Arya Menipunya

1414 Kata
Sungguh. Vidya rasanya sangat kesal. Dia ingin meluapkan semua kemarahannya saat ini dan detik ini juga. Vidya ingin berteriak paling keras sebisanya. Tapi, sayang. Keduanya kini berada di tempat umum. Tidak mungkin bukan Vidya akan bertindak seperti itu di sebuah toko swalayan? Orang-orang berlalu-lalang melewatinya, entah bersama keluarga maupun pasangan. Mereka tampak berjalan kesana-kemari, dan Vidya berusaha tidak peduli. Namun, sungguh. Begitu keluar dari tempat umum ini, Vidya akan langsung menarik rambut Arya kencang. Kemudian menampar kedua pipi laki-laki itu bergantian. Atau menendang tubuhnya hingga terjungkal. Wah, bagaimana bisa Vidya yang tidak bisa menahan emosi ini diam? Perempuan itu baru saja ditipu. Dia kira, Arya akan mengajaknya berkencan. Menyetujui hal yang kemarin sempat laki-laki itu tolak. Oleh karena itu Vidya rela menghabiskan banyak waktu untuk menunjukkan penampilan feminimnya. Namun, kepercayaannya itu langsung sirna setelah percakapan kecil begitu turun dari motor. "Kok ke sini, Arya? Mau ngapain?" "Ngapain? Ya beliin bunda gue kue, lah. Hari ini hari ulang tahunnya." Waktu itu Vidya sempat terdiam sebentar memandangi laki-kaki di hadapannya. Seolah belum percaya, dia membuka bibirnya, "Jadi ...." "Gue gak ada motor." Bahkan kerlingan nakal Arya masih terbayang-bayang hingga kini. Vidya berdecak kesal begitu mengingat semua hal itu kembali. Pasti, sudah pasti. Ternyata Arya mengangkat teleponnya karena laki-laki itu memang perlu, dan kebetulan Vidya yang berada di depan mata. Wahhh ... perempuan itu kesal bukan main. Sampai-sampai berjalan pun harus menjaga jarak jauh dengan Arya. Tapi, laki-laki itu sama sekali tidak terganggu, tuh. Membuat Vidya semakin kesal hingga memutuskan untuk menoleh. Langkahnya terhenti, yang juga membuat Arya berhenti berjalan. Rasanya tatapan mata Vidya mengintimidasi. Vidya berjalan mendekati Arya. "Asem lo!" Itu lebih mirip seperti u*****n. Arya hanya mengernyit dan terkekeh pelan. Itu membuat perempuan di sampingnya semakin marah. Dia ikut berjalan mendekat ke arah Vidya. Memajukan kepalanya hingga berada tepat di samping telinga perempuan itu. "Makanya, jangan terlalu kepedean." Setelahnya Arya berjalan menjauh. Dan mau tidak mau Vidya harus mengikutinya. Kepedean? Vidya ingin tertawa mendengar kata itu. Tapi, memang benar, sih. Hingga keinginan untuk tertawa tersebut hilang. "Kalau ulang tahun harus ada apa aja?" Arya bertanya. Keduanya sudah mulai membaik. Berjalan beriringan. Tampak seperti pasangan remaja pada umumnya, yang menelusuri beberapa sudut toko swalayan megah ini. Bertingkat, berlantai, tangga di mana-mana. "Traktiran." Vidya menjawab asal. "Terus?" "Doa, lah." Arya mengangguk. "Bener juga, lo. Pinter." "Wah, gue gak tahu kalau gue yang pinter atau elo-nya yang maaf, kurang ehem ...." Vidya membalasnya dengan wajah datar. Seperti biasa, perempuan itu selalu mengekpresikan dirinya dengan bebas. Arya memutar kedua bola matanya. "Ke bagian hiasan. Pilihan sana, yang bagus-bagus." Di tengah-gengah rak hiasan-hiasan pesta yang cukup luas, Vidya seolah mengejek. "Gue apanya elo? Kok nyuruh-nyuruh." Arya tersenyum. "Pilihin, gih. Buat bunda gue." Yah, mana bisa Vidya menolak begitu Arya mengeluarkan kalimat sihir itu. Buat bunda gue. Oke, Vidya kini menganggukkan kepalanya. Dia sungguh tidak ada alasan lagi untuk menolak. "Pake balon, gak?" Arya mengangguk ragu. "Terserah lo." "Bundanya elo sukanya warna apa?" Begitu tatapan Vidya Arya dapatkan, laki-laki itu jadi terbebani. Dengan canggung dia mengangkat kedua bahu pelan. "Putih ... mungkin? Entahlah. Pokoknya bunda gue suka warna yang kalem-kalem." "Gak usah kebanyakan. Cuma acara sederhana dan kecil-kecilan. Lagipula rumah gue sempit." Vidya mengangguk-angguk. Dengan senang hati perempuan itu memilihkannya. Terkadang, Arya hanya memperhatikan saja. Kepalanya tak lagi menoleh ingin menatap ponsel. Lagipula, di tempat umum sangatlah tidak nyaman jika harus menyalakan gadget. Satu hal telah dibeli. Perlengkapan dan perhiasan pesta kecil-kecilan. Arya balik dari kasir dan menemui Vidya yang berdiri menunggunya. "Habis ini ke toko kue." Vidya menggeleng. "Susah banget! Di sini kan juga ada yang jual kue." Wajah Arya cukup terkejut. Tanpa dijelaskan pun Vidya sudah tahu. "Lo pasti kagak tahu?" Arya mengangguk. "Makanya, keluar, Bro. Jalan-jalan." Oke. Arya akui bahwa Vidya jauh lebih berpengalaman. Padahal laki-laki itu kira, Vidya hanyalah perempuan yang sangat suka bermain basket maupun futsal. Kemudian bercengkrama dengan teman-teman perempuannya di kantin. Lalu ketika di lapangan, Arya sering melihat perempuan itu akrab dengan banyak laki-laki. Jadi, ketika melihat penampilan Vidya tadi yang feminim— sungguh membuat Arya takjub sekaligus kaget. "Emang lo sering jalan-jalan?" Arya bertanya balik secara iseng. Vidya malah seperti biasa menatapnya tidak suka. "Ya, iya lah. Gue sering tahu diajak sama temen-temen gue ke sini. Emang guenya cuma diem-diem aja sambil lihat mereka. Ternyata juga berguna buat sekarang." Arya mengangguk."Emang. Masa iya cewek futsal sama basket kayak lo langsung nyantol saat diajak ke mall atau toko." "Yang penting gue tetep ngerti, tahu gak." Setelah sedikit pertengkaran, Vidya membantunya menuju ke tempat rak-rak lemari pendingin berisi kue. Di depan sebuah lemari berisi kue-kue ulang tahun berukuran mini, meski lebih besar dari telapak tangan orang dewasa. "Yang mana, Arya?" Vidya menolehkan kepalanya. Tatapannya sangat tepat dengan tubuh laki-laki itu yang berada di belakangnya. Vidya tidak tahu, sungguh. "Yang itu. Pink putih kalem." Arya menunjuk dan Vidya pun langsung tahu. Keduanya sepakat membeli kue itu, satu. Seorang kasir membungkusnya dengan cantik, padahal itu tak perlu jika Arya pikirkan. Toh, akhirnya juga dibuka..karena yang dibutuhkan kuenya, bukan bungkusnya. Arya ikut membeli dua buah es krim bersama kuenya. Di depan toko keduanya keluar bersama. Udara AC langsung lenyap seketika. Berganti dengan udara perkotaan yang cukup panas. Arya menenteng dua kantong plastik satu kantong plastik berukuran sedang. Lalu tangannya yang lain menggenggam dua es krim dan menyuruh Vidya untuk mengambilnya satu. "Buat elo." "Sebenernya gak usah repot-repot." Namun, Vidya tetap mengambilnya. "Makannya di rumah lo sendiri aja. Mau langsung pulang." Meski Vidya kesal, tetapi perempuan itu hanya menurut. Dirinya mengekori Arya hingga parkiran. Melihat laki-laki itu yang memasukkan es krimnya ke kantong plastik menyantelkan di cantelan bawah. Arya menduduki motor dan menariknya mundur. Keluar dari barisan parkir sehingga Arya dapat memakai helmnya dengan leluasa. Begitu Vidya juga telah menggunakan helm, perempuan itu langsung naik. Dan motor pun dilajukan dengan kecepatan rata-rata okeh Arya. Kota terbilang cukup dekat dengan rumah keduanya. Sehingga beberapa saat berlalu, dan motor sudah memasuki gapura kampung. Rasanya seolah kembali ke tempat seperti semula. Arya berbelok ke jalan lain, menghentikan motor tak jauh dari sebuah rumah. Laki-laki itu turun hingga secara mendadak Vidya yang menggantikan untuk menopang kendaraan itu. Arya melepas helmnya dan mengambil kantong plastik dari cantelan. "Makasih buat hari ini, Vid." "Loh? O–oh ... ya." Vidya mengangguk. Arya lebih memilih mengantarnya langsung ke rumahnya, sementara laki-laki itu akan berjalan pulang. "Lo cantik kalau pakai pakaian feminim, tenang aja." Kemudian Arya berbalik dan berjalan menjauh. Masih di motornya, yang dilakukan Vidya hanyalah menahan senyuman. Dia tersipu. Arya berjalan menaiki teras rumahnya. Mengambil kunci yang selalu dirinya selipkan di bawah kaset dan menggunakannya untuk membuka pintu. Laki-laki itu masuk tak lupa dengan pintu yang kembali ditutup. Dirinya membuka bungkus kotak kue ulang tahun mini tersebut dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Kemudian dengan lelah Arya mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga yang selalu terasa empuk. Dirinya melepaskan jaket yang sejak tadi terus membaluti kaosnya, kemudian menaruh jaket tersebut ke samping. Dirinya menghela napas. "Capek gue," gumamnya. Arya sangat ingin tidur, dia sangat mengantuk saat ini. Namun, jika dia tidur sedikit saja sudah pasti kebablasan, hingga bundanya nanti datang. Lalu pesta ulang tahun sederhana yang Arya inginkan akan berubah rencana. Arya memilih untuk membasuh mukanya terlebih dahulu. Terasa jauh lebih segar. Dia mulai membuka kantong plastik, dan mengeluarkan semua perlengkapan pesta yang tadi Vidya pilihkan. Dia mulai meniup balon, memasang sulur-sulur indah di beberapa ujung dinding. Menghiasi area dapur yang menyatu dengan meja makan, kemudian memanjang di ruang keluarga nyaman dan hangatnya. Sesekali melakukan itu dengan memakan es krim yang sempat dibelinya. Begitu semuanya selesai, Arya menghela. Beres di malam hari. Dilihatnya ruangan ini yang telah dipenuhi oleh hal-hal menarik, indah, dan tak menyakiti mata. Vidya sangat pintar memilih. Karenanya, ruangan ini terasa jauh lebih nyata dan elegan dengan warnanya yang lembut. Aray berjalan menuju lemari pendingin dan mengeluarkan kue bersama wadahnya. Meletakkannya di meja di ruang keluarga. Tidak ada lilin. Entah kenapa Arya sangat tidak menyukai benda itu dari kecil. Arya menatap bangga. "Masa apa iya hadiahnya cuma lilin?" Namun sedetik kemudian dirinya menggeleng. "Kue aja bunda udah suka. Kalau kebanyakan, malah bunda marah." Ia tahu sifat bundanya. Senyum Arya pudar, begitu menyadari dirinya ad di ruang keluarga yang sangat nyaman. Dia sering menghabiskan waktu di sini, kalau tidak duduk pada kursi meja makan. Laki-laki itu tersenyum pedih. Ruang keluarga, ya. Keluarga terdiri dari orangtua dan anak, bukankah begitu? Itu susunan yang paling kecil. Dan orangtua terdiri dari ayah dan bunda. Oh. Arya mengacak-acak rambutnya kesal. Dia menggeram menahan amarah tidak suka. Sangat. "Arghh!" Kenapa Arya malah tiba-tiba memikirkan hal menakutkan seperti tadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN