Sore menjelang petang. Waktu yang pas bagi para murid SMA untuk pulang ke rumah masing-masing; setelah hampir seharian memeras otak untuk diajak berpikir. Berkutat dengan rumus, tugas, dan deadline yang selalu membuat pikiran frustasi.
Bagi Arya dan teman-teman sekampungnya, pulang dari sekolah itu terasa menyenangkan. Berjalan beriringan sambil bercanda bersama. Tidak lupa menyapa beberapa orang yang masih beraktivitas di luar rumah, sore ini. Sapaan ramah yang begitu melekat untuk orang-orang Jawa; terkenal akan sopan santunnya serta tata krama.
Beginilah. Meski memang tidak suka dengan yang namanya berangkat sekolah, karena ribet, tetapi tetap. Arya menyukai kesehariannya ini.
SMA Permadani, berada di tengah-tengah perkampungan warga. Sehingga, jarak antara rumah para murid dan sekolah pun begitu dekat. Salah satu alasan mengapa di jam tujuh pagi, Arya masih santai untuk menikmati perjalanannya.
Kampung yang asri, dengan kanan-kiri pepohonan rindang yang menyejukkan mata. Terdapat banyak hal yang dapat ditemukan ketika berjalan di perkampungan ini. Bahasanya, khas Jogja bange!
“Capek banget gue, asli!” Genta berjalan dengan lesu. Laki-laki tinggi dan berbadan cukup besar tersebut setengah membungkukkan badannya. Seolah mengatakan, bahwa ia tak kuat lagi tuk menegakkan badan.
“Dah, ya. Gue duluan.” Billa berpamitan. Karena dirinya yang sudah berada di depan rumahnya sendiri. “Ta, Genta! Ayo malah! Rumah Lo, kan, deket gue.”
Genta berdehem. “Duluan, yo.”
Kedua orang tersebut berjalan menjauh, ke arah samping sana. Sementara, Arya dan yang lain hanya menatap dengan pandangan yang dapat berbicara. Kini, hanya tinggal; Arya, Rafli, dan Ayun. Tiga orang yang rumahnya sama-sama berada di jalan buntu sana. Di mana mereka merupakan tetangga dekat. Bahkan kabar kucing Ayun kawin pun, langsung tersebar dan menjadi pembicaraan hangat saat ini.
“Mampus, Yuk. Kucing Lo jadi korban Jamal yang ke-sembilan.” Arya sedang mengingatkan mengenai berita panas itu.
Ayun--sebagai ibu dari topik pembicaraan, ia tidak terima. Sedihnya belum hilang total, tetapi entah mengapa; temannya ini malah membuat suasana jadi rumyam. ”Diam dulu, Yak. Pleasee ….” Ia merespon jengah. Perjalanan jalan kaki ini mulai terasa tidak mengenakkan.
Arya tertawa penuh arti. Sementara, Rafli yang berjalan di samping keduanya, memilih untuk diam saja.
Oyen—kucing kesayangan Ayun. Sama seperti namanya, kucing gemuk menggemaskan tersebut, memiliki bulu tebal berwarna orange. Lebih dari setengahnya memang berwarna orange, diselipin beberapa sedikit putih.
Oyen sangat menyayangi Ayun. Hanya saja, ketika berpapasan dengan Arya, kucing gembul tersebut selalu saja mengaum tidak jelas. Bagaikan Arya bahaya baginya. Bahkan, tingkah, tatapan, serta aumannya; serasa ingin mengajak Arya untuk baku hantam.
"Kapok! Lo juga, punya kuceng, gak dijaga," ujar Arya.
Ayun menatap ke arah laki-laki itu sengit. Kesal? Oh, tentu saja. "Ngapain, sih, Lu berantem terus sama Oyen?"
"Kok gue?" Arya menghentikan langkahnya. Menatap ke arah perempuan berdarah blasteran. "di mana-mana, Oyen yang selalu ngajak gue berantem, Yuk. Noh, Lo coba aja tanya saja Mbok Rani, Pakdhe Sur. Terus, nih, ya, Oyen itu selalu be'ol sembarangan. Mana di rumah gue lagi. Capek aku tuh, selalu ditanyain sama bunda, 'Yak, kamu be'ol? Jangan sembarangan, Nak. Udah gedhe kamu.'"
Ayun kali ini tidak bisa mengelak lagi. Semua yang Arya katakan, memang fakta. Bahkan buktinya tersebar ke mana-mana.
Perempuan itu memilih mengalihkan pandang. "Y–ya udah! Nanti Oyen aku kasih tahu."
Arya tersenyum puas. "Ya, gitu, dong."
Di depan sana, terdengar hembusan kesal. Rafli menolehkan kepalanya ke belakang. Kedua orang tersebut malah berdiri di sana, dengan topik pembicaraan 'Oyen'.
"Hei, ayo!"
Lantas Arya dan Ayu memandang ke arah depan. Di mana Rafli berdiri jengah.
"Iya, Raf!"
"Ini baru mau lanjut jalan."
Perjalanan yang tinggal beberapa meter itu dilanjutkan. Kemudian, hanya dalam waktu kurang dari satu menit saja, mereka telah sampai di jalan buntu. Di mana rumah masing-masing saling bertetanggaan dengan jarak yang dekat.
Di sinilah mereka berpisah. Rafli masuk ke dalam rumahnya yang berpagar. Kemudian Ayun yang masih berjalan lurus, karena rumah luasnya berada di ujung sana.
Lalu, Arya sendiri yang juga memilih membalikkan badannya ke samping. Memasuki pekarangan sederhana yang di depannya; berdiri pula sebuah rumah sedang yang nyaman.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya. Mendapati Dinda yang sedang mengobrol dengan salah satu tetangga. Bu Sur. Arya kenal. Bu Sur adalah orang yang telah melahirkan lima anak; dan semuanya kini sukses. Empat anaknya ada yang di luar negeri, Jakarta, bahkan Sumatera. Kemudian anaknya yang bungsu, tinggal bersama Bu Sur dan Pak Sur. Kabarnya, anak bungsu pun, saat ini sedang kuliah di universitas terkenal seantero Indonesia. Universitas Gadjah Mada.
Arya berjalan mendekat ke arah teras rumah. Hendak mencium punggung tangan bunda-nya, dan menyapa Bu Sur.
“Eh, ya. Suaminya Mbak Dinda, memang di mana, toh?"
Arya menghentikan langkahnya.
Melihat bunda-nya yang tersenyum canggung. Kemudian tertawa ramah seolah itulah jawabannya.
Dada Arya terasa sesak. Debaran jantung semakin dipompa dengan begitu cepat. Dia berjalan tergesa ke arah terasa rumah.
"Bundaku sayang, assalamualaikum." Arya mencium punggung tangan sang ibunda. Kemudian menatapnya dengan senyuman lebar.
"Waalaikumsalam. Udah pulang, Yak."
Arya menganggukkan kepala.
"Bun … Arya laper. Bunda masak apa?"
Dinda mengacak rambut Arya. Anak lelaki semata wayangnya ini, jauh lebih tinggi darinya.
"Ya, masuk sana. Makanannya ada di atas meja, ditutup tudung kayak biasa."
Arya mengabaikannya. Ia menatap ke arah belakang. Kemudian menganggukkan kepala tuk menyapa Bu Sur.
"Tapi, Arya kalau makan enak sama Bunda," ujar laki-laki itu lagi.
"Kamu ini, Yak. Manja banget. Bunda lagi ngobrol sama–"
"Wes, Mbak Dinda. Gak apa-apa. Anaknya ditemenin makan aja. Wong capek habis pulang sekolah. Iya, tha, Yak?"
Arya menganggukkan kepala. "Iya, Bu."
"Oh, nggeh. Nggeh, Bu. Maturnuwun sanget." Dinda membalas. Menatap Bu Sur yang kemudian mulai pergi menuju ke rumahnya.
Kini, hanya ada Arya dan Dinda yang berdiri di teras delan rumah.
"Dah, masuk, masuk. Katanya mau makan." Dinda memecah keheningan dengan suaranya. Mendorong punggung sang anak pelan—untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, iya, Bunda."
Pintu ditutup oleh Dinda. Keduanya berjalan ke arah belakang, di mana dapur dan meja makan dijadikan satu.
Arya membuka tudung yang ada di atas meja makan.
"Wihhh … enak iki, Bun!"
Semua makanan favorite laki-laki itu ada semua. Seperti; tempe goreng, sambal, dan teri kecil-kecil yang digoreng
Dinda tersenyum lembut. "Bajunya ganti terus cucI tangan sama kaki dulu. Baru makan."
"Iya, Bunda. Siap!"
"Tadi praktek, ta? Dapat berapa nilainya, Yak?"
Arya menghentikan langkah. Tubuhnya mendadak bergetar hebat.