Antara Lapangan dan Sawah

1118 Kata
Sekitar jam setengah enam pagi, matahari sudah mulai menampakkan diri di ufuk timurnya. Samar-samar terlihat cahaya cerah yang memiliki perpaduan antara warna orange muda dan kuning. Lalu di jam ini pula, tiga remaja laki-laki SMA telah menunaikan ibadahnya. Sehingga, ketiganya sudah terlihat di lapangan kampung. Lapangan yang biasanya selalu digunakan untuk anak-anak bermain, lalu juga selalu menjadi tempat olahraga para siswa SMA Permadani. Karena letaknya yang hanya berada di depan sekolah, saling berhadapan hanya dengan sekat jalan nan jarang pengemudi. Arya merentangkan kedua tangannya dengan bebas, kemudian menghirup napas dalam-dalam. Bahkan kedua matanya juga terpejam, seakan mendukung aktivitasnya tersebut. Sementara di belakangnya, terlihat Rafli yang sedang mengobrol dengan Bagas. "Gas, masakan buatan Lo tadi, benar-benar enak." Untuk yang ketiga kalinya, Rafli kembali memuji. Dia benar-benar tidak mengira bahwa Bagas pandai memasak—melihat bagaimana sebelumnya—laki-laki itu malah terus bercanda. Namun, sungguh Sampai sekarang ini, Rafli belum bisa melupakan bagaimana rasa masakan Bagas yang harus siswa-siswi SMA Permadani coba. Mungkin bahwa para guru juga harus mencobanya. Terkadang, Rafli bersikap hiperbola hanya untuk mengenai makanan. "Karena bahkan, kayaknya masakan Lo lebih enak daripada masakan ibu gue, deh," lanjut Rafli lagi. Di depannya, Bagas menjawab pujian Rafli dengan tertawa. Sebelum akhirnya, suara dari Arya membubarkan obrolan singkat tersebut. "Gas, Raf! Lihat, tuh!" "Apaan?" respon Rafli dengan berat. Rafli dan Bagas kini tengah sama-sama menatap ke arah Arya. Suaranya yang memang keras, selalu menjadikan orang-orang harus memperhatikannya. "Ada bidadari kesasaaaar!" ujarnya histeris. Telunjuk Arya sampai mengarah pada sebuah hamparan sawah yang cukup luas. "Mata Loooo!" Saat itu juga, Rafli dan Bagas juga mendengar suara seorang perempuan yang terdengar kesal. Mereka mulai benar-benar memperbaiki kembali penglihatan, lalu menatap lagi bagaimana sawah di samping lapangan kampung ini terbentang. Bukan sawah yang masih basah—yang membuat Rafli dan Bagas tertarik. Tapi, bagaimana ada tiga perempuan yang tengah berdiri di parit sawah. Lalu, untuk Bagas … dia sudah tahu suara perempuan siapa tadi yang menyahut seruan Arya. Suara Billa. Perempuan yang selalu dikenal galak, kasar, dan menguasai silat sabuk hitam. Tidak salah lagi dengan bagaimana suaranya yang tidak asing. Sangat berbeda dengan dua perempuan lain yang bersama Billa. Ayunindya yang memiliki suara normal dengan ciri khasnya, dan Vanya yang suaranya lebih halus dan lembut. Arya yang selalu aktif dengan segala pemikirannya, berbalik menatap ke arah Rafli dan juga Bagas. "Ayo," ajaknya kemudian. "Ngapain?" "Ya, ke sawah juga, lah!" "Buang-buang waktu–" "Yaelah … ayo, cepetan!" Baru saja Rafli ingin membalas, tetapi Arya tampak sudah tidak ada di posisinya. Laki-laki tersebut sudah berada di perbatasan antara lapangan kampung dan sawah, yang selalu dibatasi dengan kayu datar yang menghubungkannya. Lalu dengan bagaimana Bagas yang ikut-ikut saja. Membuat seorang Rafli, mau tidak mau juga menyusul temannya, untuk menyeberangi sawah. Dapat dilihat begitu sampai di tengah-tengah sawah, kini tiga remaja laki-laki SMA masih mempertahankan jalannya. Mereka berdiri di atas parit satu-satu, karena sudah pasti tidak akan muat dan tidak akan bisa jika semuanya langsung berjalan bersamaan. Tidak membutuhkan waktu lama hingga Arya, Rafli, dan Bagas kini dapat bertemu dengan Ayu, Billa, dan juga Vanya. Ayu yang berhadapan dengan Arya, terlihat menghela napas singkat. "Yak, minggir sana!" Lawan bicaranya tidak merespon. Kecuali dengan gaya biasanya yang sok-sokan. "Kita mau jalan!" lanjut Ayu pada akhirnya. Tidak begitu suka mendapati tiga temannya yang sudah ikut campur. Billa yang berdiri di belakang Ayu, kemudian