"Raf!"
"Apaan?"
Ini adalah hari Minggu. Arya dan Rafli berdiri berhadapan di antara rumah keduanya. "Lo tahu kagak?"
Rafli memutar kedua bola matanya. Kemudian menatap ke arah Arya lelah. "Gimana gue tahu kalau lo aja belum ngasih tahu."
Arya sudah ikut malas. Berhadapan dan berbincang tak ada satu menit dengan Rafli, membuatnya malas. Kesal. Bercampur aduk.
"Vidya suka sama lo."
Rafli mengernyitkan dahi. "Vidya siapa?"
"Kalau dia suka sama gue, terus hubungannya sama gue apa?"
"Ya ada hubungannya, lah. Yang Vidya sukai kan elo." Arya mengatakannya dengan penuh keraguan, serta rasa bersalah ....
"Hubungannya apa? Dia yang suka sama gue, dan kalau gue gak suka? Lagian, gak kenal juga." Dari awal, Rafli sama sekali tak menunjukkan ketertarikan akan topik yang dibahas. Raut wajahnya yang tenang telah memberitahu segalanya. Bahwa Rafli memang— tidak peduli.
"Lo kagak tahu? Kayaknya kalian pernah sekali dua kali ketemu atau saling sapa. Masa kagak.inget Vidya, sih." Arya hampir menyerah. "satu sekolah sama kita juga."
Rafli menghela napas pelan, kemudian diam. Seolah sedang berpikir hingga akhirnya dia mengangguk. "Inget."
"Tapi, tetep aja. Gue gak bisa. Bukan urusan gue."
Arya hampir kesal. "Ya kalau gitu lo tinggal temuin dia. Terus bilang kalau.lo gak suka sama dia. Selesai, simpel, kan?"
Rafli memicingkan matanya. "Emang dia beneran suka sama gue? Kenapa ngomongnya malah ke lo?"
Arya terdiam. Dia disudutkan oleh kata-kata yang telah menohoknya. Memojokkan diri Arya ke tepian. Membuka perasaan bersalahnya yang kini terasa begitu besar.
Rafli menyadari itu. Menyadari pergerakan kikuk dan ekspresi tidak nyaman pada wajah Arya. Dengan ragu dirinya mengatakan, "Lo gak bohong, kan, Yak? Atau ngomong yang enggak-enggak ...."
Arya tentu saja menggeleng kuat. Berusaha menyembunyikan hal itu. Kemudian dirinya menghembuskan napas frustasi. "Ya udah, terserah lo."
Laki-laki itu membalikkan badan dan masuk ke pelataran rumahnya. Baik ke teras, membuka pintu rumah dan kembali menutup.
Punggung Arya dirinya sandarkan pada pintu. Mengasah menatap langit-langit ruang tamu. Mengapa Arya harus berada di posisi yang seperti ini? Menyudutkannya.
Dari dapur, suara Dinda mengalihkan atensi. "Aryaaa! Udah pulang, ya, Nak? Sarapannya udah jadi ini!"
Arya mengacak rambutnya sendiri. Kepalanya pening. Setengah berteriak laki-laki itu membalas, "Iya, Bund!" Kemudian berjalan menuju meja makan.
Dinda melihat putranya yang mendudukkan diri di salah satu kursi setelah mencuci kedua tangannya.
Wanita itu adalah orang yang melahirkan Arya. Sudah pasti tahu perasaan apa yang sedang putranya rasakan, hanya dengan melihat gerak-gerik maupun ekspresinya.
Dinda ikut duduk. Keduanya dapat berhadapan meski disekat oleh meja makan.
Wanita yang selalu saja cantik dan lembut itu tersenyum. "Kenapa? Ada masalah, ta, Yak?"
Arya mengangkat kepalanya. Menggeleng tentu saja. Mau bagaimanapun, entah kenapa fisiknya selalu merespon seolah menolak. Selalu ingin menyembunyikan segalanya, bahkan meski dengan bundanya sekalipun.
"Pagi-pagi kok langsung keluar rumah, terus begini." Tangan Dinda terulur untuk menyentuh rambut putranya. Mengacak pelan, kemudian merapikannya kembali. "Ada apa? Cerita sama bunda."
Arya menggeleng pelan. Berusaha mengelak agar tangan bundanya tak lagi menyentuh rambut miliknya. "Gak ada apa-apa, Bunda."
Yang benar saja. Masa iya laki-laki itu menceritakan permasalahan menuju asmaranya pada bunda? Yang ada sebelum bercerita, laki-laki itu sudah pasti malu duluan. Bahkan mungkin tidak pernah berani.
Dinda adalah bundanya. Orang yang melahirkan Arya serta merawatnya hingga tumbuh dewasa seperti sekarang. Tapi, hanya untuk bercerita masalah pribadi saja dirinya tidak sanggup. Seolah tidak berada dan merasa asing.
Dinda menghembuskan napas. Menarik tangannya dari jangkauan rambut Arya. Putranya itu sedang tidak mau disentuh, suasana hatinya buruk.
"Beneran, nih? Gak mau cerita sama bunda?"
Sekali lagi Arya menggeleng. "Gak nyaman cerita sama Bunda. Malu."
Dinda tersenyum. "Ya udah. Bunda gak akan maksa."
Arya susah payah mengangguk. Tapi, kemudian lakk-kaki itu menghembuskan napas panjang. Menatap ke arah bundanya di hadapannya.
"Bunda tahu Vidya?"
Dinda mengangguk. "Ya, kenal, dong. Kan baru-baru ini kenalan."
"Iya."
"Vidya suka sama Rafli. Tapi, dia takut karena Rafli kan orangnya dingin banget. Jadi Vidya deketin Arya, sampe waktu itu ke toko swalayan untuk beli kue ulang tahunnya Bunda."
Penjelasan itu membuat Dinda tersenyum. "Arya kecewa? Bertepuk sebelah tangan, nih?" Wanita itu tak kuasa untuk menahan senyum.
Secepat kilat Arya menggeleng. "Ya, enggak lah! Sebaliknya, Bunda! Vidya kemarin malah bilang kalau akhir-akhir ini suka sama Arya. Cuma, Arya gak suka sama dia dan akhirnya ... ya ... diem aja. Gak jawab. Tadi tuh, Arya ketemu sama Rafli. Nyuruh dia buat nemuin Vidya. Tapi taunya Rafli memang gak suka sama Vidya. Dan Arya gak tahu harus gimana. Arya udah bilang cuma suruh agar Rafli temuin Vidya, terus tolak aja langsung. Kalau gitu kan, udah selesai."
Arya menghembuskan napas frustasinya kembali. Kali ini berani mendongak untuk dapat menatap wajah bundanya.
Tak terduga.
Arya melihat ekspresi Dinda yang terdiam kaku. Wajah beliau tak terbaca, seolah hanya menerawang dan melihat ke masa lalu.
Beberapa detik setelahnya, Dinda tersadar. Wanita cantik itu menatap putranya jauh lebih lekat. Dengan tatapan terluka serta perasaan yang sulit bagi Arya jelaskan.
"B–bunda ... kenapa?" Arya bertanya lirih. Tak tahu, dia sungguh tidak tahu apapun.
"Begitu caramu dengan seorang perempuan, Arya?" Nadanya dingin.
"Maksud Bunda ...?"
"Kamu keterlaluan. Kamu gak bertanggung jawab sama sekali, Arya!" Kalimatnya cukup meninggi penuh penekanan. Hingga bulu kuduk Arya meremang, dia ... tak pernah melihatnya seperti ini. Maksudnya, berbicara dengan nada seolah bundanya ... sangat membenci Arya.
"Vidya bilang, dia suka kamu, Arya. Tapi, kenapa kamu malah lempar dia ke Rafli?"
"Tapi kan—"
"Jangan lempar-lempar dan mempermainkan perempuan sembarangan. Vidya pasti sakit hati, dan kamu sama sekali gak berniat memahaminya." Wanita cantik itu berdiri. Menarik kursi di sebelahnya menyingkir untuk memberi jalan. "Kamu gak bertanggung jawab. Sama saja."
Arya tidak tahu mengapa. Namun, kalimat itu membuat hati Arya merasa sesak. Rasanya sangat sakit. Kedua matanya hanya dapat melihat Dinda yang perlahan berjalan menjauh. Masuk ke dalam kamarnya, dan diakhiri dengan pintu yang ditutup.
Arya menatap ke piringnya. Dia tidak tahu apapun.
Selera makannya hilang.
Arya ikut berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Menutup pintu itu, kemudian mengacak rambutnya kesal.
Sudah lama Arya tak melakukannya. Sudah lama Arya tidak menangis.
Laki-laki itu sama sekali tidak tahu alasan apa yang membuatnya merasa sedih seperti ini. Hampa, kosong, dan penuh rasa bersalah.
Entah karena Vidya, Rafli, atau bundanya.
Arya tidak tahu.