Arya menekuk kedua lututnya. Laki-laki itu sedang duduk di kursi yang menghadap meja belajar seraya merenung. Ada banyak hal yang selalu terlintas di kepalanya dan berputar-outar tak tentu arah.
Tiga detik berlalu, Arya menaruh telapak tangannya di meja belajar. Menyimpulkan suara cukup keras, seperti gebrakan. Dia bingung, sungguh.
Sebentar lagi bundanya berulang tahun. Arya tidak tahu akan melakukan apa dan memberi hadiah apa.
Sekali lagi, dirinya meraih dompet hitam dari rak tanpa begerak menjauhi kursi sedikitpun.
Hanya ada tiga lembar uang berwarna abu-abu dan dua lembar berwarna hijau. Hanya segini. Dulunya cukup banyak, hampir mencapai seratus ribu. Tapi, Arya ingat bahwa tak lama kemarin— dia membelikan nasi Padang tiga dengan uangnya.
"Mau buat pesta kecilan di rumah, tapi gue gak bisa masak. Masa iya gue nyuruh bunda masak, padahal ulang tahunnya bunda sendiri." Arya melengos. Menyandarkan tubuhnya di punggung kursi dan menadah ke atas. Di mana atap kamarnya yang serba putih tampak.
Arya sangat ingin membuat bundanya bahagia. Laki-laki itu memang tidak suka hari ulang tahun. Menurutnya, umur jadi semakin bertambah. Itu artinya semakin tua, dan dekat dengan yang namanya, yah, Arya cukup takut untuk melanjutkannya.
"Beli kue gak cukup." Arya berkeluh kesah. Namun, dengan uangnya dia bisa saja membelikan kue yang mini. Dan itu menjadi solusi terbaik setelahnya. Dia mendapat jawaban.
***
"Arya!"
"Apaan?"
"Kencan, yok!"
Arya hampir melotot dibuatnya.
Vidya. Perempuan itu tidak pernah sekalipun mengirim chat ataupun menelepon seperti halnya Kimberly. Dia berbeda. Vidya lebih bebas, dan tidak ada kata jaim. Bukan orang yang lebay, manja, atau berlebihan. Dia sangat sederhana dengan sikapnya.
Namun, datang ke rumah Arya sore-sore menjelang malam hanya untuk mengatakan kalimat tadi— sungguh membuat laki-laki itu merasa terkejut. Terlebih dirinya yang baru bangun tidur. Terusik oleh ketukan pintu yang terus-menerus merembes indera pendengarannya.
"Gue aja belom cuci muka." Arya memaksakan untuk mengeluarkan suaranya dan berbicara dengan kalimat panjang. Dia baru saja bangun tidur sungguhan.
Celana pendek dan kaos hitam yang terlipat-lipat, letek. Kemudian rambutnya yang berantakan serta kedua matanya yang belum terbiasa untuk terbuka.
"Gak apa-apa. Lo malah keliatan ganteng habis bangun tidur," pungkas Vidya singkat. Nadanya meninggi ketika mengatakan kalimat berikutnya, "ya kali! Lo kan bisa mandi atau siap-siap dulu, gitu!"
"Ngeselin banget jadi manusia." Vidya melipat kedua tangannya. Rambut yang lurus sebawah bahu itu ikut bergerak sedikit. Sepoaian angin tengah mengganggu.
Arya menggeleng. "Males gue." Rambutnya telah dia acak-acak menjadi lebih berantakan.
"Dah, lah. Gue ajak malah gak mau. Padahal cuma mau jalan-jalan." Vidya memutar kedua bola matanya. Detik itu juga, dia ingin langsung menghampiri motornya dan pulang.
Hanya saja, suara motor lain yang masuk ke dalam halaman rumah Arya mencuri atensi. Keduanya yang sama-sama berdiri di teras langsung menoleh. Mendapati Dinda yang telah memarkirkan motornya.
Wanita itu melepas helm. Mengenakan celana panjang dan baju biasa yang tertutup oleh jaket. Oh, ya. Beberapa waktu lalu memang Ayun telah mengembalikannya. Dengan wajah perempuan itu yang memerah dan langsung gugup seribu bahasa. Arya bahkan sangat antusias dan berniat menjadikan momen itu sebagai boomerang.
Dinda naik ke teras. Cukup bingung dengan kedatangan seorang perempuan sebaya putranya yang datang. Terlebih putranya sendiri yang keluar rumah dengan wajah yang masih khas bangun tidur. Lihat saja rambut anak itu yang berantakan. Dinda sangat gemas ingin merapikannya.
"Rambutmu berantakan banget, Yak. Sisir dulu, dong. Wajahnya juga belom dicuci itu, bajunya letek banget. Gak malu apa ketemu cewek begituan gayanya?"
Arya teros, Arya teros. Selalu saja Arya yang disalahin.
"Vidya yang manggil-manggil terus bangunin Arya, kok, Bund. Jadinya Arya ya langsung keluar daripada si Vidya nunggu lama. Kok yang disalahin cuma Arya?" Laki-laki itu bersikukuh. Sekali-kali mencoba untuk mengingatkan pada bundanya, bahwa Arya ini putra satu-satunya dari wanita itu.
"Marah?" Dinda menatap putranya.
Arya menggeleng. "Enggak." Dia menjawab meski nadanya cukup kesal.