berseru. "Beneran, kaki gue uda pegel! Lu kalo mau cari gara-gara, jangan sekarang, deh!" "Nyari gara-gara? Gue cuma mau bantuin," jawab Arya bersikeras. Ia menatap ke bawah, bagaimana tangan Ayu tengah membawa ember kecil berisikan makhluk-makhluk sawah. Makhluk-makhluk sawah, yang jika dijual akan mendapatkan harga begitu tinggi. Tanpa permisi lebih dulu, Arya dengan cepat mengambil alih ember kecil yang dipegang Ayu. "Yok, gue bantuin!" Ia mengedipkan sebelah matanya, membuat perempuan yang berada di hadapannya merasa—pengen nampar. "Gak usah bilang terima kasih, gue ikhlas, kok," imbuh Arya setelahnya. Sebelum akhirnya, pria itu membuat tindakan yang membuat orang-orang kaget. Arya yang berdiri di parit, turun ke permukaan sawah. Permukaan yang jelas-jelas begitu becek dengan genangan air dan juga lumpur. Lalu dengan tanaman padi-padi kecil yang masih terlihat hijau segar. Oh … sebagai seorang perempuan, Ayu jijik melihatnya. Ia gumoh. Apalagi dengan Vanya, yang berada di belakang—menatap kelakuan Arya tak habis pikir. Sementara Billa, tampaknya perempuan itu berbeda. Tidak ada rasa yang dirasakan teman-temannya sama sekali. Itu sudah biasa untuk Billa, karena terkadang ia juga melakukan hal serupa. "Gas, Raf! Ayo, jangan lihat aja!" Setelah seruan dari Arya tersebut, kini sudah ada dua orang tambahan lagi yang turun langsung ke dalam permukaan sawah. Bagas dan Rafli, yah … mereka juga seperti halnya Arya, tidak jijik sama sekali. Mengingat dengan gender ketiganya yang merupakan laki-laki. "Untung belum mandi," ucap Bagas. "Habis ini langsung mandi," balas Rafli setelahnya. "Yah … padahal rencananya, minggu-minggu gini … gue mau libur mandi. Tapi, gak apalah. Itung-itung menebar kebaikan." Ungkapan isi hati Arya tersebut, membuat orang-orang di sekitarnya paham. Bahwa, Arya sudah merencanakan libur mandinya. Orang yang selalu mengaku tampan, memang beda. *"* Suara gemericik air mengalir terdengar begitu jelas sejak tadi. Tentang bagaimana air yang bertemu dengan batu-batu bersih tersebut, menimbulkan suara yang khas. Ya, beginilah aktivitas setelah enam orang remaja melakukan aktivitas di sawah. Mereka akan berurutan untuk kemudian mencuci tangan dan kaki di bawah sebuah kran yang mengeluarkan air jernih nan segar. Di bawahnya, sebagai pijakan, ada bebatuan bersih berukuran cukup sedang yang dapat menjadi alas kaki. Arya berdiri dengan diri baru yang lebih segar. Menggunakan baju lengan pendek, dan celana panjang yang sejak tadi memang sudah digulung hingga atas lutut. Sandal berbahan dasar karet yang digunakannya, juga terlihat masih basah—setelah ia baru saja mencuci kaki. "Ini … tadi siapa yang bilangnya mau bantuin?" Vanya terlihat tengah mengeluh, atau sedang menyindir beberapa laki-laki. "Bukannya tadi uda dibantuin cari? " balas Rafli. Suara tersebut membuat Arya yang tadinya menyendiri sembari menatap sawah, harus dengan segera berbalik dan berjalan menuju ke arah teman-temannya berada. "Kita, 'kan, bisa bantuin makan. Atau mungkin … bantuin do'a aja, biar masakannya enak." Sekarang giliran Bagas yang bersuara. Membuat Billa yang sibuk berada di sebuah gubuk, menoleh dan mendelik tajam. "Cepet! Ulangi!" kecamannya yang lantas membuat Bagas mengabaikan. Sesekali dengan balas mengejek. Beruntung sekali, di gubuk sana … ada Ayu yang menenangkan Billa. "Ssttt …." Arya menengahi teman-temannya. Laki-laki itu kemudian melanjutkan, "ayo, kita cuci keongnya. Jadi laki-laki itu, yang gentle." Ia kemudian dengan wibawanya, berjalan di antara orang-orang. Lalu berhenti tepat di hadapan Vanya, untuk mengambil alih sebuah ember kecil penuh berisikan keong hasil kerja keras. Arya menatap ke arah Rafli dan Bagas. Kemudian kedua matanya menyorot ke bawah, tepat saat ada dua ember kecil lainnya, dan juga dua tas plastik putih besar yang penuh akan keong. "Tuh, cuci. Bareng-bareng," ujarnya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN