"Wishhh ... enak ini!" Bagas berseru.
Sebuah gubuk di samping sawah begitu nyaman. Ada dua jendela yang selalu dibiarkan terbuka, untuk dapat mendapati hamparan sawah hijau. Di belakang gubuk, juga ada sebuah kolam kecil berisikan ikan.
Tapi, tidak ada yang berani untuk mengambilnya. Sebab ikan dan kolam adalah milik orang lain.
Tapi, tidak apa. Pemandangan yang ada di dalam gubuk, sudah dapat membuat Bagas tergoda.
Ya, terdapat daun pisang yang diletakkan memanjang. Di atasnya, sudah ada oseng-oseng keong pedas tanpa cangkang. Dengan berbagai bumbu yang tadi memang sempat diambil dari rumah Billa. Tumpukkan nasi putih pulen di atasnya juga terlalu memanjakan mata. Ditambah pula, dengan adanya cobek batu yang berisi sambal matah.
Menurut Bagas, hal ini lebih baik daripada makan makanan di restoran.
"Yak, kalau mau makan, cuci tangan dulu sana, ih!" perintah Ayu yang ditunjukkan untuk Arya.
Laki-laki berbadan tinggi tersebut melihat ke arah kedua tangannya, lalu berdecak pelan. "Gue uda cuci tangan, Yuk."
"Tapi bau."
"Ya, jelas lah. 'Kan, gue baru aja cuci keong. Mana keluarin kotorannya lagi," ujar Arya.
"Ya uda, Lo makannya harus pakai sendok tapi."
"Tangan gue, 'kan, uda bersih–"
"Nih! Jangan banyak omong." Billa langsung menyerahkan sebuah sendok kepada Arya. Lelah terus mendengarkan perdebatan tersebut. Otak perempuan itu memang sedang mengalir cerdas-cerdasnya.
"Iya, iya."
"Ayo, masuk. Semuanya uda siap."
Dari dalam gubuk terlihat Vanya yang sudah mempersiapkan segalanya. Dengan suara halus, perempuan itu mengajak teman-temannya untuk segera masuk ke dalam gubuk.
"Hem." Rafli segera berjalan masuk ke dalam gubuk, laki-laki itu kemudian duduk bersandar di dalamnya. Ya, gubuk yang lumayan luas untuk enam orang remaja SMA.
Begitu semuanya sudah siap, mereka kemudian berdo'a menurut keyakinan masing-masing.
Vanya membuka matanya, "Silakan. Kalian bisa langsung makan."
Rafli menganggukkan kepala. Sementara, Arya sudah menyendok nasi dan juga oseng-oseng keong langsung dari lembar pisang. Laki-laki itu melahapnya dengan nikmat. "Ini enak–"
"Pakai piring, dong! Masa mau semua makan jadi satu," potong Ayu. Perempuan itu memberikan piring kepada Arya, tetapi ditolak.
"Lo kayaknya dari tadi cari masalah sama gue, deh," curiga Arya tidak suka.
"Cari masalah sama Lo? Lo yang cari masalah, Yak."
"Uda, Yak. Katanya, jadi laki-laki itu yang gentle." Di samping, Bagas menepuk bahu Arya. Sementara Billa memisahkan perdebatan keduanya.
"Yang perempuan pakai piring aja. Yang laki-laki biar makan di alas pisangnya," saran perempuan itu, disetujui oleh anggukan Vanya.
***
Saat ini, hari sudah mulai sore. Dari yang matahari masih berada di ufuk timur, sekarang sudah hampir masuk ke peraduan barat. Sinar orange yang menyilaukan pemandangan pun, dapat dilihat oleh orang-orang yang berlalu lalang di jalan ini. Jika di Yogyakarta, menyebutnya lurung.
Jalan yang cukup luas kira-kira dengan lebar tiga meter, dengan sisi kanan-kiri rumah penduduk. Jalan umum, tetapi tidak terlalu umum karena berada di dalam desa. Jarang ada kendaraan yang berlalu, kecuali kendaraan warga yang hendak pergi ke kota.
Lalu, tepat pada sebuah rumah paling besar di bagian ini, terdapat tiga remaja laki-laki yang bersantai di dalamnya. Mereka menikmati bagaimana rasanya tidur atau sekedar leyehan di teras rumah mewah. Memandangi bagaimana latar depan rumah yang terdiri dari rerumput hijau pendek. Rumah Rafli yang menggunakan pagar hitam ini, membuat Arya tidak bisa jika harus melihat pemandangan rumah lain.
Arya tertidur lesehan di lantai keramik teras rumah Rafli. Laki-laki itu membuka mulutnya, "Lo ngapain, sih, Raf? Dari tadi malem gitu terus."
Arya menatap ke arah Rafli. Bagaimana laki-laki itu yang masih setia bersandar pada dinding rumah sembari tangannya yang memegang ponsel. Arya heran, apa yang menarik dari benda elektronik buatan luar negeri tersebut.
Rafli terlihat langsung mematikan layar ponselnya, begitu mendapat suara Arya yang menginterupsi. Wajah datar seperti biasanya selalu Rafli tunjukkan. "Gak ngapa-ngapain."
Arya menatap dengan penuh tatapan menyelidik. "Apaan, hayooo ...."
"Gak ada."
"Ah, bohong ...."
"Yak, kayaknya Lo harus makan camilan di dapur, deh. Gue punya stock soalnya. Cari di lemari putih, rak ke tiga dari bawah."
"Oke." Arya langsung berdiri dari tidurnya. Laki-laki itu tidak akan menyia-nyiakan sebuah kesempatan.
Dia segera masuk ke dalam rumah Rafli, dan berjalan menuju dapur. Di sana sudah ada pula seorang laki-laki yang dikenalnya. Bagas.
"Habis ngapain, Gas?" Arya bertanya. Begitu melihat pergerakan Bagas tadi yang seperti baru saja menelepon seseorang, dan kemudian mengakhirinya.
Bagas berbalik, dia menggaruk kepalanya canggung. "Oh ... keluarga gue."
Arya membalas jawaban tersebut dengan sebuah anggukan. Seakan memang dirinya mengerti. Karena dengar-dengar, Bagas tinggal di kampungnya ini bersama dengan keluarga Pak Suryoto—yang merupakan—pakdhe-nya.
"Terus, Lo ngapain di dapur, Yak?" Gini giliran Bagas yang bertanya. Dia melihat bagaimana temannya tersebut tengah sibuk mencari sesuatu dari dalam laci sebuah lemari putih.
"Cemilan–ini dia!"
Arya menunjukkan dua bungkus taro berukuran besar kepada Bagas. "Gas, ada banyak banget," serunya.
Bagas berjalan mendekati Arya. Benar sekali, stock camilan di rumah Rafli ini memang tidak main-main. Bukan hanya satu jenis camilan saja, tetapi bermacam-macam.
"Gas, kita ambil tiga buat makan di depan. Terus, kita ambil tiga tiga lagi buat kita bawa pulang. Setuju gak?" Seperti sebuah agen intelejen, Arya berbicara pelan dengan tubuh yang dicondongkan ke depan. Tepat pada Bagas, berbisik pada laki-laki itu.
"Kayaknya ... jangan, deh, Yak. Gak enak gue ...." Dengan ragu, Bagas menggaruk tengkuknya pelan. Bagaimana pun juga, dia adalah seorang warga yang baru saja menetap di kampung ini.
"Gak apa-apa, Gas. Mamanya Rafli baik banget, kok. Dulu aja, waktu gue ambil kerupuk dua biji, langsung dikasih dua toples." Arya menyakinkan. Hingga dengan terpaksa, Bagas menganggukkan kepala.
Setelah persoalan kecil di dalam rumah selesai. Arya dan juga Bagas keluar kembali dan duduk di teras rumah Rafli. Terlihat masih pada posisi yang sama, Rafli juga masih menatap layar ponselnya.
Sembari duduk bersila di lantai, Arya dengan jujurnya berujar, "Nih, Raf. Oh, ya. Gue ambil enam bungkus camilan tadi, gue masukkin tas tiga. Tiga laginya ada di Bagas."
Rafli meletakkan ponselnya, kemudian meraih sebungkus taro dan membukanya sembari mengangguk. "Iya, gak apa-apa," jawabnya. Begitu tahu bahwa Bagas yang sudah duduk tersebut, merasa tidak enak.
"Tengkyu, Raf!"
"Nuwun, ya, Raf."
Setelah percakapan tersebut, semuanya berakhir. Hanya beberapa perbincangan dilakukan dengan begitu asyik. Bahkan hingga 30 menit ke depan, mereka masih setia di tempatnya.
Sebelum sebuah suara logam yang bersentuhan, dan menimbulkan suara nyaring tersebut terdengar.
Rafli menoleh ke arah pagar hitam yang mengelilingi rumahnya. Membatasi area rumah dengan rumah-rumah lainnya.
Laki-laki itu lantas langsung berdiri dari duduknya, menyerahkan ponsel kepada Arya langsung. "Titip."
Dengan segera, Rafli berjalan menuju pagar, dan detik setelahnya, dia membuka pagar tersebut. Bertemu dengan mamanya.
Terlihat wanita berusia di akhir 30 tahun-an tersebut, tengah tersenyum ramah pada tetangga samping rumah. Lebih tepatnya, dengan Bundanya Arya.
"Uda pulang, Mbak Ref?"
"Iya, Mbak. Karena Minggu Mas Restu juga harus balik kerja." Mamanya Rafli terlihat menjawab sembari tertawa pelan.
"Lah, iyo. Nuwun, ya, Mbak Ref. Anakku semalam malah nginep ing rumah'e Rafli. Ngerepotin."
"Ora, ora ngererepotin, kok. Wong Arya uga bisa dadi temenne Rafli." Mamanya Rafli melirik ke arah anaknya sebentar, sembari menyerahkan kantong plastik hitam berisi oleh-oleh. Lalu, tidak lama setelah hal tersebut, dia kembali menatap ke arah Dinda yang tak jauh darinya. "Kalau begitu, sampun, nggeh."
"Oh, nggeh, nggeh."
Setelah acara sapa-menyapa tersebut selesai, mamanya Rafli segera masuk ke dalam halaman depan rumah. Lalu dengan Rafli, keduanya langsung berjalan mendekati teras.
Memberikan akses bagi sebuah mobil hitam tersebut untuk segera masuk ke halaman rumah. Tepatnya, menuju bagasi mobil yang terletak di samping teras.
"Pagarnya ditutup lagi, Nak," ucap mamanya Rafli. Membuat sang anak dengan sigap mengangguk dan berlari kecil menuju pagar kembali.
Dia menutup gerbang tersebut, lalu kembali berjalan menuju teras. Terlihat Arya dan Bagas yang kini sudah berdiri. Keduanya dengan sopan menyalimi tangan mamanya Rafli.
"Gak ada apa-apa, 'kan, selama budhe pergi?"