Kecelakaan?

1385 Kata
Bagas menghela napas lega setelah dapat duduk nyaman di kursi kelasnya. Hampir saja dirinya mendapat hukuman tambahan—jika saja tidak berhasil membujuk Arya agar langsung masuk kelas. Sebenarnya Bagas bisa masuk kelas tanpa menghiraukan Arya. Namun, hati nurani laki-laki itu mengatakan bahwa harus berbuat sebuah kebaikan. “Lu sama Arya lama banget. Pada ngapain?” tanya Billa penasaran. Kursinya berada di samping Bagas, jadi dapat dengan mudah berbincang basa-basi dengan laki-laki kelahiran luar kabupaten itu. Bagas tidak menjawab. Cih, dia masih tidak mau berbicara dengan Billa yang jelas-jelas membuat kesal. Dirinya dan Arya tadi dihukum sampai ngos-ngosan, sedangkan gadis itu hanya duduk santai. Tidak berperi keadilan! Melihat Bagas yang malah berdecak sambil menoleh ke arah lain, Billa berdesis sinis, “Nggak usah marah, ntar gue kasih catetan pelajaran Bu Ulfa buat Lo sama Arya.” Bagas tetap tidak memedulikan. Sejak pertama kali bertemu, hubungan antara dirinya dan Billa memang sangat, sangat renggang. Maksudnya, seolah dari awal keduanya memiliki dendam masing-masing. Hal itu dibuktikan saat hampir setiap bertemunya, Bagas dan Billa saling bertengkar. Entah mengapa pendapat mereka pasti bertentangan. Pokoknya hubungan yang tidak begitu baik dan lancar. *** Arya, Bagas, Rafli, dan dua teman lainnya berjalan beriringan sambil menenteng tas masing-masing. Seperti biasa, mereka akan pulang bersama selepas sekolah. Langit yang menjadi latar telah berubah bewarna jingga. Tidak heran, karena siswa-siswa kelas X dari SMA Permadani setiap harinya selalu pulang jam empat sore. Alasannya, LES! “Gue lupa tadi mau nanya sesuatu sama Bu Ulfa.” Arya berucap lirih sambil mendongak ke atas. Bisa-bisanya burung lebih bebas dari pada dirinya. Gavin—siswa berbadan besar lekas menimpali, “Tumben banget. Emang Lo mau tanya apaan?” “Kalau punya nama Selamet, terus pindah ke Inggris, apa iya namanya jadi Congratulation? Gue dari semalem mikir terus, Pin. Soalnya, paman gue namanya Selamet. Dia mau ketemu temennya di Inggris,” ungkap Arya. Jalan anak itu kian melambat, sembari menunggu jawaban yang akan diberikan teman-temannya. “Untung nggak jadi nanya ke Bu Ulfa,” Saking lirihnya, tidak ada yang mendengar ucapan Rafli. “Ya, bisa jadi, Yak. Tapi Paman Lu harus dikasih bancaan dulu. Kayak tetangga gue yang ganti nama. Bancaannya lengkap, euy!” Kini gantian Bagas yang heboh. Zaidan—siswa lain yang berkaca mata berdehem pelan. “Kayaknya bener, soalnya kalo Selamet datang ke Arab jadinya Ahlan Wa Sahlan.” Arya menepuk punggung Zaidan tak percaya. “Lo pinter, Dan! Nggak sia-sia gue temenan sama Lo!” “Hehe.” Zaidan cengengesan pelan. “Thank you, Yak.” “Salut banget gue, punya temen yang pinter Bahasa Inggris,” imbuh Bagas. Sedang Zaidan yang dipuji semakin tersipu, mengalihkam pandangan, dan berusaha untuk tidak berdebar. Laki-laki itu kembali membenarkan kaca mata yang menjadi ciri khasnya, kemudian menjawab lirih, “Thanks, Gas. Lu juga pinter, kok.” Sontak, Bagas dan Arya bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak. Tak henti-hentinya menimbulkan suara tepukan yang sejak tadi membuat Rafli risih. “Kenapa gue bisa satu oksigen sama mereka.” “Dan, Dan! Coba, bahasa Inggrisnya On, apaan?” Arya menepuk pundak Zaidan, memberikan temannya sebuah pertanyaan biasa. Zaidan tersenyum, itu adalah pertanyaan yang sangat mudah dijawab. “Aktif.” “Wehh … bener! Pinter banget Lu, Dan!” puji Bagas bangga. “Kalau Line, apa, Dan?” “Ya, tentu saja garis.” “Terus … kalau On Line?” tanya Gavin di ujung yang mulai tertarik. Arya dan Bagas saling tatap, lalu serempak menatap Gavin yang berada di ujung. “Yaaa … nggak dibales, dong!” Wajah penasaran yang sejak tadi Gavin perlihatkan, luntur seketika. “Nyesel gue tanya ke lo berdua.” “Sabar, Vin.” Rafli menatap Gavin sendu. “Awaaaaas! Woy! Minggir!” Kelima laki-laki dengan seragam SMA itu lantas bebarengan menengok ke belakang. Mata mereka membulat, semakin besar tak kala sepeda dengan kecepatan tinggi tersebut terlihat sangat siap untuk menabrak siapa saja yang menghalangi. “Aaaaa!” Mereka dengan cepat menyingkir, memelukkan tubuh di tembok rumah-rumah sepanjang jalan. Tidak ingin mati muda, itulah motto yang sedang dipegang dan diteguhkan. “Bill, pelan-pelan!” Ayun menepuk pundak perempuan yang sedang mengayuh sepeda. Billa sungguh ingin membuat orang kelimpengan dengan cara ngebutnya ini. Ayun menyesal telah mengiyakan tumpangan yang perempuan petakilan itu berikan. Laju sepeda mendadak berhenti, membuat tubuh Ayu yang duduk di jok belakang terguncang, dan berakhir memeluk tubuh Billa di depannya erat. “Lo aja deh yang ngayuh, gue bisanya ngebut, Yuk,” ucap Billa setelah menoleh ke belakang, memastikan bahwa penumpang sepedanya tak baik-baik saja. “Kamu sih–“ “Bawa sepeda, yang bener!” seru Bagas. Laki-laki itu membenarkan rambutnya yang dipenuhi beberapa daun semak-semak. Ia adalah orang yang barusan nyungsep ke tanaman semak-semak milik tetangga. Billa turun dari sepedanya, begitu pun dengan Ayun. “Kalau jalan jangan di tengah-tengah!” Tak mau kalah, kini Billa melemparkan balik seruan Bagas. Laki-laki itu emosi, serasa perkataannya percuma. Dengan penuh dendam yang menumpuk, Bagas berjalan mendekati Billa. Hendak memperlihatkan aba-aba bahwa dirinya dapat menyaingi kemampuan sabuk hitam perempuan tersebut. Beruntungnya, dengan sigap Arya memegangi kedua lengan Bagas. Mencoba menghentikan pertempuran yang kapan saja dapat terjadi. Mengingat jika sejak pertama kali masuk sekolah, Bagas dan Billa sudah adu mulut. “Lepasin, Yak! Lepasin! Jangan halangi aku untuk menuntaskan amarah ini!” Bagas menarik-narik lengannya dari pegangan Arya. “Sabar, Gas! Sabar! Lu kuat, tahan! Jangan lawan cewek, Lu itu laki, Gas! Inget!” Arya mencoba menyadarkan teman terbaiknya. Ia tidak ingin jika Bagas menghancurkan martabak seorang ‘Laki-laki’ yang dikenal selalu berbudi pekerti. “Karena ini mau Lo, Yak. Gue–“ “Apa Lo? Ayok, lawan gue sini! Bisa-bisanya Billa dilawan!” Billa menatap sengit, ia kemudian melepaskan tas yang sejak tadi menempel di punggung, menyerahkannya pada Ayun di samping. Berbisik pelan pada perempuan itu, “Yuk, nitip. Ini barang berharga gue, jangan dibuka.” “Siap.” “Wahhh! Nantangin, nih! Dia nantangin gue, Yak!” Bagas tak terima. Emosinya kian mengebu, semakin gencar untuk melangkah maju, meski pun kedua lengannya terus ditahan. “Aku suka pertengkaran ini.” Gavin bertepuk tangan pelan, sedang Zaidan—lelaki di sampingnya hanya diam. Saat itu lah, mereka tak menyadari, bahwa ada laki-laki yang begitu tertekan. Rafli menghela napas. "Bisa gak sih, jangan kekanak-kanakan? Ini udah 201 *** “Gue, kok, ganteng banget, ya?” Arya menyugar rambutnya. Dia sedang berdiri di depan cermin berbingkai, menatap pantulan wajahnya yang tampan. “Padahal belum mandi.” Sehabis pulang sekolah tadi, Arya benar-benar hanya mencuci tangan dan kaki, lalu makan, dilanjut dengan ganti baju. Dia sama sekali tidak mandi. Untuk apa mandi jika tidak mandi saja sudah tampan? Laki-laki itu terdiam, teringat kejadian di mana Bagas dan Billa hampir bertengkar hebat. Namun, sayangnya, Rafli—orang yang paling normal menghentikan peristiwa yang akan terjadi. Ia melerai keduanya, dan mengatakan bahwa hari mulai petang, sehingga tidak ada waktu untuk melihat orang babak belur. “Padahal kalau dibiarin, seru banget pasti. Gara-gara Rafli, nih!” Arya berdecak. Lalu, menoleh tak kala mendengar suara dering telepon handphonenya berbunyi. Berjalan ke arah meja belajar, dia kemudian meraih benda pipih mahal kesayangannya. Mengangkat panggilan dari ‘Nomor Tidak Dikenal’. “Halo–“ “Dek, gawat! Bunda barusan nabrak orang, dia masuk rumah sakit, dan Bunda harus bayar biaya administrasinya. Tapi, Bunda malah lupa bawa dompet." Suara panik dari ujung telepon tersebut membuat tubuh Arya terdiam. Kalimat runtut penuh pergerakan cepat yang menandakan kepanikan. “Terus, sekarang Bunda lagi di rumah sakit? Arya harus ngapain, Bun?” “Tolong tulis nomor rekening Bunda, tranferin Bunda uang, ya, Nak.” Suara itu kembali terdengar dengan khawatir. Ia benar-benar dalam keadaan genting yang mendesak. “Iya, Bun. Arya transfer berapa?” Arya lekas mengambil kertas dan pulpen di meja, lalu keluar kamar, berjalan menuju dapur. Telinganya masih sibuk mendengar apa yang diucapkan di seberang telepon. “Oh, udah, Bun?” tanya Arya kemudian. Saat suara wanita di telepon berhenti menyebutkan nomor rekening. “Udah, Nak.” Arya tersenyum. Kemudian, menunjukkan benda pipihnya ke arah seorang wanita yang sibuk memotong-motong sayuran di dapur. “Bunda, ini Arya dapat telepon dari Bunda. Suruh transfer uang ke rekening Bunda, katanya.” Wanita itu menoleh, menghentikan aktivitas merajang sayurannya. “Nomor orang iseng, tuh, jangan diangkat, Yak!” sentak Dinda—wanita yang telah melahirkan Arya. Tut …. Detik itu juga, orang dari ujung telepon mematikan sambungan secara sepihak. Loh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN