Sore ini, cuaca begitu mendukung seperti biasanya. Pedesaan yang masih belum tercemar oleh teknologi yang begitu canggih, terasa nyata dilihat. Sepanjang jalan dengan lebar tujuh meter, ditanam oleh banyaknya pohon rindang.
Lalu di sisi kanan jalan, baru lah lapangan lapang mengisi dengan luas. Di pojok kanan dan kiri lapangan, terdapat masing-masing gawang dengan berbahan bambu. Dijaga oleh salah seorang kiper andalan regunya. Kemudian di tanah lapang, banyak anak laki-laki menyebar dengan semangat. Mereka saling berteriak untuk sekedar memberi arah atau komunikasi pada satu timnya. Tidak jarang pula jika ada dua regu yang tengah berebut bola dengan ganasnya. Meski jatuh berkali-kali, ke-gol-an berkali-kali, tetapi semua hal itu tidak akan membuat para anak laki-laki di lapangan mundur. Mereka semua memang lelah, tetapi masih semangat untuk terus melanjutkan permainan menyenangkan ini. Berkomitmen seperti biasa, bahwa permainan sepak bola akan berakhir ketika mereka sudah merasakan tanda-tanda adzan akan berkumandang. Karena irang tua dari mereka; masing-masing mengatakan, 'Kalau pulang, harus sebelum adzan Magrib!'
Di belakang salah satu gawang, ada sekumpulan batuan besar yang nyaman. Itu adalah kursi penonton bagi para anak perempuan atau anak kecil—yang belum bisa main bola; kemudian memilih untuk duduk menonton jalannya permainan saja.
"Aneh! Bola cuma satu, tapi, kok, direbutin sekampung. Kayak gak punya modal buat beli aja," celetuk Billa; sebelum dirinya mulai menyedot es teh berbungkus plastik di tangannya. Perempuan itu duduk pada salah satu batu yang dirasa nyaman, melihat ke arah lapangan dengan ekspresi jengah. Itu karena Billa selalu saja ditolak mentah-mentah, ketika perempuan tersebut ingin mengajukan diri bermain sepak bola. Padahal, Billa memang jago dalam olahraga itu.
"Iya, ih! Padahal, bisa kali mereka rebutin gue. Kenapa harus bola coba? Mana rela kotor-kotor begitu." Lala menyetujui apa yang Billa ucapkan. Dirinya merasa seakan tersaingi oleh benda mati, yang jelas-jelas bentuknya tidak begitu menarik.
Billa menolehkan kepala pada sebentuk suara tersebut. Seakan merasa menyesal karena menyeletuk seperti tadi. Mengetahui bahwa ternyata yang merespon adalah Lulu, perempuan nyentrik yang sifatnya berkebalikan dengan Billa.
"Ya, gak juga, sih." Pada akhirnya Billa bergumam pelan. Lalu merotasikan kedua mata kembali untuk menatap ke arah lapangan. Di depannya ada Galih yang sedang berjaga menjadi kiper di gawang. Strategi yang bagus, melihat bagaimana Galih merupakan laki-laki berbadan besar. Pantas saja, tim Rasyid sulit untuk menembakkan gawang ke tim Arya. Ternyata, Galih adalah poin utamanya.
Semuanya asik menatap ke arah permainan bola di depan sana. Sementara, di bawah pohon rindang; di mana Vanya dan Luna duduk pada sebuah bebatuan bersama. Berbeda dari yang lain, kedua perempuan tersebut malah asik mengobrol. Tidak, mungkin lebih tepatnya berdiskusi dengan tujuan negatif. Karena yang mereka bicarakan adalah orang lain. Yah, membicarakan seseorang yang jelas-jelas berada di sini pula.
"Oh, benarkah, Ayunindya?" Vanya tampak menanggapi dengan serius. Sayang sekali, perempuan dengan rambut lurus se bawah bahu tersebut, harus diajak membicarakan orang lain oleh Ayu. Padahal fisik dan aura Vanya begitu lembut dan menenangkan.
Dengan tak malah serius, Ayu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Tunggu, aku mau tanya. Sebesar apa kamu dan Rafli dekat? Bisa jelaskan?"
Senjata melesat dengan tepat. Dengan mudahnya, kini Ayu dapat mendengar apa yang ingin ia dengar. Menyuruh seseorang untuk membocorkan rahasia, memang sepertinya keahlian Ayu. Bahkan tanpa sang lawan bicara dapat membantahnya. Semuanya dikakukan dengan halus dan lancar.
Kini, Vanya memperlihatkan senyum tulusnya. "Ya, kami berteman, Ayu. Sekitar ... dua bulan lalu?" Perempuan itu mengingat-ingat. "sejak pertama kali masuk SMA."
"Oh, begitu." Ayu terlihat semakin senang. Kemudian perempuan tersebut mengimbuhkan, "Kalian sedekat apa, memangnya?"
"Ya, dekat seperti teman biasa. Terkadang, mungkin kami berjalan-jalan atau hanya sekedar menyapa. Lebih banyak waktu dihabiskan untuk saling bertukar chat. Ya, tetapi tidak langsung rutin dan banyak. Hal itu akan takut mengganggu kesibukkan masing-masing. Layaknya sepasang sahabat, seperti aku dan kamu," jelas Vanya tenang.
Ayu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Jalan-jalan, saling sapa, bertukar chat. Mirip lagi pacaran, ya."
Kini, udara semakin lama terasa semakin dingin.padahal tadi masih lah hangat karena cuaca sore hari. Ternyata, sudah mulai memasuki petang. Langit yang menjadi latar desa ini pun, terasa indah dengan warna jingga, serta semburat keabuannya.
Sekarang, semua anak laki-laki yang bermain sepak bola telah puas. Yah, meski tim yang kalah harus tetap merasa kurang bersemangat. Tapi, itu bukanlah hambatan. Karena ini adalah sebuah kebiasaan, di mana sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun lamanya. Ditambah dengan generasi anak baru yang juga ikut serta. Seperti anak SMP, dan kelas enam SD.
Namun, di tahun ini, jarang sekali Arya dan teman-teman satu generasinya bermain sepak bola di lapangan. Itu karena mereka sudah SMA, dan lapangan sudah mulai digunakan untuk anak-anak SMP. Istilahnya Arya dan teman-teman memilih untuk mengalah.
Terlihat bagaimana Arya dan Bagas berjalan ke arah sekumpulan bebatuan. Diduduki oleh beberapa orang yang sangat familiar.
"Mas Arya! Aku besok ikut main sepak bola, ya?" Seorang anak kelas empat berseru senang. Dia adalah Dion, mulai berjalan mendekati Arya.
"Yo. Besok. Dion yang jadi kiper," ujar Arya seraya tertawa. Bajunya kini telah basah oleh keringat, belum lagi rambut laki-laki tersebut yang sama basah serta acak-acakkan.
Mendengar akan jawaban Arya, Dion mengerucutkan bibirnya. "Bukan gitu, Mas! Aku penen jadi pemainnya."
"Kiper, 'kan, juga pemain." Arya terlihat tengah menikmati ekspresi bocah SD tersebut.
"Mas Arya nakal!" teriak Dion dengan ekspresi kesal diperlihatkan.
Sementara, Arya hanya menahan tawanya saja. "Ya, ya. Besok jadi pemain."
"Mar Arya sing terbaiiik!"
***
Seorang anak laki-laki berjalan mengendap-endap di sekitaran rumahnya. Dia bukannya ingin mengebom secara diam-diam, apalagi mencuri rumahnya sendiri. Arya hanya sedang berusaha untuk dapat masuk ke dalam rumahnya.
Matahari telah benar-benar tenggelam di ufuk barat. Lalu suara adzan Magrib juga sudah berkumandang sekitar setengah jam lebih yang lalu. Benar saja. Saat ini, bahkan langit sudah gelap. Bintang-bintang bertabur pula merayakan datangnya malam, ditambah dengan bulan yang bersinar lembut seperti biasanya.
Arya mengacak-acak rambutnya frustasi. "Gue harusnya tadi gak mampir-mampir," desis laki-laki itu menyesal.
Selama satu menit, Arya menghirup dan menghembuskan napas. Dia berkali-kali melakukan hal yang sama. Sebagai sarana menenangkan diri yang sudah dikenal di penjuru bumi.
"Oke, lu kuat, Arya. Batman berada dalam dirimu." Arya mulai menyemangati diri sendiri. Sebelum pada akhirnya, ia berjalan ke arah teras rumahnya sendiri. Memandang ragu serta gugup pada sebuah pintu di depannya.