Sifatnya cukup kekanakan. Dan, Arya yakin hanya ke padanya saja. Jika dilihat, Kimberly bahkan dapat membuat sensasi ketakutan kepada kedua temannya. Jadi, mengapa perempuan itu hanya terus tersenyum saat bersama Arya?
Rela menghampiri sekolah laki-laki itu dan menunggunya di gerbang.
"Lo kagak capek?" Arya bertanya cukup malas. Sebenarnya dari sekolah ke rumah itu tidak terlalu jauh. Satu RT dan satu kampung. Tapi, entah untuk anak manja seperti perempuan di dekatnya ini.
Kimberly tersenyum senang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Membuat rambut itu terus bergerak tak tentu arah. "Gak, kok. Kamu khawatir sama aku, ya?"
'Wah, udah mulai bermasalah ni'.
"Aryaaa …."
"Hem?"
"Kok diem aja?" Kimberly menatapnya, dengan kedua kaki yang masih terus berjalan.
"Lagi gak mau ngomong."
"Oh, oke." Dia menghadap ke depan kembali. Wajahnya sudah cemberut.
"Eh, tapi ….." Pandangannya kembali lagi menyamping. Menatap ke arah Arya, yang baginya sangatlah tampan. Lelaki itu mengenakan seragam SMA. Dua kancing seragam atas telah dibuka. Arya terlihat begitu menarik perhatian ketika tatapannya hanya mengarah lurus, dengan rambut yang terus diterpa sinar matahari. Juga angin berhembus membuat suasana seolah melambat.
"Dah sampe. Gak usah dilanjutin." Arya berlalu lebih dulu— masuk ke dalam halaman rumahnya. Manaiki teras dan membuka pintu rumah— dengan kunci yang ditaruh bawah keset.
"Ihh … Aryaaa! Tungguin …." Kimberly menyusul cepat. Dia sangat antusias saat pintu rumah dibuka. Menunjukkan betapa sangat sederhananya ruang tamu.
Tidak luas, cukup muat untuk kira-kira 6-8 orang. Terdapat beberapa kursi juga sofa yang ditata, dengan meja bertaplak.
"Napa itu liatin begitu. Gue tahu ni ruang tamu bahkan kalah sama kamar lo yang mewah." Arya berdecak sinis. Melepas sepatunya dan menjinjing masuk ke dalam— untuk ditaruh pada rak sandal.
Laki-laki itu kembali ke ruang tamu— seraya melepaskan tas dari pundak. Secara sembarang menaruhnya di sofa. Kemudian melepas atasan seragamnya— yang hanya tinggal beberapa kancing.
"Lo di sini emang mau ngapain?" Arya bertanya lelah setelahnya.
Kimberly mengerjai pelan. "Em … main, mungkin?"
"Ngerepotin." Arya menghela napas. "lo duduk aja di situ dulu. Gue mau ke kamar. Gak usah ikut-ikut."
Arya mengambil kembali tasnya. Lalu berlalu pergi ke dalam kamar— setelah memastikan bahwa Kimberly mengangguk. Perempuan itu sulit diatur. Begitulah.
Tak berselang lama, Arya kembali lagi. Sekarang dengan pakaian yang jauh lebih santai. Tak ada lagi seragam remaja SMA yang menghiasi. Hanya kaos putih dengan tulisan abstrak, dan celana pendek.
Arya menyugarkan rambut pelan. Sehabis pulang sekolah, selalu saja gerah. Dan, sadar bahwa sejak tadi dirinya belum mencuci kaki ataupun tangan. Apalagi membasuh wajah.
Oleh karena itu, dia segera pergi untuk ke sekian kalinya— kali ini ke kamar mandi.
Kembali membuat Kimberly yang masih berdiri di ruang tamu— mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Lalu pandangannya mengarah ke sudut-sudut ruangan ini.
Sebenarnya, apa yang tadi Arya katakan memang benar. Bahkan kamar Kimberly yang luas dapat menampung hingga enam ruang tamu Arya.
"Embeeer!"
Itu adalah suara Arya— memanggil dirinya.
Yang dipanggil segera masuk lebih ke dalam— meninggalkan ruang tamu dengan pintu yang masih terbuka.
"Kimberly, Arya! Ihh … yang bener, dong, manggilnya." Perempuan itu melemparkan protes.
"Gak tahu gue. Cuma mau manggil, gak perlu yang susah-susah." Arya berdecak pelan. "pintu rumah gue udah lo tutup belom?"
"Ha? Pintu?"
Tanpa diberi tahu pun, Arya sudah tahu. Dia pergi ke ruang tamu hanya untuk menutup pintu yang nyatanya masih terbuka lebar. Kembali lagi ke ruang makan dengan mengatakan, "Habis masuk tuh, pintu ditutup. Entar kalau ada maling masuk gimana?"
"Maling?"
"Pencuri, pencuri." Arya memberitahu. "sama aja kayak Ayun, lo. Tapi, dia lebih baik, sih."
"Ayun? Siapa itu?" Kimberly melemparkan tatapan tidak suka. Lebih baik dari dirinya? Kata-kata itu sangat menganggu.
"Temen gue." Arya berjalan melewati Kimberly— lalu duduk di salah satu kursi yang menghadap ke meja makan. "Lo dah makan belom?" Kepalanya setengah menadah.
Perempuan itu masih mengenakan seragamnya. Cukup pendek, oh … semuanya memang serba pendek. Kecuali dengan tinggi badan Kimberly yang hampir menyamai Arya, lalu rambut tergerainya.
"Belum." Kimberly menggeleng pelan.
"Kalau belom, ya udah, sini. Duduk. Makan bareng gue." Arya menunjuk kursi di seberangnya dengan dagu. Lalu meraih dua piring kosong di meja makan. Meletakkan satu untuk dirinya, dan satu untuk Kimberly.
Kimberly duduk di kursi yang Arya tunjuk, setelah dirinya tadi mencuci tangan di wastafel.
Sedangkan laki-laki itu membuka tudung makanan dan meletakkan tudung di bawah meja. Biarlah, bundanya sedang kerja.
Harum makanan yang sangat enak dapat tercium. Bahkan, meski sudah lebih berjam-jam lalu dimasak. Bundanya tidak pernah menghangatkan makanan. Kecuali jika memang benar-benar perlu.
Ada nasi sekatel. Lalu lauk-pauk lezat, serta oseng-oseng sayur kangkung. Ditambah, sambel manis-pedas yang sudah tersedia di cobek, lalu di atasnya ada beberapa tempe goreng.
Yah, biasanya Arya sangat suka mengelulek tempe atau tahu goreng dengan sambel. Lalu memakannya dengan nasi.
"Wah … baunya lezat," ucap Kimberly kagum.
Dan karena itu, Arya merasa bangga. "Iya, dong. Yang masak bunda gue."
Karena Kimberly bahkan tak tahu apa pun, maka dari itu— Arya yang menyiapkannya. Memasukkan beberapa lauk pauk serta nasi di piring perempuan itu.
Bahkan katanya, Kimberly tidak pernah yang namanya 'menyiapkan piring makan'. Biasanya, bibi pengasuhnya lah yang melakukannya.
Yah … setidaknya, Arya berusaha untuk memaklumi.
Kedua mulai makan.
Sepanjang waktu, Kimberly terus kagum. Tak henti-hentinya ia mengeluarkan betapa rasa kagumnya itu. Mengatakan bahwa bahkan, masakan bibi pengasuhnya bisa saja kalah.
Meski seusai makan dan mencuci tangan pun, Kimberly masih melanjutkan ceritanya.
"Bibi pengasuh belum pernah buatin aku yang kayak bunda kamu buatin."
"Sambel?" Arya bertanya seraya menaruh piring-piring kotor di wastafel. Tanpa berniat untuk mencucinya.
"Iya, itu." Kimberly kembali lagi duduk di kursi. "bibi pengasuh cuma buatin ayam goreng, ayam bakar, ayam panggang, ayam butter, ikan salmon, sushi, steak, dan … cuma semacam itu. Belum pernah tuh, bibi pengasuh buatin sambel …." Suaranya kian melemah dengan raut wajah muram.
Baiklah. Arya harus mengakui, bahwa Kimberly memang masih lah kanak-kanak.
Bahkan mungkin bisa dua tahu lebih muda darinya.
Perempuan itu masih duduk di bangku SMP, kelas 3.
Arya bertemu Kimberly. Dia adalah anak kaya raya. Ibunya memesan catering pada Dinda— bundanya Arya. Keduanya memang teman dan cukup dekat, meski baru beberapa bulan berkenalan.
Dan … Arya mengenal Kimberly, belum ada dua bulan.
Namun, perempuan itu malah mendekati Arya layaknya seseorang yang sangat dekat. Padahal, nyatanya tidak.
Terkadang menelepon, atau mengajak ketemuan untuk main bersama. Lalu kali ini, dia sudah ada di gerbang sekolah— menunggu Arya.
Entah apa yang akan Kimberly lakukan, selanjutnya.