Narendra mengernyitkan dahi, pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Bagaimana yang gimana? Dia itu hanya mahasiswi biasa yang sedikit terlalu berisik, manja, dan keras kepala. Tipe-tipe anak pejabat yang kurang disiplin."
"Ish!" Kalingga mendengus kesal, tidak puas dengan jawaban yang terlalu objektif itu. "Maksudku bukan soal akademisnya, Dra. Aku bertanya soal sosok Geraldine sebagai seorang perempuan. Wajahnya cantik banget, kan?"
Narendra mulai merasa ada sesuatu yang salah. Rasa sesak mulai menghimpit dadanya. "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal dia? Apalagi kamu pakai muji-muji dia segala."
Kalingga terkekeh pelan, tapi ada keseriusan di balik tawa itu. Dia mendekatkan tubuhnya ke meja, menatap Narendra dengan saksama. "Karena orang tuaku dan orang tuanya sudah mulai bicara serius beberapa hari ini. Kamu tahu sendiri, kan, relasi keluarga? Intinya ... aku mau dijodohkan sama Geraldine."
"Apa?!"
Suara Narendra meninggi secara refleks, terdengar seperti bentakan yang bergema di ruang tamu yang sunyi itu. Jantungnya bergemuruh hebat, karena sebuah letupan emosi yang dia sendiri merasa asing — campuran antara rasa keterkejutan yang luar biasa dan rasa tidak rela yang amat sangat.
"Loh, kok kamu kayak yang kaget banget gitu sih, Dra?" Kalingga mengernyitkan dahi, menatap heran pada sahabatnya yang biasanya sedingin es itu kini tampak sangat emosional.
Narendra segera menarik napas panjang, mencoba mengendalikan sirkulasi oksigen di otaknya yang mendadak kacau. "Maaf, aku cuma kaget karena ...." Dia menjeda, menormalkan nada bicaranya agar menjadi datar kembali. "Geraldine kan masih kuliah. Dia masih kecil, masa depan akademisnya masih panjang."
"Udah 20 tahun ya nggak kecil lah. Dia sudah legal untuk menikah," Kalingga terkekeh. "Bundaku saja nikah sama Ayahku pas umur 20 tahun juga. Usia kita juga selisih tujuh tahun, pas kan? Nggak terlalu jauh dan nggak terlalu dekat. Secara psikologi, aku rasa aku bisa membimbingnya."
Rahang Narendra mengeras mendengar kata 'membimbing'. Bayangan kejadian siang tadi kembali menghantamnya. "Bisa membimbing apaan kamu, Ga? Tadi siang aku udah bimbing dia ngelakuin adegan BDSR!" batinnya sinis.
Narendra buru-buru membuang pikiran mesumnya jauh-jauh. "Kamu sudah ketemu langsung sama Geraldine?" tanyanya penasaran.
"Ya rencananya sih besok ini kita mau makan malam bareng gitu, tempatnya sudah dipesenin sama Bundaku. Tapi kalau lihat dia secara langsung, aku kan sudah beberapa kali lihat wajah dia di kantor polisi pas Mas Bambang ajak dia jemput Pak Handoko. Dan kenapa aku langsung dijodohin sama dia karena dia itu tipeku banget, Ndra. Wajahnya super cantik badannya tinggi dan juga ... pas banget lah buat dikelonin."
Mendengar pujian Kalingga, entah kenapa atmosfer di ruangan itu terasa sangat panas bagi Narendra. Lagi-lagi pikiran pria itu melayang pada momen kebersamaannya bersama Geraldine.
"Gimana kalau dia nggak mau dijodohin sama kamu?" cecar Narendra, suaranya terdengar lebih tajam dari yang dia maksudkan.
"Aku bakal bikin dia mau sama aku," jawab Kalingga dengan kepercayaan diri tinggi, khas seorang perwira muda yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. "Lagian selama ini aku nggak pernah ditolak sama cewek. Rasanya mustahil kalau Geraldine nolak aku."
Narendra mendengus, mencoba menyerang dari sudut lain. "Tapi dia itu anak nakal loh, Ga. Menurut pengamatanku di kampus, dia itu ketua geng anak-anak begajulan. Bahkan di dalam gengnya itu ada orang yang dicurigai sebagai bandar narkoba."
Kalingga mengibaskan tangan, tidak peduli. "Itu kan anggota gengnya, bukan dia. Wajar lah kenakalan remaja. Aku percaya dia bisa jaga diri, dia kan ke mana-mana selalu diantar sopir. Dia paham lah kalau Ayahnya seorang Kombes Diresnarkoba, nggak mungkin dia mengkhianati kepercayaan Ayahnya."
Otak jenius Narendra mendadak buntu, dia ingin berteriak bahwa gadis itu sudah berada di bawah kungkungannya. Untung saja, ponsel Kalingga yang tergeletak di meja bergetar nyaring hingga Narenda bisa mengendalikan diri.
Tapi ....
"Lah, kebetulan banget, Ndra. Orang yang baru kita omongin malah muncul." Kalingga menunjukkan layar ponselnya dengan senyum lebar. "Geraldine telepon aku. Pas banget ya, sepertinya kita itu memang ditakdirkan berjodoh. Coba kita dengar dia ngomong apa. Aku loud speaker, ya."
Jantung Narendra serasa berhenti berdetak saat suara yang tak asing itu terdengar dari speaker ponsel sahabatnya.
"Halo, apa ini benar nomornya Mas Kalingga?" Suara Geraldine terdengar sopan.
"Iya, benar. Kamu benar Geraldine, kan?" jawab Kalingga dengan nada suara yang sengaja dibuat seramah mungkin.
"Iya, Mas. Saya Geraldine. Saya disuruh Mama telepon kamu buat ... em, buat ngobrolin soal acara makan malam kita berdua."
"Apa kamu bersedia datang?"
"Iya, saya bersedia. Tapi maaf, Mas. Apa boleh tempat makannya saya yang pilih? Soalnya menurut saya pilihan Mas itu terlalu ... maaf, saya merasa terlalu formal banget kalau kita makan di restoran itu."
"Ah begitu ya? Baiklah, saya ngikut kamu saja. Kamu mau makan malam di mana?"
"Di Cafe Terra, mau nggak, Mas? Menurut saya tempatnya nyaman dan makanannya juga enak."
"Boleh deh. Besok jangan lupa, ya."
"Iya, Mas. Ya sudah saya tutup ya, selamat malam."
"Selamat malam, Geraldine."
Begitu sambungan terputus, Kalingga tersenyum lebar sambil menatap Narendra. "Suaranya Geraldine lembut-lembut gimana gitu. Mana dia manggil aku 'Mas' lagi. Duh, calon istriku."
Dan saat mendengar kalimat Kalingga itu, d**a Narendra terasa sesak hingga pria itu refleks membatin, "Sebelum dia manggil kamu Mas, dia sudah manggil aku Mas duluan! Bahkan dia manggil aku suami!"
"Lembut apaan!" Narendra menyambar dengan ketus. "Udah dibilangin dia itu gadis nakal. Dari zaman sekolah saja dia sudah terbukti banyak melakukan tindakan bully terhadap temannya. Tapi dia lolos terus karena dia itu anaknya Pak Handoko dan malah korbannya yang berakhir pindah sekolah."
"Kenakalan anak-anak dan remaja itu wajar, Ndra. Intinya ya ... aku siap banget nikah sama dia," balas Kalingga mantap. "Kalau bisa nih ya, kita nikah bulan depan aja, deh."
Tangan Narendra mengepal erat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Dia merasa tidak bisa lebih lama lagi berada di ruang tamu rumah Brigjen Baskoro tanpa meledakkan amarahnya.
"Maaf, Ga. Saya harus pergi," ucap Narendra sambil berdiri tegak. "Ada laporan mendadak dari tim lapangan yang harus saya cek malam ini."
"Loh, kok buru-buru banget?" Kalingga ikut berdiri. "Denisa nanti nanyain kamu, loh."
"Tolong sampaikan pamitku pada Denisa," sahut Narendra dingin, lalu dia melangkah lebar menuju pintu keluar dengan perasaan yang campur aduk yang baru dia rasakan saat ini seumur hidupnya.
Narendra melangkah keluar menuju mobil dengan gerakan yang jauh lebih kasar dari biasanya. Dia membanting pintu mobil, mencengkeram kemudi, dan memukulnya sekali dengan kepalan tangan. Dadanya terasa terbakar, bukan hanya karena informasi perjodohan itu, tapi karena fakta bahwa Geraldine — gadis yang baru saja ia "hancurkan" mentalnya siang tadi — ternyata bisa bersuara begitu manis dan sopan kepada pria lain.
"I love you, suamiku." Suara manja Geraldine yang sedang menggodanya terngiang, lalu beradu dengan suara formal saat menelepon Kalingga.
Narendra menyalakan mesin dan memacu mobilnya keluar dari halaman rumah Brigjen Baskoro. Dia butuh udara, dia ingin kembali fokus. Tapi pikiran pria itu justru melayang pada satu titik, yaitu di Cafe Terra.
Narendra jelas tahu tempat itu. Cafe dengan pencahayaan temaram dengan aura romantis yang sering digunakan pasangan muda untuk berkencan.
"Geraldine benar-benar nakal!" geram Narendra.
Kemudian, Narendra meraih ponsel, hendak menghubungi Kombes Handoko untuk menanyakan maksud dari perjodohan ini di tengah misi perlindungan rahasia mereka. Namun, jemarinya berhenti di atas layar. Jika dia bertanya sekarang, dia akan terlihat terlalu peduli. Dia akan terlihat cemburu. Dan seorang intelijen tidak boleh memiliki emosi seperti itu pada subjek pengawasannya.
"Kalau memang niat anaknya itu dijodohin sama Kalingga, seharusnya Pak Handoko minta misi perlindungan kepada Kalingga! Bukan kepadaku!"
Narendra melempar ponsel ke kursi penumpang. Dia memutuskan untuk pulang ke rumah mungilnya yang kini terasa terlalu luas dan sunyi. Begitu sampai, dia membuka laci nakas di samping ranjang. Pria itu menatap dua borgol yang tergeletak di sana, lalu beralih pada botol parfum Geraldine yang tertinggal di atas meja riasnya. Aroma vanila dan musk masih tertinggal samar di udara kamar itu.
Sambil memejamkan mata, Narendra teringat tangis Geraldine. “Tolong jangan, Pak! Stop! Yang itu untuk suamiku.”
"Apakah Geraldine setuju dijodohkan sama Kalingga?" gumam Narendra pada kegelapan kamar. "Tapi kenapa dia tadi pagi datang dan mengaku di hadapan semua warga perumahan ini kalau dia itu istriku?"