Kimberly

1028 Kata
Jangan salah. Bagaimana pun juga, Arya adalah laki-laki yang tampan. Dia tinggi menjulang dengan proporsi tubuh ideal. Meski sikapnya memang terkesan agak membuat kesal, tetapi laki-laki itu justru terkenal. Entah itu di kalangan sesama jenis, maupun lawan jenis. Bahkan, guru-guru se SMA tahu siapa yang namanya 'Arya'. Versi beliau-beliau adalah; 'Si Arya yang rasanya kebanyakan tingkah. Nilai di rata-rata. Cetusan ide-idenya membuat geleng-geleng kepala'. Sedangkan di pikiran laki-laki, hanya bagaimana mereka menyikapi seorang Arya. Rasanya seperti anak nakal tetapi tinggi yang ada di sekolah-sekolah terkenal. Arya itu pandai dalam hal fisik, tetapi entah mengapa dia tidak mengikuti ekstrakurikuler yang menggunakan kelebihannya tersebut. Beberapa orang cukup berani bertanya, dan mendapat jawaban langsung seperti; 'Gak. Gue males. Cuma madat-madatin jadwal'. Sementara untuk para perempuan, tentu sudah tertebak. Arya itu ganteng, keren, dan tipe anak-anak muda banget. Bahkan, meski sikapnya membuat kesal. Tapi, terkadang laki-laki itu menjadi sangat ramah dan gampang berteman dengan beberapa orang. Dan, banyak perempuan ingin menjadi salah satunya. Menjadi teman baik atau sahabat Arya, sehingga lebih mudah untuk mendekati. Seperti Ayun ataupun Billa. Mungkin juga Vanya. Jika dibayangkan sekali lagi, dapat membuat beberapa perempuan di SMA iri. Jadi, jika ditanya apakah laki-laki itu memiliki penggemar, maka jawabannya adalah; Iya. Tanpa memiliki media sosial, tetapi banyak perempuan menyukainya. Yah, meskipun hanya diam-diam saja. Seolah meeandam perasaan dan mengagumi dari kejauhan. Namun, berbeda dengan Kimberly. Perempuan dengan rambut lurus dan ujung-ujung bawahnya berwarna kemerahan cerah— menyukai Arya secara terang-terangan. Terbukti, saat dirinya sudah berdiri di dekat pintu gerbang SMA yang terbuka. Perempuan itu tidak sendiri, ada dua temannya lagi yang ikut menemani. Sebenarnya Arya setelah selesai pelajaran yang melelahkan ini, ingin beristirahat. Bukan bertemu seseorang yang dapat membuatnya pening. Laki-laki itu ingin mengambil jalan berbalik arah. Tapi tampaknya sudah tidak tega dan terlanjur. Lagipula, Gavin dan Rafli sibuk di perpustakaan, Lalu Bagas, sudah lebih dulu pulang. Terpaksa dirinya terus berjalan maju, hingga sampai di dekat gerbang. Di mana Kimberly sudah standby dengan senyum cerah. Entah sudah sejak kapan perempuan itu terus berdiri. "Ngapain?" tanya Arya spontan. "Ihh … kok kamu cuma bilang 'ngapain', sih?" Kimberly memajukan bibirnya kecil, merengut tidak suka. Tapi, kemudian ekspresi itu langsung berubah kembali. "ya, nungguin kamu pulang sekolah, lah, Yak." Dia bahkan memberikan hujaman kedipan mata yang sebenarnya— cantik. Arya memandang Kimberly dari atas sampai bawah. Perempuan di depannya ini masih mengenakan seragam sekolahnya— berwarna berbeda dari punya Arya. Rok selutut, dengan atasan berlengan pendek. Lalu dilengkapi dasi berwarna biru laut cerah. Sekolahnya memang berbeda dengan Arya, ada di sebelah. Bahkan jauh dari gapura kampung— tepatnya di samping jalan raya. Sedangkan sekarang, Kimberly sudah ada di sekolahnya—yang padahal masuk ke kampung. "Kenapa? Aku cantik, yaaa?" Kimberly kembali bersuara. Wajahnya berseri-seri percaya diri. Arya mengangguk. "Beneraaan?" Meski Kimberly memang cantik, tetapi dia tetap tak percaya. Sekali lagi, laki-laki itu mengangguk ke padanya! Bukankah, peningkatan yang sangat baik? "Ya, iya lah. Lo cantik. Masa ganteng?" Arya melanjutkan. "Semua cewek cantik, semua cowok ganteng." Debaran hari yang terus melonjak seketika mulai menurun. Kimbery merasakannya. Seolah mendapatkan kekecewaan yang besar, karena dibuat terlalu berlebihan. "Kok kamu gitu, sih?" Dalam hati, Arya ingin membalas. Seperti, sah-sih, kok gitu, kok giti. "Udah sana. Ngapain di sini? Cepet pulang. Tuh, temen-temen lo nungguin." Arya menunjuk dua perempuan lainnya dengan dagu. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "entar kalau bokap sama nyokap lo tahu, gue lagi yang disalahin." Arya menghela napasnya. "Ngapain merengut lagi kek gitu? Gue mau pulang " "Ikut …." "Hah?" Arya hampir melototkan kedua matanya. Yang benar saja? "Gak usah aneh-aneh. Rumah gue sempit, bahkan kalah sama bagasi kemerdekaannya elo." "Aaaa … kok gak boleh, sih, Yak?" Kimberly sudah menghentak-hentakkan salah satu kakinya— kesal. "Udah lah, sana! Temen-temen lo dari tadi nungguin. Gak kasian apa?" Suara Arya setengah meninggi. Ke rumah gue juga mau ngapain, lagi. Gak punya berbie-berbie-an gue. "Amber sama Lea mau, kok. Iya, kan?" Kimberly menoleh ke samping. Sontak, kedua teman yang sama seragamnya itu mengangguk. Yah, setidaknya mereka sudah tak lagi mengangkut tas. Kebayang bagaimana pegalnya jika sejak tadi terus mengangkat muatan seraya berdiri di dekat gerbang. Arya berusaha menahan kesabarannya. Jika tidak ada Kimberly yang mencegah, sudah pasti dirinya tinggal masuk ke rumah dan istirahat. "Kalau kamu tetap gak izinin, Amber sama Lea bisa kok gak usah ikut. Mereka bakal di mobil, atau diantar pulang lebih dulu sekalian." Kimberly tersenyum lebar. Oke. Arya mengangguk. Setidaknya itu cukup tepat. Jadi, berkurang dua lagi. "Lebih bagus sekalian elo juga." Laki-laki itu mengimbuhi. Setelahnya, semburan kekesalan khas Kimberly kembali dia dengar. "Ihhh … Arya! Kok gitu sih, kamu?" "Iya, iya." Arya mendongak. Mengarah langit dengan kedua mata tertutup. Lalu mendengar bagaimana Kimberly yang bersuara pada teman-temannya. "Kalian pulang sendiri. Suruh sopirku aja sana." Arya yakin bahwa Amber dan Lea langsung menurut. Buktinya, begitu Arya selesai mendongak dan kembali membuka kedua matanya; tak lagi ditemukan kedua teman dari Kimberly. "Udah?" Kimberly mengangguk sigap. "Udah!" "Oke. Ayok—" "Kalian ngomong apaan? Dari tadi kayak gak ada habisnya." Suara cukup nyaring dan cempreng— yang Arya yakini adalah Billa. Yah, padahal Arya baru saja hendak pulang. Dan setidaknya, dapat makan masakan bundanya. Tapi, sekali lagi ada saja, yang mencegah. Sesusah itukah menjadi tampan dan populer? Wajah Kimberly terlihat tidak suka. Sungguh, sangat berbeda dan tidak seperti sebelumnya. Ekspresinya tidak bisa dibaca. Tapi, dipastikan Kimberly tidak suka. "Kagak ada apa-apa." Arya menjawab seadanya. Di belakang Billa, Ayun menyusul. Dia terlihat menenteng tas punggungnya yang berukuran medium. Lalu berhenti melangkah, saat melihat Ayun. Di dekatnya, berdiri seorang perempuan cantik dan tampak lebih muda. Mengenakan seragam yang jelas asalnya bukan dari SMA ini. "Lah? Itu siapa, Yak? Adek lo?" Billa sesuka hatinya menunjuk ke arah Kimbery. "Bukan—" "Orang terdekatnya," sela Kimberly cepat. Sekarang dia memeluk lengan Arya dan mengajaknya untuk pergi dari tempat ini. Tanpa permisi. Secara pribadi, dia menggeret Arya untuk langsung menjauh dari jangkauan sekolah ini. Berjalan entah ke mana, yang langsung disemprot oleh Arya kemudian. "Apa-apaan, sih, Lo? Maen serebet-serebet aja." Arya menghentikan jalannya. Menghembuskan pelan tangan Kimberly yang tampak leluasa, menjepit lengannya. "Rumah gue gak pake jalan ini. Salah jalan, tahu gak?" "Oh, gitu kah? Aku gak tahu." Arya melapisi tameng kesabarannya. Dirinya mengusap kasar wajah. Untuk kali ini. Kali ini saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN