Chapter 20. Menghangatkan Putri Komandan

1218 Kata
Setelah sampai di dalam rumah, Narendra menurunkan Geraldine dari punggungnya. Air menetes deras dari pakaian mereka, menciptakan genangan kecil di lantai ruang tamu. Narendra yang melihat tubuh Geraldine bergetar hebat dengan giginya bergemeletuk karena kedinginan merasa iba. "Cepat mandi!" perintah Narendra tegas sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup. "Kamu mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar utama. Saya mandi di kamar mandi luar." "Iya, Pak," jawab Geraldine patuh. Suaranya terdengar mencicit, kehilangan semua taring yang dia tunjukkan saat berdebat soal tadi. "Eh, tunggu dulu! Saya masuk dulu, ya. Saya mau ambil baju dan celana ganti," ucap Narendra saat Geraldine hendak melangkah menuju kamar utama. "Oke, Pak." Narendra membuka pintu kamar utama, diikuti Geraldine yang berjalan dengan langkah kecil dan berat karena dress maroon-nya yang basah terasa berkali-kali lipat lebih berat. Kemudian tanpa membuang waktu, Narendra bergerak cepat menuju lemari besar di sudut kamar. Dia menarik sehelai kaos hitam polos dan celana training, lalu menoleh ke arah Geraldine yang masih berdiri mematung di dekat ranjang. Tiba-tiba tubuh Narenda seolah membeku. Seketika, napasnya memberat. Di bawah pencahayaan lampu kamar yang temaram, pemandangan di depannya adalah sebuah ujian yang luar biasa bagi kewarasan pria itu. Geraldine berdiri di sana, basah kuyup, dengan gaun sabrina yang semakin melorot karena berat air, mengekspos bahu indah yang berkilau terkena tetesan sisa hujan. Bayangan adegan panas di ranjang itu, saat jemari Geraldine mencengkeram borgol dengan napas yang memburu kemarin, terekam kembali dengan resolusi yang terlalu tajam di otak Narendra. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering di tengah udara malam yang dingin. Sementara itu, Geraldine hanya bisa menatap tubuh tegap di depannya dengan pandangan kabur. Tubuhnya menggigil hebat, tapi di dalam benaknya muncul sebuah pemikiran naluriah, "Pak Narendra kelihatan sangat hangat. Jika aku berada di pelukannya, dingin ini pasti akan sirna." Seharusnya Narendra segera melangkah pergi. Seharusnya dia mengingat janjinya untuk tidak menyentuh putri komandannya itu. Namun, berada di dekat Geraldine selalu membuat dia kehilangan kendali atas logika yang dia banggakan. Kehadiran gadis itu adalah anomali yang merusak seluruh sistem pertahanan intelijennya. Baju dan celana training yang dipegang Narendra jatuh begitu saja ke lantai, terabaikan. Dan setelah itu, Narendra melangkah cepat, mengikis jarak hingga aroma hujan dan panas tubuh mereka menyatu. Tanpa sepatah kata pun, dia menangkup wajah Geraldine dan mendaratkan ciuman yang dalam serta menuntut. Mata Geraldine membelalak, terkejut oleh serangan yang tiba-tiba. Namun, rasa nyaman dan hangat yang menjalar dari bibir Narendra seolah menjadi candu yang menawar dinginnya raga. Geraldine pun jadi terbuai. Alih-alih menolak, dia justru mengalungkan lengannya ke leher Narendra, membalas lumatan itu dengan gairah yang sama besarnya. Di tengah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara deru hujan di luar, mereka berciuman dengan panas. Hasrat yang sejak tadi tertahan kini meledak. Tanpa sadar, jemari Narendra bergerak lincah melepaskan kaitan gaun Geraldine yang basah, sementara tangan Geraldine yang gemetar mulai membuka satu per satu kancing kemeja Narendra, ingin merasakan langsung kehangatan kulit di baliknya. "Saya akan menghangatkan kamu, Geraldine," bisik Narendra dengan suara rendah yang serak dan menggoda, tepat di depan bibir gadis itu. Tubuh mereka refleks berpindah ke atas ranjang yang empuk. Lalu mereka kembali b******u, saling memeluk seolah ingin menyatukan dua jiwa yang kedinginan. Bibir Narendra mulai menelusuri leher Geraldine, meninggalkan jejak panas yang membakar, lalu turun menuju pundak dan area d**a yang membuatnya semakin hilang akal. Geraldine mendesah pelan, memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang diberikan pria itu. Namun, tepat saat suasana mencapai puncaknya, Narendra tiba-tiba bangkit duduk. Napas pria itu tersengal, dia menatap Geraldine sejenak dengan tatapan yang penuh perjuangan antara nafsu dan kehormatan. Narendra menarik bed cover tebal, menyelimuti tubuh mereka berdua, lalu kembali memposisikan dirinya di samping Geraldine. Dia menarik tubuh polos gadis itu ke dalam dekapan posesif, memeluk sangat erat hingga tak ada celah bagi udara dingin untuk masuk. Jujur, Geraldine sempat merasakan secercah kekecewaan karena segalanya tidak berlanjut ke tahap yang dia bayangkan di dalam kepalanya yang sedang mabuk. Namun, di sisi lain, ada rasa haru yang membuncah. Narendra benar-benar membuktikan ucapannya, pria itu hanya ingin menghangatkannya saja. Dia menjaga Geraldine, tidak mengambil sesuatu yang paling berharga darinya meski kesempatan itu terbuka lebar. "Tidurlah!" perintah Narendra lembut sembari mengusap rambut Geraldine yang mulai mengering. Geraldine ingin memprotes, dia ingin bertanya bagaimana cara dia bisa pulang dan bagaimana jika orang tuanya mencari. Namun, pelukan Narendra terlalu nyaman. Sentuhan kulit bertemu kulit di bawah selimut tebal itu membuatnya merasa sangat aman dan terlindungi. Matanya memberat, kesadarannya perlahan terkikis oleh rasa kantuk yang luar biasa. Biarlah. Untuk malam ini, mereka menyerah pada takdir. Geraldine membiarkan dirinya terlelap di dalam pelukan hangat sang suami palsu. Narendra juga memilih memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Geraldine yang memabukkan sekaligus menenangkan. Dia tahu besok akan ada banyak masalah yang harus dia hadapi, tapi untuk saat ini, dia hanya ingin mengikuti kata hati. Dia ingin mendekap gadis itu semalaman, melindungi dari dunia, dan memastikan bahwa satu tahun ke depan, Geraldine benar-benar akan menjadi miliknya. *** Sementara itu, suasana di kediaman Kombes Pol Handoko terasa sangat kontras dengan kehangatan di kamar Narendra. Jarum jam sudah hampir tengah malam, tapi lampu ruang tengah masih menyala terang. Safitri, istri Handoko, tampak wara-wiri dengan wajah yang tegang dan gelisah. "Anakmu itu benar-benar nakal sekali! Sudah kabur dari kencan, eh sekarang malah tidak pulang-pulang. Duh, gimana ini, Pah?!" Handoko yang sedang duduk santai sembari membaca dokumen menghela napas panjang. "Tenang, Mah. Geraldine pasti aman di rumah temannya." "Teman yang mana masalahnya?" Safitri mendengus kesal, langkahnya terhenti di depan sang suami. "Dia itu terlalu banyak teman. Mama sudah hubungi sebagian temannya tadi, tapi mereka bilang tidak tahu-menahu soal Geraldine." Handoko menutup dokumennya, menatap wajah cantik istrinya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Santai saja, Mah. Intelku bilang dia aman. Dia memang berada di salah satu rumah temannya sekarang." "Ya, Mama tahu Geraldine pasti aman karena ada intel yang menjaganya. Tapi ini loh, Pah ... Mama itu kesal! Bisa-bisanya dia kabur dan meninggalkan Kalingga sendirian di restoran. Padahal Kalingga itu anak baik-baik!" "Kan kemarin Papa sudah bilang apa? Jangan suka main jodoh-jodohan. Tidak baik itu, Mah. Cinta yang dipaksakan itu hanya akan berbuah kekecewaan," sahut Handoko tenang. "Tapi dulu kita juga dijodohkan, Pah!" Handoko terkekeh, mengenang masa mudanya bersama sang istri. "Ya kan kita ternyata sama-sama jatuh cinta pas proses PDKT. Makanya kita nikah tidak terpaksa." "Ya maunya Mama Geraldine sama Kalingga juga begitu! Biar mereka itu melakukan proses pendekatan dulu biar mereka mengenal lebih dekat dan pada akhirnya saling jatuh cinta, hingga pada akhirnya mereka sama-sama memutuskan untuk menikah. Persis seperti kita dulu." "Zaman sudah jauh berbeda, Mah. Biarkan Geraldine bahagia dengan laki-laki pilihannya sendiri. Lagipula, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di restoran tadi, kan?" ucap Handoko diplomatis. "Bisa aja Geraldine merasa nggak nyaman sama Kalingga makanya dia kabur sebelum acara kencan selesai." "Papa itu selalu saja memanjakan Geraldine!" Safitri menghentakkan kaki di lantai dengan geram. "Terserah Papa sajalah! Kamu dan anak perempuanmu itu sama-sama keras kepala!" Dengan wajah cemberut, Safitri masuk ke kamar utama dan membanting pintu. Sementara Handoko hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Begitu keadaan sunyi, ekspresi santai di wajah Handoko menghilang, berganti dengan sorot mata tajam khas seorang perwira tinggi. Dia merogoh ponsel dari saku celana. Jemarinya bergerak cepat mengetikkan sebuah pesan singkat yang dingin dan tak terbantah kepada satu nama. "Besok pagi-pagi sekali, temui saya di ruang interogasi kantor pusat, Narendra!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN