"Ngapain berduaan, eh?"
Rafli dan Vanya menoleh ke arah samping. Melihat Arya yang tengah menggaruk rambutnya seraya berjalan mendekat.
"Oh, iya. Tadi Bu Melati minta aku sama Rafli buat ambil beberapa buku di perpustakaan." Vanya menjawab.
"Oh ... gitu." Sembari menatap menggoda, Arya terus saja menyikut lengan Rafli. "Hehe ... rahasia Lo kebongkar, Raf."
Rafli memaksakan senyum yang merekah di wajahnya. Laki-laki itu menunduk pelan, membisikkan sesuatu pada seorang Arya. "Awal Lo sampe ganggu gue."
Arya menganggukkan kepala cepat. Menunjukkan jempolnya, seakan tengah mengatakan, 'Oke. Gue gak akan ganggu'.
"Gas, temen Lo ajak ke kelas aja," ulas Rafli ke arah Bagas yang tak jauh darinya. Laki-laki itu menganggukkan kepala mengerti.
"Yak, ayo ke kelas!" Bagas langsung merangkul temannya, mengajak pergi ke suatu tempat yang dituju. Sementara, Vanya terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
Perempuan itu menatap ke arah Rafli dengan perasaan canggung. "Itu ... Arya sama Bagas, kenapa?"
Rafli tertawa paksa. Dia menyingkirkan angin di depannya dengan telapak tangan, mengibas-ngibaskan. "Jangan terlalu dipeduliin dua orang itu, Ra."
Sekarang giliran Vanya yang tertawa kecil. Sembari keduanya berjalan menuju perpustakaan, sekali-kali perempuan itu bertanya.
"Ada yang bilang, kalau Arya punya pekerjaan. Itu benar, Rafli?"
Rafli setengah terkejut. Bukan karena tahu bahwa ulah Arya selalu menyebar cepat, tetapi terkejut mengapa Vanya, dapat tertarik dengan hal seperti itu.
"Rafli?"
"Oh, iya." Rafli kembali menatap ke arah Vanya sembari berjalan. "kurang tahu, sih, Laura. Memang, katanya kerja apa?"
"Banyak yang bilang, kerja jadi PNS. Waktu di sawah, Arya juga pernah bilang."
Rafli menahan tawanya. Tidak tahu bahwa Vanya termasuk perempuan yang begitu polos. Bahkan sudah jelas, bahwa usia Arya masih 17 tahun. Mana mungkin diterima menjadi PNS. Masuk kantornya saja, sudah dipastikan laki-laki itu akan diusir lebih dulu.
"Hei, kenapa tertawa? Lucu?" Sekarang Vanya telah langsung menghentikan aktivitas menahan tawanya Rafli.
Laki-laki itu berdehem pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Maksudku, Arya ... dia itu bohong, Laura. Jangan percaya."
"Oh. Arya benar-benar bukan PNS?"
"Ya ... palingan yang dimaksud Pegawai Negeri Sosmed," lanjut Rafli, terbiasa dengan yang terjadi.
***
"Kenapa, Yak? Lu flu? Bersin-bersin terus." Bagas menepuk-nepuk pelan punggung Arya. Di kelas ini, hanya ada beberapa saja yang masih bertahan. Sisanya telah meninggalkan. Lalu pergi ke kantin, atau lapangan depan sekolah.
"Gak, gue cuma ... kayak ngerasa lagi diomongin, yah. Apa gue seterkenal itu?"
"Terkenal dari mana? Pak Presiden aja gak tahu kalau Lo itu hidup, Yak." Sebagai seorang teman, Bagas menyadarkannya. Dia bukan lah teman yang akan memberikan harapan serta kata-kata manis. Bagas merupakan teman, yang akan membimbing ke jalan yang benar. Sehingga dia perlu memberikan realita, bukan ekspetasi. Agar Arya sadar diri.
"Lu, Gas! Gak bisa cari kata-kata yang lembut dikit," keluh Arya memprihatinkan.
"Ya ... maaf." Sekarang Bagas duduk di bangku samping Arya. Keduanya satu meja, kini. Dipisahkan oleh kursi yang harus diduduki secara mandiri.
"Gas ...."
"Hem?"
"Gimana kalau kita ke perpustakaan? Ngintip bentar. Siapa tahu, ada yang menarik," tawar Arya dengan perasaan senang. Menatap penuh harap ke arah laki-laki di sampingnya.
Bagas menolak. Menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau.
"Kenapa?"
"Bentar lagi bel masuk kelas. Pelajaran agama mau mulai," jawab Bagas.
Sekarang Arya menganggukkan kepalanya mengerti. Lalu kembali menelungkupkan kepala di meja, tertutupi semula dengan kedua siku.
Sekitar lima belas menit kemudian, hingga semua murid kelas X telah masuk kembali ke dalam kelas. Termasuk dengan Rafli dan Vanya. Keduanya tengah membagikan buku paket yang tadi Bu Melati perintahkan.
Sampai pada meja Arya dan Bagas, Rafli terus mendapatkan tatapan aneh.
"Ehem!" Bagas berdehem, dengan suara yang dihasilkan cukup keras. Lalu Arya, laki-laki itu sudah senyam-senyum sendiri.
Rafli berbalik, berjalan menuju bangkunya. Melewati meja Arya serta Bagas. Seraya mengatakan, "Gue traktir mie ayam, habis pulang sekolah nanti."
"Gue bakso, ya," imbuh Arya kemudian.
Lalu, tidak lama setelahnya, seorang pria paruh baya telah masuk ke dalam kelas. Dia adalah guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pak Deni.
Beliau mengucapkan salam kepada para murid-muridnya. Kemudian, mulai membuka suara. "Untuk yang lain, sudah ditunggu sama Bu Greysa. Tolong untuk segera ke kelasnya beliau."
Setelah lima menit berlalu, Pak Deni kembali melanjutkan ucapannya. "Terima kasih, Billa, Rafa."
Kedua siswa tersebut menganggukkan kepala seraya setelahnya langsung kembali ke bangku masing-masing. Setelah keduanya membantu menaruh tas Pak Deni, dan menata meja gurunya menjadi lebih rapi.
"Lalu ini, papan tulisnya untuk yang piket, silakan dibersihkan. Tapi kalau masih penting, salah satu catat dulu." Pak Deni menunjuk papan tulis di dekatnya. Sementara, Rafli langsung mengangkat tangan.
"Saya saja, Pak Deni." Laki-laki itu bangkit dari bangku kemudian berjalan ke depan kelas. Mulai membersihkan papan tulis meskipun ini bukan jadwal piketnya.
Di belakang, Arya dan Bagas saling berbisik. Mereka bahkan masih dapat mendiskusikan sifat orang lain dengan santai. Padahal pelajaran sudah hampir dimulai.
Selang beberapa saat kemudian, Rafli kembali ke tempat duduknya. Laki-laki itu satu meja dengan Zaky. Di sampingnya tepat, merupakan meja Arya dan Bagas. Ya ... dapat dibilang mereka bersebelahan. Memang tempat duduk ketiganya tidak pernah jauh-jauh.
Pelajaran Agama Islam dimulai. Tampaknya, ini kedua kalinya Pak Deni mulai mengajar di kelas X. Karena memang, kelas ini baru saja masuk semester satu. Hanya beberapa bulan sejak pertama kali masuk sekolah SMA. Itu pun, di tahun ini banyak liburnya.
Sesekali Rafli sibuk melirik ke beberapa bangku di kelasnya. Sebenarnya, dia tidak ingin sibuk sendiri di jam pelajaran agama seperti ini.
Namun, Rafli memilih untuk mencondongkan tubuhnya ke samping. Ke arah Arya tepatnya, yang jarak antar meja tidak terlalu jauh.
"Yak. Ptss ... sssttt." Kode-kodean dari Rafli. Cukup lama, hingga Arya menyadarinya.
"Apa, Raf?" balas laki-laki itu pelan. Ikut bertukar pandang dengan teman di samping kanannya.
"... em–Vanya ... Lo lihat dia, gak?" tanya Rafli dengan perasaan ragu.
Arya tersenyum tertahan. Tangan kanannya terangkat untuk menepuk punggung Rafli. "Kalau bicara yang jelas ... gak usah malu-malu gitu."
"Uda lah, terserah Lo. Gue juga cuma tanya." Rafli hampir saja kembali menatap depan, jika Arya tidak membujuknya.
"Gue tanya Bagas dulu." Arya beralih menghadap ke kiri, di mana teman sebangkunya tengah tekun mendengarkan penjelasan—dari Pak Deni. Murid pintar memang selalu berbeda..
"Gas, Gas. Tanya sebentar."
"Apa, Yak?" Bagas menatap ke arah Arya, juga Rafli yang berada di samping mejanya. Terlihat jelas, karena memang jarak yang dekat.
"Lo tahu Vanya gak?" Sekarang gantian Rafli yang bertanya, dengan nada lirih.
"Vanya? Bukannya ini pelajaran Agama Islam? Dia, 'kan, Katholik."