Bercerita pada Bunda

1012 Kata
"Gak ada apa-apa, kok, Budhe." Arya menjawab dengan lugas. Mama Rafli tersenyum, kemudian mengangguk. "Oh, kalau gitu gak ada apa-apa, ya. Arya sama Bagas uda makan belom?" Bagas menganggukkan kepala. "Sampun, Budhe." "Lah, makan pakai apa?" Mamanya Rafli terlihat penasaran. Dikarenakan kemarin, dia bahkan belum sempat untuk menyiapkan makanan saji. Berharap anak dan teman-temannya, bisa membeli makanan di warung depan gapura, atau warung ujung jalan. Mamanya Rafli, hanya bisa mempersiapkan bahan-bahan mentahnya saja, lalu juga beberapa camilan sebelum dirinya pergi. "Sarapannya ada Bagas yang masak, Ma. Masakannya enak banget. Lalu habis sarapan, kita juga makan oseng-oseng keong." Kini giliran Rafli yang menjawab. "Oh? Iya, to? Kalau oseng-oseng keongnya, dari mana? Buat?" Rafli mengangguk. "Ya ... gak hanya kita, sih. Karena kita, 'kan, pergi ke sawah. Ketemu Billa, Ayunindya, sama Lau–anak yang rumahnya ada di samping rumah Pak Suryoto itu, loh." "Oh, cari keong terus dimasak. Kalau makan siang sama makan sorenya? Uda, Nak?" Mamanya Rafli terlihat masih ingin bertanya. Guna memastikan bahwa dirinya sedang tidak membuat anak orang lain kelaparan. "Sampun, Budhe," jawab Bagas sopan. "tadi Rafli beli nasi lauk di ujung jalan. Beli banyak, dan belum habis semuanya. Jadi, sisa makan siang tadi, untuk makan sore. Ini tadi, baru saja." Mamanya Rafli yang mendengar menghela napas pelan. "Oh, tenang Budhe kalau begitu." Sementara dari arah bagasi, terlihat ayahnya Rafli yang berjalan mendekat. Pria paruh baya tersebut berbadan tinggi dan tegap, di tangannya membawa semua kunci mobil. "Gimana kabarnya? Sehat, kan?" *** " .... rumahnya Rafli sampai ada AC-nya! Terus, Bun ...." Arya terus berceloteh. Laki-laki itu bercerita tanpa henti-hentinya di ruang tamu. Dia menceritakan awal dirinya berangkat ke rumah Rafli, hingga saat ini sudah kembali berada di rumahnya. Tidak ada satu pun yang ketinggalan, Arya menceritakannya secara detail. Sangat. Sementara anaknya sibuk bercerita, Dinda sebagai seorang Bunda mendengarkan di kursi single. Tangan kanannya pun sibuk untuk terus memakan taro yang tadi anaknya bawa. Bahkan kini, jari-jari kanan wanita itu sudah kemerah-merahan akibat bumbu taro yang menempel. Tidak tanggung-tanggung. Dinda juga selalu membalas dan mengomentari setiap paragraf Arya bercerita. Wanita itu seakan memang mendukung apa yang putranya lakukan. Dua puluh menit lebih berlalu. Tampaknya selama itu lah pula Arya terus bercerita tanpa henti. Ruang tamu yang hanya dihuni dua orang itu pun, sudah terasa sangat ramai oleh cerita Arya. "Uda, uda dulu ceritanya, Yak. Bunda ambilin minum, ya," ucap Dinda. Memotong pembicaraan anaknya yang masih bercerita dengan seru. Arya menganggukkan kepalanya. Kemudian Dinda masuk ke belakang, tepatnya ke arah dapur. Tidak lama kemudian, wanita itu sudah kembali berada di ruang tamu dengan segelas air putih di tangannya. "Makasih, Bun." Arya menerima segelas air putih tersebut. Lalu meneguknya hingga tandas. Percayalah, bercerita selama dua puluh menit lebih itu melelahkan. Mulut Arya kering seketika. Tapi begitu meneguk air putih, yah ... semuanya terasa lega. "Budhe Refa ngasih apa, Bunda?" Kini Arya sudah melirik-lirik ke arah wanita yang berada di kursinya. Dinda membuka kantong plastik hitam tersebut. "Roti, ini. Sama cokelat. Mau, Yak?" Arya mengangguk. "Arya mau cokelatnya, Bunda." Dinda tersenyum. Mengeluarkan sekotak cokelat pemberian Refa—mama Rafli. Membuka kotak persegi panjang tersebut, hingga keluarlah aroma khas cokelat pada umumnya. Kali ini berbeda, terasa lebih berkelas. Mungkin karena dari keluarga yang berada. Beginilah jika memiliki tetangga. Semuanya dapat dilakukan bersama dan selalu menerapkan sikap saling berbagi. Layaknya keluarga sungguhan. Arya memakan cokelat tersebut tanpa aba-aba. Hingga Dinda harus menegur anaknya tersebut. "Yak, berdoa dulu toh, baru makan." "Iya, iya." Arya menghentikan aktivitasnya sejenak. Untuk sekedar menadahkan kedua tangan dan berdoa. Lalu sepuluh detik setelahnya, aktivitas makan cokelat kembali dilanjutkan. Dinda memperhatikan anak laki-laki semata wayangnya tersebut, dengan menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ingat umur. Makan cokelat masih saja belepotan kanan–kiri. Beberapa saat setelahnya, Arya menatap sang ibunda. "Bunda? Bunda gak makan?" Dinda mengangkat kedua bahu sembari tertawa kecil. "Lihat kowe kuwi makan, Bunda juga uda langsung kenyang." Wanita itu kemudian berdiri dari duduknya. Berjalan pelan menuju ke arah dapur. "Kalau uda makan cokelatnya, ke dapur, Yak. Kita makan. Pasti uda kangen masakannya Bunda, 'kaaan?" Suara tersebut seakan menggema sampai ke ruang tamu. Padahal Dinda sudah berada di dapur. Dengan santainya, Arya tetap melanjutkan makan cokelat. Laki-laki itu bergumam, "Kemarin aja masak ikan langsung gosong. Lagian, lebih enak juga masakannya Bagas." "Yak! Bilang apa tadi?!" Arya buru-buru mendongakkan kepala. Melihat bagaimana wajah ibundanya yang terlihat marah. Wanita itu berdiri dengan salah satu tangan memegang sendok makan. Menaruh kedua tangan kanan dan kirinya di kedua sisi pinggang. "Apa tadi? Ulangi, Yak!" Dinda mempertegas ucapannya. Kedua netranya masih bertarung dengan dua pupil mata milik Arya. "Gak, Bun. Gak. Beneran." *** Di ruang kamar yang begitu sederhana ini, Arya tengah bersandar pada tempat tidurnya. Bukan dengan memainkan benda layar pipih. Tapi, karena laki-laki itu sedang menghitung ada berapa banyaknya cicak di kamarnya. Mulai dari yang menempel di dinding, sekitar lantai, hingga bahkan yang tengah bersembunyi di sekitar lampu. Ya, tampaknya Arya benar-benar tengah kesepian saat ini. Oh, tetapi tidak lagi setelah sebuah notifikasi chat terdengar. Arya menoleh, mendapati layar ponselnya yang menyala. Dia meraihnya, dan menemukan sebuah notifikasi mengambang—chat dari Bagas. Kening laki-laki itu sedikit berkerut. Langsung membaca pesan yang entah kenapa dikirim malam-malam oleh temannya. [Yak!] [Gue punya kabar terbaru. Gak terlalu penting, sih. Tapi ini beneran penting, Yak!] "Kabar terbaru? Apa, nih?" gumam Arya dengan masih berpikir. Namun, sedetik setelahnya laki-laki itu segera mengirimkan sebuah balasan pesan. [Kabar apa, Gas! Kasih tahu, doooong ....] Tidak membutuhkan waktu lama hingga pesan yang tadi Arya kirim, sudah kembali mendapatkan jawaban. [Besok aja, Yak. Waktu sekolah. Fasilitas tidak mendukung.] Arya menghela napas begitu mendapati pesan tersebut. Padahal tadi dia sudah begitu semangat. Seakan mengharap bahwa temannya tersebut akan membawa berita sayembara. Tentu, yang hadiahnya dapat membuat keteguhan Arya runtuh. Tapi, apa? Rasa-rasanya, Arya jadi ingin sekali order tamparan untuk diberikannya ke Bagas. "Kalau gitu, gue bobok dulu–pe'er belum dikejaiiiin!" Arya langsung berdiri di atas kasurnya. Sudah tidak karuan lagi bagaimana ekspresi laki-laki itu. Sedetik kemudian, Arya langsung menuju ke meja belajarnya. Kalang kabut sendiri. "Besok Bu Guru yang galak lagi!" Kini, Arya mengacak-acak rambutnya. Sebelum laki-laki itu mulai mendudukkan diri di kursi belajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN