Suara ketukan pintu rumah mengalihkan perhatian. Dinda selalu saja mengetuk pintu, padahal sudah tahu bahwa kunci rumah berada di bawah keset. Jika ditanya pasti jawabannya, "Ya biar kamu ada kerjaan lah, Yak. Masa bundanya pulang kerja gak dibukain pintu."
Arya meraih selembar kain persegi panjang, yang mirip seperti pita tetapi lebar. Laki-laki itu berjalan menuju ruang tamu dan membuka pintu.
"Bunda." Arya memanggil penuh semangat begitu wanita cantik telah berdiri di depannya.
"Rumahnya kotor banget. Jadi biar Bunda gak marah, matanya ditutup dulu, ya."
Dinda mengernyit. "Ha? Kok bisa kotor? Terus-terus, kenapa harus ditutup?"
Arya hanya memasangkan kain tersenut melingkar menutupi kedua mata Dinda. Kemudian menali pita di belakang kepalanya. "Udah lah Bunda, nurut aja. Arya takut entar Bunda marah gara-gara rumah yang kotor lagi. Kasih waktu buat Arya bersihin, baru nanti Arya lepasin."
Seraya tangannya menggenggam tangan sang putra, diantarnya masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Dinda menghela napas, "Ada-ada aja kamu, Yak, Yak. Salah siapa ngotorin rumah." Namun, senyum simpul itu terbit. Seolah kalimat tadi bukanlah mengarah bahwa dirinya marah.
Arya menghentikan langkah Dinda begitu mereka sampai di ruang keluarga. Suasana seluruh ruangan yang benar-benar gelap gulita, semua lampu tak lagi hidup. Ditambahi dengan hari yang sudah malam, hingga membuat penerangan ikut terhambat.
"Oh, bentar! Kok listriknya konslet, ya!? Tak keluar dulu!" Arya sudah berdiri di ujung sudut ruang keluarga. Dia hampir tertawa dengan apa yang dirinya ucapkan sendiri.
Sementara Dinda sudah bingung. "Eh, tunggu, Yak! Bentar!" Butuh beberapa waktu lamanya untuk dia meresapi situasi. Hingga dia memilih untuk membuka penutup mata sendiri dan mendapati keadaan sekitarnya yang gelap gulita.
Kedua mata yang baru dibuka dan menatap itu seolah mendukung. Sungguh, Dinda hampir tidak bisa melihat apa-apa jika saja dirinya tidak begitu familier dengan rumah sendiri.
"Listriknya beneran konslet, tah?" Wanita itu bergumam pelan.
Dengan hati-hati beliau berjalan. Tepat di belakang sofa di ruang keluarga, Dinda menyalakan saklar ruangan dan waw ... lihatlah yang terjadi.
Ruangan yang sudah dipenuhi oleh pernak-pernik pesta. Ditambahi dengan sulur-sulur elegan yang hinggap di dinding-dinding. Ruangan ini terhias begitu juga dengan balon-balon yang ada di sekitar kakinya, juga dinding-dinding rumah.
Dinda membuka mulutnya, takjub dan kaget.
Ditatapnya ke samping. Putranya itu sedang berdiri di sudut ruangan dengan senyum.khas-nya.
"Hari ini hari ulang tahunnya Bunda. Selamat ulang tahun, ya, Buuund!" Arya berjalan mendekat dengan senang.
Dinda menganggukkan kepala masih dengan perasaan tak percaya. Didekatinya sofa panjang dan duduk di sana. Arya ikut duduk di samping, keduanya menatap kue ulang tahun mini di atas meja.
"Waaah ...." Dinda menatap Arya takjub. "Bunda beneran gak ngira, loh. Kamu kok pinter banget kasih kejutan begini?"
Dengan bangga Arya tersenyum.
Dinda memang sejak awal mengira bahwa putranya bisa saja memberi kejutan. Apalagi tadi ketika laki-laki itu menutup matanya dengan kain. Hanya saja, Arya mengatakan bahwa dirinya hanya tidak ingin bundanya itu tahu, bahwa rumah sangat kotor. Arya ingin bundanya memberi waktu bagi dirinya membersihkan semuanya lebih dulu.
Di situlah Dinda cukup percaya, terlebih saat baru saja Arya mengatakan listrik konslet. Kepercayaan Dinda bertambah, hingga dirinya lupa bisa saja jebakan hadiah.
"Pinter banget putra bunda kalau soal bohong."
Arya tertawa mendengar perkataan bundanya. "Iya, dong. Kan Arya udah terlatih."
"Terlatih bohong?"
Arya menggeleng dengan kekehannya."canda, canda, Bunda. Enggak, kok."
"Arya beliin Bunda kue. Dimakan, ya. Meski kue bikinan Bunda jauh lebih enak." Dirinya meraih kue ulang tahun beserta wadahnya itu. Kemudian mendekatkannya ke depan wajah Dinda.
Dinda mengambil pisau dengan piring kecil. Memotong bagian kue tersebut dan menaruhnya di lilin. Padahal bentuknya hanya mini.
"Pake tangan, nih?"
Arya mengangguk. "Ya iyalah. Masa iya pake garpu emas, Bunda?"
Arya menatap bundanya yang telah memakan sesuap kue.
Wanita itu berkomentar, "Heem! Enak banget ini, Yak. Kayaknya lebih enak dari buatannya bunda, deh. Coba sini."
Awalnya Arya tidak percaya. Karena setiap membeli kue, baginya buatan bundanya jauh lebih terasa dan lezat. Tapi, begitu Dinda menyuapkan sesuap kue pada Arya, laki-laki itu baru mengangguk setuju.
Rasanya tidak begitu manis, tetapi teksturnya sangat lembut. Meski begitu, tak menghilangkan sensasi seratnya yang lezat. Apalagi krimnya yang berbeda dari lain, Arya tak menyangka akan seenak ini..
"Padahal belinya murah," responnya.
Dinda cukup tertarik. "Oh ya? Berapa?"
"Gak nyampe empat puluh ribu, Bunda."
"Wah, belinya di mana kamu?"
"Di toko swalayan kota. Yang waktu kita beli wadah bekal sekolahnya Arya itu loh, Bunda."
Dinda mengangguk seolah dirinya sudah mengerti. Wanita itu familier, terlebih selain bekerja di pabrik, dirinya juga harus membeli bahan-vahan dan perlengkapan catering kue.
.
Arya meletakkan kue di atas meja kembali. "Arya belinya sama Vidya, sih, Bund."
"Vidya?" Dinda sedikit bingung, tetapi satu detik setelahnya mengangguk. "Oh, iya, iya. Vidya yang kemarin itu, ya?"
Arya menanggapi dengan deheman. Dirinya sudah berdiri untuk mengambil air putih dari lemari pendingin. Dan meletakkannya di atas meja beserta gelas.
"Anaknya cukup tomboy, ya." Begitulah komentar yang Arya dengar setelah dirinya kembali duduk di sofa.
"Gak juga. Tadi dia pake pakaian feminim, Bunda."
"Tapi pekerjaannya Bunda gimana? Lancar, kah?" lanjut Arya bertanya.
Dinda mengangguk. "Habis kerja tadi langsung makan-makan, Yak. Ngerayain ulang tahunnya bunda."
"Sama temen-temennya Bunda?"
Dinda mengangguk. "Iya, dong. Mana tadi yang traktir bukan bunda, loh." Wanita itu semakin antusias menghadap putranya. "Temen bunda tadi ada yang tiba-tiba ngajakin bunda dan temen-temen ke rumah makan. Nah, duanya traktir tuh semua. Terus bilangnya, buat acara ulang tahunnnya bunda. Kaget, kan? Apalagi bunda sendiri."
Arya kaget mendengarnya, jika boleh jujur. Namun, laki-laki itu tersenyum lebar begitu melihat raut wajah bundanya yang senang.
Arya tahu. Bundanya sejak dulu jarang memiliki teman, hampir tidak memiliki keluarga, dijauhi oleh orang-orang. Jadi, begitu Arya mengetahui bundanya tersebut memiliki banyak teman di tempat kerjanya— sungguh melegakan.
Ibu dan anak itu memilih untuk duduk di sofa dan bersandar. Menonton acara televisi yang menurut mereka seru. Sampai Arya mengeluh, "Bunda, lapaar ...."
"Makan kue kecil doang gak cukup," imbuhnya memelas.
Dinda menahan senyum. "Masak sendiri sana. Ini kan hari ulang tahunnya bunda."
Arya mengerang dan meronta-ronta, yang pada akhirnya Dinda angguki.
Wanita itu berdiri dan menuju dapur. Di sana, beliau mulai memasak makan malam.
Sementara di sofanya, Arya masih sibuk menonton televisi. Hari ini senang sekali. Senang karena bunda senang, dan senang karena dirinya juga ikut senang.
Arya mengeluarkan ponselnya. Dibukanya aplikasi chatting. Dari belasan chat masuk, hanya kontak nama Vidya lah yang dia buka. Perempuan itu baru saja mengirim pesan.
[Arya. Sampein ucapan ulang tahunku buat bunda lo. Bilang kalau gue juga kasih doa yang baik buat dia.]
Arya tersenyum tipis. Dia mendongak untuk menatap lurus ke arah bundanya di dapur sana. "Bundaaa!"
"Apa, Yak?"
"Sampein ucapan ulang tahunku buat bunda lo. Bilang kalau gue juga kasih doa yang baik buat dia. Itu tadi Vidya yang ngirim pesan!"
Di dapur sana, Dinda tertawa. "Bilangin kalau bunda udah terima ucapannya. Bilang makasih juga ke Vidya."
Semua kalimat itu Arya rekap ulang dan ketik melalui ponselnya. Lalu dengan sama persis, mengirimkan ketikan tersebut pada nomor Vidya.
Tak berselang lama, pesan kembali masuk. Kali ini balasan dari Vidya yang berisi, [Jangan bilang lo tadi bilang ke bunda lo juga kayak gini!? Asem lo! Yang bener, dong!]
Namun, Arya hanya mengabaikan pesan tersebut dan malah mematikan ponselnya. Lanjut tiduran di sofa dengan kedua mata menatap acara televisi di depan sana.
Saat harum masakan bundanya yang lezat tercium, secepat kilat Arya bangun dan sudah siap duduk di kursi meja makan.
Laki-laki itu bahkan sudah mengambil nasi untuk dirinya sendiri.