Narendra melepaskan sabuk pengaman dengan sentakan kasar, lalu menoleh ke belakang. Sorot mata pria itu sulit dibaca, tapi auranya masih terasa mendominasi, membuat Geraldine refleks menahan napas.
"Saya nggak akan ngapa-ngapain kamu lagi. Tapi kamu diam saja dulu di sini! Mobil akan saya kunci, jadi kamu nggak akan bisa kabur ke mana-mana," ucap Narendra dengan suara tegas.
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Geraldine yang masih gemetar, Narendra membuka pintu dan keluar dari mobil. Suara kunci otomatis terdengar mengunci seluruh pintu, dan dari balik kaca jendela di sampingnya yang gelap, Geraldine bisa memperhatikan Narendra yang menyeberang jalan di bawah terik matahari siang yang menyengat. Pria itu melangkah tegap menuju sebuah minimarket besar di seberang sana.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan bagi Geraldine. Jantung gadis itu masih berdegup kencang. Dia merasa seperti tawanan yang ingin kabur, tapi dia juga ingin menunggu kedatangan Narendra karena dia merasa penasaran dengan apa yang sedang dilakukan pria itu di minimarket.
Tak lama kemudian, Narendra kembali dengan sebuah kantong plastik putih di tangannya. Dia masuk ke dalam mobil, hawa panas siang hari sempat ikut masuk sebelum pria itu menutup pintu kembali. Tanpa banyak bicara, dia menyodorkan plastik itu ke arah kursi belakang.
"Pakai semua ini buat hilangin tanda merah yang saya buat di leher, pundak, dan dadamu!" perintahnya tanpa emosi.
Geraldine menerima plastik itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Saat dia membuka plastik yang diberikan Narendra, matanya refleks membulat. Di dalamnya terdapat berbagai macam produk kosmetik, ada banyak foundation dan concealer dari berbagai merk dan shades yang berbeda-beda, serta ada satu bedak padat full size yang dilengkapi dengan kaca kecil dan bedak tabur dengan shades transclusen.
"Kok banyak banget sih, Pak?" tanya Geraldine spontan, kebingungan melihat "amunisi" kecantikan yang ada di pangkuannya.
"Saya kan nggak tahu shade atau merk apa yang cocok buat kulitmu. Sekarang cepat pakai! Kamu bisa berkaca pakai kaca yang ada di bedak itu. Atau kalau kamu nggak keliatan dengan kaca itu, kamu bisa pindah ke depan dan berkaca pakai rear view mirror," ucap Narendra menatap Geraldine dari kaca spion tengah.
"Nggak perlu pindah, aku duduk di sini saja, berkaca pakai kaca bedak cukup kok," sahut Geraldine cepat, dia tidak ingin berada terlalu dekat dengan Narendra lagi untuk saat ini.
"Oke, saya jalankan mobilnya pelan-pelan supaya kamu bisa fokus." Narendra menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat rendah di bahu jalan.
Geraldine mulai beraksi. Dengan telaten, dia mencocokkan warna concealer dan foundation ke punggung tangan sebelum mengoleskannya ke titik-titik merah di leher dan pundaknya. Gadis itu bekerja dengan cepat, menimpa bekas-bekas "karya" Narendra dengan consiler, lalu meratakan seluruhnya dengan foundation dan ditutup dengan bedak tabur transclusen hingga noda-noda merah itu tersamarkan dengan sempurna.
Sambil memasukkan kembali alat makeup itu ke dalam kantong plastik, Geraldine memberanikan diri untuk bertanya, "Bapak sering bikin kiss mark ke pacar Bapak, ya? Makanya Bapak tahu persis cara menutupinya pakai kombinasi concealer, foundation dan bedak tabur begini."
Narendra terkekeh pelan, tawa yang terdengar dingin tapi ada sedikit nada sinis di sana. "Ya ... bisa dibilang begitu. Sebagai pecinta b**m, tanda merah di tubuhmu itu belum seberapa. Tadi kita kan baru 'bermain' sekitar lima persennya saja. Pacar-pacarku yang dulu biasanya mendapatkan tanda yang jauh lebih banyak di tubuh mereka dan lebih gelap dari itu."
Geraldine tertegun, dia mengangguk pelan dengan senyum kecut yang dipaksakan, dan di dalam hatinya, dia memaki dirinya sendiri. "Sialan! Hampir saja aku dimakan hidup-hidup sama pria hyper yang pengalamannya sudah selevel dewa begitu! Kamu benar-benar nekat dan bodoh!"
"Pacarmu pasti juga sering, kan, bikin tanda merah begitu di tubuhmu?" tanya Narendra tiba-tiba, karena merasa penasaran.
Geraldine menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan berat. "Nggak, ya! Asal Bapak tahu, yang tadi itu ... adalah ciuman pertamaku! Dan Bapak adalah pria yang pertama kali lihat dadaku dan kususui. Puas?!"
Suasana di dalam mobil mendadak membeku.
Narendra terdiam sejenak, genggamannya pada kemudi mengencang karena terkejut yang berusaha dia sembunyikan. Namun, egonya sebagai pria yang sedang "memberi pelajaran" membuatnya tetap bersikap acuh.
"Owh ... pantas gerakan lidahmu tadi kaku banget. Rasanya nggak enak banget ciuman sama kamu. Dan ... kamu kurang agresif saat aku menyusu di dadamu tadi," gumam Narendra pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri.
"Apa?! Bapak bilang apa tadi?" pekik Geraldine tak terima, harga dirinya merasa tersentil.
"Nggak kok. Bukan apa-apa. Lupakan saja!" balasnya lalu menginjak gas lebih dalam.
Mobil melaju semakin cepat, membelah kepadatan lalu lintas siang itu dengan gesit. Semenjak Geraldine kembali terdiam, dia memilih membuang muka dan menatap keluar jendela, mengamati bangunan-bangunan yang lewat dengan perasaan campur aduk.
Tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumah Sisil.
"Sudah sampai. Turunlah!" perintah Narendra tanpa menoleh, suaranya kembali ke mode dosen yang dingin dan berjarak.
Geraldine merapikan pakaian, memastikan tidak ada lagi jejak trauma yang terlihat secara fisik. Sebelum membuka pintu, dia menatap punggung Narendra sekali lagi — pria yang baru saja memberinya pelajaran paling menakutkan sekaligus paling membingungkan dalam hidupnya.
Tanpa kata pamit, Geraldine keluar dan menutup pintu mobil dengan dentuman yang cukup keras, sementara mobil Narendra langsung melesat pergi meninggalkan kepulan debu tipis.
***
Malam itu, di kediaman megah milik Brigjen Pol Baskoro, sebuah mobil sedan berwarna hitam masuk ke halaman yang luas. Setelah mobil berhenti, Narendra keluar dari balik kemudi. Sebelum melangkah, dia sempat menarik napas dalam-dalam, merapikan kemeja hitam slim-fit yang membungkus tubuh atletisnya. Dia mencoba membuang jauh-jauh sisa kegelisahan yang menghantuinya sejak siang tadi.
Di depan pintu kayu besar yang kokoh, Narenda disambut oleh dua orang kakak-beradik. Mereka adalah Kalingga dan Denisa, anak Brigjen Pol Baskoro.
Denisa, yang selalu tampil modis dengan dress pendek dan polesan makeup minimalis yang sempurna, mengulas senyum lebar. Mata gadis itu pun tampak berbinar, seolah baru saja melihat objek paling menarik di dunia.
"Malam, Kak Narendra. Akhirnya mau mampir juga ke sini," sapa Denisa dengan nada manja yang kentara, sengaja mengikis jarak berdiri agar aroma parfumnya bisa tercium oleh Narendra.
"Malam, Denisa. Malam, Kalingga." Suara Narendra terdengar datar, tapi tetap sopan, dibarengi anggukan formal yang menjadi ciri khasnya.
Mereka bertiga berbincang ringan di ruang tamu yang luas. Dinding ruangan itu dipenuhi foto-foto keluarga berseragam dan deretan tanda jasa dalam bingkai beludru.
Denisa terus berusaha mendominasi percakapan, mencoba menarik perhatian Narendra dengan topik-topik remeh, tapi sorot mata Narendra tetap terasa berjarak.
Kalingga, yang sejak tadi mengamati gelagat adik dan sahabatnya itu, akhirnya berdeham pelan. Dia menyadari kalau Narendra tidak nyaman dengan keberadaan Denisa, selain itu memang ada hal yang mendesak untuk dibicarakan dengan sahabat sekaligus rekan kerjanya di kepolisian itu.
"Dek, kamu pergi dulu sana! Kakak mau ngomong penting soal pekerjaan sama Narendra," perintah Kalingga dengan nada tegas.
Denisa mengerucutkan bibir, tampak sangat tidak senang karena momen PDKT-nya dengan Narendra terganggu. "Ih, Kakak ... padahal kan sekarang nggak lagi kerja, ngapain ngomongin masalah kerjaan, sih!" Meski begitu, gadis itu tetap berdiri. "Oke, aku akan pergi. Tapi nanti setelah obrolan urusan pekerjaan kalian selesai, panggil aku ke sini lagi ya, Kak!"
Kalingga hanya mengangguk.
Dan setelah Denisa menghilang di balik pintu, suasana seketika berubah lebih maskulin dan serius. Kalingga menyandarkan punggung ke sofa kulit yang empuk, dia meraih teko keramik dan menuangkan kopi hitam ke cangkir Narendra.
"Sekarang kamu mengajar di kelas anaknya Kombes Handoko, ya?" tanya Kalingga sambil meletakan kembali teko keramik.
Narendra yang baru saja hendak mengambil cangkirnya mendadak tertegun. Gerakan tangannya membeku di udara. Gara-gara mendengar nama Geraldine, seketika, memori siang tadi berputar seperti rol film yang rusak di benak pria itu. Rasa manis bibir, aroma tubuh yang memabukkan, suara desahan yang merdu tapi kemudian berakhir jadi suara tangis yang pilu.
Narendra menarik tangannya lagi ke pangkuannya. "Iya, benar. Kenapa memangnya?"
Kalingga menatap wajah Narendra dengan binar yang sulit diartikan. "Menurutmu dia bagaimana?"