Chapter 13. Penyesalan Si Gadis Nakal

1187 Kata
"Ah ... Pak ... tunggu ...," desah Geraldine, suaranya kini benar-benar penuh ketakutan. Narendra benar-benar tampak seperti pria yang kehilangan akal sehat. Dia sangat liar, seolah semua tekanan penyamaran dan kejengkelannya pada Geraldine tumpah dalam aksi tersebut. Sementara Geraldine merasakan sensasi yang luar biasa, campur aduk dari rasa nikmat yang asing, rasa takut, keinginan untuk menangis, dan amarah yang memuncak. Saat bibir Narendra mulai turun menciumi perut rata Geraldine dan tangan pria itu mulai menjangkau celana training, pertahanan mental gadis itu runtuh seketika. Bayangan tentang kesucian yang selama ini Geraldine jaga dengan susah payah, meski dia bersikap nakal di luar, kini terancam hilang. "Tolong jangan, Pak! Stop! Pak, berhenti!" teriak Geraldine histeris. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi. "Ampun, jangan! Tolong jangan lakukan itu! Yang itu buat suamiku nanti! Hentikan, please ... saya mohon." Isakan tangis Geraldine pecah. Bahunya terguncang hebat. Kini dia memilih menyerah. Seketika itu juga, Narendra menghentikan semua gerakannya. Dia duduk tegap di samping Geraldine dengan napas yang masih sedikit terengah, tapi sorot mata pria itu kembali dingin dan tajam seperti semula. Tidak ada lagi gairah liar di sana. Kemudian Narendra mengambil bed cover dari ujung ranjang, dan menutupkan badan Geraldine yang setengah terbuka dengan gerakan yang tegas. Lalu, dia menatap Geraldine yang masih sesenggukan dengan tatapan yang sangat datar. "Kalau saya ini bawahan Papamu, saya nggak akan berani melakukan hal seperti ini padamu, Geraldine. Bahkan hanya untuk sekadar menggertakmu," ucap Narendra dengan suara yang sangat tenang. "Jadi mulai hari ini dan seterusnya, tolong berhentilah mengira saya ini intel. Berhentilah mencampuri urusan pribadi saya dengan asumsi konyolmu. Saya ini dosenmu, dan saya bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini kalau kamu terus-menerus menguji kesabaran saya." Narendra meraih kunci kecil dari laci nakas, lalu membuka kunci borgol yang mengikat kedua pergelangan tangan Geraldine. Kini, pergelangan tangan gadis itu tampak sedikit memerah akibat gesekan logam. Geraldine segera menarik tangannya, menutupi d**a di balik selimut sambil terus menangis terisak. Dia merasa sangat bodoh, malu, dan hancur sekaligus. Semua keberaniannya tadi hilang menguap entah ke mana. Narendra berdiri dari ranjang, merapikan kausnya yang sedikit berantakan. "Mandilah di kamar mandi yang ada di kamar ini!" perintah Narendra tanpa menoleh. "Pakai salah satu kaus saya yang ada di lemari, lalu keluar. Saya tunggu kamu di luar, dan saya akan mengantarmu pulang ke rumah Sisil setelah kamu selesai mandi." Narendra mengambil ponsel yang masih merekam dari atas nakas, mematikan fiturnya, lalu melangkah keluar dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, meninggalkan Geraldine yang masih meringkuk ketakutan di atas ranjang. Kini Geraldine sadar, pria yang tadi dia hadapi bukanlah sekadar dosen, dan mungkin juga bukan intel seperti yang dia bayangkan. Pria itu adalah sosok yang sangat berbahaya jika dia kehilangan kendali. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Geraldine merasa kalah telak. Begitu daun pintu kamar utama tertutup rapat dengan dentuman halus, kekuatan di kaki Narendra seolah lenyap seketika. Pria itu bersandar pada permukaan pintu yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas dadanya yang bergemuruh hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang, memompa adrenalin yang masih tersisa ke seluruh pembuluh darahnya. "Gila! Apa yang aku lakukan tadi?" bisiknya dengan suara serak. Narendra merosot perlahan hingga terduduk di lantai, menjambak rambutnya sendiri dengan rasa penyesalan dan frustrasi yang luar biasa. Bayangan tubuh Geraldine yang gemetar di bawah kukungannya, isak tangis gadis itu, dan aroma manis tubuhnya yang tadi menyerang indra penciuman Narendra benar-benar mengacaukan kewarasannya. Selama bertahun-tahun dididik sebagai agen lapangan yang disiplin, Narendra selalu bangga akan pengendalian diri. Namun hari ini, di depan seorang gadis nakal berusia dua puluh tahun, benteng itu nyaris rata dengan tanah. "Aku benar-benar hampir kehilangan kendali. Aku hampir memperkosa anak komandanku," gumamnya dengan rasa sesak yang menghimpit paru-paru. Namun, di tengah rasa bersalah yang menghujam, sisi gelap dalam kepala Narendra mencoba memberikan pembenaran. "Nggak ... yang tadi aku lakukan itu adalah perbuatan yang benar. Secara insting, itu langkah yang paling efektif. Dengan cara ini, Geraldine pasti tidak akan pernah berani datang ke rumah ini lagi. Dia akan takut padaku, dia akan menjauh, dan penyamaranku akan kembali aman. Itu tujuannya, kan?" Kemudian Narendra bangkit dengan sisa tenaga, melangkah menuju sofa ruang tamu. Dia mencoba menyibukkan diri dengan menatap layar ponsel, berpura-pura membaca laporan, padahal tak satu pun kata yang masuk ke otaknya. Hampir empat puluh menit berlalu dalam keheningan yang mencekam sebelum akhirnya suara kunci pintu kamar terbuka. Narendra refleks menoleh, dan untuk sesaat, napasnya seolah terhenti di tenggorokan. Geraldine berdiri di ambang pintu dengan rambut panjang yang masih basah. Mata gadis itu tampak sembap dan berkaca-kaca, kontras dengan hidung dan pipinya yang memerah akibat menangis. Geraldine mengenakan kaos milik Narendra yang terlalu besar di tubuh mungilnya, membuat kerah kaos itu melorot dan memperlihatkan leher jenjang dan bahu kanannya yang putih mulus, tapi ada beberapa noda warna merah yang merupakan karya Narendra. Meski Geraldine masih mengenakan celana training-nya, pemandangan itu tetap memberikan pukulan telak pada pertahanan Narendra. "Sial! Aku benar-benar ingin menerkam Geraldine bulat-bulat sekarang juga," batin Narendra menjerit. "Aku ingin melanjutkan cumbuanku yang tadi padanya." Narendra merasa seperti binatang buas yang sedang menahan lapar. Namun, dengan sekuat tenaga dia membuang muka, mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih demi menyadarkan dirinya sendiri. "Stop! Kendalikan nafsumu, Narendra!" batinnya lagi. "Ingat, kamu adalah pria yang bermartabat!" "Ayo, aku antar kamu ke rumah Sisil," ucap Narendra dingin, tanpa berani menatap mata Geraldine sedikit pun. Suaranya terdengar datar, tapi ada nada tegas yang tak terbantahkan. Geraldine hanya bisa mengangguk patuh. Tidak ada lagi celoteh nakal, tidak ada lagi godaan tentang "Suami", dan tidak ada lagi kecurigaan tentang intelijen. Gadis itu tampak seperti jiwa yang baru saja ditarik paksa dari tubuhnya — ketakutan dan trauma. Mereka keluar rumah tanpa sepatah kata pun. Dan begitu sampai di mobil, Geraldine membuka pintu belakang, merosot masuk, dan meringkuk di sudut kursi penumpang sambil memeluk lututnya sendiri. Dia tampak begitu kecil dan rapuh di kaca spion tengah yang dipandangi Narendra. Mobil meluncur membelah jalanan perumahan. Keheningan di dalam kabin terasa begitu padat, seolah udara pun segan untuk bergerak. Narendra fokus menatap jalanan di depan, tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Dia bisa mendengar isakan kecil yang tertahan dari kursi belakang, sebuah suara yang lebih menyakitkan daripada tembakan peluru bagi hati nuraninya yang mulai meronta. Mobil meluncur di bawah terik matahari, membelah jalanan yang ramai. Namun, bagi Geraldine, cahaya matahari yang terang benderang itu tidak sedikit pun mengurangi kegelapan yang menyelimuti hati. Dia tetap meringkuk di kursi, bersembunyi di balik kaca film mobil yang gelap, merasa seolah seluruh dunia bisa melihat noda merah di lehernya dan kehancuran di wajahnya. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Narendra memutar kemudi dengan gerakan tegas. Dia membawa mobil itu menepi di pinggir jalan. Dan mobil pun berhenti dengan sentakan pelan. Lalu, pria itu mematikan mesin, membuat suara bising jalanan berubah menjadi keheningan kabin yang menyesakkan. Hal itu membuat Geraldine tersentak, rasa trauma tadi kembali menghantamnya seperti ombak besar. Dia mengangkat wajahnya yang pucat, menatap punggung tegap Narendra dengan tatapan penuh kengerian. Di kepalanya, bayangan tentang apa yang terjadi di kamar tadi berputar ulang. Refleks, Geraldine semakin merapatkan tubuh ke sudut kursi, air matanya kembali luruh. Dengan suara parau yang penuh ketakutan, dia bertanya, "Pak ... kamu mau ngapain saya lagi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN