Seharusnya tidak jadi ke sini. Sebuah gerobak yang berdiam diri di posnya, adalah tempat jualan dan pembuatan nasi goreng, mie goreng, maupun magelangan.
Aroma harumnya rempah-rempah menguar. Begitu terasa sejak Arya tadi memarkirkan motor dan menyuruh Kimberly untuk turun.
Bukan baunya nasi goreng yang membuat Arya menghela napas. Tapi, keberadaan Rafli lah yang sungguh membuat dirinya hampir kehilangan akal.
Tatapan keduanya bertemu. Hanya sekilas, dan Arya tahu apa yang sedang Rafli pikirkan. Didukung dengan laki-laki di seberang sedang menahan tawanya.
Perasaan gue bukan artis yang punya banyak skandal.
Dengan malas Arya ikut mengantri. Sedangkan Rafli baru saja pulang menunggangi motornya— sudah selesai dengan pesanan nasi goreng se kantong plastik besar. Untuk acara keluarga tampaknya. Karena tadi Arya sempat beberapa mobil berkerumunan di depan rumah Rafli.
"Nih, duduk." Arya menaruh sebuah kursi plastik.
Kimberly menurut dan duduk. "Kamu ... duduknya?"
"Gak perlu. Lo aja."
Dua porsi magelangan dan satu porsi nasi goreng telah Arya terima. Laki-laki itu menyantelkan kantong plastik di depan jok motor. Kemudian menaikinya.
"Jalan-jalan—"
."Gak perlu." Arya secara tegas dan penuh tekanan menolaknya. "gue capek, mau tidur."
"Tapi—"
"Lo bisa gak sih, ngertiin gue? Cepetan naik!"
Kimberly mengangguk dan langsung naik di jok belakang. Dia tidak ingin jika ada orang yang melihat. Kimberly tidak suka menjadi pusat perhatian. Kecuali, untuk orang yang dia sukai.
"Gak perlu pegang-pegang gue. Lo bisa pegang belakang lo. Gue gak bakal ngebut," ucap Arya cepat. Menyadari bahwa Kimberly yang hendak melakukannya— langsung urung.
"Iya ...." Di belakang, suaranya lirih.
Arya tidak peduli dan langsung melakukan motor.
Tak perlu waktu beberapa menit hingga akhirnya sampai.
Setelah memastikan Kimberly turun, Arya ikut turun. Memasukkan motor ke dalam rumah dan menaruhnya di ruang tamu— mungkin tak lagi digunakan. Kecuali besok.
Dia menghiraukan. Hanya langsung cuci tangan dan kaki, kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sebelumnya, Arya sempat berujar, "Bund, aku mau tidur. Nasi gorengnya Arya Bunda makan aja."
***
Kimberly sangat manja dan keterlaluan, bagi Arya.
Setelah tadi malam laki-laki itu rela mengantar untuk membeli nasi goreng. Pagi tadi pun, tampaknya gadis itu tidak mau bila Arya berangkat sekolah.
Yang benar saja?
Untunglah bahwa dia masih memiliki hati nurani dan rasa malu. Sehingga, meski dia tidak suka— tetapi berusaha untuk membiarkan.
Dan, baiklah. Arya ingin melupakan mengenai perempuan itu. Hanya sejenak, dan sejenak. Di sekolahnya ini, tepat di jam istirahat pertama. Dia duduk di kursi, dekat bawah pohon yang rindang.
Beberapa murid menatap ke arahnya, tetapi tak berani untuk mengajak bicara.
Arya membuka kaleng minuman dan meneguknya. Lalu menaruh kembali di samping seraya menghembuskan napas.
Ia berencana akan pulang jauh lebih terlambat. Tak memedulikan meski sejak pagi tadi— Kimberly sendirian di rumah sederhana. Karena Dinda yang harus bekerja, dan Arya sekolah.
Laki-laki itu ingin ke perpustakaan setelah semua pelajaran usai. Bahkan berencana untuk pulang sore— jika sekolah masih terbuka. Yah, sepertinya masih. Banyak ekstrakurikuler sore.
Namun, Arya berdecak. Mengingat sesuatu.
Kimberly itu tidak bisa dipercaya. Gerak-geriknya terkadang membuat Arya kesal sendiri.
Bagaimana jika Kimberly masuk kamar Arya tanpa izin? Oh, okay. Tadi setelah keluar dari kamar, Arya sempat mengunci pintunya. Menaruh semua barang-barang penting di tempat tersembunyi.
Tapi, kalau perempuan itu nekat memanggil ahli pintu dan kunci?
"Oke, oke. Gak akan, gak akan." Arya bergumam pada dirinya sendiri. Menyuruh pikiran untuk berhenti memunculkan spekulasi-spekukasi negatif.
"Kenapa, Yak? Lo punya banyak beban?" Gavin sudah duduk di sampingnya. Membuat bangku sederhana rasanya sempit. Laki-laki itu bertubuh besar, tetapi friendly.
Arya tanpa sadar menganggukkan kepala. Kembali meneguk minuman kalengnya— sebelum kemudian, Gavin berceletuk, "Cewek yang nginep di rumah lo itu siapa, Yak? Kemarin mbak gue lihat dan bilang sama gue. Katanya cantik dan masih SMP."
"Anaknya majikannya bunda gue." Arya menjawab.
"Ohh. Gue kira saudara lo, Yak."
"Gue gak punya banyak saudara." Arya mengaku. Dia jadi teringat dengan Andhika. Laki-laki yang sempat menginap pula di rumahnya. Arya selalu mengajak Andhika bermain, dan rumah tak lagi terasa sepi. Punya kontaknya, tapi sama saja kalau belum pernah berinteraksi. Keduanya juga sama-sama gak pernah buat status.
Gavin jadi terdiam. Beberapa detik setelahnya dia berucap, "Sorry, Bro. Kagak sengaja."
"Kagak apa. Gue masuk dulu." Arya langsung bangkit dengan kaleng minuman kosong di tangannya. Berjalan menuju kelas seraya membuang sampah tersebut.
"Tungguin, Bro!"
Waktu berjalan hingga semua jam pelajaran di kelas Arya telah usai. Sebenarnya bisa laki-laki itu langsung pulang ke rumah dan beristirahat. Namun, dia sekarang memilih masuk ke perpustakaan. Tempat yang begitu jarang dikunjungi.
Cukup luas, dengan ruangan belajar yang terpisah tanpa sekat. Rak-rak berukuran besar berjajar-jajar dengan sela-sela yang sama besar.
Arya menaruh tasnya di loker. Kemudian mulai menelusuri rak buku, mencari hal-hal yang sekiranya menarik.
"Napa banyak banget buku ilmiah?" Dia bergumam. Kepalanya mendadak pusing saat sejak tadi hanya menemukan buku-buku tema tersebut. "oh ...." Gerakannya terhenti. Saat menatap seorang perempuan yang dikenalnya.
Tubuh tinggi, dengan sisi kanan dan kiri rambutnya di tarik ke belakang. Seolah ciri khas yang biasa dia pakai. Sedang menikmati buku-buku di rak, memilah tenang tanpa masalah.
"Lo ke perpustakaan juga?"
Suara Arya yang tiba-tiba langsung mengagetkannya.
Bahu Ayun bergetar. Dia kaget bukan main saat suara itu tiba-tiba muncul. Dirinya lantas menoleh ke samping. Keduanya sedang berada di sela-sela rak buku yang sama.
"Jangan keras-keras bicaranya." Ayun sepertinya cukup tahu peraturan perpustakaan ini. Tak seperti Arya.
"Harusnya aku yang tanya. Kok kamu ke perpustakaan?"
Arya tersindir. Laki-laki itu hanya beralasan, "gak apa. Lagi bosen aja."
"Kayaknya ini perpustakaan kekurangan buku. Bosenin semua bukunya."
"Enggak." Ayun berjalan mendekat. Di tangannya terdapat satu buku. "kamu aja yang gak bisa cari. Di sini termasuk lengkap. Mau cari buku tentang apa, memangnya?"
Arya mengacak rambut pelan. "Pokoknya yang bukan ilmiah. Yang bukan nyata-nyata, gue capek mikiran pelajaran tadi."
Ayun menghembuskan napas. "Salah kamu. Ini rak untuk buku non-fiksi, bukan fiksi. Buku fiksi ada di sebelah barat. Kucariin." Ayun berjalan keluar dari sela-sela rak buku dengan menggandeng tangan Arya. Mengantarnya pada rak lain, yang rasanya terletak jauh berbeda dari sebelumnya.
"Ini, tinggal cari aja." Ayun melepaskan genggamannya.
"Gue bingung milih. Cariin, gih. Yang bagus."
Ayun mengangguk. "Kalau buat cowok, biasanya novel fantasi. Lebih bagus fantasi translate-an. Jadi, dari karya luar."
Arya terdiam dan mengangguk-angguk. Tidak fokus. Dia hanya terus menatap ke arah perempuan cantik di sampingnya.