Chapter 16. Kawarasan Yang Hilang

1133 Kata
"Selamat pagi," sapa Narendra saat melangkah memasuki ruang kelas. Suaranya terdengar bariton dan stabil, meski sebenarnya ada suatu rasa yang sedang berkecamuk di balik kemeja abu-abu yang dipakainya dengan rapi. "Pagi, Pak!" balas para mahasiswa dan mahasiswi serempak. Pandangan Narendra secara otomatis menyapu barisan bangku, mencari satu titik fokus yang sejak semalam menyita kewarasannya. Dan di sana, di baris ketiga, Geraldine duduk dengan punggung tegak — posisi yang sangat tidak biasa bagi gadis yang biasanya duduk merosot malas. Narendra tertegun sejenak melihat Geraldine yang hari ini mengenakan baju turtle neck berwarna hitam yang menutup rapat seluruh leher hingga pangkal dagu, meski cuaca sedang cukup gerah. "Sial!" batin Narendra. Pria itu jelas tahu persis apa yang ada di balik kerah tinggi itu. Ingatan tentang bagaimana kulit leher, pundak dan area d**a Geraldine memerah karena ulahnya siang kemarin menghantam kepalanya tanpa ampun. Bayangan itu beradu dengan kalimat Geraldine di mobil : "Nggak, ya! Asal Bapak tahu, yang tadi itu ... adalah ciuman pertamaku! Dan Bapak adalah pria yang pertama kali lihat dadaku dan kususui. Puas?!" Narendra mencoba membuka laptop, tangannya sedikit gemetar saat menyambungkan kabel HDMI. Dia mencoba menjelaskan materi tentang "Psikologi Abnormal", tapi fokusnya hancur berkeping-keping. Setiap kali matanya tak sengaja bersirobok dengan Geraldine, dia melihat gadis itu langsung membuang muka. Tidak ada lagi bibir yang bergerak tanpa suara mengucap "I love you", tidak ada lagi tatapan menantang. Geraldine benar-benar menjadi asing, dan entah kenapa, hal itu justru membuat d**a Narendra terasa lebih sesak daripada saat digoda. Narendra jadi merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia adalah pria dewasa yang sudah melewati banyak hubungan asmara, tapi dia tidak pernah merasa se-frustrasi ini. Dengan para mantannya dulu, dia lah yang selalu memegang kendali. Namun, di hadapan gadis berusia 20 tahun yang saat ini memakai baju tertutup itu, Narendra merasa seperti amatir yang kehilangan arah. Pikiran pria itu melayang pada rencana makan malam Geraldine dengan Kalingga nanti malam di Cafe Terra. Membayangkan Kalingga duduk di depan Geraldine, menatap wajah cantik, dan mungkin saja juga mencoba menyentuh tangan yang kemarin dia borgol, membuat darah Narendra mendidih. Tanpa sadar, penjelasan materinya terhenti di tengah jalan. Kelas menjadi sunyi karena sang dosen mendadak diam membatu menatap papan tulis kosong. Narendra berdehem, mencoba menyelamatkan wibawanya. Dia melirik jam di dinding, lalu kembali menatap ke arah bangku Geraldine. Bibirnya bergerak lebih cepat daripada perintah otaknya yang sedang buntu. "Geraldine, tolong ke ruangan saya setelah kelas ini selesai! Saya perlu bantuan kamu." Seluruh kelas mendadak gaduh dengan bisik-bisik. Sementara Geraldine tampak tersentak, bahunya menegang. Gadis itu menatap Narendra dengan mata yang masih menyiratkan sisa trauma dan amarah, dan pada akhirnya dia hanya bisa pasrah melaksanakan perintah sang dosen. Geraldine tak mengeluarkan suaranya, dia hanya mengangguk pelan sekali. Kemudian Narendra memalingkan wajah, menyumpahi dirinya sendiri di dalam hati. "Bantuan apa, Narendra? Kamu bahkan tidak punya tugas yang harus dikerjakan karena kamu hanyalah dosen pura-pura di sini!" Sepuluh menit setelah Narendra duduk di kursi kebesarannya, pintu ruang dosen yang sedikit terbuka diketuk pelan. Narendra yang sedang berpura-pura sibuk memeriksa tumpukan kertas menoleh. Pria itu bisa melihat Geraldine berdiri di sana, tampak begitu defensif. Dia tidak masuk sepenuhnya, hanya berdiri di ambang pintu seolah siap melarikan diri kapan saja. "Bapak perlu bantuan apa?" tanya Geraldine dengan nada suara yang datar, sangat formal, dan sangat berbeda jauh dari hari-hari kemarin. Narendra berdiri, dia berjalan perlahan mendekati Geraldine. "Tutup pintunya!" "Saya lebih suka pintunya terbuka, Pak Dosen. Supaya tidak ada lagi kejadian BDSR di ruang kerja Bapak!" balas Geraldine sinis, meski matanya berkilat ketakutan. Narendra menghentikan langkah tepat dua meter di depan Geraldine. Tatapannya yang tadi tajam mendadak berubah sedikit gelisah, mencari-cari alasan di balik tumpukan berkas di otak jeniusnya yang mendadak tak terasa kosong. "Parfummu ketinggalan di rumahku," ucap Narendra pada akhirnya. Kalimat itu meluncur begitu saja, terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri. Geraldine mendengus, dia melipat tangan di d**a, mencoba menutupi rasa gemetar yang sebenarnya masih tersisa. "Ah, itu buat Bapak saja." "Nggak bisa gitu," sela Narendra cepat, suaranya sedikit meninggi. "Itu barang mahal, dan aromanya ... aromanya memenuhi kamarku. Kamu harus ke rumahku dan ambil sendiri!" "Saya nggak mau ke rumah Bapak lagi!" Geraldine membalas dengan nada yang tak kalah sengit. Matanya berkilat, mengingatkan Narendra pada kejadian traumatis kemarin. "Apalagi cuma buat ambil parfum. Kalau Bapak keberatan bau kamar Bapak jadi wangi, buang saja ke tempat sampah!" Narendra mengepalkan tangan di samping tubuh. "Nggak akan saya buang. Karena itu barang punya kamu. Jadi biar saya saja yang mengembalikannya ke rumahmu." Geraldine tertawa sinis, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa takut. "Memangnya Bapak tahu rumah saya?" "Sebagai dosen saya bebas akses melihat biodata mahasiswanya, jadi untuk mencari alamat rumah kamu itu mudah," jawab Narendra dingin, mencoba kembali ke mode perwira intelijen yang serba tahu. "Ya sudah deh! Kalau Bapak mau repot-repot jadi kurir parfum dan datang ke rumah saya, datang saja! Silakan lapor ke penjaga gerbang kalau Bapak mau antar barang saya yang ketinggalan," tantang Geraldine, dia berbalik hendak pergi dari ruang dosen, tapi suara Narendra membuatnya mematung. "Apa nanti malam kamu ada di rumahmu?" tanya Narendra, suaranya sedikit melembut. Geraldine menoleh sedikit dan menyunggingkan senyum kemenangan. "Enggak. Malam ini saya nggak ada di rumah. Soalnya saya mau kencan sama calon suami saya." Jantung Narendra seolah berhenti berdetak sesaat. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang terbakar di dalam dadanya. "Ca–calon suami?" "Iya. Namanya Kalingga," ucap Geraldine tanpa beban. Dia memutar tubuh sepenuhnya, kembali menghadap Narendra, menikmati ekspresi terkejut yang tertahan di wajah pria itu. "Dan feeling saya, Bapak kenal sama calon suami saya, karena kemarin saya lihat Bapak ngobrol sama Denisa. FYI, Mas Kalingga itu kakaknya Denisa. Jadi pasti Bapak kenal." Narendra membeku di tempatnya berdiri. Lidah pria itu mendadak kelu. Bayangan Kalingga — sahabatnya yang punya masa depan cemerlang — sedang duduk di hadapan Geraldine malam ini membuat rahangnya mengeras hingga sakit. Melihat Narendra yang hanya terdiam seperti patung, Geraldine melangkah mendekat, hanya satu langkah. Dia sedikit berjinjit, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat sopan tapi terasa mematikan bagi Narendra. "Oh iya, Pak Narendra ... tolong sampaikan ke Pak RT di perumahan Anda, bilang kalau saya memilih kabur meninggalkan Anda. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot mengadakan acara syukuran pernikahan kita dan membuat dokumen palsu." Setelah mengucapkan kalimat itu, Geraldine berbalik, pergi meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruang dosen tersebut. Begitu pintu tertutup rapat, Narendra refleks menjambak rambut sendiri dengan kedua tangan dan mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. "Argh! Apaan sih yang tadi aku katakan ke dia?!" raungnya frustrasi. "Parfum? Datang ke rumahnya? Ya Tuhan, aku sepertinya sudah benar-benar tidak waras!" Narendra memejamkan mata, tapi bayangan Geraldine dengan baju turtle neck dan senyum menantangnya justru semakin jelas. Dan yang lebih parah, dia terus membayangkan Kalingga duduk dengan Geraldine malam ini. "Kencan dengan calon suami, ya?" Narendra menyeringai, sebuah seringai yang penuh dengan rasa tidak rela. "Jangan harap kencan nanti malam bakal berjalan lancar!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN