Permen dan Jeli Darinya

1023 Kata
Sepertinya Arya harus mengucapkan terima kasih pada Ayun. Dia telah membantunya untuk mencari novel, yang memang cocok. Sebuah cerita anak muda yang berpetualang sebagai anak— dari dewa pada masa Yunani kuno. Bahkan sekarang, Ayun memberikannya dua buah permen cokelat dan sebuah jeli. Duduk pada bangku taman yang sama— dengan jarak yang sangat jauh terasa. Mereka membuat kekosongan di tengah-tengah. Tidak lagi, karena sedetik setelahnya Arya menaruh tas di tengah-tengah mereka. Beberapa pohon rindang melindungi keduanya dari terpaan sinar matahari siang. Digantikan dengan dedaunan yang bagai mengipasi kesejukan. Arya membuka bungkus permen dan memakannya. "Makasih, Yuk." "Sama-sama." Sejutek-juteknya Ayun pada Arya, tetapi perempuan itu selalu membalas ucapan 'terima kasih'. "Yuk, lo tahu kagak?" Ayun menoleh sebentar. Arya bertanya padanya, tetapi laki-laki itu bahkan hanya menatap lurus ke depan. Seolah sedang menerawang. "Apa?" "Dia anaknya manja banget. Gue capek." Arya menjawabnya. Lebih mirip seperti sebuah keluhan masalah. Dia bahkan menghembuskan napas. Untungnya permen manis yang ada di dalam mulutnya dapat menghilangkan sedikit perasaan kesal. Ayun mengerjap. "Ya? Siapa ...?" "Siapa lagi? Ya si Ember, lah." "...." Keheningan terjadi. Lantas secara tiba-tiba membuat Arya muak. Dirinya langsung menoleh— tepat saat Ayun juga tengah menatapnya sejak tadi. "Si Kimberly. Yang nungguin gue di gerbang sekolah waktu itu," jelas Arya. "Oh." Ayu ingat. "saudaramu?" Wajah Arya berubah datar. "Gak. Saudara gue gak sampe sebanyak itu. Lima orang aja entah tembus apa enggak. Si Ember itu anak majikannya bunda gue." Ayun mengangguk. "Tapi, kamu gak boleh gitu. Panggil dia yang bener. Dia kan punya nama." Kali ini, perempuan itu serius. Sangat jelas serta kontras dengan nada suaranya kali ini. "Gak, males." "Gak sopan itu namanya. Dia punya nama yang orangtuanya kasih, dan seenaknya kamu panggil dia pakai sebutan lain, yang artinya melenceng jauh," tegur Ayun. Arya enggan menjawab. Dirinya hanya diam seraya kembali membuka bungkus permen cokelat dan memakannya— setelah yang sebelumnya habis. Kemudian laki-laki itu mengangguk ragu. "Hem. Terserah lo." "Dia kelas berapa? Kelihatannya masih kecil," ujar Ayun mengganti topik. "Masih kelas sembilan. Umurnya lebih muda dari temen-temen sekelasnya. Karena nyokapnya masukin tuh anak lebih awal. Gak ada yang larang, karena anak orang kaya." Arya menjelaskannya malas. Dia sejak tadi hanya menatap lurus ke depan. Kalau tidak, palingan melihat ke samping dan memandang beberapa murid yang berlaku-lalang. Atau menoleh untuk menatap wajah Ayun di sampingnya sekilas. "Dan, Lo tahu gak, Yuk?" Suaranya bertambah lebih heboh. Kini duduknya lebih sedikit condong ke samping. "tuh anak malah suka sama gue," imbuhnya kemudian. Ayun kali ini tidak habis pikir. "Kamu kepedean." Perlu beberapa kali Arya memberitahu, sampai perempuan tersebut benar-benar percaya terhadapnya. Meski di akhirnya, Ayun tetap mengangguk seolah semuanya normal. "Ya gak apa-apa. Namanya juga masih anak SMP." "Gak apa-apa, gak apa-apa." Arya mendengkus kesal. "Lo gak ngerasain. Dia manja banget orangnya. Maksa pengen ke rumah dan nginep. Terus mau sekamar sama gue, lagi. Untung bunda gue ngasih tahu. Gara-gara dia juga, gue harus nganterin ke luar. Kalau aja gue gak nolak, pasti dia sekalian dan nyuruh gue buat antar jakan-jalan keliling." Sebenarnya Ayun juga tidak akan peduli sama sekali. Bahkan setelah laki-laki di dekatnya berbicara panjang lebar, itu sungguh tak mengusik apapun. Yah, karena bukan Ayun sendiri yang mengalami. "Sabar." Ayun berkomentar hanya dengan satu kata. "dianya manja, kamunya dikit-dikit kesel." Perempuan itu kemudian bergumam. Arya mengeluarkan ponsel dan membukanya. Hanya sibuk menatap ke arah benda tersebut. Bernain-main dengan tubuh yang perlahan-lahan bersandar pada punggung bangku. Arya melirik sebentar. Hanya untuk melihat Ayun fokus pada layar ponselnya sendiri. "Lo kok gak baca buku? Kayaknya lo tadi pinjem banyak," celetuk Arya. "Aku lebih suka baca buku di rumah. Gak nyaman di sini." Ayun menjawab tanpa menolehkan perhatiannya. "Gak nyaman kenapa?" "Ya, masa baca buku di bangku taman? Kurang luas dan nyaman. Cukup bising juga." "Ohh—" "Yak." "Apaan?" "... aku mau pulang. Urusannya Billa udah selesai, dia lagi nunggu di gerbang." Ayun sudah memasukkan ponsel di sakunya. Bangkit dari duduk dan mengambil beberapa buku yang belum sempat dia masukkan ke tas. "Pulang, ya pulang aja," sinis Arya. Ayun memutar kedua bola matanya. "Iya. Tapi, akunya punya perasaan. Jadi ragu ngasih tahu." Nadanya penuh penekanan— seolah terbata-bata tebal. Lalu setelahnya— perempuan itu berjalan pergi. Pulang dengan Billa— yang bahkan kedua rumah mereka sangat dekat dari sekolah. Arya sebenarnya ingin terus di sini. Layaknya beberapa cowok keren-keren yang biasanya pulang terlambat sesudah membaca buku. Kemudian dengan santai duduk di bangku dan membuka visualnya pada umum. Hanya saja, Arya ke perpustakaan pun tanpa minat. Nilainya juga bukan di atas rata-rata. Apalagi dia juga tidak terlalu keren-kerwn banget sampai dapat membuat seseorang mengejar-ngejarnya. Baiklah, kecuali Kimberly dan beberapa perempuan lain. Jadi, semua rencanannya luntur. Arya berakhir berdiri dari duduknya dan meraih ransel untuk kemudian dia gendong. Laki-laki itu berjalan meninggalkan area sekitar perpustakaan dan keluar dari sekolah. Tidak ada 10 menit pun, Arya sudah sampai di rumahnya. Padahal berjalannya sesuai mood. Dia membuka pintu rumah dengan kunci dan memasukinya. Berjalan masuk hingga ke ruang makan. Dirinya menoleh ke samping— di ruang keluarga minimalis. Begitu mendekat, dapat dilihat seorang perempuan sedang tertidur. Dia duduk di sofa, dan menaruh kepalanya pada tumpukan beberapa bantal di samping. Di depannya sana, sebuah televisi sedang menampilkan film kartun anak-anak. Arya mengalihkan pandang. Dia mulai berganti pakaian, dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Yang pada akhirnya duduk pada kursi yang menghadap meja makan. Sehabis pulang sekolah, Arya tidak pernah melupakan masakan bundanya. "Tuh anak hampir ngabisin semuanya." Arya bergumam. Hanya tersisa beberapa saja, dan yakin bahwa semuanya dimakan oleh Kimberly. Sesaat setelah Arya mencuci tangannya sehabis makan, Kimberly perlahan terusik. Dia terganggu dan bangun. Membuka kedua kelopak matanya dan mengerjap beberapa kali. Wajahnya langsung cerah saat mendapati tubuh yang sedang berada di wastafel itu— merupakan Arya. Lantas dirinya berlari mendekat. "Kamu udah pulang? Kok lama banget, sih." Arya menghela napas tidak suka dan berbalik. "Banyak jadwal," ungkapnya berbohong. Kimberly mengangguk-angguk. Tapi, kemudian dia mengatakan, "harusnya tadi kamu pulang lebih cepat. Aku—" "Lo bisa diem kagak?" Arya menatap tajam. "Gue mau ke kamar terus tidur. Gak usah ganggu." Laki-laki itu berbalik dan berjalan gontai— masuk ke dalam kamarnya. Kimberly menundukkan kepala. Bukankah terkadang, dirinya ini terlalu kuat dan polos?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN