Siapa yang Memasak?

1106 Kata
"Sakit gak, Yak?" Sebagai seorang teman yang baik, Bagas bertanya kepada Arya. Laki-laki itu bahkan rela mengorbankan kekalahan dalam game-nya untuk hal tersebut. Lebih memilih mendekati Arya, dan menanyakan kabar tubuhnya yang baru saja mengalami suatu musibah. "Sakit lah, Bro!" Arya membungkuk dengan tangan kanan yang memegangi pinggangnya. Sedangkan tangan kiri dijadikan sebagai alat untuk menapak ke lantai. Retak, euy! "Jangan kebanyakan gaya, Yak," ujar Bagas kemudian. Lalu kembali melanjutkan game miliknya, yang sempat direlakan. Sementara Arya mendengkus pelan. Laki-laki itu berjalan pincang ke arah Rafli. Lihatlah, di saat temannya ini kesengklek, dia sama sekali tidak menengok. Fokus saja memandang layar benda pipih yang dipegangnya. Gawat! Bisa-bisa ponselnya Rafli salting, nih. Ditatap sama laki-laki ganteng. Arya ambruk begitu saja menyandar Rafli. Terus berusaha mengintip apa yang tengah dilihat oleh temannya tersebut. Berkali-kali Arya melirik, bahkan hingga 360° lirikannya pun, tidak berhasil sama sekali. Beberapa saat kemudian, Arya terjungkal ke belakang begitu saja. Punggungnya bertumbuk dengan sandaran kasur. "Gawat, gawat! Lo senyum, Raf? Kerasukan apaan?!" Matanya melotot, membuat suasana menjadi gaduh secara mendadak. Arya tadi melihat Rafli tersenyum, sendirian! Hal yang sangat jarang terjadi kepada orang se-waras Rafli Nur Ramadhan. Rafli menatap ke arah Arya sekilas, kemudian langsung kembali ke arah layar ponselnya. Seakan tidak ada hal yang terjadi sama sekali. Arya kembali kaget. Laki-laki itu dengan cepat menoleh ke arah Bagas. "Gas, Gas! Rafli kita, Gas! Kerasukaaan!" Tidak tanggung-tanggung, kedua tangan Arya menangkup dua sisi pipi Bagas pula. Membuat wajah temannya tersebut kempes seketika. Pasti, tidak lupa dengan menggoyang-goyangkannya. "Y–yakhhh ...." "Oh, sorry." Arya menarik kembali kedua tangannya yang sempat membuat Bagas mendapati kekalahan game-nya. Berselang beberapa detik, hingga pada akhirnya Bagas berbisik. "Ada apa emangnya?" "Si Rafli, dia lihat layar ponsel sambil senyum! Aku takut, Mas–" "Gak usah lanjutin, Yak," potong Bagas dengan cepat. Dia mendengarkan apa yang temannya katakan, tetapi tidak akan pernah ingin mendengarkan kata terakhirnya. "Siap–" Sebuah tawa kecil menginterupsi. Suara khas seperti seorang pria yang bercampur dengan vocal bass. Lantas saja, membuat bulu kuduk Arya dan Bagas berdiri tanpa disentuh. Ini begitu menyeramkan untuk mereka yang masih berusia belasan tahun. Apalagi dengan Bagas. Laki-laki itu bahkan belum sempat merasakan membuat sebuah KTP. Hanya beberapa detik. Ya, beberapa detik sebelum suara khas seorang pria tersebut tak terdengar kembali. Kedua laki-laki yang awalnya tidak dapat bergerak, kini mulai berani untuk menoleh. Lalu mengedarkan pandangan ke tiap sudut kamar ini. Luas juga. Jadi, mereka hanya mengedarkan ke setengah luas kamar. Arya dan Bagas bukanlah anak kembar. Namun, tatapan mereka secara bersamaan terkunci kepada Rafli. Dia masih sama seperti tadi. Bersandar di bantalan ranjang, lalu kedua tangannya memegang ponsel. Tidak lupa dengan mata yang selalu terarah ke layar tersebut. "Raf ... jangan bilang, kalau yang ketawa tadi itu Lo?" Rafli mengalihkan perhatiannya. Menjadi tertuju ke arah Arya sembari mengernyit. "Ketawa? Apa maksud Lo?" Pertanyaan yang sayangnya membuat raut wajah Arya dan Bagas ketakutan. Jika bukan Rafli, terus siapa. "Raf, gue mau ngompol." Arya menatap Rafli dengan sendu. "... langsung ke kamar mandi sana." "Tungguin ...–" "Gue geplak lama-lama!" "Bukannya Geplak itu salah satu makanan khas Bantul?" Bagas bertanya dengan bingung. *** Sebuah kamar tidur luas ini, ditempati oleh tiga remaja laki-laki SMA. Semuanya masih tertidur pulas, karena jam yang masih sangat pagi. Seorang laki-laki tertidur di kasur dengan normal. Badannya bahkan tegak, dengan wajah yang meneduhkan. Ia adalah pemilik kamar ini, Rafli. Sementara, dua laki-laki yang lain tidur di samping kanan dan juga samping kiri Rafli. Sebut saja mereka adalah orang-orang yang menumpang menginap, Arya dan Bagas. Keduanya saling menghimpit sang pemilik kamar. Pertama, Bagas. Laki-laki itu menjadikan wajah Rafli sebagai tempat tangannya bertengger. Seakan memang Rafli tidak pernah ada, dan Bagas dapat tertidur sepuasnya. Wajah Bagas pun tidak menatap ke arah Rafli, melainkan sebaliknya. Seperti sedang merajuk. Lalu, yang kedua ialah Arya. Dia menjadikan Rafli sebagai sebuah guling. Benar-benar sangat mirip, karena salah satu tangannya yang sejak tadi melingkar di d**a Rafli. Seakan sebuah karet yang selalu ada di bungkusan nasi uduk, melingkar. Salah satu kaki Arya pun tidak ragu untuk menjepit kedua kaki Rafli. Bayangkan saja seperti sebuah cerita. Arya yang memeluk Rafli, membuat Bagas dengan terpaksa memalingkan wajah. Mereka memang pandai membuat sebuah drama, bahkan pada saat tertidur. Lalu, yang pertama kali membuka mata adalah Rafli. Tidak kaget, karena memang posisi tidur laki-laki tersebut yang mengenaskan dan merugikan. Pemandangan yang pertama kali dilihat Rafli ialah seperti sebuah hal yang buram. Tangan. Ya, tangan Bagas yang menutupi wajah tampannya. Rafli langsung memindahkan tangan Bagas yang menutupi wajahnya. Kemudian, laki-laki itu menghela napas panjang. "Yak ... awas ...." Rafli mendorong tubuh laki-laki yang berada di sampingnya. Tenaga yang digunakan tidak seberapa, karena Rafli baru saja bangun tidur. Nyawanya bahkan belum terkumpul sempurna. Hal yang terus mengusik tidur kedua temannya itu pun, lama-kelamaan membuat kedua laki-laki tersebut benar-benar bangun. Kemudian beberapa puluh menit setelahnya, mereka sudah berada di meja makan yang satu ruang dengan dapur. Rafli duduk di salah satu kursi, geleng-geleng kepala sendiri ketika mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Bangun tidur aja, harus ada drama. Di samping Rafli, ada Bagas yang juga duduk. Sementara di hadapan Bagas, ada pula Arya yang baru saja duduk. Mereka saling tatap, dengan sebuah pertanyaan yang sama terlintas di kepala. "Gue laper." Ketiga laki-laki itu menjawabnya secara bersamaan. Sama-sama pula dengan kedua mata yang masih mengantuk, dan penuh dengan beberapa belek. "Padahal belum makan. Tapi kok gue laper, ya?" Arya bermonolog sendiri setelahnya. "Kalau laper, ya tinggal masak. Tuh, dapur sama bahan-bahannya udah tersedia." Rafli mengarahkan dagunya ke arah belakang, tepatnya di dapur yang disekat oleh kabinet putih. Laki-laki itu sengaja, karena sadar diri bahwa dirinya tidak bisa memasak. "Gue mau masak. Tapi ngantuk, Raf," keluh Arya. Ya, terkadang saat hening-heningnya, kepala laki-laki itu dengan tiba-tiba menunduk dengan cepat. Seakan kepalanya lebih berat daripada beban hidupnya. "Makanya, bangun tidur itu cuci muka dulu." Suara itu membuat Arya dan Rafli menoleh. Tepatnya di dapur. Bagas tengah mencuci wajahnya di sebuah wastafel. "Imejing! Kapan Lo bangun dari kursi Lo, Gas?" Arya bertanya hiperbola. Seingatnya, baru beberapa saat lalu ia melihat Bagas yang duduk di hadapannya. Dari dapur yang tak jauh sana, Bagas tersenyum bangga. "Biar gue aja yang masak. Lo semua tinggal nonton aja." "Beneran?" Kini Rafli merasa senang. Setidaknya, ia tidak perlu ke luar rumah untuk membeli sarapan. Karena sudah ada Bagas yang memasaknya. Rafli tidak bisa memasak, bahkan hanya untuk mie instan sekalipun. Laki-laki itu terbiasa dengan mama yang tidak pernah absen membuatkannya sarapan. "Beneran, dong. Gini-gini, gue dulu selalu ahli kalau masalah masak-masak," ujar Bagas bangga. "Hebat. Makasih, ya, Gas." "Gak usah bilang terima kasih, Raf. Gue dulu memang jago masak batu bata yang diulek."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN