Mbak Aua

1029 Kata
Seperti anak-anak yang rumahnya dekat dengan sekolah. Mereka akan berangkat dan pulang secara mandiri, berjalan kaki atau naik sepeda. Sementara tadi, Bagas sudah harus berpisah karena rumahnya lebih dulu sampai. Laki-laki itu berbelok, sedangkan Arya dan Rafli masih melanjutkan perjalanannya. Hanya memakan waktu lima menit saja berjalan kaki, sampai pada akhirnya mereka berhenti. "Makasih, ya, Raf. Traktirannya." Rafli menganggukkan kepala, kemudian langsung berjalan menuju sebuah rumah besar bergerbang hitam. "Sampai jumpa, Yak." Lalu Arya, langsung masuk ke dalam rumah sederhana miliknya. Laki-laki itu mengucap salam dengan panjang sampai pada ruang tamu. Kosong tidak ada siapa-siapa. Bunda-Nya, 'kan, bekerja di pabrik. Meski begitu, kebiasaan mengucap salam tidak pernah Arya ditinggalkan. Entah sedang ada orang atau tidak, yang penting mengucap salam itu wajib. Arya menaruh tas beratnya di atas kursi. Merasakan bagaimana beban yang dipikulnya sudah berkurang drastis. Kemudian laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi. Hanya untuk cuci wajah, cuci kaki, dan cuci tangan. Lalu masuk ke kamar tidurnya sendiri untuk berganti pakaian. Hingga begitu Arya membuka pintu kamar, dia sudah terlihat santai dengan pakaian rumahnya. Arya menaruh kotak bekal miliknya di dapur, setelah tadi mengambil dari dalam tas. Tatapan mata laki-laki itu terarah pada meja makan sederhana, yang atasnya terdapat tudung. "Bunda masak gak, ya ...." Arya duduk di kursi, seraya membuka tudung meja tersebut. Melihat bagaimana ada sepiring sayur kentang dan tempe pedas, serta beberapa pekedel. Lalu ada pula bakul berisi nasi yang cukup untuk nanti Arya makan siang dan sore. Makanan seperti bekalnya tadi. Hanya berbeda dengan beberapa bungkus kue yang tersaji di atas meja. Kue buatan bundanya, Arya mengambil salah satu. Kemudian membuka dan memakannya. Untuk masakan rumah, Bunda memang ragu untuk diandalkan. Tapi, untuk masalah kue dan roti, bahkan Arya rela memberikan bintang sepuluh. *** Hari sudah mulai menjelang malam, dan sama sekali belum ada pertanda bahwa Dinda akan pulang. Berarti, Bundany Arya tersebut tengah lembur, yang mana nantinya pula akan mendapat tambahan gaji. Arya berada di dalam kamarnya. Tepat duduk menghadap sebuah meja dengan tumpukan buku. Laki-laki itu tengah mengerjakan tugas rumah yang tadi Pak Guru berikan. Sebenarnya, empat hari lagi baru akan dikumpul. Tapi hari ini Arya merasa bosan, sehingga lebih baik dia mengerjakan tugas rumahnya sekalian. Namun, detik berikutnya Arya mendengarkan ketokan pintu rumah dibarengi ucapan salam. Lantas, dia segera bangun dan keluar dari dalam kamar untuk menuju ruang tamu. Arya membuka pintu rumah. Kemudian menyalimi tangan Dinda setya mengecupnya pulang. "Lembur, Bunda?" tanya Arya seraya membantu membawakan tas Dinda masuk ke dalam rumah. Dinda mengangguk. Lalu masuk dan setelahnya menutup pintu kembali. "Iya. Bunda lembur–Yak!" Arya menoleh dengan kaget. "A ... pa, Bunda–" "Maksudmu gimana ini? Seragam sekolah kok bisa kotor. Ini baru hari Senin, loh!" Dinda mengangkat seragam SMA putranya, yang tadi sempat terbengkalai di atas meja. Arya meneguk ludahnya susah-susah. "Besok, 'kan, libur, Bunda. Tanggal merah." "Ooh ... gitu. Jadi setiap kalau besoknya libur, kamu mau nambah-nambah cucian Bunda? Iya, Yak?" geram Dinda tidak habis pikir. Ini seragam sudah dia cuci bersih kemarin-kemarin. Lalu, besok pagi cuciannya harus bertambah satu. Jika terus dibiarkan, putranya akan semakin terbiasa. Sementara Arya menundukkan kepalanya pelan dengan menggeleng-gelengkan kepala. Ia kemudian mendongak. "Besok Arya yang cuci seragamnya, kok," ucapnya kekeuh. Dinda menghela napas panjang. "Gak usah, Bunda aja yang cuci. Tugas Bunda. Tugas kamu belajar sana. Kamu yang cuci, malah gak bersih nanti." Arya menganggukkan kepalanya pelan. "Makanan yang di meja uda habis, 'kan?" Sekarang Dinda mengganti topik pembicaraan. Arya menjawab dengan gelengan kepala. "Masih ada sedikit, Bunda. Nasinya juga." "Kok masih? Kamu ini, Yak, Yak. Kalau Bunda siapin makan, ya, dihabisin. Terus saja masih. Nyisain makanan itu gak baik, ya, Yak. Nasinya bisa nangis. Sisanya biar nanti Bunda yang makan," terang Dinda. Wanita itu kemudian menuju ke dalam untuk mencuci tangan dan kakinya. Di ruang tamu, Arya bergumam, "Nasi, kok, bisa nangis. Arya uda gedhe." Lagian, Arya nyisain makanan juga buat Bunda. Kemudian, setelahnya Arya masuk kembali ke dalam kamar. Lanjut mengerjakan tugas rumah yang sempat dia tinggalkan. Kebiasaan yang selalu Arya ulangi. Dia akan memisahkan makanan untuk Bundanya terlebih dahulu. Baru kemudian mulai makan. Memang, malam Dinda akan memasak lagi. Tapi, Arya selalu berpikir, bukankah orang jika selepas pulang kerja akan merasa lapar? Terlebih Bundanya merupakan seorang wanita yang hemat. Daripada uang digunakan untuk membeli nasi bungkus di jalan, lebih baik untuk uang saku putranya sekolah. *** Sementara, di kamar seorang remaja laki-laki SMA yang lain. Rafli terdiam sejenak di atas kasurnya. Kedua mata laki-laki itu memandangi ponsel dengan layar yang menyala. Menampilkan beberapa balon-balon chat lama, antara dirinya dan Vanya. Vanya? Tidak. Rafli selalu membuat sebutan nama sendiri untuk perempuan itu. Dia selalu memanggilnya dengan nama bagian belakang. Vanya Nathalia Laura. Rafli selalu memanggil dengan panggilan 'Laura'. Karena ia rasa, nama itu lebih cocok ketika diucapkan. Sebenarnya, terinspirasi dari seorang anak kecil yang juga merupakan tetangga Rafli. Rumahnya tak jauh dari sini. Anak itu selalu memanggil Vanya dengan, 'Mbak Aua'. Awalnya, Rafli memang bingung begitu mendengar. Tapi, kemudian Vanya menjelaskannya sendiri. Bahwa maksud dari 'Mbak Aua' ialah 'Mbak Laura'. "Mbak Aua? Dia panggil kamu, Van?" Kala itu Rafli bertanya. Menatap ke arah seorang perempuan berambut se-bawah bahu yang terurai, dengan jepitan beruang di sisi atas telinganya. Vanya memang tinggi, tetapi jika dibandingkan dengan Rafli, jelas laki-laki itu pemenangnya. "Iya." Vanya membalas dengan anggukan. "Kok, bisa?" Rafli mengernyitkan dahinya bingung. Sementara, saat itu Vanya tertawa kecil. "Mbak Aua itu Mbak Laura. 'Kan, namaku gak cuma satu kata aja, Raf," ujar Vanya menahan tawanya. "Laura? Itu bagus." Suara pintu kamar yang terbuka, membuat Rafli seketika sadar dari lamunannya. Dengan segera laki-laki itu menoleh, mendapati pria yang jauh lebih tua darinya di ambang pintu. Pria itu tersenyum jahil. "Hayoo ... ngapain kamu tadi senyam-senyum gitu? Kakak lihat, loh." Wajah Rafli berubah datar seketika. Dia mengacuhkannya, seakan tidak peduli. "Gak ada apa-apa. Kenapa ke sini?" "Lah, ini waktunya makan malam, Raf. Tuh, Mama uda masak. Habis nanti kalau ditunda-tunda." "Iya. Entar aku ke sana." "Cepetan, ya." Setelahnya, pria yang merupakan 'kakak laki-laki Rafli' itu keluar dan kembali menutup pintu kamar. Di dalam, Rafli menghembuskan napas lega. Kemudian laki-laki itu langsung bangkit dari kasurnya, untuk setelahnya keluar dari kamar. Menuju ke arah dapur, yang sudah dipastikan sudah penuh dengan anggota keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN