Untuk sesaat, Rafli terdiam. Tak mampu hanya sekedar mengucapkan sepatah kata. Dia bungkam untuk beberapa saat.
Sementara, Arya menepuk bahu Rafli pelan. "Raf! Sadar .... Hei," bisik laki-laki itu. Tidak ingin jika Pak Deni yang tengah menerangkan dapat mendengar obrolannya ini.
Rafli terkesiap. Sepasang matanya mengedip pelan, lalu mengangguk. "Ya ...." Dia segera kembali fokus ke arah papan tulis. Membenarkan duduknya agar dapat terasa lebih nyaman. Di dalam hati, Rafli memanjatkan doa. Berharap bahwa Tuhan dapat memberinya iman yang lebih kuat.
***
Ini adalah jam istirahat yang kedua. Berarti, waktu yang diberikan cukup lama, sekitar 1,5 jam. Biasanya, anak-anak SMA Permadani menyebutnya sebagai Isoma. Singkatan dari Istirahat, Sholat, dan Makan.
Mereka dapat sholat berjamaah di mushola sekolah, berurutan sesuai kelasnya. Kemudian, dapat istirahat dibarengi dengan makan bekal yang telah disediakan. Tapi, banyak pula yang memilih untuk pulang ke rumah masing-masing dan makan. Karena murid SMA Permadani, sebagian besarnya adalah anak-anak kampung di sekitar sekolah.
Bagas yang biasanya memilih untuk pulang, kini masih berada di kelas. Bersama Arya, setelah kelas mereka melakukan sholat berjamaah.
"Yak ... memang, Rafli kenapa?"
Arya menoleh. Laki-laki itu baru saja mengeluarkan kotak bekal dari dalam loker mejanya. "Oh ... itu ...." Arya membuka kotak bekal, kemudian kembali melanjutkan, "cintanya beda agama."
"Rafli benar suka Vanya?"
Arya mengangguk seraya memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Sayur kentang pedas dan bekedel, hasil dari bundanya membeli di warung sebelah rumah. Arya memang tidak salah memilih makanan favorit.
Sementara kini Arya sibuk makan, Bagas hanya dapat termengu saja. Hingga membuat Arya yang hampir menghabiskan bekalnya, heran. "Kenapa, Gas? Lo gak makan?"
Bagas menggelengkan kepalanya. "Gak. Tapi, gue bawa wafer dari rumah."
"Nasi?"
"Kayaknya bakal telat kalau gue pulang. Lagipula, gak terlalu lapar, kok," ulas Bagas.
"Oh, gitu. Ngomong-ngomong ... Lo ... pernah suka seseorang, gak?" Sekarang Arya sudah menghabiskan bekalnya, dan menutup kembali kotak tersebut.
Bagas menggeleng. "Kalau suka, pernah. Tapi gak terlalu suka banget, lah."
Detik itu juga, Rafli masuk ke dalam kelas. Kehadirannya langsung disambut tatapan penasaran dari Arya dan juga Bagas.
"Habis dari mana, Raf?" tanya Bagas. Sekedar berbasa-basi.
"Kantin," jawab Rafli seraya menarik kursinya, untuk kemudian duduk. "oh, ya."
"Apa?"
"Nanti, traktirannya masih jadi," lanjut Rafli.
"Masih jadi? Eh, gak usah, Raf. Kita tadi hanya bercanda ...." Arya menolaknya. Tidak mau bersenang-senang di atas pemderitaan temannya.
"Oh, ya uda–"
"Habis pulang sekolah, 'kan, Raf?" Dengan cepat Arya memotongnya. Mendapatkan anggukan dari Rafli sebagai jawaban. "oke, makasih, Rafli."
"Bicarain tentang Lo yang punya cinta beda agama, gue jadi teringat akan seseorang." Kini Arya mencari topik pembicaraan lain.
Rafli yang duduk di samping kanan Arya, tidak peduli. Dia memilih untuk menelungkupkan kepala di atas meja. Kemudian tertidur hingga nantinya Bu Guru tiba.
"Teringat seseorang siapa, Yak?" Pada akhirnya, Bagas yang akan memberikan respon. Laki-laki itu mulai siap mendengarkan apa yang akan Arya katakan..
"Paman dan bibi gue, mereka dulu juga beda keyakinan," ulas Arya. Mengingat-ingat bagaimana pada saat itu ... pernikahan paman dan bibinya dilangsungkan. Kalau tidak salah, waktu Arya sendiri masih berumur 4 tahun.
"Berarti dulunya Mualaf, ya, Yak?"
"Gak."
"Terus?"
"Mereka beda keyakinan. Satunya uda yakin, yang satu lagi belum yakin. Tapi, syukurlah. Sekarang aman-aman saja. Bahkan, uda punya anak juga. Sepupu gue," jelas Arya seraya memasukkan kotak bekal yang telah kosong, kembali ke dalam loker meja.
"Gue kira Lo anak pinter, Yak."
***
Arya merangkul pundak Rafli di sampingnya. Bersama dengan Bagas pula, ketiga remaja laki-laki SMA itu keluar gerbang sekolah.
"Traktir di mana, nih?" Arya mulai bertanya. Pasalnya, warung mie ayam dan juga bakso di sini tidak hanya satu.
"Biasanya aja. Tempat Mbak Rahayu," balas Rafli singkat. Seraya menyamakan langkah kaki dengan yang lain. Ya, dia dirangkul begitu saja sehingga sulit untuk berjalan tegak.
"Oke. Mbak Rahayu warungnya terpercaya, dapet banyak lagi."
Keluar dari gerbang sekolah, Arya, Bagas, dan juga Rafli membuka baju seragamnya. Tapi, mereka telah memakai double baju rumahan. Lagi pula, besok adalah libur. Selasa, ada tanggal merah.
Tepat di depan gerbang SMA Permadani, adalah lapangan kampung. Lalu, sampingnya merupakan sawah yang Minggu kemarin sempat dikunjungi. Sementara, warung milik Mbak Rahayu, ada di dekat lapangan.
Ketiganya langsung menuju ke bangunan cukup luas tersebut. Mirip seperti warung-warung bakso biasanya, warung Mbak Rahayu ini memiliki banyak meja dengan kursi-kursi plastiknya.
"Mas, bakso!" Arya memesan. Tepat di samping seorang pria dewasa, yang tengah mengaduk-aduk mie di gerobak kayunya.
"Berapa, Yak?"
"Bakso dua, mie ayam satu. Tambah es teh dua, es jeruk satu, ya, Mas," lanjutnya. Menatap ke arah Bagas dan juga Rafli yang telah memilih tempat duduk di dalam.
"Gak nambah?"
"Gak, Mas. Gue cuma ditraktir."
"Yo. Nanti tak antar. Duduk dulu sana."
Arya menganggukkan kepala. Langsung masuk ke dalam warung dan duduk bergabung bersama yang lain.
Duduk di meja kosong, dengan beberapa alat makan. Seraya menunggu pesanan, ketiga remaja SMA itu meletakkan tasnya masing-masing di meja sudut ruangan.
Tidak butuh waktu lama, sampai Mas yang ada di gerobak tadi telah datang menuju meja Arya dengan membawa nampan. Ia meletakkan mangkok-mangkok pesanan, serta gelas-gelas berisi minuman yang dipesan.
"Nih, ya. Gek makan." Mas tersebut kemudian kembali ke tempatnya semula, untuk membuat pesanan dari pembeli lain.
Sebelum meneguk es teh-nya, Arya menatap ke arah Rafli sekilas. Usia mereka hanya berjarak beberapa bulan saja. "Makanya, kalau lihat perempuan itu, jangan dari wajahnya aja. Gara-gara Vanya cantik, 'kan."
Seraya memasukkan bakso ke dalam mulut, Rafli menanggapi dengan deheman. "Gue, 'kan, juga gak tahu."
"Pandangi juga tangan sama lehernya Vanya. Siapa tahu beda warna."
Di samping, Bagas yang tengah menyedot es teh-nya, langsung tersedak. Laki-laki itu memukul lengan Arya. "Kalau mau ngelawak, jangan waktu gue makan, Yak."
"Lah, gue bener, 'kan." Arya mengangkat garpu yang dia gunakan untuk menusuk baksonya. "sekarang ini, Gas. Banyak yang begitu. Wajah cakep langsung dilihat, gak lihat tangan sama yang lain lagi. Asal cakep aja."
"Gue kira jadi laki-laki baik uda cukup dalam hubungan. Ternyata, harus ganteng, ya, Yak." Bagas membalasnya.
Sementara, Arya menganggukkan kepala. "Jangankan hubungan. Lowongan kerja aja masih mandang fisik."
Rafli menghela napasnya, memandangi bagaimana pembicaraan yang ada di depan mata. "Hei ... makan tuh bakso, Yak. Keburu dingin. Kayak pernah jalin hubungan aja."
"Fakta, Raf. Kalau jomblo lebih paham percintaan daripada yang punya hubungan."