"Maaf kalau menunggu lama, Mas Kalingga," ucap Geraldine begitu sampai di meja yang ditempati Kalingga. "Saya tadi kelamaan dandan."
Geraldine tampil memukau dengan dress model sabrina berwarna maroon yang memperlihatkan leher dan bahu indahnya yang putih mulus — area yang sebenarnya ada banyak tanda merah hasil karya Narendra — dia tutupi dengan consiler foundation dan bedak.
Kalingga segera berdiri, memberikan senyum paling menawan yang dia punya. "Sama sekali tidak lama untuk wanita secantik kamu, Geraldine. Dandanan kamu bagus. Ayo, silakan duduk."
Suasana Cafe Terra yang temaram dengan iringan musik jazz instrumental memang menjadi latar sempurna untuk sebuah kencan pertama. Kalingga ternyata sosok yang menyenangkan, dia humoris, cerdas, dan tahu bagaimana cara memuji seorang perempuan tanpa terdengar berlebihan.
Dan Kalingga bisa membuat Geraldine beberapa kali tertawa renyah karena leluconnya. Hingga gadis itu bisa melupakan bayang-bayang si "dosen psikopat" sejenak.
Namun, di kegelapan sudut kafe, siapa sangka ada sepasang mata tajam yang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan rahang yang mengeras.
Ponsel Geraldine yang tergeletak di atas meja bergetar. Dia melirik sekilas ke arah layar. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dia kenali. Bukan pesan teks, melainkan sebuah lampiran video. Dengan dahi berkerut, Geraldine membukanya di bawah meja.
Jantung Geraldine seolah berhenti berdetak. Video itu adalah rekaman di kamar Narendra kemarin. Durasinya dipotong karena hanya memperlihatkan wajah Geraldine yang tampak berantakan, terengah, dengan tangan yang jelas-jelas terikat borgol ke jeruji besi. Di video itu, suara berat Narendra terdengar menanyakan apakah dia ingin lanjut atau tidak dan suara Geraldine yang mengatakan ingin lanjut.
Tepat di bawah video itu, sebuah pesan teks muncul : ["Kalau calon suamimu itu tahu video ini, bagaimana ya reaksinya? Apa dia masih bisa tersenyum dengan mata berbinar-binar saat melihatmu, istriku sayang?"]
Wajah Geraldine seketika memucat. Darah seolah tersedot dari pipiz meninggalkannya dalam keadaan dingin dan gemetar. Dia refleks celingak-celinguk, menoleh ke arah kafe, mencari sosok yang dia yakini bersembunyi di sana.
"Ada apa, Geraldine?" tanya Kalingga. Keningnya berkerut melihat perubahan drastis pada wajah teman kencannya. "Kenapa kamu kelihatan gelisah. Apa kamu merasa tidak nyaman saat bersamaku?"
"Ah ... eh, enggak, Mas. Nggak apa-apa kok, Mas. Tiba-tiba saja perutku sedikit kram. Saya datang bulan dan saya lupa bawa pembalut cadangan," dusta Geraldine.
"Saya bisa belikan pembalut buat kamu sekarang," Kalingga hampir berdiri, tapi Geraldine mencegahnya.
"Jangan, Mas. Tidak usah. Sepertinya aman, kok. Aman. Mas duduk saja." Geraldine memaksakan diri untuk tersenyum manis. "Ayo kita habiskan makanan kita!"
Geraldine kembali menyuap makanannya, tapi lidah gadis itu mendadak mati rasa. Daging wagyu kualitas premium itu terasa hambar seperti karet, dan kerongkongannya mendadak menyempit, membuat setiap telanan terasa menyakitkan.
"Pak Narendra pasti ada di sini! Sialan!" batin Geraldine merutuk.
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah ponsel Geraldine bergetar lagi.
+6281xxxxx : ["Kenapa? Kok enggak dibalas? Jadi kamu setuju saya kasih video ini ke calon suamimu sekarang juga?"]
Jemari Geraldine gemetar saat mengetik balasan di bawah meja.
Geraldine : ["MAU BAPAK APA SIH?!"]
+6281xxxxx : ["Cepat keluar dari restoran sekarang juga! Nanti saya akan menghampiri kamu."]
Geraldine mengetik sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Geraldine : ["Tunggu sampai acara makan malamku dengan Mas Kalingga selesai!"]
+6281xxxxx : ["Aku mau sekarang. Lima menit kamu nggak keluar, maka video wajahmu akan aku sebar.]
+6281xxxxx : ["Satu"]
+6281xxxxx : ["Dua"]
Geraldine jelas panik, dia tidak mungkin mempertaruhkan harga dirinya dan ayahnya di depan Kalingga. Dengan gerakan canggung, dia segera mengambil tasnya dan berdiri.
"Mas ... Mas Kalingga, maaf banget. Tiba-tiba ada urusan yang sangat urgent. Temanku kecelakaan dan saya harus ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Geraldine menundukkan kepala.
"Eh ...? Kalau begitu ayo saya antar kamu ke rumah sakit." Kalingga ikut berdiri.
"Nggak usah, Mas!" Geraldine menggeleng cepat-cepat. "Mas Bambang ada di depan, kok! Sekali lagi maafkan saya ya, Mas. Acara kita jadi kacau lain kali saya akan mengundang Mas Kalingga makan bersama sebagai permainan maaf saya. Permisi."
Geraldine berlari kecil saat keluar dari restoran. Begitu menginjakkan kaki di lobi restoran, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dan menarik dia dengan paksa.
Geraldine tersentak dan hendak berteriak, tapi saat dia mendongak, dia terpaku pada netra gelap Narendra yang menatapnya penuh d******i.
Tanpa sepatah kata pun, Narendra menyeretnya menuju mobil hitamnya yang terparkir di bahu jalan, lalu mendorong Geraldine masuk ke kursi penumpang depan.
Setelah itu, Narendra memutar dan masuk ke kursi pengemudi, kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa begitu mencekam. Hanya ada suara napas Geraldine yang memburu karena merasa marah dan takut.
Namun, kemarahan Geraldine yang sejak tadi dia tahan jadi memuncak saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah Narendra. "Bapak apa-apaan sih?! Kenapa Bapak malah bawa saya ke sini?"
Narendra menoleh, menatap Geraldine dengan tatapan mengintimidasi. "Sudah sewajarnya bukan, kalau suami mengajak istrinya ke rumahnya?"
"Tapi kita cuma suami-istri bohongan, Pak!" Geraldine mencoba membuka pintu mobil yang masih terkunci. "Cepat antar aku pulang! Mamaku pasti nyariin. Mas Kalingga pasti laporan sama Mamaku kalau aku kabur tiba-tiba seperti tadi!"
Narendra melepaskan sabuk pengamannya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Geraldine, membuat gadis itu terpojok ke sandaran kursi.
"Kamu masuk dulu ke rumahku. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama kamu," ucapnya dengan nada rendah yang tidak bisa dibantah. "Nanti jam sembilan malam, baru saya antar kamu pulang langsung ke depan pintu rumahmu."
"Aku nggak mau!" bentak Geraldine dengan mata melotot, meski takut dia berusaha terlihat berani dan ingin melawan pria di hadapannya.
"Masuk, Geraldine!" Suara Narendra pelan, tapi terdengar sangat tegas dengan tatapan tajam yang membuat Geraldine seketika menciut. "Atau video itu benar-benar aku kirimkan ke Kalingga."
Geraldine memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan tinjunya dengan geram. Dia tahu, dia sudah kalah telak. Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, dia keluar dari mobil dan mengikuti Narendra masuk ke dalam rumah mungil yang kini terasa seperti penjara baginya.
Narendra mengabaikan kemarahan Geraldine dan berjalan tenang menuju salah satu kamar di rumah mungil itu. Sementara Geraldine berdiri mematung di tengah ruang tamu yang sempit, menatap punggung tegap pria itu dengan perasaan campur aduk. Tak lama kemudian, Narendra keluar membawa sebuah map di tangannya.
"Duduk!" perintah Narendra singkat sambil menunjuk sofa.
Geraldine menghentakkan kakinya kesal, tapi dia tetap duduk dengan posisi sangat kaku. Narendra menyusul, dia duduk di sofa tunggal yang berhadapan langsung dengan Geraldine, lalu meletakkan map itu di atas meja kayu kecil yang memisahkan mereka.
"Apa ini, Pak?" tanya Geraldine, matanya menyipit penuh kecurigaan saat melihat map itu digeser ke arahnya.
"Baca dan tanda tangani!" sahut Narendra sambil mengeluarkan sebuah pulpen hitam dari saku kemejanya, lalu menjatuhkannya tepat di atas map — seolah-olah tanda tangan Geraldine adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Geraldine menyambar map itu dengan kasar, membuka, dan mulai membaca lembaran kertas di dalamnya. Baru sampai di tengah halaman pertama, napas gadis itu mendadak memburu. Matanya yang bulat membelalak sempurna, menatap tidak percaya pada deretan poin yang tertulis dengan sangat rapi dan formal di sana.
"Apa-apaan ini?!" teriak Geraldine seraya berdiri dengan wajah merah padam karena emosi yang meluap. Dia menghempaskan kertas-kertas itu kembali ke meja hingga berhamburan. "Saya nggak mau menandatangani surat perjanjian ini!"