Jam istirahat berbunyi. Sebagian murid memilih untuk tetap berada di dalam kelas, mengobrol, memakan bekal, mengerjakan tugas, atau hal lain lagi sebagainya. Sementara sebagian murid lainnya keluar dari dalam kelas dan menyebar pada tempat yang berbeda-beda. Seperti Rafli saat ini.
Laki-laki itu menggunakan jam istirahatnya untuk berada di dalam perpustakaan. Dia bukanlah seorang kutu buku, tetapi Rafli menyukai semua buku bertema alam. Entah itu buku cerita, pelajaran, majalah, dan lainnya. Jika masih berhubungan dengan alam, Rafli menyukainya.
Berjalan pada sebuah baris. Dihimpit oleh dua rak buku kayu yang berjarak hampir dua meter. Rafli sibuk mencari buku mana yang menarik perhatiannya. Hingga laki-laki itu menghentikan langkah. Melihat bagaimana di depannya, hal yang sangat menarik perhatian terlihat.
"Rafli? Kamu cari buku juga?"
Seperti sedang terhipnotis, Rafli menganggukkan kepalanya. "I–iya."
"Kamu?" Sekarang Rafli bertanya balik.
"Tadi ke sini sama Ayunindya. Hanya temenin dia," jawab Vanya tersenyum.
Jika diibaratkan, maka Vanya seperti guru bagi Rafli. Ketika perempuan itu tersenyum, maka tanpa sadar Rafli ikut tersenyum. Saat perempuan itu sedih, Rafli juga akan merasakan hal yang sama. Semuanya berjalan dengan begitu saja. Bahkan tanpa Rafli sendiri sadari.
"Oh, ya? Kalau begitu, di mana Ayunindya?" Rafli kembali bertanya.
"Ayunindya tadi tiba-tiba saja dipanggil Bu Lia, disuruh untuk ngambil buku, mungkin. Jadi dia balik lagi ke ruang kelas," jelas Vanya.
"... jadi kamu sendiri, 'kan, Ra?"
Vanya menganggukkan kepalanya. "Omong-omong, terus kenapa kamu ke perpustakaan?" Perempuan dengan rambut dikuncir kuda tersebut berjalan maju seraya meletakkan kedua tangannya di belakang.
"O–oh ...." Rafli mundur dua langkah pelan.
"Kenapa mundur, Rafli?" Sekarang Vanya merupakan perempuan yang bingung. Pasalnya, tidak ada hal lain yang perlu membuat seseorang merasa salah paham. Karena jarak keduanya bahkan lebih dari satu meter. Dan Vanya hanya mendekat satu langkah.
Rafli menggelengkan kepalanya cepat. Laki-laki itu akhirnya berjalan maju lagi. "Y–ya ... aku ke sini karena ingin mencari buku."
Vanya tertawa senang. Dia menutup mulut menggunakan telapak tangannya. Masih dengan menahan tawa. "Kenapa kau lucu sekali."
"Kau lebih lucu."
"Ha? Apa?" Vanya berusaha untuk menghentikan tawanya. Kedua indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik, dan Vanya merasa bahwa Rafli baru mengatakan sesuatu.
Namun, laki-laki itu menggelengkan kepala. "Tidak ada.",lj.
Setelahnya, keduanya menjadi semakin dekat. Mereka berbincang, tertawa, dan saling bercerita. Bahkan kini Rafli dan Vanya sudah duduk berdua mengelilingi sebuah meja persegi di depan perpustakaan. Bahkan daripada buku, sepertinya yang mereka nikmati adalah obrolan yang semakin asik.
"Vanya?"
Vanya mendongakkan kepala. "Oh, Ayunindya," serunya pelan saat menyadari keberadaan temannya tersebut.
Ayu tersenyum. "Kalian sedang apa? Apa yang kalian lakukan?"
"Tidak ada," ucap Rafli dengan senyum kecil.
"Mengobrol," jawab Vanya.
Kedua orang tersebut mengatakan kalimat secara hampir bersamaan. Hanya terlambat beberapa detik saja. Lantas, Rafli dan Vanya saling menatap merasakan bahwa jawaban yang mereka lontarkan berbeda-beda.
Vanya mengernyitkan dahinya. "Rafli, bukankah tadi kita sedang mengobrol?" Ia bertanya. Karena sepertinya, mereka memang baru saja melalukan hal itu.
Rafli menggaruk tengkuknya. "Ya. Sepertinya aku yang salah."
Ayunindya tertawa kecil sebagai penengah antara kedua orang tersebut. Selama beberapa detik, keberadaan Ayunindya seolah tidak terlihat sama sekali. Tapi, ia dengan baik hati masih berusaha untuk mendamaikan ketidak salah-pahaman kedua temannya.
***
Di sini, tepatnya setelah sekolah usai. Pada sebuah rumah makan Padang di pedesaan. Terjadi fenomena yang nyaris tidak pernah ada untuk sebelumnya. Kejanggalan dan keanehan timbul saat Arya dan Ayunindya saling bertukar cerita. Ya, mereka. Kedua orang yang selalu terlihat tidak suka satu sama lain. Bahkan sejak pertama kali bertemu.
Ayunindya adalah wakil kelas. Dia memilki kekuasaan serta hak untuk mengatur kelasnya yang isinya murid-murid luas biasa. Karena ketua kelas yang memang sulit diandalkan. Maksudnya, ketua kelas tidak begitu tegas. Bahkan terkadang ketua kelas sendiri ikut membuat kelas ramai dengan yang lain. Maka, di situlah peran Ayunindya akan muncul. Dia memiliki pendirian dan prinsip yang patut diacungi jempol. Ayuinindya juga selalu mempertahankan posisinya di juara lima besar. Tidak pernah sekalipun ia turun atau memisah dari posisinya.
Karena status Ayunindya sebagai wakil kelas, sudah pasti jika Arya akan selalu menjadi nama paling akrab di buku catatan perempuan itu. Namanya bahkan hampir menjadi 'permanen'. Siswa yang kakekan polah.
Lalu, ya. Arya juga tidak pernah membayangkan dapat sedekat ini. Mengingat bahwa dirinya termasuk tidak suka dan muak jika harus ada hal yang berkaitan dengan si wakil kelas. Laki-laki itu menganggapnya sebagai, 'orang yang suka mengatur'.
"Seriusan, Yuk?!" Dengan raut wajah kaget. Arya meletakkan gelas berisi teh manis di atas meja. Dengan gerakan yang kuat, hingga dapat membuat beberapa getaran kecil. Laki-laki itu terlihat antusias, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya— kepada perempuan.
Di hadapan Arya, Ayu dengan tenang menganggukkan kepala. Perempuan itu kembali menyendok nasi Padang berbungkus kertas minyak yang telah dibuka lebar di depannya. "Iya, bener, Yak. Gue lihat sendiri."
Nasi Padang kesukaan Ayu, tidak ada makanan lain yang dapat menyainginya. Apalagi di tempat makan ini, langganan. Harga murah, tetapi dapat banyak. Bahkan hanya dengan satu lembar uang 'sepuluh' ribu, seseorang sudah mendapatkan sepaket nasi Padang lengkap. Lengkap dengan paha ayam, sambal, nasi yang berlimpah, sayur ketela pedas, tempe goreng, dan beberapa lauk lagi.
Sekarang, Arya yang baru saja mendengar jawaban Ayu langsung menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Laki-laki itu berdecak. "Wah .... Ternyata yang namanya perasaan, gak bisa dihilangin semudah itu. Kasian banget temen gue," ucap Arya nelangsa.
Ayu mengangguk membenarkan. "Ya, gitu."
Yah, mengobrol atau yang lebih tepatnya 'menggibah' tentang hubungan antara Rafli dan Vanya. Tadi, mereka berakhir di rumah makan Padang ini, karena kebetulan Ayunindya mengutarakan ceritanya di sekolah. Lalu hal itu langsung didengar oleh si telinga panjang, Arya. Orang yang dapat mendengar bahkan dari kejauhan yang sempurna.
Yah, lalu karena Arya ingin tahu lebih, jadi lah laki-laki itu bernegoisasi dengan Ayunindya. Hingga yang perempuan setuju jika keduanya harus berada di rumah makan favoritnya, dan di situlah Arya mentraktir Ayunindya.
Sampai seperti saat ini, kedua membicarakan mengenai permasalahan dan hubungan orang lain. Bayangkan saja jika ada seseorang yang mengetahui hal ini, seperti teman-teman sekelas Arya dan Ayu misalnya. Sudah pasti, kedua orang tersebut akan balik menjadi bahan pembicaraan satu kelas.
Masih dengan menyendok makanannya. Ayu menatap ke arah Arya. "Makasih traktirannya, ya, Yak," ucapnya agak tulus.