Arya keluar dari dalam kamarnya. Dengan rambut acak-acakan dan wajah yang khas baru bangun dari tidur siang. Begitu laki-laki itu mencari di mana letak jam dinding dan melihatnya, ternyata sudah hampir jam 5 sore.
Dirinya menuju wastafel dan membasuh wajah. Kemudian berpikir, apakah Kimberly sudah makan?
Entahlah. Makanan yang bundanya masak cukup dimakan oleh Kimberly pada Arya sekolah tadi, dan siang hari. Lalu sore ini belum.
Laki-laki itu mencari Kimberly. Masuk ke dalam kamar Dinda dan mendapati seorang perempuan sedang tengkurap di atas kasur. Kimberly sedang menggambar di buku tulisnya. Lebih mirip seperti coretan— hanya kegiatan random serta abstrak.
"Lagi ngapain lo?"
Kimberly langsung menoleh dan mengubah posisi menjadi duduk. "Cuma nulis-nulis," jawabnya.
"Lo laper kagak? Kalau laper, gue beliin nasi Padang di depan."
[Masih ada sisa uang di dompet.]
Kimberly mengangguk ragu. "Beli dua, boleh? Tante sebentar lagi pulang kerja."
Arya hanya mengiyakan. Toh, 'tante' yang perempuan itu maksud adalah bundanya.
Jadi Arya langsung keluar rumah dan berjalan menuju warung Padang— yang letaknya di jalan— depan gapura lebih jauh. Hanya berjalan kaki, karena motor digunakan bundanya bekerja. Lagipula, jarak antara rumah dan gapura itu sangat dekat.
Dalam waktu 10 menit Arya sudah sampai di warungnya. Memesan dan menunggu, kemudian kembali berjalan pulang dengan membawa sebuah kantong plastik.
Arya masuk ke dalam rumahnya. Menuju ke meja makan dan menaruh kantong plastik tersebut. "Nih, udah. Gue beli tiga sekalian."
Kimberly yang tadi menonton televisi— langsung mematikannya dan berjalan ke meja makan. Dia duduk di kursi, kemudian mengucapkan terima kasih.
"Kamu tadi belinya jalan kaki?" tanyanya saat Arya sudah duduk di jursi— berhadapan.
Laki-laki itu mengangguk. "Masa pake mobil."
Kimberly mengambil satu bungkus dari Padang dari kantong plastik dan menaruhnya di atas piring. Begitu dibuka, harumnya sungguh menguar. Komplit, dan membuat perempuan itu tersenyum senang.
Dia lantas mengambil sendok dan mulai memakannya. Setelah lima sendok lebih, dia berbicara, "Enak! Ini enak sekaliii." Sepertinya hanya berbicara pada dirinya sendiri. Dia suka dengan makanannya.
"Nasi Padang kalau beli emang enak, daripada buat sendiri." Arya menjawab. Dia belum ada niatan makan. Hanya mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan menggulir-gukur layarnya.
Kimberly menatap ke arah Arya. "Arya."
"Apaan?" Arya mendongak guna menjauhkan tatapannya dari layar ponsel. Beralih untuk terarah pada perempuan di depannya.
"Tadi rumahnya dikunci dari luar. Jadi, aku gak bisa keluar rumah. Di sini menerus sampai kamu pulang."
Begitu Kimberly menceritakannya, selama ini Arya langsung sadar. Oh, ya. Kunci rumah akan selalu disimpan di bawah keset, atau di tempat lain. Pantas saja. Mungkin sejak tadi Kimberly hanya berada di dalam rumah. Terlebih, Arya pulang jauh lebih terlambat.
"Bunda lupa palingan."
Kimberly mengangguk setuju dan kembali memakan makanannya.
Kegiatan itu berhenti, saat tiba-tiba Arya memanggil dengan suaranya yang serius.
Membuat Kimberly harus menghentikan makannya dan hanya menatap ke arah Arya. Menunggu apa yang akan laki-laki itu bicarakan.
"Kali ini, gue bilang sama lo. Jangan terlalu manja." Arya meletakkan ponsel di atas meja.
"Manja ...?"
Arya menghembuskan napas. "Lo tahu gak, di sini lo cuma ngerepotinm Kalau lo mau nginep, ya, nginep aja. Tapi gak usah sampe mau sekamar sama gue, atau maksa gue buat ajak lo jalan-jalan dan sebagainya."
Laki-laki itu menatap Kimberly sekilas lalu melanjutkan, "dan, gue sama sekali gak suka sama elo. Gue nganggap lo sebagai anak majikan bunda gue, gak lebih."
Kimberly mengatupkan rapat-rapat bibirnya. Bahkan sejak Arya mengatakan hal itu, dia sudah mencerna semuanya baik-baik. Berusaha mengerti dan mengerti.
"Gak lebih?" cicitnya kecil.
Arya mengangguk. "Umur kita beda dua tahun, gue lebih nganggep lo adek daripada yang lain. Bersikap sewajarnya aja. Guee bener-bener gak suka."
Kimberly mengulum senyum dan mengangguk. Dia hanya kesepian, itu saja. Dan melihat orang seganteng Arya, rasanya begitu menyenangkan.
Hanya saja, dipikir-pikir bahwa yang laki-laki itu katakan memang benar.
Kimberly kembali makan, dengan berusaha memikirkan beberapa hal.
"Dah, gak usah canggung-cajggung gitu. Entar gue yang dimarahin sama bunda." Arya berujar ketus.
Sekarang Kimberly sudah menghabiskan nasi padangnya. "Tapi, masih boleh ke sini?"
"Asal jangan ganggu."
Kimberly mengangguk sekali lagi.
"Ingat sama yang gue omongin. Pikirin baik-baik kalau bisa."
"Iya."
"Gue udah punya target cewek soalnya."
Kimberly yang sedang meneguk air putih hampir tersedak. Dirinya langsung meletakkan gelas dan menatap ke arah Arya. "Sungguh?"
Arya mengangguk begitu yakin. "Ya bohong, lah."
"Oh." Dalam hati, tak bisa dimungkiri bahkan Kimberly merasa begitu kesal. Sikap Arya tadi sangat menjengkelkan menurutnya.
"Entar kalau gue bilangan, yang ada lo malah musuhan sama dia dan apa-apain dia, lagi," lanjut Arya. Laki-laki itu masih duduk dengan kedua tangan yang bersedekap.
"Tidak ...." Kimberly menjawab serius. "Kalau belum ingin bilang, tak apa juga. Aku gak akan aoa-apain, kok."
Arya hanya mengangguk-angguk tak peduli. Dirinya mengambil nasi Padang satu dan menaruh di atas piring. "Dah lah. Gue juga mau makan."
Namun, suara ketukan pintu menghentikannya.
Itu adalah bundanya, Arya sangat hapal.
"Aku aja." Kimberly langsung menghalangi dan berjalan menuju ruang tamu.
Arya mengalah, ada baiknya juga. Dia tidak perlu repot-repot membukakan pintu, karena ada perempuan itu yang mau melakukannya.
"Wah, apanih?" Dinda sudah berada di ruang makan. Melihat putranya yang sedang melahap makanan.
"Nasi ... Padang, Tante. Tadi Arya yang beli sambil jalan kaki." Kimberly menjawab ragu.
"Oh, ya, Tante."
Dinda menoleh untuk menatap Kimberly. Wanita itu tersenyum. "Apa?"
"Nanti malam Kimberly mau langsung pulang, deh. Tadi sudah telepon sama mama."
Begitulah percakapan terakhir dari Kimberly. Karena setelah Arya menyelesaikan makanannya, laki-laki itu memilih langsung masuk ke dalam kamar. Hari sudah hampir menjelang malam. Hampir jam enam.
Dan di kamarnya, Arya berpikir jam berapa perempuan itu akan pulang.
Nanti malam. Nanti malam itu kapan? Jam berapa?
Arya duduk di kursinya yang menghadap meja belajar. "Kayaknya gue terlalu keras sama dia. Tapi, seneng sih tuh anak gak di sini lagi."
Arya keluar dari dalam kamarnya. Sebenarnya hendak mencari Kimberly, tetapi di dapur hanya menemukan bundanya yang sedang memasak. Wanita itu ingin masak banyak untuk dibawa oleh Kimberly pulang.
"Jam berapa lo pulangnya?" Arya langsung menodongkan pertanyaan setelah dia mendapati Kimberly yang ada di kamar Dinda.
Perempuan itu menjawab, "Jam tujuh malam."
"Oh."
"Betewe, kalau gue ada salah, maapin, yak."
Kimberly mengangguk. "Aku juga."
"Belajar yang rajin, gak usah kebanyakan main. Gue dulu di kelas selalu peringkat belasan, atau bahkan dua puluhan. Padahal jumlahnya 33 sekelas. Tapi, setelah gue belajar yang rajin, ranking gue jadi meningkat."
"Tapi di sekolah aku juara satu."