BerSer-Nya Sampai Part 2

1012 Kata
"Nyampee!" Bagas menghela napasnya lega begitu memasuki lapangan sekolahnya ini. Dia menatap ke arah dua teman yang berada di sampingnya. Rafli yang seperti biasa—tidak suka menampilkan ekspresi—selalu datar. Kemudian, Arya– "Lo kenapa, Yak?" Bagas menepuk punggung laki-laki itu sedang. Menatap wajah temannya yang tidak berdaya. "Gawat! Sekarat." Kilatan kedua netra Arya meluncur tepat di arah Bagas. "Sembarangan!" ketusnya tidak terima. Sementara Bagas, hanya terkekeh. Hal yang sudah biasa dilakukan oleh para laki-laki zaman sekarang. Bercanda. "Gue tadi habis begadang, Gas. Ngerjain tugas dari Bu Nia. Ngantuk." Sekarang laki-laki itu mulai berkeluh kesah. Mendongak menatap langit dengan tatapan yang begitu sendu. Menembus ke ulu hati bagi orang yang memandang. Seakan tengah mengingat cuplikan-cuplikan mengenai perjuangan mengerjakan 40 soal dalam semalam. "Yak ...." Tidak tahu insiatif dari mana, tetapi kini kedua mata Bagas mulai berkaca-kaca. Bahkan tanpa Arya jelaskan, laki-laki itu sudah merasakan dengan apa yang Arya rasakan. "Tugas dari Bu Nia yang kumpul minggu depan," lanjut Bagas kemudian. "Iya–HA?!" "Iya, Yak. 'Kan, kemarin Bu Nia kasih kelonggaran waktu. Ya, 'kan, Raf?" Bagas menatap ke arah Rafli. Terlihat laki-laki tanpa ekspresi itu menganggukkan kepalanya. "T–tidak." Arya memegang dadanya sesak, laki-laki tersebut mulai kesulitan untuk sekedar bernapas. Pandangannya mulai terasa kabur, hingga keseimbangan tubuh pun ikut tidak teratur. Tidak butuh waktu lama, hingga tubuh Arysa ambruk di atas lapangan sekolah. "Kok, gak ada yang nolongin?" *** Arya tertunduk lemas di mejanya. Kepala pria itu ia tundukkan, lalu ditutup dengan kedua tangan yang melingkar. Masih ada sekitar sepuluh menit lagi, hingga jam pelajaran pertama dimulai. Itu pun, tidak bisa terlalu tepat. Dikarenakan Bu Guru atau Pak Guru yang suka mundar-mundur. Tapi, biasanya telat lebih lima menit. Jadi cukup untuk Arya saat ini menenangkan pikirannya, sebelum laki-laki itu harus mulai mencerna pelajaran rumus-rumus matematika. Sesaat kemudian, tepukan sedang di legan Arya terasa. Namun, tampaknya sang empu tetap tidak peduli. Terbukti dengan bagaimana tak ada respon dari laki-laki itu. "Yak, jadi gak? Gue mau kasih BerSur, nih!" Bagas berdiri, membisikkan sesuatu kepada Arya yang tak mau menampakkan kepalanya. Atau hanya sekedar mendongak. Satu detik, Arya langsung mengangkat kepalanya dan mendongak cepat. Oh ... sekarang wajah laki-laki itu terlihat jelas, tidak ada yang berubah. Berita Seru tidak boleh diabaikan! "Jadi, Gas! Cepetan." Arya begitu semangat. Dia bahkan sampai berdiri dari kursinya, dan duduk di kursi samping. Kemudian mempersilakan Bagas untuk duduk di kursi yang tadi ditempatinya. Bagas langsung duduk, kemudian berdehem pelan. "Lo uda siap, Yak? Ini tentang Rafli soalnya." Arya merangkul pundak Bagas akrab. "Ya, gak apa-apa lah, Bro. Sekali-kali ngobrolin tentang temen." "Dasar! Laki-laki, kok, bisa gibah." Arya menoleh. Kemudian mendapati Ayu yang sudah berlalu dari dekatnya. "Gua bukan gibah. Tapi, membicarakan orang lain dengan metode diskusi, dilengkapi dengan berbagai komentar untuk mencapai sebuah mufakat bersama." Ayu terus berjalan ke bangkunya, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. "Sama ajaaa!" balasnya tak tertarik. Arya mengejek Ayu dalam hati, lalu memalingkan wajah dan kembali tertuju pada Bagas. "Lanjutin, Gas." Bagas mengambil ancang-ancang yang menurutnya nyaman, untuk memulai pembicaraan. "Lo tahu gak? Rafli ... lagi pendekatan sama Vanya. Waktu Rafli fokus lihat layar ponsel, dan sibuk chatting-an. Itu dia lagi sibuk chat sama Vanya." Arya kaget. Laki-laki itu membulatkan kedua mata. Penjelasan dari Bagas memang dibuat dalam nada serendah mungkin, tetapi dia mendengar dengan begitu jelas. "Really?!" "Yes. You can check it." "Lu yang bener, dong! Gue ngomongnya pakai bahasa yang mudah, loh. Kok, lu malah yang sulit?" Arya tidak terima akan kenyataan ini. Pasalnya, nilai Bahasa Inggris laki-laki itu satu ikat dengan pelajaran lainnya. Sementara Bagas terkekeh pelan lalu mengangguk. "Iya, iya." "Tapi, yang Lo bicarain tadi bener, Gas?" Arya kembali serius. Ini menyangkut temannya. Maksudnya, Rafli ... dia—sama sekali tidak pernah peduli dengan perempuan. Teman memang teman. Namun, tidak pernah lebih daei sebatas hubungan tersebut. "Beneran–" "Yak, Lo sekarang piket kelas?" "O–oh ... iya." Arya membeku yang di tempat. Orang yang dibicarakan langsung datang. Rafli, laki-laki itu berdiri tidak jauh dari meja Arya. "Itu papan tulisnya belum dihapus." Rafli menunjuk ke arah belakangnya. Tepat pada papan tulis dengan latar hijau, yang penuh dengan garis-garis putih. Sudah sejak hari Sabtu lalu, dan terbengkalai hingga Senin ini. Dikarenakan hari Minggu yang pastinya libur. Susah payah Arya menganggukkan kepalanya. "Iya, Raf." Terlihat Rafli yang mengangguk, dan mulai berjalan pergi untuk duduk di bangkunya sendiri. Sementara Arya langsung bernapas lega. "Gas, gue ngerjain kewajiban penting gue di sekolah dulu. Nanti lanjut part 2, ya." Bagas mengangguk seraya memperlihatkan ibu jarinya. "Tenang aja. Part 2 bel istirahat bunyi." *** Di taman sekolah yang menyatu dengan halaman sederhana, terdapat setumpuk kardus jumbo yang ditata berjejer. Tingginya dapat menyamai tinggi irang dewasa. Bukan sebuah hal menarik dengan kardus-kardus tersebut. Hanya saja, di tengah beberapa hirup-piuk para murid yang asyik bermain ... terdapat dua remaja laki-laki yang tengah dengan lihainya membicarakan orang lain dengan metode diskusi, dilengkapi dengan berbagai komentar untuk mencapai sebuah mufakat bersama. Keduanya bersembunyi di balik kardus jumbo bertumpuk. Bagas berjongkok, sementara Arya nyaman untuk lesehan. Padahal seragamnya bisa kotor karena hal tersebut. "Emang uda lama, Gas, si Arya suka sama Vanya?" tanya Arya sesaat setelahnya. Bagas terlihat berpikir, tetapi kemudian menggelengkan kepala. "Gue gak tahu pasti, sih, Yak. Tapi ... Rafli deketin Vanya juga baru-baru ini. Sekitar beberapa hari lalu." "Oh, ngerti-ngeri." Arya menganggukkan kepalanya berkali-kali. Masih nyaman dengan duduk laki-laki itu yang lesehan, seperti saat makan pecel lele malam-malam di pinggir jalan. "Eh, Yak. Itu Rafli sama–" "Sama siapa?" "Sama ...." "Sama ...?" "Sama Vanya." "Aelah! Ngomong 'Vanya' aja susah. E–eh ... apa, Gas? V–anya?" Bagas menganggukkan kepala, seraya ia menunjuk ke luar dari balik kardus. Lalu Arya, dia tidak dapat melihatnya. Tempat ini begitu sempit. "Gue keluar dari tempat ini, lah, Gas. Gak lihat." Arya mulai berdiri dari duduknya dan keluar dari dalam persembunyian. Mencari-cari ke segala arah, hingga tatapannya terkunci pada dua orang beda gender yang tak jauh di depannya. Arya berjalan mendekati keduanya, dengan senyum merekah yang tak pernah luntur dari wajah. "Halo, epribadeh." Sementara di balik tumpukan kardus, Bagas menepuk jidatnya sendiri. "Dia temennya siapa, sih?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN