Martabak

1019 Kata
"Rafli. Sini, ayo duduk." Seorang wanita dengan paras rupawan terlihat melambaikan tangannya kecil ke atas dan ke bawah. Sementara Rafli tersenyum kecil, kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mbak Atin." Laki-laki itu berjalan menuju ke arah ruang makan dan duduk pada salah satu kursi. Dilihatnya beberapa anggota keluarga yang juga tengah bersiap untuk makan malam kali ini. Ada Papa Rafli, yang seperti biasanya sangat suka membaca koran. Bahkan di ruang makan sekalipun, pria paruh baya itu tetap akan pada hobinya. Menghiraukan keramaian yang tidak mempan menganggu. Sementara, Rafli beralih menatap ke arah mamanya yang tengah membantu Mbak Atin menyiapkan makanan. Pekerjaan yang normal dilakukan oleh mertua dan menantu. Sementara Mas Rafa, dia terlihat baru saja datang dari arah depan sana. Tidak tahu ke mana, dan Rafli enggan menanyakan. Mas Rafa duduk di kursi samping Rafli. Mengacak-acak rambut adik laki-lakinya yang telah tumbuh remaja. "Sekolahnya gimana, Raf?" Dengan jengah, Rafli menyingkirkan tangan Mas Rafli dari rambutnya. "Ya, kayak biasanya." "Lah, biasanya gimana? Mas, 'kan, gak tahu." "Terserah." "Yah … langsung ngambek kamu, Raf." Mas Rafa tertawa keras. Sampai-sampai membuat suasana ruang makan ini lebih berwarna. Tidak lama. Karena Mbak Atin langsung menyikut lengan suaminya tersebut. "Jangan ganggu adiknya, toh, Mas." Mas Rafa menggaruk-garuk rambutnya. "Iya, Dek." Sementara, Rafli hanya terdiam. Tidak peduli dengan apa yang tengah terjadi, dan hanya menatap ke arah tumpukan piring di depannya. Tipe laki-laki seperti Rafli ini memang susah ditanggapi. Mbak Atin yang baru pertama kali kenal dulu saja, susah jika ingin berteman dengan Rafli. "Jangan baca koran terus, Pa. Ini mau makan, loh." Mama Refa memperingatkan suaminya. Tapi, tidak ada respon. Hingga sampai pada akhirnya Mama Refa kesal dan menjewer telinga Papa Restu. Ringkihan kesakitan langsung terdengar, dibarengi dengan beberapa kalimat permohonan. Mama Refa menghela napas kemudian menyelesaikan aktivitas menjewer-nya tersebut. Beralih pada kursi di samping Papa Restu, dan duduk di sana. Tanpa sadar, Rafli menghela napasnya. Entah apa yang tengah ada di dalam pikiran seorang remaja SMA itu. Dihimpit oleh dua pasangan yang begitu serasi. Sementara dirinya sendiri, hanya dapat diam dan tak berani untuk sekedar memperhatikan. Mbak Atin duduk di kursi samping Rafli. Kini lengkap sudah. Rafli benar-benar menjadi seekor nyamuk di ruangan yang semakin terasa sempit ini. Meja makan persegi panjang ini adalah saksinya. Di hadapan Rafli, ada mama dan papanya. Kemudian, sekarang … Rafli berada di tengah-tengah pasangan suami istri. Memang tidak seharusnya Rafli mengiyakan untuk makan bersama di sini. Lebih baik, dia tadi memilih untuk makan di dalam kamar saja. "Rafli, nih. Tadi Mbak Atin bawa masakannya ke sini, loh. Rafli suka sayur pare, to?" Mama Refa terlihat mengarahkan semangkuk sayur pare oseng kepada anaknya. Rafli menganggukkan kepala. "Iya, Ma–" "Dek, kamu gak masak buat Mas?" "Ini banyak banget apa?" "Ini bukan masakan favoritnya Mas." "Makan yang ada, Mas." "Tapi, Mas suka sayur terong pedes, Dek–" "Dasar pilih-pilih!" Rafli masih pada pendiriannya. Berekspresi datar tanpa adanya raut apapun yang terkadang membuat orang lain bingung. Dihimpit okeh sepasang suami istri yang tengah bertengkar, ini tidak ada dalam list makan makan remaja laki-laki itu. Mbak Atin yang merasakan bahwa masih ada anggota keluarga di meja makan ini, lekas menghentikan tatapan kesalnya kepada sang suami. Wanita dengan paras yang rupawan tersebut tersenyum canggung. "Maaf, Ma, Pa. Saya gak sengaja." "Ahahaha." Rafli dapat melihat bagaimana mama dan papanya tertawa. Tampak membuat Mbak Atin semakin malu karenanya. "Marahin aja, Tin. Gak apa. Tuh anak emang bandel." Papa Restu mendukung menantunya. Sementara di sampingnya, mama menganggukkan kepala menyetujui. "H–haha … iya, Pa. Permisi sebentar, ya …." Mbak Atin bangkit dari kursinya dengan sopan. Dia berjalan ke luar, tetapi sebelumnya—dia sudah lebih dulu memberikan tatapan menekan kepada Mas Rafa. Terlihat begitu jelas. Hingga pada akhirnya, Mas Rafa ikut berdiri dari kursinya dan berjalan keluar. Meski tidak diberitahu, tetapi Rafli yakin. Pasti keduanya tengah ketemuan di suatu tempat. Entah mungkin karena Mbak Atin ingin memarahi suaminya lebih puas, atau hal-hal lainnya. Sekarang, di ruang makan ini hanya ada tiga orang. Seperti biasanya. Benar sekali, tidak seharusnya Rafli tadi menyetujui permintaan Mas Rafa untuk makan. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Seraya menghela napas, Rafli mulai mengambil piring di atas meja. Kemudian mengisinya dengan nasi putih dan beberapa lauk pauk yang disukai. "Rafli, suka martabak manis, 'kan? Itu tadi Mas Rafa sama Mbak Atin mampir buat beli," celetuk Papa Restu memberitahu. Untuk sesaat, Rafli mendongakkan kepalanya. Menghentikan aktivitas makannya sebentar. "Rasa apa, Pa?" "Rasa keju sama cokelat. Ya, kesukaanmu, lah, Raf." Rafli menganggukkan kepalanya senang. Lalu lanjut menunduk untuk kembali memakan makanan di dalam piringnya. "Jangan dimakan, ya, Pa. Martabak manisnya buat Rafli." *** Sementara, di sebuah rumah yang begitu sederhana. Tepatnya, pada sebuah kamar yang minimalis dengan dinding berbahan batu bata tanpa adanya cat. Seorang remaja laki-laki SMA lainnya, tengah merenung. Dia terduduk pada sebuah jendela kamar yang dibukanya. Memperhatikan bagaimana ia dapat melihat sawah yang tak jauh darinya. Cahaya kuning remang-remang dari gubuk, adalah hal yang selalu menarik perhatian laki-laki itu. Serta, kedua matanya terus mengamati di sawah sana. Tidak seperti orang lain yang biasa menghitung bintang. Tapi, Bagas, laki-laki itu lebih suka menghitung kunang-kunang. Menurutnya, cahaya kunang-kunang lebih indah daripada cahaya bintang. Orang bilang, selalu ingin mengambil sebuah bulan. Ataupun rembulan. Bahkan, ada lagu yang juga mendukungnya. Tapi, bila benar bulan akan turun dan diambil. Maka yang terjadi, ialah sebuah masalah. Bentuk bulan begitu besar, tak terbayangkan. Bisa saja, benda langit yang selalu dikatakan indah tersebut, membuat banyak orang menangis dan menjerit. Jika ada yang mengambilnya, dan menaruhnya di bumi. Jadi, Bagas lebih menyukai kunang-kunang. Meski diambil pun, itu tidak akan membahayakan dirinya. Kunang-kunang yang selalu indah di mata Bagas. Kunang-kunang yang selalu dapat membuat laki-laki itu tersenyum, juga menangis. "Bagas ...." Suara ketokan pintu kamar yang dibarengi dengan panggilan nama tersebut, membuat Bagas seketika menoleh. Laki-laki itu kemudian turun dari jendelanya, dan berjalan ke arah pintu. Membukanya, kemudian menemukan seorang wanita paruh baya yang wajahnya telah berkeriput. Wanita itu tersenyum lembut. "Bagas ikut mboten? Mas Jaka mau keluar buat beli martabak. Sana, ditungguin Mas Jaka." Bagas menganggukkan kepalanya dengan senyuman ramah. "Nggeh, Budhe." Laki-laki itu kemudian keluar dari kamar, untuk menyusul Mas Jaka yang sepertinya berada di halaman rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN