Sepedaan

1011 Kata
Pagi-pagi sekali. Lingkungan yang asri masih terasa begitu segar. Bahkan, embun-embun masih senantiasa bersinggah pada beberapa daun ranum. Meski matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Arya. Laki-laki yang masih berada di bangku SMA tersebut— sedang bersepeda bersama teman-temannya yang lain. Bukan teman yang jauh. Hanya satu sepermainan, satu sekolah, serta satu kampung saja. Seperti; Rafli, teman sekaligus tetangga yang rumahnya berhadapan. Kemudian, Bagas; laki-laki pindahan yang ternyata sudah dapat mengambil hati Arya, meski belum lama Bagas sendiri menetap di sini. Tiga orang tersebut bersepeda di pagi hari ini. Karena hanya mereka yang mau melakukannya. Anak-anak lain pastinya masih bersemayam di dalam selimut masing-masing. Arya dan yang lain mau bersepeda, juga karena ini adalah hari Minggu. Mereka tidak mau menjadi bagian dari Anggota Remaja Indonesia Malas Bergerak. Yang untuk saat ini, biasa disingkat dengan ARIMB. Arya, Rafli, serta bagas menggunakan sepeda mereka masing-masing. Bersepeda mengelilingi kampung, kemudian berhenti pada salah satu pemberhentian. Mereka menghentikan sepeda di poskamling. Tempat yang berada di dekat sawah, dan cukup dekat jika ingin menuju ke lapangan kampung— yang biasa digunakan. Mereka turun dan memarkirkan sepeda masing-masing. Kemudian memilih untuk duduk di dalam poskamling yang ukurannya cukup besar, serta nyaman. Kampung ini sudah lebih maju. Poskamling tak lagi hanya berbahan kayu dan serat yang mirip gubuk. Saat ini, poskamling rt 01— tempat Arya, sudah dibangun menyerupai rumah sungguhan. Dindingnya dari semen, yang kemudian dicat warna hijau. Lantainya pun dingin serta bersih, karena menggunakan keramik mengkilap. Poskamling ini juga bertingkat, dengan yang atas berfungsi guna menyimpan barang-barang kampung. Arya dan teman-temannya akan beristirahat di sini lebih dulu. Bagas dan Rafli menyelonjorkan kedua kaki. Kata Guru Olahraga semasa SMP, mengatakan bahwa, 'Sehabis olahraga, kaki gak boleh ditekuk. Lakukan pendinginan juga kalau habis olahraga.' Arya memilih untuk merebahkan tubuhnya di lantai keramik yang dingin. Mata laki-laki itu melirik sesekali ke arah Rafli. "Buset! Baru aja selesai sepedaan, tuh tangan usah megang hape," celetuknya heboh. Rafli tidak peduli. Toh, apa Arya rugi jika ia bermain ponsel? Tentu tidak. "Yak." Bagas memanggil pelan. Laki-laki itu bersandar pada dinding. "Hem? Apa?" "Lu udah makan, Yak?" Arya sekarang mengalihkan pandangannya ke arah Bagas. Laki-laki itu menggeleng meski tengah merebahkan diri. "Ya, belum lah, Gas. Kita aja mulai sepedaan jam lima pagi. Masa iya, gue makan sebelum jam lima? Bisa-bisa, bunda malah lempar semua pancinya ke gue." Bagas menganggukkan kepala mendengar hal tersebut. "Emang kenapa, Gas?" Kali ini Arya bangun dari posisi terlentang. Menjadi duduk bersila di hadapan Bagas. "Gak pa-pa, Yak." Arya menganggukkan kepalanya. Ia menolehkan kepala untuk menatap ke arah Rafli. "Raf, jadi gimana?" tanyanya santai. Ia sekarang duduk di samping Bagas. Ikut menyandarkan punggungnya ke dinding poskamling. Sehingga dapat berhadapan dengan Rafli secara leluasa. Laki-laki itu mengangkat kepala. Menjauhkan fokus dari layar ponsel. Rafli mengernyitkan dahinya. "Gimana apanya?" "Ya, itu, lohhh … itu, Raff." Arya tidak tahu harus mengatakan apa. Ia lantas menghembuskan napas pelan. "si Vanya. Lo, 'kan, akhir-akhir ini masih deket sama dia." Rafli mematikan layar ponsel, kemudian menaruh di sisinya. "Emang salah kalau gue masih deket sama dia?" Nada laki-laki itu terdengar tidak suka. Sementara, Arya sendiri menggelengkan kepala. "Ya, enggak. Maksud gue … tapi, gak ada hubungan apa-apa, kan?" Rafli mengangguk. "Ya, gak ada, lah," jawabnya tenang. Arya lega mendengarnya. "Gue tu gak maksud apa-apa. Cuma sebagai temen, biar bisa ngingetin Lo aja, Raf." "Hem. Gue ngerti." "Kalau Lu dekat Vanya, terus gimana caranya Lu move on, Raf?" Kini gantian Bagas yang bertanya— setelah sejak tadi hanya memilih untuk memperhatikan. Rafli mengedikkan kedua bahu pelan. "Gue juga gak tahu. Ikutin alur aja," ucapnya pasti. "betewe, kok, kalian bisa tahu kalau gue sama Vanya akhir-akhir ini jadi makin deket?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Rafli. Sebuah kalimat yang memang sejak tadi, ingin ia tunjukkan. Sementara, Arya dan Bagas saling menahan kekehannya saja. Seraya keduanya menatap satu sama lain. Oke, ketahuan. Rafli menghembuskan napas kesal. "Gue tahu," gumamnya sinis. Arya mengelus leher belakangnya pelan. "Hehe … gak sengaja, Raf, itu namanya. Gue sama Bagas cuma selalu kebetulan aja ketemu Lo yang bareng Vanya." Laki-laki itu memberikan klarifikasi. Meski, sebagian besar perkataannya adalah dusta. Sebab, mengintai dan mematai kisah cinta temannya— Rafli— sudah ada dalam rencana. Istirahat tiga laki-laki itu terhenti. Kala merasakan kedatangan dua orang perempuan— yang selalu terkenal karena keakrabannya. Mereka seperti magnet yang ke mana-mana, selalu berdua. Di sini ada Ayun, maka di sini pula ada Billa. Satunya anak berkepulauan Sumatera, satunya anak berkepulauan Bali. "Hei, yo! How are you, guys!" Billa mengangkat tangan kanannya. Menyapa tiga orang laki-laki yang sedang menatapnya, dengan tatapan yang berbeda. Rafli, ia tidak peduli sama sekali dengan kedatangan ciwi-ciwi. Bagas, sebagai orang yang sangat tidak suka dengan Billa, ia memutar kedua bola matanya jengah. Sepertinya hanya Arya saja— yang menatap ke arah Billa dengan antusias. Arya ikut mengangkat tangannya. "Yo! I feel great, Billa, my best friend!" Billa tersenyum dengan bangga. Tanpa banyak basa-basi, perempuan tersebut ikut masuk ke dalam poskamling. Kemudian menatap ke arah belakang. "Yuk, ayok. Masuk, Yuk." Ayuk menggelengkan kepala. Ia memilih untuk duduk pada sebuah bangku di depan poskamling, dan dekat beberapa sepeda yang terparkir. "Gak mau, Billa. Masa duduk di tempat banyak laki-laki, terus sempit?" Ayun mengekspresikan ketidak- sukaannya. "Aku duduk di sini aja," lanjutnya. Billa menghembuskan napas kemudian menggelengkannya. "Ya udah, gapapa." Ia kemudian menatap ke arah Arya. Mimik wajah perempuan itu berubah dengan cepat seketika. "Kabar Lu, Yak. Gimana?" "Biasa, Bill. Gue baik, alhamdulillah. Masih bisa napas sampai sekarang ini." Kedua orang tersebut berjabat tangan. Hah, mereka tidak menyadari bagaimana Rafli yang berusaha mengabaikan. Serta Bagas— yang sudah tidak tahan lagi. "Betewe, Bill. Bahasa Inggri Lo masih bagus." Arya memuji. Billa menggeleng. "Gak, gak. Gak perlu muji gue gitu, Yak. Ini juga karena circel gue si Ayun. Lumayan, hemat pengeluaran buat les English." Arya mengalihkan tatapannya ke arah Ayun. "Yuk, Oyen-nya Lo, gimana kanarnya?" Laki-laki itu menaik turunkan salah satu alis. "Emboh, Yak! Ga usah cari gara-gara!" Arya tertawa puas. Laki-laki itu suka bila dapat mengerjai si Ayun— perempuan yang berkuasa di kelasnya. "Noh, si Oyen. Tadi pagi masih ninggalin bekas kerja kerasnya di teras rumah gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN