Kesengklek

1224 Kata
Di ruang tamu ini, Arya hanya dapat duduk di sofa dengan menundukkan kepala dalam. Pasrah. Sesekali remaja laki-laki itu melirik ke arah jam dinding. Rupanya, sudah hampir setengah jam sang ibunda terus-terusan memarahi. “Udah bunda bilang, kalau ada nomor enggak dikenal telepon, jangan diangkat! Kamu itu, kok, ngeyel banget! Waktu kecil juga! Disuruh jangan mainan kabel mejikom, malah tetap dimainin! Beruntung banget cuma kesetrum aliran listrik kecil! t**i sapi juga dikira cococips! Bunda sampai lelah sama kelakuanmu itu, Aryaaa!” Wanita berdaster tersebut terlihat masih terus mengomel, tak ada tanda-tanda akan berhenti. Mengumpulkan keberanian, Arya mulai mendongak pelan, meski masih tak berani untuk menatap wajah bundanya. “I–itu udah belasan tahun lalu, Bun–“ “Apa?! Udah berani ngelawan?” Dinda kini berkacak pinggang, menatap tajam putra semata wayangnya yang telah kembali menunduk. Arya menggeleng pelan, terlalu ekstrem jika dirinya kembali membalas ucapan sang ibunda. Terdengar embusan napas panjang dari Dinda. Namun, sesaat kemudian, omelan kembali terdengar. “Gimana kalau yang telepon tadi pakai ilmu hitam?! Kamu nggak pikir sampai sana, ‘kan?” Lagi, Arya menggeleng pelan. Dia kira, Dinda telah akan menyelesaikan nasihat panjangnya. Tapi, ternyata tidak. Wanita paruh baya tersebut hanya mengambil jeda untuk melanjutkan nasihat bak rel kereta apinya kembali. “Jawab, Arya!” “Entar kalau Arya jawab, Bunda malah mar–“ “Udah berani balas ucapannya bunda?!” Nah, ‘kan. Terkadang hal ini membuat Arya bingung. Kalau dirinya tidak menjawab, bunda akan memarahi. Namun, jika laki-laki itu membalas, bunda juga akan memarahi karena merasa anaknya telah berani. “Maaf.” “Jangan ulangi lagi!” peringat Dinda dalam. “bunda itu khawatir sama kamu, bukan marah. Tahu nggak? Mengangkat telepon dari orang yang tidak dikenal itu bahaya. Padahal dari kecil bunda udah selalu ingetin! Tapi kamu selalu saj–“ Suara notifikasi pesan dari ponsel Arya menjadi pemotong pembicaraan sang ibunda. Dengan wajah semringah, serta semangat yang membuncah, laki-laki itu langsung mengangkat kepalanya. Tangan secepat kilat meraih benda pipih di atas meja, lalu mencari pesan dari kontak paling teratas. [Yak! Ke rmh gue, nginep. Lg gk ad klarg gue ni.] “Bunda! Arya lupa kalau ada tugas praktik!” seru laki-laki itu histeris begitu bangkit dari duduknya. “Kok, bisa?! Kamu nggak kasih tahu bunda? Bunda, ‘kan, bisa ingetin kam–“ “Tidak ada waktu untuk berdebat, Bunda! Ini Arya dalam keadaan genting. Terlebih, tugas praktiknya kelompok!” Seketika, Dinda sebagai ibunda melupakan amarahnya. Dia begitu panik karena tugas praktik sang anak yang bahkan belum dikerjakan. “... terus gimana, Yak?” Kedua sudut bibir Arya terangkat, membentuk senyuman manis. “Arya ke rumah Rafli buat nginep, ya! Sambil ngerjain tugas praktik!” Laki-laki itu kemudian membawa ponselnya ke dalam kamar. Lalu, tak lama setelahnya, Arya sudah kembali ke ruang tamu dengan tas ransel di pundak. Dinda sampai tidak habis pikir dengan kelakuan sang anak. “Benar mau nginep di rumahnya Rafli?” Arya mengangguk mantap. “Arya bukan anak gadis. Bunda nggak perlu khawatir.” “Gimana bunda nggak khawatir?! Kamu itu kalau tidurnya nggak nyaman, sering ngompol!” “Kali ini, enggak, Bunda! Arya udah siapin pempers!" “Tapi–“ “Keluarga Rafli baru nggak ada di rumah. Arya bisa sekalian numpang makan gratis, Bunda.” “Oke!” Setelah jawaban singkat dari ibunda, Arya telah sepenuhnya mendapat izin untuk menginap di rumah teman. Sebelum berangkat, Arya tidak lupa untuk mencium punggung tangan Dinda, mengucapkan salam. Benar-benar anak berbakti. Kemudian, pergi ke rumah teman. Laki-laki itu sudah seperti seorang petualang, yang mengayuh sepeda gunung penuh perjuangan. Dengan menggendong ransel yang bahkan hanya terisi angin-anginan. Jarak antara rumahnya dan rumah Rafli tidak begitu jauh. Hanya terhalang sebuah rumah saja. Mungkin tidak ada semenit perjalanan. Arya segera turun dari sepedanya begitu sampai di depan sebuah pagar rumah. Ia mendongak, rumah Rafli sangatlah luas juga besar. “Jelas, rumah anak jaksa!” Laki-laki itu bergumam, sebelum akhirnya mulai menekan tombol di dinding samping pagar. Arya terus mengetuk-ketuk kakinya, Lama banget si Rafli! Bukan apa. Hanya saja, Arya malu karena banyak tetangga yang memperhatikannya keheranan. Yaelah ... cuma samping rumah. Kukira mau ke mana kok pakai sepeda gunung. Malam-malam, lagi. Srett .... Gerbang didorong ke samping dari dalam. Akhirnya yang punya rumah pengertian. “Masuk–“ "Thanks, Raf!” Arya segera berlalu masuk ke dalam rumah besar Rafli. Dengan masih menggendong ransel tanpa isi miliknya. Rafli mendengkus. Seperti ada sesuatu yang membelenggu ketika menatap sepeda gunung Arya, yang masih nangkring di depan gerbang rumahnya. “Gue yang onong ngajak dia ke sini.” Berusaha sabar, dan berakhir pasrah. Rafli—cucu dari Pak Budiman tersebut dengan mandiri membawa sepeda Arya masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia juga kembali menutup gerbang. Sendirian. Saat masuk ke dalam rumah, Rafli tidak melihat siapa pun di ruang tamu. Ruang tanpa sekat yang terdiri dari beberapa sofa mahal. Rafli menatap ke arah dua tangga besar di tengah-tengah ruang tamu yang luas. Nggak mungkin pada ke atas. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju ruang keluarga, melihat pemandangan yang tak seharusnya ada. “Gue nggak tahu kalau Lu juga ngajak Arya, Raf.” “Gue juga nggak tahu kalau Rafli ngajak Elu, Gas.” Dua remaja laki-laki dengan selera humor yang sama tersebut, kemudian tertawa. Mereka akan menikmati malam ini. Dengan tatapan lelah, Rafli memilih duduk di sofa singgel. Melihat Arya yang bahkan sudah terlentang di karpet berbulunya, dengan ransel yang dijadikan bantal. Pria itu tengah menikmati bagaimana layar televisi besar milik Rafli menampilkan sebuah acara komedi. Sedangkan Bagas duduk bersandar pada meja. Laki-laki itu sibuk bermain game dengan tangan kanan yang tak henti-hentinya memasukkan keripik ke dalam mulut. “Nikmatin camilannya, gue mau ke kamar.” Rafli beranjak dari sofa. Padahal belum ada tiga menit pria itu duduk. Arya yang tengah tiduran, seketika mendongak. Melirik Rafli yang sedang menaiki tangga. “Ngapain?” “Tidur lah!” Arya langsung bangun dari tidur santainya. Dia mematikan saluran televisi dan segera menyusul Rafli. “Ikuuuut!” “Hem.” Saat berada di atas, Arya menatap ke bawah di mana dirinya melihat Bagas yang masih sibuk bermain game. “Gas! Kuy lah, kita ke kamarnya Rafli! Kapan lagi bisa tidur di kamar mewah!” Mendengar hal tersebut, Bagas segera ikut menaiki tangga dan menyusul Arya yang tampaknya sudah masuk ke dalam kamar. “Kamar Lu kayaknya lebih luas dari halaman rumah gue, deh, Raf,” canda Bagas begitu dirinya masuk ke dalam sebuah ruangan mewah, yang dinyatakan sebagai tempat tidur Rafli. Kamar dengan lampu redup yang tak terlalu terang. Semua furnitur di dalamnya, serba hitam, abu-abu, dan putih. Khas anak remaja laki-laki pada umumnya. “Terserah kalian mau ngapain, yang penting jangan sampe rumah gue berantakan.” Rafli langsung merebahkan diri di kasur. Dia mengeluarkan ponsel mahal dari saku celananya, dan mulai fokus pada benda pipih tersebut. “Siap!” Ketiga pria sama generasi tersebut, mulai berpose dengan sendirinya. Rafli yang sibuk menatap ponsel sambil tiduran di kasur, lalu Bagas yang masih asyik memainkan game. Entah karena faktor apa, Arya dapat berbeda dari teman-temannya. Begitu pria itu menemukan cermin, dia langsung melakukan berbagai gaya. Seolah-olah, Arya memang artis ternama di abad ini. Mulai dari berkacak pinggang, memberikan kis dengan tangannya sembari berjalan bak model, hingga mengambang di udara pun, Arya lakukan. Dia mengerahkan seluruh kemampuan terpendamnya di depan cermin. Berakhir dengan tubuh pria itu yang kesengklek. “Miris! Kakean polah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN