Kutu buku

1442 Kata
"Woy, gilak... Lo yakin mau jadi kapten basket?" ujar Nilam teman sekelasnya yang memimpin team cheerleaders sekolahnya. Semua orang sontak menandangi Bara yang nampak duduk sendiri dengan buku di tangannya. "Minggir lo cewek ember." sahabatnya yang semalam menelepon Bara ikut bergabung duduk di salah satu bangku kantin, ia sudah menyodorkan segelas es teh manis favorit sahabatnya itu yang langsung di minum olehnya. "Apaan sih krebo, gangguin aja deh." Nilam sewot memandangai Fikri yang menatapnya dingin penuh permusuhan. "Kalian berdua ribut melulu, nanti jodoh loh." Wilson ikut bergabung duduk di sebelah Bara sambil menikmati bakso miliknya. "Idih ogah." keduanya serempak menyahut ucapan Wilson hingga membuat lelaki berwajah bule itu melongo takjub dengan kekompakan mereka. "See, bahkan kalian berdua kompak paduan suara." ejek Wilson sambil menyuapkan bakso ke mulutnya. "Lo nggak papa kan bro, tahun ini turun dari jabatan lo?" Wilson menoleh sekejap ke arah Rafael tapi kembali menikmati bakso miliknya, tapi tangan kirinya membentuk simbol 'ok' dengan mulut sambil mengunyah menikmati olahan daging sapi ternikmat menurutnya. "Bara sahabat gue, dia sudah kayak suolmate bagi gue bro. Ya nggak?" ujar Wilson sambil terkekeh geli melihat raut wajah Bara yang nampak risih dengan ucapannya. "Kalian makanlah, gue yang bayar." ujar Bara lantas beranjak dari duduknya, meninggalkan beberapa sahabatnya yang nampak bahagia karena makan gratis lagi. "Arabela dia?" Wilson menghentikan gerakannya saat mendengar Rafael menyebut nama gadis itu di hadapannya. "Kenapa dia?" ujar Wilson kembali menikmati baksonya. "Tadi dia pergi sama pria dewasa, ganteng banget." Fikri langsung menatap wajah Wilson yang nampak biasa saja, dirinya benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Wilson. "Lo yakin nggak ada perasaan sama sekali ke Ara bro?" tanya Fikri yang begitu penasaran hingga ia akhirnya melontarkan kalimat itu ke sahabatnya. "Sumpah bro, gue bingung gimana harus nolak dia." Wilson nampak frustasi saat dirinya lagi-lagi di cecar pertanyaan yang sama mengenai perasaan Arabela kepadanya. "Lo nggak kasian sama dia? Lo mustinya jujur sama dia bro!" ujar Rafael yang greget dengan sikap Wilson selalu klemar klemer bila di hadapkan oleh gadis kembaran sahabatnya. "Lo pada kayak nggak tau aja gimana sifatnya." Wilson sewot menatap kedua sahabatnya. "Bahkan abangnya sendiri pun nggak bisa bantu gue, apalagi gue yang hanya mampu pasrah di jadiin pacar dia." Wilson mengutarakan perasaan isi hati nya, hingga Rafael dan Fikri seolah langsung mengerti dengan rasa tak nyaman yang di alami oleh sahabatnya itu. "Gue nggak mungkin sakitin perasaan dia, kasian tau...!" Ketiganya menghela nafas panjang, dilema yang menerpa masing-masing pada mereka seolah berputar-putar mengelilingi ke empatnya. "Bokap lo udah balik?" Wilson menggeleng. "Berarti kita bisa main lagi ke rumah lo dong?" tambah Rafael penuh semangat sambil menggoyang pundak Wilson. "Terserah kalian, tapi malam ini gue akan menemani dia di rumah sakit." ujar Wilson lirih membuat Fikri menepuk pundak Wilson. "Sabar bro." "Iya bro, mudah-mudahan dia cepet sembuh." "Thanks guys..." Wilson tersenyum haru memandangi kedua sahabatnya, hanya mereka lah yang mengerti perasaannya selama ini. "Permisi, boleh saya minta tolong?" Ketiganya menoleh ke arah belakang memandang siapa yang memanggil mereka. "Ya, ada apa?" "Maaf kak, boleh tanya ruang ketua osis di mana ya?" ketiganya menatap heran gadis di hadapan mereka. Wilson, Rafael, serta Fikri saling pandang dan akhirnya tersentak saat seseorang menjawab pertanyaan gadis itu. "Di sebelah ruang tata usaha. Lo jalan lurus aja dari sini, lalu belok kiri dua kali dan ruangan paling pojok." ujarnya mengarahkan jalan untuk gadis di hadapan mereka. "Terima kasih kak..." gadis itu tersenyum tipis lantas berlalu meninggalkan mereka. "Dari mana aja lo bro?" "Ada urusan sebentar tadi Wil. Maaf gue nggak ikut tanding hari ini." "Cih, lagak lo kayak orang penting Gas." Rafael melempar kulit kacang ke wajah Bagas, tapi sahabatnya itu hanya terkekeh. "Gue emang penting bro, kalo lo lupa." "Iyeee percaya deh, pak bos butik kita." Keempatnya tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Fikri. Sahabatnya itu paling benci dengan pekerjaan Bagas yang menurutnya itu hanya cocok untuk dunia para makhluk bernama wanita. "Ntar sore kalian mau kemana?" Bagas pun ikut makan kacang yang sudah berserakan di meja kantin tempat mereka duduk. "Tadinya sih mau ke tempat Wilson ya bro." "Terus?" "Nggak jadi aja deh, orang ntar malem dia pergi." ujar Rafael membuat Bagas mengerutkan dahi tak mengerti. "Emang mau kemana ntar malem lo bro?" Bagas menatap Wilson yang sedari tadi juga sibuk mengupas kulit kacang. "Haha, ada urusan sedikit." Wilson menendang kaki Rafael juga Fikri berharap keduanya tidak keceplosan. "Aoutch, berengsekk lo. Sakit tau." Rafael mengusap tulang keringnya nampak kesakitan karena tak siap dengan serangan Wilson. "Kalian kenapa sih?" Bagas menatap Rafael serta lainnya bergantian tapi tak satupun dari mereka menjawabnya. "Gue cabut dulu, mau nyontek catatan Bara." Fikri segera beranjak dari duduknya, karena untuk sekarang kabur adalah alasan yang tepat agar hidupnya aman tak bermasalah bila harus berurusan dengan Bagas. Sahabatnya itu sangat sensitif dan mudah emosi bila melihat mereka tak setia pada masing-masing pasangannya. Maka dari itu menghilang dari hadapan mereka adalah keputusan yang tepat. "Kenapa dia?" Bagas memandang punggung Fikri yang mulai menjauh dari kantin. "Lo kenapa nggak ikutan turnamen tadi?" Rafael mencoba mengalihkan pembicaraan agar semua nampak baik-baik saja. "Nyokap gue jatuh dari tangga." "Sumpah lo, terus gimana keadaannya sekarang?" seru Rafael yang terkejut mendengarnya, Wilson pun melotot tak sabar mendengar kabar ibu dari sahabatnya itu. "Nggak papa kok, kakinya hanya terkilir doank. Mungkin nanti siang udah pulang sama bokap gue." "Syukurlah, semoga tante Gina lekas sembuh bro." Bagas mengangguk lantas tersenyum tipis, mereka bertiga berbincang sambil menikmati kacang kulit kesukaan mereka. ***** Tok, tok, tok. "Permisi kak, ada apa kakak mencari saya?" Bara yang sedang membaca buku di tangannya menoleh menatap gadis berpenampilan biasa dengan kaca mata tebalnya. "Masuklah, dan tutup pintunya." perintah Bara, ia lantas menutup buku miliknya dan memperbaiki duduknya sambil menatap gadis yang sedari tadi berdiri tak bergeming dari tempatnya. "Apa kamu akan berdiri saja di situ?" ujar Bara datar membuat gadis di hadapannya gugup sambil memperbaiki kacamatanya yang hampir jatuh karena menoleh cepat menatap Bara. "Ma-maaf kak." "Duduklah." Bara menatap gadis itu yang nampak canggung melangkah ke arah sofa, lantas ia berdeham agar gadis itu bergerak cepat tanpa perintah Bara untuk kedua kalinya. "Jadi kamu yang mendapat peringkat pertama di tahun ini?" ujar Bara dingin, ia memperhatikan gadis yang duduk gelisah dengan tatapan penuh intimidasi membuatnya muak seolah itu semua hanyalah topeng. "Ma-maafkan saya kak." "Maaf?" lagi-lagi Bara berkata dingin. "Sa-saya tidak bermaksud untuk membuat kakak kecewa." Bara berdecih tak suka menatap gadis itu, dia menghela nafas panjang karena marah dengan orang di hadapannya tak akan merubah keadaan. "Kamu tau? Karena kamu, orang tua saya hampir mengirim saya ke Inggris." Gadis itu mendongak cepat menatap Bara, mata mereka bersibobrok membuat masing-masing dari mereka mematung beberapa detik dengan perasaan aneh yang muncul begitu saja. Bara menghirup udara dalam-dalam, sepertinya ia tadi sempat lupa bernafas karena terpesona dengan sorot mata gadis di balik kaca matanya itu. "Ka-kamu boleh keluar." perintah Bara lalu mendeham, tiba-tiba dirinya merasakan udara di dalam ruangan begitu tipis membuatnya tak nyaman. Bara beranjak dari duduknya, tubuhnya berbalik ke arah lain yang entah kenapa berada dekat-dekat dengan gadis culun itu membuat darah Bara mendesir. "Sekali lagi maafkan saya kak. Saya tak berniat membuat kakak sakit hati karena saya, saya permisi." mata Bara melotot mendengar pernyataan yang keluar dari mulut gadis itu. Ia segera berbalik saat gadis itu sudah membuka pintu ruangan osis. "Tunggu." seru Bara, ia menelan ludah susah payah saat melihat gadis itu kembali menatapnya. "Si-siapah nama kamu, ekhm." lagi-lagi Bara mendeham karena tak kuasa menatap mata gadis itu. "Saya Dara kak, Adara Cole Westwood" ujarnya sebelum akhirnya tubuhnya menghilang dari balik pintu. "Haaahhh...." Bara menghirup dalam-dalam udara lantas menghembusnya dengan panjang. "Gadis itu, gadis itu... Kenapa gue punya nomer ponselnya." entah apa yang terjadi padanya, jantungnya berdetak dengan kencang saat mata mereka saling bersibobrok. "Sial." umpatnya sambil mengusap rambutnya begitu frustasi. "Gue bahkan mengagumi suaranya, lo gila Bara, lo gila...." Bara berjalan mondar-mandir tak tentu arah begitu gelisah. "Siapa tadi namanya?" Bara sontak menghentikan gerakannya, matanya berkeliaran menatap tak jelas. Otak nya berfikir sambil memutar kembali suara merdu yang keluar dari gadis berpenampilan culun tadi. "Dara?" Bara melotot, akhirnya ia bisa mengingatnya. Senyumnya berkembang saat nama itu langsung tercatat di otaknya. "Yaaaa... Namanya Dara. Adara Cole Westwood." Bara mengangguk sambil menyeringai matanya menyipit karena ia memiliki rencana yang luar biasa cemerlang. "Gue nggak tau lo siapa, tapi karena lo hidup gue berantakan." ujar Bara penuh kebencian, seakan dia lupa dengan tingkahnya yang tadi menjadi konyol hanya karena tatapan mata gadis itu. "Kutu buku! Nama itu lebih cocok untuk lo gadis culun." Bara tergelak mengiyakan ucapannya, ia merasa berterima kasih entah kepada siapa yang sudah menulis nama serta nomor ponsel Adara dengan sebutan kutu buku. Bara beranjak dari ruangan osis karena jam sudah menunjukan waktu pelajaran di mulai kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN