Chapter 18. Surat Perjanjian Pernikahan

1275 Kata
"Kamu harus tanda tangani surat perjanjian ini!" perintah Narendra tegas, suaranya menggelegar di ruang tamu yang sempit itu. Geraldine meraup lembaran kertas, membaca ulang dengan tangan gemetar. Matanya memicing tajam pada poin-poin yang tertulis di sana. Isinya benar-benar konyol, yaitu pihak Kedua (Geraldine) wajib hadir di perumahan ini setiap kali ada agenda sosial warga. Mulai dari perkumpulan ibu-ibu PKK, kerja bakti, hingga arisan komplek. Singkatnya, Geraldine wajib datang kapan pun Narendra memanggilnya untuk bersandiwara. "Pasti Bapak mau ngancam saya pake video itu, kan, kalau saya nggak mau tanda tangani surat perjanjian ini?" Geraldine melempar map itu ke meja, menatap Narendra dengan sisa-sisa keberaniannya. Narendra menyandarkan punggung ke sofa, melipat tangan di depan d**a dengan pose intimidasi yang sempurna. "Iya. Tapi ini semua gara-gara kamu juga. Ingat, Geraldine, siapa yang pertama muncul di depan anak Pak RT, terus cium pipiku sambil ngaku kalau kamu adalah istriku? Terus, siapa yang dengan percaya diri menyapa seluruh warga saat kerja bakti kemarin?" "Kan kemarin saya sudah suruh Bapak bilang ke Pak RT kalau kita cerai! Selesai, kan?" balas Geraldine sengit. "Jadi nggak perlu lah bikin surat perjanjian pernikahan konyol begini!" "Kamu pikir pernikahan itu main-main?" Narendra menatap lekat ke manik mata Geraldine. "Ya emang pernikahan kita itu main-main, Pak! Kita kan nggak pernah ijab kabul!" Geraldine memutar bola matanya jengkel. Narendra menghela napas panjang, jarinya memijat pangkal hidung seolah sedang menghadapi ujian paling berat dalam kariernya. "Ini semua nggak akan jadi serumit ini kalau bukan karena tingkah kamu sendiri. Saya ini dosen, Geraldine. Saya punya reputasi. Saya nggak mau dicap sebagai pria yang baru menikah belum ada sebulan tapi sudah cerai." Geraldine mendengus, tapi dia terdiam saat Narendra melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih tenang tapi tetap menekan. "Saya cuma minta kamu sandiwara jadi istri saya selama satu tahun saja. Setelah satu tahun berlalu, kalau pada akhirnya saya bilang ke warga perumahan ini kalau kita memutuskan cerai karena memiliki prinsip dan motivasi hidup yang berbeda, itu masih wajar. Tapi kalau belum ada sebulan? Saya tidak mau jadi trending topik karena drama rumah tangga yang tidak masuk akal." Geraldine menggigit bibir bawahnya. Dia melirik pulpen hitam di atas meja, lalu melirik Narendra yang tampak sangat serius dengan ucapannya. Pikiran gadis itu sedang bekerja keras, untuk mencari celah kesalahan Narendra. "Oke, saya akan tanda tangani ini," ucap Geraldine pada akhirnya. Dia meraih pulpen, tapi tidak segera membubuhkan tanda tangannya. Gadis itu malah mengetukkan ujung pulpen ke dagu dengan senyum miring yang provokatif. "Tapi saya minta syarat. Saya mau usulan saya dimasukkan ke surat perjanjian ini. Jadi surat perjanjian ini dibikin bersama, atas kesepakatan dua arah, bukan cuma draf egois hasil ketikan Bapak sendiri." Narendra menaikkan sebelah alis, sedikit terkejut dengan kecepatan gadis itu dalam bernegosiasi. Dia menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Oke, kalau gitu ayo kita berdiskusi. Apa syaratmu?" Kali ini dengan gaya yang lebih santai seolah baru saja memenangkan satu ronde, Geraldine berkata, "Pertama, Bapak harus kasih tahu saya jadwal warga minimal dua hari sebelumnya. Ketiga saya minta videonya yang full, biar kalau tersebar nih ya, nggak cuma saya doang yang malu, tapi Bapak juga! Enak aja cuma muncul suara doang! Dan yang ketiga, Bapak nggak boleh sentuh-sentuh lagi anggota tubuh saya!" Narendra terkekeh. "Yang pertama saya setuju, itu sangat mudah. Yang kedua detik ini juga saya bisa kirimkan videonya full ke kamu. Tapi yang ketiga ... bukannya kamu yang kemarin-kemarin sentuh-sentuh tubuh saya, ya? Kamu seharusnya menyadarkan diri sendiri dulu! Kamu kan yang suka ganjen sama saya." "Apa!" Geraldine terpekik, wajahnya memerah padam hingga ke telinga. Dia nyaris melempar bantal sofa ke wajah Narendra jika tidak ingat pria itu memegang kartu as-nya. "Itu dulu! Mulai hari ini saya juga nggak sudi nyentuh Bapak!" Narendra mencondongkan tubuh, menatap Geraldine dengan tatapan menyelidik yang membuat gadis itu salah tingkah. "Kenapa kamu dulu sentuh-sentuh saya? Sampai godain saya segala dan bilang rela di-b**m di kamar? Perubahan drastis kamu ini mencurigakan." Geraldine menghela napas kasar, dia memejamkan mata sejenak, mencoba menetralisir rasa malu yang membuncah. "Jujur saja nih ya, saya sempat jatuh cinta sama Bapak. Maksudnya, jatuh cinta pada pandangan pertama pas Bapak masuk kelas di hari pertama, apalagi pas nolongin saya yang kepleset waktu itu. Tapi gara-gara kejadian kemarin ... gara-gara Bapak suka b**m, saya jadi ilfeel! Ngeri banget sumpah, cinta saya berubah jadi benci seketika." Geraldine menunjuk d**a Narendra dengan telunjuknya yang gemetar. "Bisa-bisanya saya yang 100% perawan ini suka sama predator seksual yang mengerikan. Jijik banget sumpah kalau bayangin ternyata Bapak sudah banyak pengalaman bobo sama banyak perempuan. Bisa saja Bapak punya penyakit menular seksual! Gara-gara Bapak cium dan cipok saya kemarin, saya sudah izin janji temu sama Dokpol. Saya mau cek darah komplit sekaligus cek HIV!" Alih-alih marah, Narendra justru tertawa renyah. Suara tawanya bariton, terdengar sangat menyebalkan di telinga Geraldine. "Oh gitu? Bagus deh kalau kamu aware sama kesehatan kamu. Tapi tenang saja, saya aman kok. Dulu kan saya mainnya pake pengaman. Dan mantan pacar saya cuma tiga. Itupun dulu mereka virgin semua." "Dih! Tetap saja menjijikkan karena sudah bobo sama orang lain. Bapak itu nggak lebih dari barang bekas! Pokoknya jangan pernah sentuh saya!" semprot Geraldine berkacak pinggang. "Nggak akan!" Narendra menggerakkan tangannya ke udara, membuat gerakan memotong yang tegas. "Tapi, saya juga punya tambahan syarat buat kamu." "Apa lagi?!" "Kamu nggak boleh kencan lagi sama pria mana pun seperti tadi selama kontrak satu tahun ini berlangsung." Geraldine melotot, dia berdiri dari sofa hingga. "Lah, Bapak kok ngatur? Orang yang nyuruh kencan sama Mas Kalingga itu Mama Papaku loh! Mana bisa aku melawan mereka begitu saja?" Narendra ikut berdiri, mengikis jarak hingga Geraldine harus mendongak untuk menantang matanya. "Masalahnya, saya khawatir kalau warga perumahan ini lihat kamu kencan sama laki-laki lain. Nanti ada gosip kalau kamu selingkuh di belakang saya. Soal perintah Papa Mama kamu ... tolong banget ya, kamu harus berani bilang ke mereka buat menunda dulu acara perjodohan kamu itu. Bilang saja kalau mau nikahin kamu, mereka harus nunggu kamu lulus kuliah dulu. Pendidikan itu penting, lulus dulu baru nikah!" "Kalau orang tua saya tetap ngotot nikahkan saya sama Mas Kalingga sebelum perjanjian kita berakhir bagaimana?" tanya Geraldine menantang. "Saya sebar video itu, biar pernikahan kamu batal. That’s simple, Geraldine." "Dasar psikopat!" Geraldine menghentakkan kakinya ke lantai, suaranya melengking frustrasi. "Saya bukan psikopat. Saya ini normal," sahut Narendra santai, dia kembali duduk dan menyesap air mineralnya seolah tidak ada beban. "Jelas Bapak psikopat! Bapak pecinta b**m! Bapak juga tukang maksa, Bapak juga tukang ancam. Itu tuh ciri-ciri psikopat ada di Bapak semua loh!" "b**m mulu yang kamu bahas," gumam Narendra, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang misterius. "Padahal saya juga bisa main lembut. b**m hanya selingan doang kalau saya sedang suntuk." "Hiii!" Geraldine refleks memeluk dirinya sendiri, bergidik ngeri membayangkan isi kepala pria di depannya. "Dasar hyper! Otak Bapak pasti isinya cuma bercinta doang. Kalau saya nggak boleh kencan, Bapak juga harusnya jangan kencan. Emang Bapak bisa tahan?" Narendra menatap Geraldine dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bisa lah. Main solo dulu sambil lihat video kita." "BAPAK!" Wajah Geraldine kini tidak hanya merah karena malu, tapi juga karena amarah yang memuncak. Dia meraih tasnya dan memukul lengan Narendra sekuat tenaga. "Apa?!" tantang Narendra sembari menahan tangan Geraldine dengan mudah. "Cepat ambil kertas baru atau laptop! Kita bahas dengan serius poin-poin ini! Keburu jam 9, nanti Mama Papaku panik cari aku!" Geraldine menepis tangan Narendra, lalu duduk kembali dengan napas memburu. Narendra terkekeh, merasa gemas melihat tingkah gadis di depannya. Dia bangkit dan melangkah menuju kamar utama dengan santai. "Tunggu di situ ya, Istriku. Saya ambil dulu biar kontrak pernikahan kita segera sah menurut versimu." "Sialan!" umpat Geraldine lirih, sembari menatap punggung tegap Narendra dengan perasaan dongkol yang tak berujung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN