Ayahnya Seorang Pengusaha

1035 Kata
Sesi wawancara bersama Mbah Pawiro di Malioboro sudah selesai. Dari pagi jam 10, hingga tadi jam 12-an. Itu artinya, dua jam lebih dihabiskan. Yah, karena memang tidak terlalu mudah seperti yang dilihat. Bahkan perlu beberapa kali perbaikan dan muat ulang aksi. Belum lagi untuk sebelumnya, harus ada semacam kesepakatan. Rasanya ponsel Arya hampir penuh. Penyimpanannya tinggal sedikit, setelah terdapat sebuah video dengan giga yang begitu besar. Lalu baru saja, Mbah Pawiro kembali pulang ke rumahnya. Setelah tadi Ayun sempat membelikan berbagai makanan dari mall tersohor di Malioboro. Memberikannya satu kantong plastik besar dan penuh, dan mengatakan, "Mbah, ini. Buat Nenek sama Niko. Makasih banyak. Makasih banyak sudah mau jadi partner." Itu belum apa-apanya. Karena entah sudah berapa kali Ayun mengucapkan 'terima kasih'. Bahkan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Mbah Pawiro. Beliau pun ikut berterimakasih. Rasanya tidak enak bila mendapatkan sebanyak itu. Ayun mungkin tidak akan berhenti mengucapkan terima kasih— jika saja tadi Arya tidak menyelanya. Seperti mengatakan, 'Yuk, udah. Mbah Pawiro mau pulang. Gak enak kalau lo sejak tadi gitu terus'. Sebelum pulang, Arya dan Ayun kembali lagi duduk pada bangku panjang dekat dengan beberapa mall serta toko. Jalanan yang tadinya cukup sepi, sudah mulai tampak riuhnya. Seraya meminum minuman cafe, keduanya hanya menikmati waktu siang ini. Arya terus fokus pada ponsel di tangannya. Entah apa yang membuat benda elektronik itu terlihat sangat menarik. Bahkan setelah Ayun menghabiskan burger dan minumannya, Arya masih duduk terdiam dengan ponsel di tangan. Sedotan itu hanya masuk ke dalam mulut, tanpa berniat untuk menyeruputnya sama sekali. Bahkan ponsel lebih menarik perhatian dari cup tes di tangannya. "Yak." "Hem …." "Kapan pulang?" Sekarang, perhatian laki-laki itu terarahkan penuh pada Ayun. "Mau sekarang, emangnya?" "Kamu kira? Mau di sini sampai kapan? Sore?" "Oke. Santai, dong." Arya berdiri dari duduknya. Menyuruh Ayun untuk membawakan cup tes miliknya. "Kok?" "Lo nyuruh gue megang setir sambil bawa cup?" "Santai." Ayun bergumam pelan. Mereka menuju parkiran. Membayar lembaran pada petugas parkir. "Bawain dulu, Cup-nya." Ayun meminta. "Kenapa?" "Makai helmnya gimana?" Arya setengah berdecak. Kemudian meraih helm dan memakaikannya pada Ayun— dengan cepat. "Udah, kan?" "O–oh … ya. Udah." Tak ada banyak waktu lagi. Setelah Ayun naik di jok belakang motor, juga Arya di depannya. Laki-laki itu mengendarai motor dan melajukannya cukup kencang. Dan Ayun tidak menyukai kebiasaan itu— yang bisa saja membuat dirinya berteriak. Mulai masuk gapura kampung, Ayun terus menundukkan kepalanya. Bahkan tak berani hanya untuk sekedar mendongak atau melihat ke sekeliling. Takut bahwa ada orang yang melihatnya. Itu sangat … Ayun ingin lari rasanya. Pada saat ini, perempuan itu jadi mendukung kebiasaan Arya— ketika mengendarai motor. Motor berhenti tak jauh dari halaman rumah Ayun. Arya menoleh ke belakang. "Sttt … udah sampe," ucapnya memberitahu. Ayun sedikit mendongak. Kaget bahwa temannya ini langsung mengantar menuju rumah. Bagaimana jika orang tua atau kakek-neneknya melihat? "M–makasih." Setelah mengatakan itu, secepat kilat Ayun turun dari motor dan berlari ke halaman rumahnya. Menaiki teras rumah panggung yang luas tersebut. Arya cukup melongo tak percaya. "Kayak dikejar apaan." "Helm bunda gue dibawa, lagi." "Eh, Arya. Kok sampe sini, Le?" Yang dipanggil langsung menoleh. Seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga Ayun menyapa. "Ohh, iya. Habis … jalan-jalan, Bu." "Oh, yo wes. Tak masuk, ya." Sekali lagi Arya menganggukkan kepalanya. Mengamati wanita itu yang kemudian masuk menuju rumah. Barulah setelahnya— Arya kembali menyalakan dan melajukan motor. Kali ini, menuju rumahnya sendiri. Mungkin, berbeda g**g dan jalan dari rumah Ayun. Rumah sederhana dengan halaman asri menjadi tempat Arya memarkirkan motor. Dia melepaskan helm dan meletakkannya di jok. Beralih ke kaca spion, seraya menyugarkan rambutnya— yang terlihat keren. Membawa helmnya, Arya masuk ke dalam rumah. Meletakkan helm terlebih dahulu di atas meja. Lalu masuk ke ruang makan, dan tepat di sampingnya— terdiri beberapa sofa dengan alas karpet. Terdapat televisi di depannya— tertempel di tembok. Ruang keluarga yang nyaman dan hangat. "Bunda, Arya pulang." Laki-laki itu berseru seperti biasa. Duduk di sofa, samping bundanya yang beberapa detik lalu— masih sibuk menonton televisi. Dinda menoleh. "Gimana tadi?" Tampak Arya menghela napas. "Gak gimana-gimana. Biasa aja, Bund." "Kalau gitu, cuci tangan sama kaki dulu sana. Terus makan." Dinda mengelus-elus rambut putranya. "Bund …." "Apa?" "Helmnya Bunda dibawa Ayun. Sama cup tea-nya Arya," keluh laki-laki itu. Dinda tersenyum kecil. "Ya, gak apa-apa. Besok pasti dibalikkin." "Kok percaya diri banget?" "Ayun kan, orangnya memang begitu. Kalau minjem, dibalikkin." Arya hanya berdehem pelan. Laki-laki itu lantas bersandar di bahu bundanya. "Udah besar, kamu." Dinda kembali mengelus-elus pelan. Arya terdiam seraya menatap lurus ke depan. Ke arah layar televisi yang sedang menampilkan sinetron-sinetron khas. Alurnya sama, hanya nama tokohya saja yang berbeda. Tapi, entah kenapa bundanya itu masih menonton. "Sanaaa … makan." Dinda setengah menggoyangkan bahunya. Tapi, putranya itu masih bersikeras untuk terus bersandar. "Arya tadi udah makan, Bunda …. Ayun beliin burger, sama nasi bungkus. Kenyang sekarang," ucap Arya. "Kamu dibeliin?" "Iya, Arya dibeliin. Gak cuma Arya doang. Bahkan Mbah Pawiro— orang yang jadi partner kita ikut dibeliin. Banyak, lagi. Tahu gak, Bund?" Sekarang, laki-laki itu membenarkan duduknya. Menatap ke arah bundanya serius. Detik berikutnya, Arya mulai menceritakan mengenai betapa banyaknya uang yang Ayun miliki. Di akhir ceritanya itu, Arya mengatakan, "Wah, bener-bener. Di dompetnya ada berapa, sebenarnya?" Dinda mengangguk-angguk seraya tersenyum. "Ayahnya Ayun kan, pengusaha, Yak." Sejak itu pula, suasana berubah menjadi hening. Hanya kesunyian, serta suara televisi yang terdengar. Tidak berlangsung lama. Karena beberapa menit setelahnya, sering suara ponsel anak laki-laki itu memecah suasana. Rasanya seolah Arya terselamatkan. Dengan gesit dirinya mengeluarkan ponsel dari saku dan berdiri. "Arya dapet telepon, Bund. Arya mau masuk kamar dulu!" Sebelum sempat menjawab apa-apa, putranya sudah melipir masuk ke dalam kamar. "Yaelah … si Ember." Arya menghembuskan napas di kamarnya— saat mendapati nama penelepon. Sebenarnya enggan, tetapi pada akhirnya Arya angkat juga. "Aryaaaaa? Kamu ada waktu sama aku, gak?" Suara perempuan di seberang nyaris membuat Arya terjungkal. "Kagak ada." Arya menjawabnya datar. Sungguh, tetapi dirinya benar-benar tidak ada waktu dengan Kimberly. Akan jadi apa telinganya jika berlama-lama dengan perempuan itu? "Ihhh ... kok kamu gitu, Arya?" Arya mengusap wajah dengan salah satu tangannya kasar. "Gue ada tugas buat besok. Udah, ya. Lanjut lain kali." Lalu, telepon itu terputus secara sepihak— oleh Arya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN