Setelah tawar-menawar sengit yang diwarnai adu argumen hingga urat leher masing-masing nyaris putus, surat perjanjian pernikahan palsu itu akhirnya rampung. Dokumen itu kini sudah tergeletak di atas meja dengan tanda tangan Narendra dan Geraldine di atas materai.
Geraldine menghempaskan punggung ke sandaran sofa, kepala mendongak menatap langit-langit sementara tangannya mengelus perut. "Saya lapar, Pak. Ada makanan enggak?" keluhnya dengan suara melemah karena tenaganya habis terkuras untuk berdebat dengan pria keras kepala itu.
Narendra melirik jam di pergelangan tangan, lalu beralih menatap Geraldine yang tampak kelelahan. "Mau saya bikinin nasi goreng enggak? Saya ada nasi di kulkas, emang sengaja buat stok kalau saya mau bikin nasi goreng."
"Iya, mau," sahut Geraldine cepat tanpa gengsi. Perut yang lapar tidak mengenal harga diri.
"Ya sudah, tunggu sini saja! Saya ke dapur dulu," perintah Narendra sambil beranjak dari duduknya.
Namun, alih-alih duduk tenang di ruang tamu sesuai perintah, Geraldine justru bangkit dan mengekor di belakang Narendra. Dan Narendra yang menyadari kehadiran Geraldine saat hendak membuka pintu kulkas pun otomatis menghentikan gerakan. Pria itu berbalik dengan sebelah tangan memegang pintu kulkas.
"Kan saya suruh kamu duduk nunggu di ruang tamu, ngapain kamu ke sini?" tanya Narendra dengan alis bertaut.
Geraldine melipat tangan di depan d**a, mencoba memasang wajah curiga. "Mau mastiin kalau Bapak tidak menaruh racun di makananku."
"Dasar paranoid!" gerutu Narendra pelan sambil menggelengkan kepala.
Pria itu mulai bergerak cekatan. Dia mengeluarkan wadah berisi nasi, telur, daun bawang, udang, cumi, dan bakso ikan. Sementara Geraldine berdiri di samping Narendra, memperhatikan bagaimana tangan kekar dosennya itu mengiris bawang merah dan bawang putih dengan ritme yang stabil.
Narendra mulai memanaskan wajan. Suara desis margarin yang meleleh memenuhi dapur kecil itu. Geraldine tampak terdiam, mata terpaku pada punggung tegap Narendra yang kini dibalut kemeja dengan lengan yang digulung hingga siku. Ada sesuatu yang sangat domestik sekaligus maskulin dari cara Narendra memegang sudip dan mengayunkan wajan untuk meratakan bumbu.
Aroma gurih bumbu dan seafood pun mulai memenuhi indra penciuman Geraldine. Menggoda seleranya, tapi sialnya, pemandangan di sampingnya itulah yang jauh lebih menggoda.
Geraldine tiba-tiba menggelengkan kepala dengan kuat, mencoba mengusir pikiran-pikiran nakal yang mendadak muncul. "Nggak! Nggak boleh! Kamu nggak boleh jatuh cinta lagi sama si cowok hyper yang doyan b**m itu, Geraldine!" batinnya menjerit, mengingatkan diri sendiri.
"Kenapa?" tanya Narendra tiba-tiba tanpa menoleh, tapi kedua sudut bibirnya terangkat sedikit. Dia bisa mendengar helaan napas dan melihat gerakan gelisah Geraldine dari sudut matanya. "Aku keliatan seksi ya kalau lagi masak?"
"Dih! Enggak, ya! Ge-er banget!" semprot Geraldine dengan wajah yang memerah.
Cepat-cepat Geraldine memutar tubuh dan melangkah menuju meja makan yang berada tak jauh dari dapur. Dia duduk dengan kaku, berusaha membuang muka. Namun, seolah memiliki magnet sendiri, matanya secara tidak sadar selalu kembali melirik ke arah dapur, memperhatikan otot lengan Narendra yang menegang saat pria itu menuangkan nasi goreng yang mengepul indah ke atas piring.
Narendra membawa dua piring nasi goreng tersebut dan meletakkannya di depan Geraldine. Dia duduk di hadapan gadis itu, meletakkan sendok dengan denting pelan.
"Ayo dimakan!" Mata Narendra menatap Geraldine dengan intensitas yang membuat gadis itu nyaris lupa caranya memegang sendok. "Habis ini, saya antar kamu pulang."
"Iya," ucap Geraldine singkat lalu menyuap sesendok nasi goreng itu ke mulut.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah mata gadis itu membelalak sambil membatin, "Sial, rasanya enak banget. Kenapa kayak masakan chef, ya?"
"Gimana ...? Enak enggak?" tanya Narendra santai, sambil terus menatap wajah Geraldine yang sedang asyik mengunyah.
"Biasa aja," dusta Geraldine, meski begitu tangannya dengan semangat terus menyuap nasi goreng itu hingga tandas.
***
Setelah melewati makan malam, Narendra melajukan mobil membelah kegelapan malam. Namun, semesta tampaknya punya rencana lain. Langit yang semula hanya mendung, tiba-tiba tumpah. Hujan deras mengguyur seketika, menghalangi pandangan dengan butiran air yang rapat. Dan Tepat saat mereka baru saja keluar dari gerbang perumahan, mesin mobil itu terbatuk, tersendat, lalu mati total.
"Sial!" umpat Narendra, dia mencoba menstarter ulang mesinnya beberapa kali, tapi hanya suara mesin yang merintih yang terdengar.
Narendra segera melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu.
"Bapak mau ngapain?" tanya Geraldine cemas, tangannya refleks menahan lengan kemeja Narendra.
"Benerin mobil. Sepertinya ada kabel yang korslet," sahut Narendra tanpa menoleh.
"Tapi ini hujan deras banget, Pak! Nunggu nanti saja kalau sudah agak terang, bahaya!" cegah Geraldine karena mendengar gemuruh hujan di atas atap mobil terdengar seperti ribuan peluru yang menghujam besi.
Narendra menoleh, menatap Geraldine lalu menggeleng. "Kelamaan. Kalau kita cuma diam di sini, orang tuamu pasti nyariin kamu."
Tanpa menunggu balasan, Narendra melompat keluar, dia berlari ke bagasi belakang, mengambil payung besar, lalu bergegas ke depan untuk membuka kap mobil. Dia berdiri di sana, menjepit gagang payung di antara bahu dan telinganya agar kedua tangannya bebas memeriksa mesin.
Geraldine yang merasa tidak tega dengan Narendra segera membuka pintu mobil, dia berlari kecil menerobos hujan hingga gaun sabrinanya basah seketika. Kemudian, dia menyusup ke samping Narendra dan menyambar gagang payung itu.
"Biar saya yang pegangin payungnya, Pak!" teriak Geraldine di tengah bisingnya hujan.
Narendra tersentak, dia menoleh dan mendapati wajah Geraldine yang sudah basah kuyup dengan rambut yang menempel di pipi. "Harusnya kamu nggak usah keluar! Kamu jadi kebasahan!"
"Enggak apa-apa! Ini cuma basah dikit. Saya mau bantu pegangin payungnya biar Bapak bisa service mobilnya dengan leluasa," balas Geraldine dengan suara keras.
Narendra menghela napas, dia jelas tak punya waktu untuk berdebat dengan gadis keras kepala di sampingnya, jadi dia segera kembali fokus pada kabel-kabel mesin. Namun, beberapa detik kemudian, angin kencang bertiup menghantam mereka, disusul suara guntur yang menggelegar dahsyat tepat di atas kepala mereka.
"Pak!" Geraldine memekik ketakutan.
Payung di tangan Geraldine terlepas terbang terbawa angin. Tanpa sadar, gadis itu menghambur ke arah Narendra, memeluk pinggang pria itu erat, mencari perlindungan dan dia menyembunyikan wajahnya di d**a bidang sang dosen yang sudah basah kuyup.
Narendra dengan sigap menangkap tubuh Geraldine. Dia melingkarkan lengannya yang kokoh, mendekap gadis itu erat di bawah guyuran hujan yang semakin menggila.
"It’s okay ... tenang. Tenang, Geraldine," bisik Narendra di dekat telinga gadis itu, suaranya terdengar stabil di tengah badai.
Beberapa menit berlalu ....
Dan pada akhirnya Narendra sadar jika mobil itu tidak akan bisa diperbaiki di tengah cuaca seperti ini, apalagi tubuh Geraldine sudah mulai menggigil di pelukannya. "Ayo, kita kembali ke rumah saja!"
Narendra melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Geraldine erat-erat. Mereka berjalan berbalik arah, masuk kembali menuju gerbang perumahan yang lampunya berpijar buram karena kabut hujan.
"Mobilnya gimana, Pak?" tanya Geraldine, suaranya bergetar karena kedinginan.
"Nggak gimana-gimana. Aman ... nanti saya panggil bengkel langganan saya," jawab Narendra, dia sudah tidak peduli pada mobil itu sekarang, karena fokusnya hanya pada tangan kecil yang dia genggam erat.
Sekali lagi kilat menyambar, disusul suara gelegar yang menggetarkan bumi.
Geraldine tersentak, dia refleks memeluk lengan kekar Narendra, langkahnya goyah, kakinya melemas. "Pak ... saya takut ... saya nggak bisa jalan cepat, saya pakai heels!"
Narendra berhenti, dia melihat kaki Geraldine yang ternyata gemetar karena kedinginan dan kesulitan menyeimbangkan diri di atas aspal yang mulai licin karena air. Tanpa bicara, Narendra melepaskan genggaman tangannya, dan jongkok di depan Geraldine.
"Ayo naik!"
"Hah?"
"Cepat, Geraldine! Sebelum kamu semakin kedinginan."
Geraldine menurut, dia melingkarkan lengannya di leher Narendra, sementara tangan kekar pria itu menyangga pahanya dengan mantap.
Narendra berdiri, menggendong Geraldine di punggungnya seolah berat badan gadis itu seringan kapas.
Dunia seolah melambat bagi mereka berdua. Suara hujan yang tadinya memekakkan telinga mendadak terdengar seperti melodi latar yang melankolis.
Narendra berjalan santai, tidak terburu-buru meski air hujan terus mengguyurnya. Dia seolah ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama. Sementara Geraldine menyandarkan kepala di bahu Narendra, menghirup aroma maskulin yang menguar dari leher pria itu.
"Pak?" bisik Geraldine di dekat telinga Narendra.
"Hem?"
"Makasih."
"Sama-sama." Narendra mengencangkan pegangannya pada paha Geraldine, membawa gadis itu semakin rapat ke tubuhnya.
Di bawah guyuran hujan badai itu, kebencian Geraldine seolah tersapu air, menyisakan getaran aneh yang mulai bersemi kembali. Dia pun memeluk leher Narendra lebih erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, membiarkan kehangatan tubuh Narendra menjaganya dari dinginnya malam.
"Jangan tidur, istriku!" gumam Narendra lembut, sebuah senyum tipis yang tak terlihat oleh Geraldine terukir di wajahnya.
Geraldine tidak menjawab, dia hanya menikmati ayunan langkah Narendra yang membawanya kembali ke rumah mungil itu, yang di detik ini juga, entah kenapa, gadis itu merasa tidak lagi terasa seperti penjara seperti beberapa jam yang lalu.