Barry tak bisa tidur semalaman. Dia hanya duduk di sofa sambil merenung soal banyak hal. Giana di kamarnya juga terjaga sampai pagi datang. Dia ingin sekali Barry berubah pikiran dan akhirnya kembali padanya. Tapi, tak ada cara apapun untuk mewujudkan itu. Barry pamit pada Mama Giana saat dilihatnya wanita itu keluar dari kamar. "Barry pamit, Ma." "Lho, nanti dulu! Seenggaknya sarapan dulu!" "Nanti aja di rumah, Ma. Barry pulang ya!" "Tapi, Bar!" "Kenapa?" "Enggak bilang Giana dulu?" 'Kalau bilang Giana bisa-bisa gue suruh nginep lagi!' batin Barry. "Jangan deh, kasian masih tidur." "Iya deh. Makasih ya!" Barry mengangguk dan pergi. Pikirnya sampai rumah, dia akan bisa tidur. Hari ini membolos saja dari kegiatan kampus karena semalam tak tidur. Kepalanya berdenyut-denyut. Tubuh

