Pernyataan Tak Terduga dari Vidya

1234 Kata
Vidya lama-lama semakin mendekati Arya hingga keduanya telah menjadi teman. Setiap istirahat, meski tidak sering— perempuan itu akan menyempatkan waktu untuk menyapa Arya. Memanggil namanya dengan nyaring, dan tak ada pilihan lain selain mengangguk. Dan hal itu sungguh membuat beberapa orang keheranan. Seolah bertanya, "Sejak kapan Arya sama Vidya deket?" Karena bagaimana pun juga, keduanya hampir tidak saling kenal sama sekali. Terlebih kelas mereka yang berbeda, sehingga ketika kedekatan itu terlihat— tentu membuat beberapa orang berpikir hal yang sama. Seperti saat ini. Sulit dibayangkan, tetapi Arya dan Vidya sedang berada di kursi taman yang sama. Duduk bersebelahan, dalam diam. Masing-masing memegang ponselnya dan menatap ke layar pipih itu. Arya tadi mengiyakan ajakan, karena baginya bosan terus-menerus bersama teman-teman lelakinya. Sungguh, hanya mengobrol mengenai hal-hal yang membosankan. Jadi untuk mendapati suasana yang berbeda, Arya mengiyakan ajakan Vidya untuk duduk di sini. Perempuan itu membelikannya seplastik cilok. Arya menganggap sebagai benefit untuknya. "Arya." Arya mengangkat kepalanya dari layar ponsel. Menoleh ke samping, tepat saat Vidya juga menatapnya. "Gue mau jujur. Tapi, jangan kaget." Wajahnya terlihat begitu serius. Bahkan kini Vidya menyatukan kedua telapak tangannya memohon, "pokoknya jangan ketawain gue, ya, kalau gue bilang." Dia mengimbuhi, "pleaseee ...." Arya mengernyit bingung. Tapi kemudian dirinya mengangguk. "Iya, iya. Enggak bakal gue ketawain. Bilang aja." Vidya menghela napas. "Sebenernya, gue diam-diam suka sama Rafli. Tapi orangnya dingin banget, jadi gak berani. Akhirnya pakein kamu buat jadi jembatan. Gue pengen ... lo deketin gue ke Rafli." Perempuan itu menjadi gugup setelah mengatakannya. "Wow." Arya bergumam. Cukup terguncang akan pernyataan yang tidak pernah berada dalam pikirannya. Vidya suka Rafli diam-diam? Pantas saja waktu itu dia meminta nomornya secara langsung, ternyata untuk berkenalan dan semakin akrab. Saat Arya kembali ingin bersuara, Vidya sudah lebih dulu melanjutkan. "Gue ngajak lo kencan waktu itu, buat bicarain tentang Rafli. Siapa tahu lo bisa bantu, gitu. Eh, elo-nya malah nolak. Terus waktu itu gue iseng telepon lo, biar bisa ngomong langsung aja. Kalau gue emang suka sama Rafli, dan butuh lo. Tapi waktu mau bilang, lo udah duluan ajak gue ke rumah lo. Ya udah, gue langsung siap-siap buat ke sana. Pake pakaian yang serba pink, biar lo nanti bisa review cocok apa gak." Ayun menjelaskannya secara detail. Arya menurunkan pandangannya. Menatap ke arah jari-jemari perempuan itu yang saling bertaut, terus-terusan bertaut seolah menahan perasaan gugup. "Ya udah, kan lo udah bilang ke gue. Kenapa masih gugup tuh tangan?" Arya menunjuk dengan dagunya. Dia tak terlalu suka ketika melihat seseorang gugup seperti itu. Vidya merilekskan diri. Menghembuskan napas secara perlahan. Kemudian kini menatap Arya dengan tenang. Tak lagi gugup, dan tidak lagi minder. "Tapi sekarang ...." Arya mengernyit. "Tapi sekarang apa?" "Gue malah suka sama lo." *** Arya terduduk di bangku kelasnya. Beberapa kali bersandar pada punggung kursi siswa tersebut. Lalu setelahnya menegakkan duduknya, dan menopang kepala, dengan siku yang bertumpu pada meja. Vidya suka gue? Laki-laki itu bertanya di pikirannya. Scene tadi berakhir cukup menggantung. Karena Arya sama sekali tidak menolaknya atau sebaliknya. Karena setelah respon yang dirinya berikan, hanya beberapa dialog singkat kemudian keduanya masuk ke kelas masing-masing— begitu bell berbunyi. "Yang tadi. Mau gue deketin lo ke Rafli kagak, nih?" Arya mengalihkan topik dan membuka dengan yang baru. "Terserah lo." Terserah lo? Sekarang Arya merenung di tempatnya. Terserah gue bagaimana? Suka-suka gue, dong, berarti. Laki-laki itu masih berpikir. Wah. Untuk yang keberapa kalinya Arya menggelengkan kepala. Masih tidak percaya akan adegan yang didapatinya tadi. Bell terlalu cepat berbunyi. Sehingga Arya bahkan belum mengatakan, bahwa Rafli pernah sangat menyukai Vanya. Sayangnya kedua orang itu tidak bisa bersama. Dan Arya yakin, Rafli masih menyimpan perasaan yang sama. Entah bagaimana caranya bagi Arya untuk menjelaskan. Tapi, teguran dari Gavin di sebelahnya sangat menganggu. Arya mengangkat wajahnya dari tangan yang menopang. Kemudian menoleh ke arah sang kawan. "Apaan?" Kedua bola mata Gavin seolah menunjuk-nunjuk ke depan meski mulutnya tak bersuara. Dan dalam sepersekian detik, Arya sudah tahu apa yang terjadi. Sayangnya, itu terlambat. Karena di depan sana, Pak Guru sudah berseru. "Ngelamun apa kamu, Arya? Sampai bapak panggil kamu gak dengar." Gawat. Suara itu memang lugas. Tapi, sangat tajam dan tegas. Pak Resno, salah satu guru yang ketegasannya hampir mencapai batas. Arya anggap, hari ini dirinya mendapatkan masalah. Lebih dari seratus persen. Arya akui, memang firasatnya yang jauh lebih benar. Karena seusai jam pelajaran terakhir, dia dipanggil menghadap ke Pak Resno, yang sedang menunggu di kelas sebelah. Tak lama dirinya sudah siap pulang. Berjalan ke arah gerbang sekolah dengan suasana hati yang sangat buruk. Pulang-pulang membawa tambahan tugas. Begitulah hadiahnya hari ini. Arya mengacak rambutnya dengan salah satu tangan— kesal. Untunglah bahwa tadi hanyalah masalah kecil, seperti melamun dan tidak mendengar panggilan. Jadi hanya sebuah tambahan tugas. Bayangkan jika lebih dari itu, maka seyakin-yakinnya Arya sudah harus pulang terlambat. Tatapannya tertuju saat melihat tubuh belakang orang yang dikenal. Seorang perempuan. Sisi kanan dan kiri depan rambut itu selalu ditarik ke belakang, dan dijepit di sana. Arya berjalan menyusul. Kini telah berdiri di samping Ayun, tinggi badan keduanya tak terlalu berbeda jauh meski Arya memang lebih tinggi. Ayun menoleh. "Kenapa?" Yang dia tanyakan adalah ekspresi dari Arya. Terlihat kesal, berantakan, dan frustasi. Begitulah gambaran seorang laki-laki keren di bawah panasnya sinar matahari. Bahkan dasi yang seharusnya rapi, telah Arya kendurkan. Terlihat berantakan. Terlebih dengan baju seragamnya yang setengah keluar dari dalam celana. Ayun berharap tidak ada guru kedisiplinan yang tidak melihat, atau Arya pasti akan bertambah frustasi yakin. Laki-laki itu menatap ke arahnya. "Dapet surat cinta dari Pak Resno." Ayun hampir tertawa. Meskipun terkadang Arya sangat menyebalkan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa Arya selalu membuat tawa sekitarnya. "Apaan lo? Malah ketawa." Arya bergumam. Masih dengan melanjutkan langkahnya hingga keduanya sudah keluar dari gerbang sekolah. "Oh, ya." Ditatapnya kembali Ayun. "Gak pulang bareng Billa?" "Billa ikut ekstrakurikuler hari ini. Dia suruh aku pulang duluan." "Ohhh ...." Arya mengangguk. Tanpa sadar, dia dan Ayun akan pulang bersama-sama. Berjalan kaki di samping jalan yang cukup sepi. Melalui beberapa rumah yang tentu kenal dengan pemiliknya, atau melewati sebuah warung bakso yang pernah kala itu menjadi tempat Arya dan Ayun berteman. "Kamu dekat sama Vidya, ya?" Arya menoleh. Kemudian mengangguk. "Lo kenal?" "Iya, sebenarnya. Kan beberapa kali aku sapa atau main sama dia." "Oh, gitu." Arya diam. "gue sama dia cuma temen, sih." Dirinya bergumam setelahnya. Tidak tahu mengapa. Tapi, Arya berharap bahwa Ayun mendengar gumamannya. Oh, bagaimana? Apa yang baru saja laki-laki itu pikirkan? "Byee ...." Akhir dari acara pulang berdua, adalah sebuah pertigaan. Keduanya memiliki jalur rumah yang berbeda. Arya berjalan lurus, dan perempuan itu berbelok. Arya sudah melepaskan tas dari punggungnya begitu telah sampai di halaman rumah. Naik ke teras, dan meraih kunci rumah yang berada di bawah keset. Menggunakannya untuk langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Tak lupa kembali menutupnya. Laki-laki itu langsung melepas dasi dan membuang ke sembarangan arah. Melemparkan tubuh ke sofa ruang keluarga. Masih berpikir akan dialog perkataannya tadi dengan Vidya. Dirinya bergumam. Bergumam pelan dan lirih. Seolah baru saja masuk ke sebuah jalan buntu. Arya mendesis. "Masa iya gue bales perasaan dia?" "Lebih baik gue deketin ke Rafli langsung." Arya belum pernah berpikir masalahnya akan serumit ini. Tapi, hatinya menerawang. Vidya bilang bahwa sekarang dia menyukai Arya. Dan ... apakah jahat bila laki-laki itu berusaha mengabaikan lalu langsung melempar pada Rafli? Arya menggeleng. Laki-laki itu bangkit dari sofa. Melepaskan baju seragamnya yang sudah setengah berantakan. Lebih baik mengerjakan tugas dari Pak Resno terlebih dahulu. Lalu, tugas-tugas yang lain dan belajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN