Arya hampir saja muak. Mau dipaksa bagaimana pun, Kimberly sejak tadi tidak ingin pulang.
Arya yang rencananya hendak tidur pun, harus mengurungkan. Dia tidak nyaman menutup mata, jika perempuan seperti Kimberly sedang berada di rumahnya. Untuk membayangkan sesaat saja, sudah membuat laki-laki itu merinding.
Hingga sore menjelang malam ini, sepertinya tidak berpihak pada Arya.
Dinda pulang dari tempat kerjanya. Cukup kaget saat mendapati putri temannya— yang mungkin lebih ke atasan, berada di rumah sederhana ini.
Dia meletakkan tas jaketnya di kursi. "Eh, ada Kimberly. Kok ...."
Kimberly tersenyum dan menyapa. "Halo, Tante. Iya. Tadi Kimberly nungguin Arya di gerbang sekolahnya. Terus diajak ke rumah, dan tadi makan bareng! Makan masakan Tante yang super super enak! Iya, kan, Arya?" Wajahnya dengan cepat menoleh. Binar bahagia itu sungguh tidak bisa Arya sendiri tolak.
Terpaksa laki-laki itu mengangguk. "He em."
"Oh, iyakah. Terus, gimana nanti Kimberly pulangnya? Bawa ponsel? Ini udah hampir malam, Nak. Udah izin belum? Kalau mamamu nyari, nanti—"
"Tenang, Tante!" Nada suara Kimberly masih sama cerianya. "Aku bawa ponsel, kok. Tadi juga udah izin sama mama. Karena mau sekalian nginep di sini."
"Hee?"
"Haa?"
Arya tidak percaya akan hal ini. Sejak kapan Kimberly bilang dia akan menginap di rumahnya? Menginap? Berapa malam?
Membayangkan hal itu, Arya merasa kesal. Dia menjambak kasar rambutnya sendiri lalu menggeleng kuat.
Melirik sekilas ke arah jam dinding di sudut kamar tidurnya. "Wah, maen-maen tuh anak satu." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "mana bunda malah ngizinin lagi."
Arya masih ingat— saat bunda menurut-menurut saja. Beliau malah menyuruh Kimberly untuk tidur berdua di kamarnya. Karena rumah ini hanya memiliki dua tempat tidur saja. Tidak mungkin menyuruh putri dari orang kaya raya itu tidur di kamar mandi ataupun ruang tamu. Yah, ruang keluarga lebih baik. Di sana dekat dengan ruang makan, dan terasa begitu hangat serta nyaman.
Dan, yang jauh lebih membuat Arya kesal adalah— saat tadi Kimberly yang rasanya polos mengatakan, "Apa aku gak boleh tidur di kamarnya Arya, Tante?"
Sungguh. Bahkan tadi Dinda sampai tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya. Terlebih, dengan Arya yang langsung menyembur, "yang bener aja lo!?"
Pertengkaran itu pasti akan terus berlanjut. Jika saja Dinda— tidak dengan cepat melerai. Bahkan dia akan memarahi Arya bila putranya itu masih berbicara lebih lagi.
Gawat soalnya. Kimberly itu putri dari orang kaya.
Jadi, Dinda menjelaskannya secara hati-hati.
Nyatanya, jika dilihat-lihat, Kimberly memang perempuan yang masihlah polos. Bahkan tadi, Dinda sempat berbincang kecil dengan Arya. Menasehati putranya.
Dengan awalan menarik telinga laki-laki itu lebih dulu.
"Jangan kasar sama Kimberly, Yak. Ucapannya dijaga, dengerin. Awas kalau sampai kamu bicara begitu lagi sama dia. Kimberly itu baik, sebenarnya. Didikan dari mamanya juga bagus-bagus, makanya masih kayak anak kecil. Oke? Awal sekali lagi kamu gitu sama Kimberly."
Tadi, Arya mengangguk malas.
Bundanya bahkan menarik telinganya, hanya untuk memberitahu— agar tidak kasar pada Kimberly.
Arya menghela napas pelan. Keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Di sana, Kimberly sedang membantu Dinda menyiapkan makan malam di meja. Raut wajah remaja perempuan itu sangat cerita. Terlihat senang dapat melakukan aktivitas bersama Dinda.
Kimberly menyadari kehadiran Arya. Perempuan itu tersenyum lebar. "Aryaaa! Aku ikut bantuin buatin makan malam," ucapnya dengan bangga.
Arya mengangguk-angguk. Dan duduk di kursi yang menghadap meja makan. Hanya terdiam termenung seraya memikirkan sesuatu.
Sampai makan malam siap, dan semuanya sudah duduk di kursi masing-masing.
Memulai makan malam dengan tenang. Meski, Kimberly tetap ingin bercerita mengenai banyak hal. Sangat banyak, hingga rasanya sama sekali tak masuk ke telinga Arya. Laki-laki itu mengabaikan. Tidak suka.
Arya langsung mencuci tangan setelah selesai makan. Dia menoleh pelan ke arah bundanya. "Bund, Arya mau langsung tidur." Pria itu berucap lirih.
"Kok gitu ...." Kimberly memajukan bibirnya. Dia berpikir akan menghabiskan banyak waktu malam ini. Seperti, menonton film atau bermain-main. Entahlah, tetapi dia sangat ingin melakukannya.
Dan, melihat Arya yang ingin langsung tidur ... membuat dirinya sedih.
"Kok gitu apanya? Gue besok mau sekolah, harus bobok. Lo sendiri gimana? Besok sekolah dan seragam lo aja—"
"Aku besok libur." Kimberly memotong cepat.
"Ha? Libur? Beneran?" Arya seolah tak percaya. Di kalendar sama sekali tidak ada tanggal merah.
Namun, Kimberly hanya mengangguk pelan. Seraya berujar, "meliburkan diri."
"Loh, kok gitu, Kimberly?" Dinda yang mendengar bertanya lembut. Mendekati gadis yang tingginya melampaui Dinda.
"Aku udah bilang mama, kok, Tante. Katanya boleh. Lagipula, sejak semester pertama, Kimberly belum pernah ambil libur. Jadi tidak apa-apa." Dia tersenyum. Nadanya seolah setengah memelas.
"Oh, begitu." Dinda berusaha tersenyum. "kalau mama kamu izinin, ya gak apa-apa."
"Jadi, boleh main sama Arya, Tante?" Kimberly bertanya kembali.
Oh, ayolah. Kini Arya sudah mengusap wajahnya kasar. Tak percaya akan sikap perempuan itu yang keras kepala.
Namun, Arya lebih kesal saat bundanya malah mengangguk.
"Arya bisa antar Kimberly jalan-jalan pakai motor. Beli apa gitu. Mungkin ... makanan? Kimberly masih lapar?"
"Buuund! Kan baru aja udah makan—"
"Aku masih lapar, Tante. Sejak di sini, aku jadi banyak makan. Karena di rumah, tak mungkin bisa makan makanan kayak yang Tante bikin." Kimberly berujar serius.
Dinda tersenyum seraya menatap ke arah Arya. Seolah memberikan kode untuk, 'Sabar. Nurut sama bunda sebentar. Jangan kasar sama dia'.
Lantas wanita itu kembali menatap Kimberly. "Beli Magelangan, mau?"
"Magelangan? Apa itu, Tante?"
"Nasi goreng yang dicampur mie."
"Dua ... karbohidrat sekaligus?" Kimberly bertanya ragu. Dia belum pernah mendengar akan hal itu. Jadi, rasanya terlalu ambigu.
"Kimberly gak boleh makan yang begitu, ta?"
Dengan cepat Kimberly menggeleng. "Boleh, kok, Tante."
"Tapi—"
"Aku mau banget ...."
Dinda mengangguk-angguk. Tak ada pilihan lain.
Itu lebih mendingan. Karena di sini, ada Arya yang jauh lebih kesal. Laki-laki itu berniat tidur, tetapi malah diganggu. Setidaknya, dia ingin sekedar tiduran sambil chatting dengan teman-temannya.
Namun, Kimberly tidak mau mengerti.
"Yo udah, ayo!" Arya mengajak ketus. Langsung berjalan keluar rumah. Sedangkan Kimberly dengan cepat menyusul, setelah memakai jaket yang Dinda pinjamkan.
Di halaman rumah, perempuan itu masih tidak percaya. "Beneran? Kamu akan boncengin aku?"
Arya menghela napas tidak suka. Dia sudah mengeluarkan motor, dan kemudian sadar bahwa— helm bundanya tidak ada.
"Ah, ya." Arya teringat. "helmnya belum dikembaliin."
"Hah? Apa?"
"Gak apa-apa." Arya menaiki motor dan menyalakan mesinnya. Ancang-ancang. "buruan naik." Dia menunjuk ke belakang dengan dagunya.
Kimberly masih terdiam. "Naik motor?"
"Iyaa .... Lo belum pernah naik motor emangnya?"
Tak terduga. Kimberly menggelengkan kepalanya polos. Wah, ternyata memang benar-benar polos.
Bahkan Rafli yang menjadi salah satu anak dengan keluarga berada di kampung ini, pernah merasakan naik motor. Tapi, Kimberly? Arya jadi tidak dapat membayangkan betapa besarnya rumah perempuan itu.
"Wah, beneran. Ya udah, cepetan naik. Kalau lama malah gue tinggal ni." Nadanya mengancam.
Perempuan itu mengenakan jaket, bahkan mampu menutupi celana se lutut yang dia kenakan. Dengan rambut dikucir dua menyerupai peri di film-film. Tipikal gadis cantik yang memang kaya raya.
"Gak pakai ... helm?"
"Gak usah. Cuma di depan gapura. Lagian, gak ada polisi sama sekali. Gak ada dua menit aja nyampe. Buruan naik." Arya mulai cerewet.
Lalu, mau tidak mau Kimberly mengangguk dan menurut. Dengan pelan karena tak terbiasa— dia duduk di jok belakang.
Sedetik setelahnya, memeluk tubuh Arya. Kimberly tersenyum. "Seperti ini?"
Arya mendengkus kasar. Dia masih ingat apa yang bundanya katakan.
"Gak usah kenceng-kenceng. Gak bakal ngebut."