Arya mengetuk pintu rumahnya tiga kali. Sebenarnya, biasanya laki-laki itu akan langsung membuka kenop pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Tapi, yang kali ini berbeda. Pintu rumah Arya tidak bisa dibuka, alias terkunci. Padahal ketika laki-laki itu berangkat main; pintunya sama sekali tidak terkunci.
Arya berdiri di depan pintu cukup lama. Dengan kedua kaki tanpa alas, laki-laki itu mulai berkacak pinggang. Merasakan pegal yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ini gimana? Pegel–"
"Udah pulang?"
Arya menatap ke depan. Bagaimana pintu rumah kini sudah terbuka, menampilkan seorang wanita dewasa yang berkacak pinggang. Dinda memakai daster longgar seperti biasanya. Menatap ke arah anak laki-laki semata wayang dari atas hingga bawah. "Masih hidup ternyata."
"I–iya, Bun. Ar ... Arya masih hidup," kata Arya setengah gugup. Bagaimana tidak? Bundanya sendiri sedang menatap Arya sinis.
"Habis ngapain, Yak?" tanya Dinda kembali. Wanita dewasa tersebut masih bergaya seraya berkacak pinggang. Arya yang sadar pun, lantas menurunkan kedua tangan dari samping pinggangnya.
"Main, Bunda. Arya tadi mainan sepak bola di lapangan."
"Oh." Dinda menatap Arya dingin. "Bunda kira habis jadi kuli."
Arya yang mendengar hanya dapat menganggukkan kepala pasrah. Menatap ke arah pakaiannya sendiri, yang memang sudah tidak karu-karuan. Baju laki-laki tersebut masih penuh dengan keringat yang mulai mengering. Ditambah dengan beberapa lumpur dan tanah yang menyatu pada pakaian Arya.
"Dek Dinda, marii ...."
Dengan kecepatan petir, Dinda menoleh ke arah suara dengan wajah ramah serta gembira. Wanita tersebut menganggukkan kepalanya dengan begitu ramah. "Nggeh, Bu. *Ajeng teng pundi?"
*Mau ke mana?
Wanita paruh baya yang memakai daster—mengangkat kantong plastik hitam di tangannya. "Bukan ke mana-mana. Cuma baru aja belanja di warungnya Billa. Kula permisi, nggeh," ucap wanita paruh baya tersebut dengan ramah.
Dinda mengangguk sopan. "Oh, nggeh, Bu." Wanita tersebut memperhatikan bagaimana salah satu tetangganya yang mulai berjalan menjauh. Lalu, salah satu tangan Dinda terangkat untuk menyentuh bahu anak laki-laki di depannya.
"Urusan kita belum selesai, Yak," cetus Dinda tenang.
Arya yang baru saja merasa lega, kini harus kembali siap sedia. Laki-laki itu sungguh begitu menyesal telah ngelantur, dan lebih menikmati waktu untuk mengobrol dan bermain. Tidak lagi ingat dengan janjinya untuk selalu pulang sebelum adzan Magrib. Rasanya, Arya ingin mengulangi semuanya lagi. Tapi, sayang, memang semuanya sudah terlambat.
"Siapa yang suruh pakaiannya dikotorin begini? Ini pakaiannya yang cuci Bunda, loh. Kok gak ngormatin,"cerca Dinda.
Arya bergumam, "namanya juga main. Ya pasti kotor, Bun."
Dinda menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Kamu ini, Yak, Yak. Ya udah, sana. Masuk." Dia mendorong punggung sang anak untuk kemudian masuk ke dalam rumah. Di luar terlalu berbahaya dan ekstrim. Karena bukan hanya mereka berdua penghuni warga. Masih ada tetangga lain, yang rumahnya cukup berdekatan.
Dinda menutup pintu. Ia lantas berjalan mendahului Arya; menuju ke belakang.
"Bund, bajunya Arya aja yang cuci," putus laki-laki tersebut.
"Gak usah. Kamu mandi terus makan. Yang nyuci kamu, gak akan bersih." Terdengar jawaban dari arah belakang sana. "cepet mandi sana, Yak. Entar kemaleman. Pakaiannya taruh aja di kerangjang."
Arya termasuk dalam golongan anak yang patuh. Ia menuruti apa yang bundanya katakan, tanpa banyak mengeluh.
***
Kantin sekolah yang cukup ramai di siang hari. Di meja pojok, adalah tempat bagi Arya dan juga Bagas untuk saling ngerumpi hal random. Ditambah pula dengan Billa serta Ayu yang juga ikut bergabung.
"Jadi anak SMA susah banget." Arya berkeluh kesah. Seraya merayu Ayu agar memberinya satu gelinding bakso, untuk ia masukan ke dalam mangkoknya yang kosong.
"Kalau tahu susah, makanya, awal tamat SMP itu langsung masuk SMK. SMA buat orang yang otaknya kuat bertahan. Sedang SMK buat orang yang udah pasrah." Billa menasihati. Perempuan itu kemudian menyedot es teh-nya yang nganggur. Hanya pidato sesingkat ini saja, sudah membuat tenggorokannya kering.
"Kalau menurut aku, sih, SMK buat orang yang pengen langsung kerja. Ngasilin duit." Bagas kali ini memberikan responnya. Sesekali melirik ke arah Ayu yang sudah pasrah, dan kebobolan segelinding baksonya. Enak sekali. Mangkok kosong Arya secara ajaib, terisi.
"Eh, inget gak? Waktu SMP, yang dapet juara kelas malah si Agatha." Sekarang nada serius Billa perlihatkan.
Gawat, sebuah kegiatan menyenangkan mengandung dosa, sebentar lagi akan dimulai.
Terbukti dengan bagaimana respon dari Ayun.
"Oh, bener. Agatha yang 'itu', bukan?"
"Nah, iya, Yuk. Dia waktu SMP dapet juara, cuma gara-gara aktif. Namanya juga, anggota osis. Padahal, kalau dilihat, Agatha itu gak pinter-pinter amat, 'kan?" Billa menghembuskan napas. "masih prustasi gue."
Bagas mengubah lirikan matanya ke arah lain. Ia bosan terus mendengarkan dua perempuan yang selalu melemparkan ucapan sinis. Sedangkan, Arya sendiri kembali sibuk merayu Ayu kembali. Menyadari bahwa satu gelinding bakso saja tidaklah cukup.
"Ah, udahlah, Yak. Nah, buat kamu semua." Ayu pada akhirnya menyerah. Perempuan itu mendorong mangkok yang masih utuh pada Arya. Terganggu dengan semua rayuan, padahal Ayu sendiri sedang asik berbincang dengan Billa.
Arya tersenyum lebar. "Makasih, ya, Yuk."
Ayun mengangguk lalu mengabaikannya.
"Dan, lo tahu, gak–"
"Sttt!" Bagas kali ini memotong. "eh, itu Rafli sama … Vanya."
"Serius? Mana?"
"Itu, loh."
"Wahh … beneran, ternyata."
Kini, Bagas, Billa, serta Ayun; mengarahkan tatapan mereka ke ujung sana. Di mana melihat Rafli serta Vanya yang baru saja membeli beberapa cemilan, kemudian berjalan keluar dari kantin. Satunya ganteng, dan satunya lagi cantik. Kedua orang tersebut benar-benar mencolok di hiruk piuk kantin. Terutama dengan bagaimana mereka yang sama-sama memiliki postur tubuh yang tinggi, juga badan ideal.
"Kok, gue jadi iri sama mereka." Untuk kali ini, Billa mengaku jujur.
"Kesannya, mereka itu cocok. Hanya saja, sayang. Ada perbedaan besar di antara Rafli sama Vanya," celetuk Ayun memberikan pendapatnya.
"Daripada mikiran itu, mending mikirin kemajuan nilai." Bagas pada akhirnya membenarkan posisi duduknya. "SMA ini banyak praktek, gak kayak SMP. Waktu kita juga makin sedikit."
Ayun menganggukkan kepalanya setuju. "Ya, benar kamu, Bagas."
"Lo, mah, enak, Gas. Lo, 'kan, pinter. Yakin, sih, gue. Kalau Lo nanti nilainya bagus semua." Billa mengganti pandangannya untuk kemudian menatap Bagas.
Laki-laki dengan kulit cokelat eksotis itu hanya mengedikkan kedua bahunya. "Untuk kalimat terakhirnya, gue ucapin makasih, La. Tapi, kayaknya Lo lupa, deh. Gue pinter karena gue belajar. Gak kayak Lo–"
"Apa Lo? Sekarang berani sama gue? Wah, main-main!"
"Tolonglah, hei, ini di kantin. Gak cuma ada kelas kita aja." Ayun menahan malu untuk saat ini. Ia berusaha menenangkan kedua temannya tersebut.
Sementara, Arya menaruh sendoknya di mangkok. "Makasih, Yuk. Meski ada bekas Lo, baksonya tetep enak."