Wanita yang sangat cantik di pertengahan 30-an lebih usianya itu tersenyum ke arah Vidya. "Temannya Arya, Nak?"
Vidya mengangguk. "Iya, Tante." Tapi kemudian melanjutkan, "kayaknya juga enggak. Karena Arya-nya gak mau temenan sama Vidya."
Arya tak terima. "Wah, ni anak punya masalah apa sama gue."
"Arya. Gak boleh gitu. Temenan. Mau cewek atau cowok, ya, temenan, Yak. Jangan diulangi." Dinda memperingatkan.
Arya mendengkus dan mengangguk sekali. "Vidya ngomongnya cuma dilebih-lebihin, Bund. Gak percaya banget sama anaknya."
"Tuh anak ngajakin Arya buat jalan. Ya gak mau lah, lagi males Arya."
Dinda menutupi kecanggungan dengan tersenyum. Dalam hatinya, dia sungguh tak menyangka bahwa Arya akan begitu jujur. Langsung di hadapan orangnya.
"Haha. Ya udah, kan bisa besok."
Kali ini suasana menjadi semakin canggung. Terlebih dengan Vidya sendiri yang tak tahu harus melakukan apa. Kecuali Arya, yang bersikap santai seolah tidak terjadi apapun..
"Kalau begitu, Vidya pulang dulu, Tante. Makasih banyak." Vidya beranjak, begitu Dinda menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati, ya, Nak. Maaf, ya." Sekalian pula wanita itu meminta maaf atas kecerobohan Arya yang terlalu terus terang.
Keduanya hanya melihat bagaimana Vidya yang menaiki motornya, dan langsung pergi dari pelataran. Perempuan itu terlihat sudah sangat terbiasa dan sering menaiki motor. Arya tidak akan heran lagi. Vidya sudah seperti Billa.
"Ngapain kamu?" Dinda fokus pada putranya kembali. "Sana, masuk. Cuci mukanya."
"Tuh, kan. Selalu aja. Arya teroos!" Meski begitu, laki-laki itu tetap berjalan masuk ke rumah dan menuju kamar mandi. Dia keluar dari bilik beberapa menit setelahnya, dengan pemandangan yang jauh lebih segar.
Arya berbaring di sofa panjang, ruang keluarga. Sangat nyaman dan hangat di sini. Dengan banyak bantal empuk yang dirinya jadikan bantal maupun guling. Menatap acara televisi yang disajikan di depan layar.
Cukup lama, Dinda baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu menuju ke dalam kamar tidurnya sendiri, dan beberapa menit setelahnya datang ke ruang tamu. Duduk pada sofa single yang berada di dekat Arya.
"Mau makan apa hari ini, Yak?" Dinda bertanya.
Masih nyaman dengan posisinya berbaring menyamping ya di sofa, laki-laki itu hanya berdehem. Sampai-sampai Dinda harus mengulangi pertanyaannya untuk yang kedua kali. Barulah Arya menjawab, "terserah."
"Kok terserah?"
"Ya bingung, lah, Bund. Nanti kalau Arya minta udang, malah gak akan jadi. Karena udang mahal. Jadinya terserah Bunda aja mau masak apa, asalkan enak," jelas Arya secara jujur.
"Kalau makan udangnya besok pagi aja, gimana? Udah mau malem, Bunda males keluar soalnya." Dinda menawar.
Sekali lagi, menawar. Arya terkejut dibuatnya. Dia langsung mengubah posisi menjadi terduduk di sofa. Menatap ke arah bundanya bingung. Arya tidak salah dengar, bukan?
"Kok Bunda kayaknya aneh? Biasanya Bunda gak begini, tuh."
Dinda hanya tersenyum kecil seraya mengabaikan. Sampai putranya kembali melanjutkan, "Bunda kan belum gajian Minggu ini. Uang dari mana, Bunda?"
Sekarang tangan Dinda mendarat di kening Arya. Menyentilnya pelan. "Bunda belum gajian, bukan berarti bunda gak punya uang sama sekali, ya."
Wanita itu bangkit dari duduknya. "Buat mie instant aja, gimana? Udah lama gak buat, kan?" Nadanya sangat seru mengajak. Jauh lebih menyenangkan.
Dengan bahagia Arya mengangguk. Laki-laki itu ikut bangun dan berjalan menyusul bundanya ke dapur. "Mienya tiga, ya, Bund?"
"Eh?" Dinda merespon dengan nada tak bersahabat.
Bukannya takut, Arya malah kembali menambahkan, "Mie-nya tiga cuma buat Arya aja. Bunda buat sendiri. Pake telor juga, ya. Dua. Mie goreng."
"Kok—"
"Arya udah lama gak makan mie instant, loh, Bunddd."
Pada akhirnya Dinda mengalah. "Iya, iya. Tapi pake sawi sama loncang."
Awalnya Arya tahu, tetapi kemudian laki-laki itu mengangguk.
"Tambah bayam, ya."
Sekali lagi Arya mengangguk meski setengah tidak suka.
Beginilah. Ibu dan anak itu memiliki banyak perbedaan. Salah satunya, makanan favorite. Dinda lebih suka mie kuah dengan beragam sayur. Sedangkan putranya hanya menyukai mie goreng, itupun jarang mau bila Dinda suruh untuk menambahkan hujau-hijauan.