Mbah Pawiro

1062 Kata
Setelah bertanya kepada beberapa warga, akhirnya ketemu juga. Sebuah rumah sederhana dengan atap genteng, yang rasanya juga cukup tua. Terdapat teras di depannya yang merupakan blok semen. Lalu pelataran berupa tanah biasa. Rumah ini berada dekat dengan kebon cukup lebat. Arya memarkirkan motor. Sedangkan Ayun yang sudah turun berjalan pelan— melihat-lihat secara diam. Di teras itu, ada sebuah dipan kosong yang dilapisi oleh karpet. Sepertinya untuk bersantai. Lalu sepeda tua menghias. "Lo pernah ke sini sebelumnya? Kok bisa tahu." Arya hampir mengagetkan. Secara tiba-tiba muncul di sampingnya, degup jantung berdebar kencang. "I … iya. Pernah diajak sebentar. Tapi terus pulang." "Ohh …." Arya sekedar kengangguk-angguk. Penglihatannya tanpa sengaja menangkap sebuah becak kosong di samping rumah. "tu becaknya kosong di rumah. Kayaknya emang lagi libur." "Ah, ya …." Ayun baru tahu. Dugaannya salah ternyata. Tapi, untunglah … Arya berbaik hati untuk tidak mengungkit-ungkitnya lagi. Jika tidak, dapat dipastikan terjadi acara lempar-lemoaran kesalahan. Mereka menghampiri rumah Pak Pawiro, berdiri di teras dekat dipan. Ayun adalah orang yang mengetuk pintu berbahan kayu yang setengah lapuk tersebut. Beberapa kali seraya mengucapkan, "Halo. Permisi …." "Oh, nggeeh! Sekedap …." "I–iya." "Eh, —oh, Mbak Ayunindya, to?" Seorang wanita tua dengan jariknya. Dia terlihat bugar, meskipun tampak sudah berusia awal 60 tahun. Ayun mengangguk. Menyalami wanita tua itu. "Iya, Nek," ucapnya kemudian setelah kembali berdiri tegak. Tatapan Mbah Pawiro wedok terkunci tepat saat berhadapan dengan Arya. Laki-laki dengan tubuh yang begitu tinggi menjulang. Rambutnya keren, dengan wajah tampan khas remaja ketua OSIS dan lain sebagainya. Terlihat nakal, tetapi juga keren. "Gantenge …. Niki sopo, Mbak Ayunindya? Mas pacare nopo?" Arya hanya diam, tidak banyak bicara. Sedangkan Ayun langsung menggeleng cepat dari awal— pertanda dirinya sungguh tidak menginginkan adanya kata itu keluar. Bahkan kedua tangannya ikut menggeleng tidak suka. "Mbah Pawiro-nya ada?" Arya bertanya terus terang. "Golekki Mbah Pawiro Lanang, to, Cah Bagus? Mbah Pawiro lagi medhal e. Teng pasar." Jawaban itu cukup membuat Arya kecewa. Namun, Mbah Pawiro wedok kembali melanjutkan, "ditunggu nggeh, sekedap meleh. Mlebet rumiyen. Mriki." Wanita tua itu mempersilakan. "Mboten. Di luar saja nunggunya," balas Arya. Menunjuk ke arah dipan dengan alas klasa plastik tak jauh darinya. "Oh, nggeh. Tak damel unjuk-an rumiyin." Mbah Pawiro wedok lantas masuk kembali ke dalam rumahnya. Membiarkan pintu terbuka lebar, hingga rasanya tidak lagi terasa sepi. Sementara Ayun memilih duduk di ujung dipan, dan Arya hanya berdiri menghadapnya. Tak ada niatan untuk duduk, sepertinya. "Nenek Pawiro tadi, bilang apa? Aku gak terlalu ngerti bahasa Jawa," ungkap Ayun di tengah-tengah keheningan. Arya memasukkan ponsel ke dalam saku celananya kembali. Lalu menatap lurus. "Mau buat unjuk-an. Semacam minuman atau makanan buat tamu yang datang." "Oohh …." Perempuan itu mengangguk-angguk mengerti. Tak lama setelahnya, Mbah Pawiro wedok benar-benar datang. Dia menaruh nampan di dipan samping Ayun duduk. Terdapat dua gelas teh dan sepiring apem. "Niki, teh-ne masih panas." Beliau tersenyum lembut. Sampai-sampai Ayun tak kuasa untuk ikut tersenyum jauh lebih lebar. "Makasih banyak, Nenek," ucapnya. Sebelum akhirnya— datang seorang anak yang keluar dari dalam rumah. "Niko, sapa dulu, Le." Sesuai perkataan neneknya, Niko— anak laki-laki kurang lebih berusia 8 tahun mengangguk. "Mbak, Mas. Aku Niko." "Hei, Niko." Ayun tersenyum. Nikko berjalan mendekat. Mendobgak dan menatap Arya. "Mas namanya siapa?" "Arya Pratama." Karena lama tidak ada sahutan, jadilah Ayun yang menjawab. "Namanya Tama?" Niko bertanya lugu. Sedangkan Arya sudah menggeleng keras. "Bukan. Tapi, Arya." "Oohh … Mas Arya?* Arya mengangguk. "Iya." Saat itu juga, seorang Mbah Pawiro sudah pulang dari pasar. Langsung menuju ke teras rumah dengan dua kantong plastik penuh. Dia menaruhnya di teras. "Mbak Ayunindya?" Yang dipanggil langsung berdiri dan mengangguk. Menyalimi Mbah Pawiro dan berbalik menyapanya. "Nopo sekarang apa?" Mbah Pawiro tampan bingung. Saat Ayun hendak menjawab— Mbah Pawiro wedok sudah lebih dulu mendahului. "Ya iyo to yo, Pak. Saiki. Mbak Ayunindya kaleh temannya udah nunggu dari tadi." Mbah Pawiro menepuk dahinya pelan. "Maaf, Mbak. Aku kiro sore." "E–enggak, enggak. Enggak apa-apa, Mbah." "Saya yang belum ngasih tahu jamnya, jadi saya yang salah." "Oh yo. Bu, niki Bu." Mbah Pawiro wedok mengangkat kotak plastik besar bergantian menuju ke dalam rumah. Tampaknya memiliki banyak pekerjaan. Sebab, setelahnya tak lagi terlihat. Selain menjadi tukang becak, memang Mbah Pawiro juga berjualan siomay. Setelah berkenalan dengan Arya. Mereka berbincang-bincang ringan. Memberitahukan pada Mbah Pawiro mengenai beberapa hal nantinya. Dengan Niko yang ikut serta meski tak tahu apa-apa. Hanya memakan salah satu apem. "Oh, iya, iya. Cuma ditanyai ya?" Mbah Pawiro kembali bertanya. Menggunakan Bahasa Indonesia, meski logatnya sangat terasa medok Jawa. "Iya." "Yuk." Arya berbisik ke telinga Ayun. "Lo bawa tripod kagak?" Yang ditanyai menggeleng. Seraya mengatakan dengan kesal, "Ya, enggak. Aku kira kamu yang bawa ….* Sekali lagi Arya menghela napas. Lalu, caranya ngerekam gimana? Sebelum akhirnya sebuah ide muncul. Teras rumah ini, memiliki batas semacam pagar yang dibuat dari semen. Sehingga menyerupai batas di sepanjang teras. Dan, hanya meminta Niko untuk meminjamkan beberapa tumpukan buku, lalu menaruhnya di atas batas semes setinggi pinggang orang dewasa. Menumpuknya. Kemudian di paling puncak, diberikan gelas yang menjadi penyandar ponsel Arya. Terlebih dahulu, Arya menyetting kamera. Menambahkan beberapa percantik ataupun banyaknya cahaya. Lalu sedikit memperbesar layar. Sehingga rasanya sudah pas, dan cukup. Mengarah ke depan dipan, yang menjadi tempat bagi Ayun serta Mbah Pawiro duduk. "Mbah, becaknya itu boleh dinaikkin ke teras, gak? Dekatin ke sini, biar kelihatan di kamera." Arya memberi usulnya. "Boleh, boleh." Suara medok itu masih terdengar. Ayun berkomentar pada Arya. "Yak. Apa … gak sebaiknya rekam di Malioboro? Konsepnya kan, tentang becak yang menjadi ciri khas Jogja." "Udah terlanjur." Wajah Ayun terlihat muram. Perempuan itu begitu ingin perfect dalam nilai, bahkan nilai kerja kelompok yang hanya sampingan. Mbah Pawiro mendengarnya. Oleh karena itu, beliau langsung mencairkan suasana. "Mau ke Malioboro? Ya, gak apa-apa. Di sana aja. Mbah juga mau berangkat kerja." Suara masih medok seperti biasa. Wajah Ayun cerah seketika. Dia mengucapkan banyak rasa terima kasih dan maaf. Lalu, berulah pergi ke Malioboro. Arya dan Ayun boncengan dengan motor. Sementara Mbah Pawiro menggunakan becak sepedanya. Niko tidak ikut, karena dilarang oleh kakeknya sendiri. Meski dari itu, sebelum pergi— Niko sempat menyenggol tangan Arya. Anak laki-laki itu selalu mendongak jika mau berbicara. Sebab, tinggi badan Arya yang menjulang. Dengan tatapan mata polos, Niko mengatakan, "Mas Arya pacarnya Mbah Ayunindya, po?" Sekali lagi, Arya merasa kesal sampai-sampai menggeleng kuat. Berusaha menjelaskan, setelahnya baru pergi memboncengkan Ayun— ke Malioboro. Lama-lama Arya semakin tidak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN