Prolog
"Teruntukmu para Jomblo Fisabilillah, teruslah beristiqomah dalam ketaatan, niscaya Allah akan kirimkan pasangan yang terbaik bagimu."
•••
Berulang kali ia menghela napas panjang. Dari helaan napas itu, pertanda dia telah merasa bosan. Tatapan wanita berhijab itu juga sudah lesu. Semua orang yang berlalu-lalang di hadapannya, semakin menambah rasa bosan. Sudah tiga jam dia terjebak dalam ruangan ini, tidak bisa pergi.
“Astaghfirullah, bosan! Masa gak boleh pulang, sih? Acara reuninya juga gini-gini aja, gak ada yang menarik!” ucapannya menggantung tiga detik, karena sempat memikirkan seseorang. “Kalo ada dia sih, mungkin reuninya bakalan lebih menarik.”
Sadar akan ucapannya yang aneh, wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Astaghfirullah, Lala... Sadar! Dia itu harus segera di lupakan! Stop mikirin dia! Kejadiannya udah lama banget, dan kamu harus move on!”
Karena telah lama berada di reunian zaman SMA, Lala benar-benar memutuskan untuk pulang. Takut saja jika terus berlama-lama, nantinya malah bertemu orang itu. Lala tak ingin bertatap muka dengannya lagi.
Bruk!
Namun, ketika hendak berdiri, dirinya menabrak sesuatu hingga tasnya terjatuh. Segera Lala mengambil tasnya yang tergeletak di lantai.
“Maaf, saya gak sengaja, Mbak.”
Deg!
Suara ini. Lala tau benar suara berat ini. Suara dingin yang senantiasa ia dengar sewaktu dulu. Suara yang telah lama menghilang, dan Lala coba kubur dalam-dalam, kini terdengar kembali.
Lala memberanikan mendongakkan kepala. Dan ketika pandangan mereka bertemu, jiwanya merasa terguncang. Memang benar, orang itu.
“Reza?”
Sama halnya seperti Lala, Pria yang di bernama Reza itu juga terkejut. Tak berapa lama, karena dia secepat mungkin mengganti ekspresi. Pria itu tersenyum manis. “Lala, aku gak sangka kita akan ketemu lagi. Di tempat yang sama pertama kali ketemu.”
Meskipun begitu, Lala tetap membalas ucapan Reza dengan senyuman juga. “Tumben dateng. Biasanya nggak, Mantan Ketos. Selalu super sibuk, kan?”
Reza tertawa samar, mendengar ucapan Lala yang terdengar menyindir. “Bukan Ketos lagi, tapi penghulu. Sekarang alhamdulillah gak terlalu sibuk amat kayak dulu.”
Alis Lala saling beradu. “Penghulu?”
“Iya, aku seorang Penghulu. Kerja di kantor KUA. Sibuknya sekarang bukan masalah kesiswaan, tapi pernikahan.”
Mendengar itu, Lala tertawa sekilas. “Sibuk nikahan orang mulu, sendirinya belum nikah.” sontak mata Lala melotot, karena merasa ada yang salah dengan ucapannya tadi.
“Kayaknya aku masih setia Jofisa.” jawab Reza, di sela-sela tawanya yang singkat. Merasa cukup lama bercengkerama dengan Reza, Lala memutuskan untuk bergegas pulang saja. Ia merasakan hatinya tak baik, jika berbicara dengan Reza terlalu lama. Bisa-bisa rasa yang mati-matian ia kuburkan, timbul kembali hanya karena obrolan singkat ini.
“Eum, Za, aku pulang dulu, ya? Maaf banget gak bisa lama, soalnya masih banyak kerjaan di Kantor.
Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumsallam,” tak lama setelah menjawab salam, mendadak Reza menepuk jidatnya pelan.
“Astaghfirullah, lupa minta nomor handphone-nya! Malah udah keburu pulang lagi!”
°°°
“Apa, Ma? Nikah? Tahun ini?!” Sandryna melotot tak percaya Mamanya, yang menatapnya tenang. Kepala
Sandryna menggeleng cepat, menolak mentah-mentah penawaran yang Mamanya ajukan. “Nggak-nggak! Sandryna gak mau, Ma!”
“Alasan kamu gak mau itu apa?"
“Ya..., karena Sandryna belum siap aja! Sandryna masih terlalu muda untuk menikah.” Mendengar jawaban yang anaknya berikan, wanita paruh baya itu menghela napas.
“Umur udah dua puluh empat tahun, apa itu masih bisa dikategorikan muda?” Mamanya mengambil jeda tiga detik. “Sandryna, dalam Islam, menikah tidak mengenal pernikahan dini atau lambat menikah. Semuanya itu sudah Takdir Sang Illahi yang telah tertulis berjuta-juta tahun yang lalu.”
Meskipun begitu, Sandryna tetap menolak. Bermacam-macam alasan ia berikan. “Apa Lelaki itu baik, Ma? Apa dia cocok jadi Suami Sandryna kedepannya? Sudah sempurna-kah layaknya Rasulullah?”
“Emang kamu udah sempurna layaknya Ibunda Khadijah, belum?” sela Mamanya cepat, membuat Sandryna terdiam kaku di tempat.
“Manusia pada hakikatnya gak sempurna, San. Maka dari itu, Menikah merupakan solusi untuk saling menyempurnakan. Saling menyempurnakan Agama!”
“Tapi, Ma, pernikahan itu merupakan ibadah yang terlama! Sandryna takut gak siap dengan semua itu!”
Mamanya menghembuskan napas panjang. Wanita paruh baya itu, kini tengah berdiri memandang anaknya tajam. “Dengan ibadah panjang itulah, kamu bisa mendapatkan pahala yang berlimpah! Astaghfirullah, Sandryna, banyak banget alasan kamu, ya! Mama cuma minta ini aja, gak lebih! Dari dulu juga Mama gak minta hal apa pun! Baru kali ini Sandryna, dan kamu gak mau nurutin!"
Kepala Sandryna tertunduk lemah. Kedua mata Mamanya yang semula tajam, perlahan mengendur melihat anaknya yang tertunduk sedih. Mamanya coba mengontrol emosi, sebelum memulai bicara kembali.
“Kalo kamu gak nikah San, kamu nggak akan diakui sebagai ummat Rasulullah di Akhirat nanti. Dan Mama tau betul, kenapa kamu terus ngelotot nolak pernikahan ini. Karena Juna, bukan?”
Dan benar saja, kepala Sandryna langsung mendongak ketika mendengar nama Lelaki itu. Mamanya melanjutkan pembicaraan lagi. “Sadar nggak Sadar, kamu itu nyatanya udah terjebak maksiat. Selalu mengunjungi Pria itu di Rumah Sakit, berduaan, dan saling menyimpan perasaan satu sama lain hingga Syetan berhasil menyusup masuk. Pria itu gak ada rasa keseriusan untuk menghalalkan kamu, San. Tinggalkan. Sekarang kamu cari jalan aman, supaya gak terjerumus lubang Zinah terlalu dalam.”
Lantas setelah berbicara demikian, Mamanya berlalu pergi meninggalkan dia yang tertimpa kebingungan menentukan pilihan.
°°°
Adzan Maghrib telah berkumandang. Aisyah menyempatkan untuk singgah di salah satu Musholah. Ia takut tertinggal waktu Maghrib yang memang sedikit. Dia juga tengah berada di perjalanan menuju panti asuhan miliknya.
Selesai melaksanakan Sholat, Aisyah menyempatkan diri untuk berdoa. “Ya Allah... Cinta ini asalnya dari-Mu, dan akan berakhir pula di tangan-Mu. Izinkanlah jiwa ini lebih mendekat kepada-Mu. Izinkan raga ini memperbaiki diri, agar menjadi Muratusshalehah yang dirindukan Jannah. Jauhkanlah diri ini dari godaan Syetan laknatullah, agar tak semakin sayang, cinta, dan berharap pada Abdullah. Aamiin...”
Aisyah pun berjalan ke luar Masjid. Ketika kakinya sedikit lagi melangkah keluar pintu Masjid, seseorang menghalangi jalannya. Aisyah tidak mengetahui siapa gerangan yang menghalangi, karena posisi kepalanya menunduk.
Aisyah berdecak kesal. Dia memberanikan diri untuk mendongak. Di saat ia telah melihat seseorang itu, matanya membulat sempurna.
“Alif?”
“Aisyah?”
“Setelah banyak tempat di kunjungi. Setelah ratusan purnama dilalui, kenapa aku dan dia harus bertemu lagi, Ya Rabb? Engkau pertemukan pula kembali di tempat yang sama.” batin Aisyah lirih.
Karena tak ada yang memulai obrolan, Alif yang akhirnya mengalah. “Assalamu’alaikum?”
Terpaksa jika begini, Aisyah harus menjawab. “Wa'alaikumsallam.”
“Gimana kabarnya?”
“Baik, Alhamdulillah,”
Malas bergelut bersama masa lalu, setelah sedikit berbasa-basi tadi, Aisyah memutuskan pergi. “Aku pergi, Assalamu'alaikum.”
Baru lima langkah kakinya berjalan, suara Alif menyahut dari belakang. “Tujuh bulan yang lalu Nabila meninggal!”
Deg!
“Dia nitip salam ke, kamu.” Sambungnya.
Aisyah berbalik. Ia menjawab salam sekaligus menatap Alif antara percaya atau tidak. “Innalillahi wainnailahi raji’un. Aku turut berduka cita, Lif. Maaf, kalo aku nggak bisa datang ngelayat.”
Kepala Alif mengangguk paham, lantas kembali berucap. “Selain nitip salam, dia juga nitip amanah ke kita berdua. Amanah yang tidak bisa di tolak."
“Apa itu?” entah mengapa hati Aisyah merasa ada yang ganjal.
“Kita harus kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda.”
“Maaf banget, aku gak bisa. Aku gak mau balik ke belakang dengan cara menantang masa lalu, karena yang aku cari sekarang adalah masa depan. Assalamu'alaikum.” tanpa menoleh lagi, Aisyah segera berlalu pergi.
Alif menatap lama mobil Aisyah yang berlalu.
Ia tersenyum kecut. “Wa’alaikumsallam, masa depan. Sampai bertemu kembali.”
°°°
Setiap minggu pagi, tidak disia-siakan oleh seorang wanita pengusaha bisnis makanan online untuk berburu makanan. Terik matahari pagi yang bercampur angin dingin, menyapu permukaan kulitnya.
“Eum, Mas, saya pesen satu mangkuk ice cream chocolate white coffee.” ucapnya kepada seorang pelayan Cafe Ice Cream Out Door, dan melangkah pergi mencari tempat duduk.
Tidak lama dari itu, ice cream pesanannya datang.
“Ini, Mbak, ice cream-nya. Selamat menikmati.”
“Ah, ya, terima kasih.”
Kemudian Wanita berhijab merah jambu itu, mulai mencicipi ice cream miliknya. Saking enaknya menikmati, dia sampai tak sadar jika ada seorang Pria yang menatapnya dari seberang. Pria itu melongo kagum, melihat ekspresi Wanita berhijab tadi yang memakan ice cream penuh kenikmatan.
“Wow, hot mom's!” kakinya mulai menyeberang jalan, menghampiri Kedai Ice Cream di seberang. “Target baru, terdeteksi! Jangan sampai lepas!”
Pria tadi memesan ice cream, di saat telah sampai. Pandangannya tak terlepas dari seorang wanita berhijab merah jambu, yang sibuk menikmati ice cream miliknya.
“Mau pesen ice cream rasa apa, Mas?” tanya si Pelayan, tapi tak ada tanggapan. Sekali lagi Pelayan itu bertanya. Volume suaranya lebih ia tinggikan. “Mas! Mau pesen ice cream rasa apa, ya?!”
“Ha?” Pria itu tersentak kaget beberapa saat. “Oh... Ya, ya... Eum, saya pesen ice cream yang sama kayak Cewek yang di sana.”
Arah jari telunjuk Pria itu mengarah, di tatap si Pelayan. Tepat ke arah seorang wanita berhijab merah jambu.
“Oh... Ice cream chocolate white coffee?” kepala Pria tadi mengangguk. “Mau berapa mangkuk?”
“Semangkuk aja. Taruh pesanannya juga di tempat cewek itu, ya?” lantas demikian, Pria itu berjalan mendekat ke arah tempat duduk si Wanita berhijab merah jambu.
Kedatangan seorang Lelaki yang tidak di kenal, membuatnya tersentak kaget. Untung saja ice cream yang dimakannya tidak muncrat keluar. Pria yang seenaknya saja duduk satu kursi di hadapannya, kini menampilkan senyuman.
“Hai!” sapaan Pria itu, tidak di jawabnya. Namun Pria itu tak menyerah. Ia kembali mencari topik pembicaraan. “Sering ya, dateng ke sini?”
Masih tidak ada jawaban. Wanita itu menundukkan pandangan. Sibuk mengaduk-ngaduk ice cream tidak tentu arah.
“Kamu tau nggak, kalo tempat ini dulunya bekas kuburan?” tanyanya lagi, dan sepertinya wanita itu mulai merasa terusik. “Katanya nih, ya, kalo ada yang melamun dan duduk sendirian, bakalan kesurupan. Hih, serem banget, kan? Apa lagi yang diam mulu, tanpa ngomong. Makanya aku coba temenin kamu duduk di sini. Dari pada kamu malah ditemani hantu.”
Di dalam pandangannya yang tertunduk, kedua mata Wanita berhijab itu melotot. Ia merasa jika Pria dihadapannya ini tengah menyindirnya.
Ice cream pesanan si Pria ini pun, akhirnya datang. Ice cream dengan rasa yang sama dengan miliknya, ditatapnya tajam. Sesendok kecil ice cream, mulai dicicipi oleh Pria itu.
“Ice cream ini manis banget, sumpah! Manisnya kayak, kamu.”
Baiklah, dia sudah benar-benar tidak tahan dengan Pria ini. Wanita itu ingin segera beranjak pergi, namun sosok Wanita berambut panjang menghampiri.
“Oh... Jadi gini ya, kelakuan, kamu. Masih aja gak berubah! Matanya tetep aja jelalatan!”
Pria ini meringis kesakitan, akibat Wanita yang baru saja datang ini mencubit kupingnya. Sedangkan Wanita berhijab tadi, menahan tawa melihat Pria dihadapannya mengaduh kesakitan.
“Bukan gitu, Chika sayang. Aku bisa jelasin, kok, tapi aku mohon lepasin dulu jewerannya. Sakit banget, seriusan! Gak bohong!”
“Ini belum seberapa, Daniel!” Wanita berambut panjang itu, semakin memperkuat jewerannya. “Lebih sakit hati aku yang kamu dua-in, dari pada jeweran ini.”
“Seharusnya bukan kupingnya yang dijewer, Mbak, tapi matanya yang di colok. Jelalatan sih, jadi cowok.” celetuk si Wanita berhijab. Dia beranjak berdiri. “Lain kali suaminya di pasung aja sekalian, biar gak bisa keluar nyari yang baru.”
Wanita berhijab itu lantas pergi, meninggalkan si Lelaki tadi yang memandangnya syock.
“Tapi dia bukan bini gue, woy!” teriak Pria itu.
°°°
“Kenapa, lo?” tanya Wanita berambut panjang, menatap Pria yang baru saja datang ini, dengan tawa yang di tahan.
“Kuping gue sakit banget, habis di-jewer Chika habis-habisan!”
Kali ini, wanita berambut panjang tadi sungguh tertawa lepas.
“Pasti lo berbuat onar lagi. Mata lo sih, gak bisa di jaga. Udah punya, masih aja nyari yang baru!”
Lelaki tadi berdecak kesal. Ia masih sibuk mengusap kuping kirinya yang memerah. “Dia itu cuma pacar gue, Nada. Bukan istri gue, jadi terserah gue dong mau ngapain aja!”
Wanita yang di panggil Nada ini, mengangguk saja. Lalu dia melontarkan pertanyaan lagi.
“Terus gimana? Lo putus sama dia?”
Kepala Pria itu mengangguk. “Tapi, tenang aja! Putus satu, bakalan dapet sekali tiga! Dan gue juga sudah ada target.”
Nada tertawa. Memukul pelan lengan Pria itu. “Daniel, kapan sih, lo berhenti memainkan perasaan wanita?”
“Sampai gue puas.” jawab Daniel enteng.
Suasana hening beberapa saat. Diam-diam Nada melirik Daniel. Mulutnya tampak terbuka sedikit lagi, tapi ia tutup kembali.
“Daniel, gue mau ngomong sama, lo.” dengan penuh hati-hati Nada berucap.
“Ngomong aja kali,"
“Gue mau pakai hijab!”
Uhuk! Uhuk!
Daniel terbatuk-batuk hebat, ketika mendengar apa yang baru saja Nada ucapkan. Melihat Daniel yang sebentar lagi mampus, segera Nada menyodorkan air putih. Seketika air putih pemberian Nada, di minum Daniel tandas tak tersisa.
“Bilang sama gue, setan teroris mana yang ngerasuki, lo?”
Kedua mata Nada terbelalak. “Astaghfirullah, Daniel! Gue mau berubah jadi lebih baik, kok, malah dikatai kerasukan setan teroris!”
“Ya, aneh aja mendadak lo mau pakek hijab. Gue ingat banget ya, lo baru makek hijab sejam aja udah kepanasan. Apa lagi seumur hidup? Bisa mati kutu lo, njir!”
“Itu kan, dulu. Sekarang mah, beda. Gue baru sadar, Niel, hijab itu merupakan suatu kewajiban yang mesti dipatuhi setiap wanita Muslimah. Akhlak gue memang belum baik untuk berhijab, tapi setidaknya gue taat. Masalah akhlak, bisa di perbaiki sembari beristiqomah dalam berhijab.”
Daniel diam. Ia coba memikirkan yang terbaik untuk keputusan masalah Nada ingin berhijab. Sedangkan Nada tetap gencar membujuk Daniel.
“Iya-iya, gue setuju lo pakek hijab.” Seketika senyuman mengembang di bibir Nada. Namun hanya sebentar, saat Daniel melanjutkan ucapannya lagi.
“Tapi, lo harus resign dari kantor Helvin.”
Nada terbelalak mendengar itu. “Lah, kok, gitu? Gak bisa gitu, lah!”
“Bagi gue bisa,” Daniel mengambil jeda tiga detik. “Kantor Helvin kan, sangat menentang karyawatinya pakek hijab. Cepat atau lambat, lo juga bakal di pecat kalo pakek hijab. Lo juga tau, CEO Helvin Gold Billing Company itu, musuh pebuyutan gue.”
“Tapi, Niel... CEO itu kan, gak ada di kantor tempat gue kerja. Dia adanya di kantor pusat. Di Korsel! Lagian selama gue kerja di sana, belum pernah ketemu sama musuh lo, jadi lo tenang aja.”
Supaya lebih meyakinkan Daniel lagi, Nada memasang wajah super memelas. Jika Nada sudah memasang baby face-nya, pertahanan Daniel pasti runtuh. Bukan merasa kasihan, melainkan jijik untuk melihat wajah Nada yang di buat-buat memelas.
“Oke, oke! Lo boleh pakek hijab, dan terserah elo mau tetep kerja di kantor Helvin atau nggak! Bodo amat!”
Sontak Nada bersorak riang, tak henti-hentinya berterima kasih pada Daniel. Segala macam pujian ia lontarkan. “Makasih, Daniel, Abang Sepupu gue yang terbaik! Atas kebaikan lo, gue do'ain lo makin ganteng, makin tajir, dan semoga kembali ke jalan yang benar!”
Bola mata Daniel berputar malas. “Kembali ke jalan yang benar? Lo pikir selama ini gue terjebak dalam kesesatan?”
“Bukan sih, tapi lebih tepatnya terjebak dalam kemaksiatan.” Jawab Nada, sembari tertawa samar.
Agar suasana tidak terjadi keheningan, Daniel coba melontarkan pertanyaan. “Eh, btw, tentang hijab... Kenapa mendadak lo mau pakek hijab? Gue tau banget, pasti ada yang bujuk, lo. Gue kenal sifat lo, Nad.”
Nada tertawa kecil. Wanita itu menggaruk rambutnya yang tak gatal. “Emang sih, sebenarnya ada yang membuka mata hati gue supaya cepet berhijab. Dan gue sangat berterima kasih banget sama orang itu.”
“Siapa?”
“Aisy. Sahabat gue sekaligus partner bisnis yang kita tunggu sekarang.”
Kepala Daniel mengangguk berkali-kali. Mulutnya ber-O ria membentuk bulatan. Daniel lantas berucap lagi.
“Gue jadi penasaran Aisy itu orangnya gimana, sampai bisa merubah pola pikir lo tentang hijab.”
“Rasa penasaran lo gak akan berlangsung lama, kok. Paling, sebentar lagi dia datang. Mungkin ngaret, karena macet.”
Tiga menit kemudian, orang yang di bicarakan benar-benar datang. Salam yang di berikan wanita itu ketika sampai, membuat Nada dan Daniel menoleh bersamaan.
“Assalamu'alaikum...”
“Wa'alaikumsallam, hei, Aisy... Apa kabar?” tanya Nada girang, begitu Aisy baru sampai.
“Alhamdulillah kabar gue baik, dan lo pun juga sama pastinya.”
Dan di sana, pandangan Daniel terpaku. Matanya tak berkedip menatap Aisy. Sadar sedari tadi di tatap, Aisy pun mulai bertindak.
“Mas, matanya tolong di jaga. Udah makek baju tertutup gini, masih aja pandangannya gak bisa di tundukin. Masih gak kapok apa, di jewer tadi?”
Mendengar celotehan Aisy yang panjang lebar, Nada hanya bisa tertawa menanggapi.
Tiba-tiba bibir Daniel tertarik membentuk senyuman. Tubuhnya ia condongkan lebih ke depan.
“Halo, hijabers cantik. Kita ketemu lagi.” matanya berkedip nakal sebelah dan kedua wanita di hadapannya berekspresi geli.
Bersambung....