Vanya yang Tinggi

1015 Kata
Bagas turun dari boncengan motor Mas Jaka. Laki-laki itu menunggu hingga pria yang dianggap sebagai kakaknya—mulai meminggirkan motor. "Rasa apa, Gas, enaknya?" Mas Jaka menyentuh punggung Bagas kemudian membawanya pada sebuah gerobak martabak. "Apa aja enak, Mas. Terserah aja." "Lah, kok terserah? Bagas suka rasa apa?" Kini Mas Jaka tengah memainkan kunci motor di tangan kanannya. Sambil menunggu antrian tampaknya. "Gas, rasa apa?" ulang Mas Jaka. Sementara Bagas menggelengkan kepalanya pelan. Dia benar-benar tidak dapat memilih, dan harus merasa bersalah karenanya. "Bagas, tuh, bingung, Mas." "Mas Jaka aja yang milih," lanjutnya kemudian. "Ya udah, ya udah. Rasa cokelat, ya. Budhe gak suka kacang soalnya." Pada akhirnya Mas Jaka yang memutuskan. Dan Bagas menganggukkan kepalanya penuh perasaan setuju. Masa Jaka berjalan ke arah pinggir, menarik sebuah kursi plastik berwarna orange. Menepuknya, seraya menatap ke arah Bagas. "Gas, duduk sini." Bagas menganggukkan kepalanya dan menurut. Duduk pada kursi yang telah Mas Jaka siapkan. Sementara pria itu sudah berdiri di dekat gerobak martabak. Terlihat tengah mengutarakan pesanannya. Sambil menunggu Mas Jaka. Yang dilakukan Bagas hannyalah terdiam. Menatap bagaimana suasana jalanan dekat kampung ini, yang sepi pada malam hari. Orang-orang dengan kendaraannya masing-masing berlalu lalang di sini. Mulai dari yang beroda empat, beroda dua, hingga beroda dua versi manual. Semuanya seakan memiliki arah tujuan sendiri. Lalu entah bagaimana bisa, Bagas membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki arah tujuan. Namun, semua pikiran random itu berhenti tak kala Mas Jaka telah berdiri di dekatnya. Pria itu mengarahkan plastik putih berukuran cukup besar ke depan Bagas. "Uda ini, Gas. Yok, pulang." Dengan anggukan, Bagas berdiri daei kursinya. Kemudian berjalan bersama Mas Jaka ke arah motor yang terparkir. Sampai pada akhirnya, keduanya sudah naik di atas motor dan melaju ke arah jalanan. Jarak hingga rumah tidak terlalu jauh sebenarnya, hanya sekitar 30 meter saja. Namun, batasan gapura kampung dengan gerobak martabak yang berada di depannya ialah jalan raya. Karena itu lah, hanya dalam waktu sekejap saja—Bagas sudah sampai pada halaman rumah. Rumah yang menghadap ke arah lapangan tersebut memang terlihat sederhana, tetapi juga asri. Apalagi jika pagi hari tiba. Bagas turun dari motor. Langsung mendapat seserahan plastik putih dari Mas Jaka. "Bawa masuk, ya, Gas." Bagas mengangguk kemudian langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Mas Jaka di halaman, yang tampak masih sibuk dengan motornya tersebut. Ia sampai pada ruang tamu, dengan beberapa kursi yang ditata dan sebuah meja bertaplak di tengah-tengahnya. Bagas lekas menaruh plastik putih yang dipegangnya di atas meja. "Opo kui, Gas?" Di sebuah kursi, seorang pria paruh baya dengan singlet putihnya bertanya. Beliau tampaknya tadi tengah menonton berita di siaran televisi, jadi kedatangan Bagas baru ia ketahui. Dengan sopan Bagas menjawab, "Martabak, Pakdhe. Mas Jaka yang beli." "Martabak manis apa telor, Gas?" "Kurang tahu, Pakdhe." "Martabak manis sama martabak telor, Pak." Mas Jaka muncul dari balik pintu. Sudah selesai dengan motornya, ternyata. "Mamak tadi yang suruh beli," lanjut Mas Jaka seraya duduk pada salah satu kursi. Kemudian Bagas ikut duduk di kursi pula, memperhatikan siaran televisi yang sebenarnya tak terlalu ia sukai. Hanya menemani bagaimana Pakdhe dan Mas Jaka. Lalu dari balik pintu yang ada di dekat televisi, Budhe muncul. "Lah, uda beli kok martabaknya gak dimakan." "Hayo. Cepat, dimakan." Pakdhe mengimbuhi. "Pakai nasi kalau makan martabak telor itu." Budhe terlihat berjalan mendekat. Membuka plastik putih yang sejak tadi masih berada di atas meja. "Martabak kok pakai nasi. Ya, gak enak," balas Pakdhe. Dia terkadang melirik ke arah Budhe sebentar. "Biar kenyang, to. Jaka, Bagas, dimakan ini." Budhe mengeluarkan sekotak persegi dari plastik putih. Sementara Mas Jaka menggeleng. "Gak, Mak. Aku makan martabak manisnya aja." "Bagas iki. Dimakan, Le." Bagas menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Ya, Budhe. Bagas makan." *** Suasana kelas seperti biasa, tidak terlalu sepi dan terlalu ramai. Para siswa atau pun siswi sibuk dengan aktivitas kelompoknya masing-masing. Siswa dengan kebersamaannya menyanyi lagu bersama. Berkumpul pada tempat yang berbeda-beda, dan mengobrol dari jarak jauh. Sedangkan siswi, lebih memilih berkumpul menjadi satu pada satu titik. Kemudian obrolan pun dimulai dengan begitu serunya. Rafli duduk di bangku. Laki-laki tersebut hanya terdiam, mengabaikan bagaimana Arya yang sibuk menoel-noel pipinya. Hingga pada akhirnya Rafli lelah sendiri. "Yak, minggir!" desis laki-laki itu kasar. Menyingkirkan tangan Arya dari pipinya begitu saja. "sana, duduk di tempat duduk Lo." "Ya, ya." Arya mulai berdiri dari kursi. Ia memilih untuk berjalan ke sebuah meja. Di mana sekumpulan anak perempuan tengah melingkarinya, bahkan rela mengambil kursi untuk didekatkan. Sibuk berbicara mengenai banyak hal. "Ngobrolin apa?" tanya Arya seraya mencuri pandang ke arah meja tersebut. Tiga detik kemudian, beberapa anak perempuan menjawab, "kepo." Pada akhirnya Arya hanya dapat berdecak pelan seraya memajukan bibirnya. Sedang mengejek apa yang teman-temannya lakukan. "kipii," ejek Arya mengulang. "Yak, minggir sana! Kipi, kipi!" balas Ayu seraya memutar kedua bola matanya. "main sama temenmu, gak perlu ganggu." Arya hanya dapat mencibir pelan. Laki-laki itu membalikkan badannya. Berniat untuk kemnali ke bangku tempat duduknya. Tapi, ia terhenti kala melihat Vanya. Perempuan yang begitu anggun dan lembut. Memikiki suara harmoni yang indah didengar. Vanya, tubuhnya tinggi, bahkan sepertinya dapat menyamai Arya. Arya tersenyum. "Kayak Vanya begini, loh. Anggun, lembut, baik. Gak kayak si anu, suka ngatur-atur–" "Terserah! Gak peduli." Ayu lebih dulu memotong tanpa menatap ke arah Arya. Tanpa melihat pun, Ayu tahu. Laki-laki itu sedang mengejek ke arahnya. Arya ikut tidak peduli. Ia hanya melihat bagaimana Vanya yang mengangguk dan tersenyum kecil. "Permisi, ya, Arya." Dengan cepat Arya menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu lebih dulu menyingkir, membiarkan Vanya untuk duduk di bangkunya. Penglihatan Arya berpapasan dengan Rafli. Oh, ya, ya. Udah tahu beda agama, masih aja cembukor. Arya berdesis pelan. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum kepada Rafli di ujung sana. Bersikap ramah, sebelum akhirnya berkumpul di bangku bersama dengan Bagas. "Pagi, Gas. Kapan Lo berangkat? Gue gak lihat perasaan." Bagas menoleh ke arah Arya. Laki-laki itu tersenyum. "Ya, uda dari tadi sebenarnya, Yak. Lu, sih. Malah ke meja obrolannya perempuan. Jadi gak lihat gue datang." Arya menatap ke arah Bagas lama. "Lo enggak apa-apa, 'kan, Gas? Kok kayak beda," ujarnya dengan lebih serius. Tapi, yang didapat ialah tabokan ringan di punggung oleh Bagas. "Gak, lah, Yak. Gue gak apa-apa." Ia kemudian tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN