahal di rt 01 ini. Makanannya sudah level atas. Arya yang biasa membeli bakso satu mangkok dengan harga enam ribu rupiah, merasa kalah. Sekali makan, Bandowoso telah menghabiskan total lima puluh ribu. Hanya untuk sekali. Mas Rafa benar-benar totalitas terhadap kucing kesayangannya. Tapi, ya itu. Sekali lagi, Bandowoso merupakan kucing tajir melintir. Sikap kucing berbulu tebal dengan warna menyerupai emas tersebut sangat lah mirip dengan berandalan. Bedanya, Bandowoso terurus dengan baik. Perawatannya mengalahkan uang jajan Arya selama satu tahun. Hal yang membuat Ayu menangis adalah—karena Bandowoso playboy. Kucing jantan sok keren itu selalu bergonta-ganti pasangan. Pagi hari, Arya akan melihat Bandowoso dengan kucing mahal dengan bulunya yang sangat lebat berkilau. Kemudian, sorenya, kucing jantan itu sudah berganti lagi dengan—kucing cantik dengan bulu putih bersih. Belum lagi ketika malam hari tiba. Pasangannya sudah berganti. "Yak, jangan gitu. Lo gak kasihan sama Ayuk? Minimal sama Oyen gitu." Billa berkomentar dengan nada sinis. Meskipun tadi, ia baru saja akrab dengan laki-laki itu. Arya menghela napas. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Dia sudah kelewat batas, mungkin. "Maap, Yuk." Lalu perbincangan basa-basi di tempat nyaman itu berakhir. Arya dan teman-temannya mulai pulang ke rumah masing-masing. Kecuali dengan si Billa dan Ayu yang malah mampir ke rumah si Vanya untuk kemudian bermain khas perempuan. Hari Minggu memang akan terasa sangat cepat. Padahal baru saja merasakan liburan, maksudnya terbebas dari papan tulis sekolah. Tapi, rasa-rasa ini sudah malam. Yang artinya; besok pagi masuk sekolah. Kemudian Arya pun, harus dihadapkan oleh sebuah pekerjaan rumah. Ini adalah derita sebab mengerjakan tugas sekolah, bila besok sekolah. Tapi, masih mending. Urusan ini gampang Arya kerjakan. Entah karena otak yang sedang encer, atau tenaga yang terisi full. Soal menulis ringkasan salah satu buku fantasi pun, selesai. Kini Arya mengangkat kedua tangan ke atas. Duduk di kursi dan berada di depan meja belajar, sangatlah membosankan. Laki-laki itu meregangkan badannya beberapa kali. Lalu teringat akan beberapa kue dan segelas s**u hangat yang beberapa jam lalu telah Bunda siapkan. Namanya juga masih anak-anak. Bunda tadi sempat memperingatkan untuk segera diminum, tetapi Arya malah mengatakan, 'Nantiii, Bun.' Karena itulah Arya berdiri dari kursi. Hendak berjalan keluar dari kamar tidurnya. Namun, langkah langsung terhenti. Ketika mendengar suara langkah kaki yang dibarengi oleh gesekan semak-semak. Kemudian, suara kaki yang tersandung pot tanaman Bunda-nya samar-samar Arya dengar. Untuk kali ini, Arya mengurungkan niat awal. Laki-laki itu memilih untuk berjalan ke jendela kamarnya yang menghadap ke samping rumah. Membuka tirai sedikit, hingga melihat adanya seseorang berpakaian hitam dan penutup kepala menutupi semua wajahnya. Hanya ada celah untuk hidung dan mata. Maling? Arya ingin membangunkan Bunda-nya, tetapi tak tega sebab Dinda baru saja pulang lembur. Ia lantas memilih untuk membuka jendela kamar setelah maling itu dirasa tak lagi di sekitar samping rumahnya. Tak lupa membawa handphone yang entah mengapa— Arya malah menelepon Rafli. "Lo belum tidur, Raf?" Arya bertanya seraya mulai keluar dari jendela. Tubuhnya ini atletis, sehingga cukup mudah untuk dirinya keluar melewati jendela. Terjun di dekat beberapa pot tanaman samping rumahnya. [Belum, masih nge-game.] Arya mengangguk-angguk. "Eh, Raf. Di dekat rumah gue ada maling, nih." [Gak usah bohong. Ganggu aja.] "Yaelah, ini beneran. Gak mau percaya, ya gapapa–" [Ya kalau beneran ada maling, kenapa malah telepon gue!? Ya, telepon polisi, Yak!] Kini nada Rafli terdengar semakin panik. Arya yang sedang berusaha menyusul seseorang misterius tadi pun, harus berhati-hati. "Ya, itu. Masalahnya, gue gak hafal nomor polisi, Raf," jawab Arya pada akhirnya. Terus melihat pergerakan seseorang misterius tadi—yang mulai menjauh—sangatlah susah. Ini jam setengah dua malam, dan hampir semua lampu penduduk sudah dimatikan. Hanya menyisakan lampu temaram depan rumah. Mana di rt-nya belum ada pemasangan tiang lampu, lagi. [Yak, Lo di mana? Ini gue mau nyusul. Ini juga baru telepon polisi.] Dari nadanya pun, sangat kentara bahwa pasti; Rafli sedang berlari menuju pintu luar, kemudian membuka gerbang rumahnya. "Di dekat mobilnya Bu Atin, Raf. Lo juga sekalian bawa apalah, gitu. s*****a. Masa iya kita tangan kosong." [Oke.] Setelah itu, Arya mengantongi ponselnya. Ia berusaha berjalan di dekat mobil Bu Atin, karena sempat mengatakannya pada Rafli. Belum ada satu menit, yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Rafli dan Arya; keduanya bertemu dengan raut wajah menjadi serius. "Eh, dia habis nyolong rumahnya siapa?" Arya bertanya. "Ya, entah. Terus gimana? Malingnya mau ke pertigaan." "Raf, Lo bawa s*****a gak?" "Ini." Rafli menunjukkan cangkul yang dibawanya. "Wah, gila. Cangkul buat apa? Menurut insting gue, harusnya s*****a jarak jauh. Lo berani lari ke tuh maling, terus langsung adu tank?" Arya bertanya serius. Tapi, yang ia dapatkan hanyalah gelengan kepala dari Rafli. "Lagian, cangkul bisa buat orang isded. Minimal koma. Bahaya kalau kena maling, kita bisa ikut terlibat, Raf." Arya melanjutkannya. Rafli melongo tak percaya. Ini hanya perasaannya saja, atau tidak. Tapi, Arya yang ini … berbeda?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN