Tak sesuai rencana

1448 Kata
Waktu berlalu begitu cepat setelah hari dimana Bara menemui gadis yang menurutnya culun membuat dirinya seolah ketiban sial mengingat nasibnya yang hampir saja di asingkan di negara asing. Bukannya menjadi baik tapi gadis itu malah membuatnya sebal. Bagaimana tidak. Gadis yang menurutnya aneh itu, malah bertingkah semakin aneh dan selalu menghindar ketakutan seakan-akan dirinya itu hantu. Padahal dalam hati Bara penasaran ada apa dengan gadis itu, hingga tahun ajaran berganti dan dirinya berhasil menjadi peringkat pertama lagi tingkat ibu kota. Sampai sekarang pun gadis itu bak hilang di telan bumi. Bara gregetan setiap jam istirahat, dirinya menghampiri setiap kelas namun tak menemukan gadis bermata hanzel itu. "Lo kenapa sih, nggak kasian tu sama mereka?" ujar Rafael heran dengan sikap Bara yang bertingkah tak biasa selama setahun dengan berjalan mematroli setiap ruangan seangkatan mereka. "Berisik lo ah, lagian ngapain juga lo buntutin gue sih." Bara berdecak sebal melirik tak suka ke arah Rafael, kenapa juga ini bocah ribet ngikutin kemana aja Bara pergi. Menarik perhatian para gadis yang haus belaian saja, batin Bara. "Woy lo berdua. Udahan tebar pesonanya guys, buruan bantuin kita di lapangan." seru Bagas yang berdiri berkacak pinggang di ujung lorong. Bara menoleh ke arah Rafael, ia tersenyum penuh arti saat Rafael tak bisa membuntutinya lagi. "Lo duluan, gue masih ada urusan." Bara mendorong pelan pundak Rafael agar sahabatnya itu lenyap secepatnya dari hadapannya. "Dasar bocah aneh dia, udah masuk di sekolah ini karena bea siswa. Eh peringkatnya malah merosot, dasar gadis culun." Bara mendengar jelas percakapan para gadis yang berjalan di depannya, dirinya terpaksa menguping karena ingin memastikan apakah yang di maksud mereka adalah gadis yang selama ini dia cari. "Jangan gitu... Yang lo sebut culun itu kunci jawaban kita di kelas bestie. Hahaha." ketiga gadis yang berjalan bak peragawati merasa cantik itu, membuat Bara ingin sekali muntah di masing-masing wajah mereka. "Eh tapi dia di mana sih, kayaknya selama ini kita nggak pernah melihat dia jajan di kantin?" Bara memasang telinganya baik-baik, dirinya deg-degan seolah menanti hadiah lotre saat mendengar jawaban dari salah satu mereka. "Ya lo kayak nggak tau aja sarang dia." "Sarang?" gumam Bara sendiri yang semakin penasaran dengan jawaban salah satu dari ketiga gadis itu. "Oh, si kutu buku memang tempatnya di sana sih." mereka bertiga tergelak seolah orang yang mereka maksud adalah bahan yang pantas untuk dibuat lelucon. Bara berhenti di tempat tak lagi mengikuti langkah mereka, sejenak ia berfikir dengan apa maksud kalimat terakhir yang ia dengar. "Sarang...?" gumam Bara lagi, berharap otaknya mampu melakukan telepati saat ini. Matanya membulat dengan mulut menganga, dirinya menyadari apa maksud dari perkatan gadis tadi. Ia beranjak dari tempatnya, berlari menelusuri koridor sekolahan. Berharap apa yanga ada di pikirannya sekarang adalah sarang yang di maksud gadis berpenampilan rainbow cake. Dengan berpenampilan warna warni, kaya akan cita rasa. Ck.. Ck... Ia bernafas terengah-engah setelah hampir lima menit berlari menuju tempat yang ia maksud. Dirinya mengatur nafas, memasang wajah datarnya seperti biasa, lantas masuk ke sebuah ruangan sarang Dara yang Bara yakini tempat itu adalah perpustakaan sekolah. Langkahnya pelan memutari sederetan rak tinggi berisi buku yang berjejeran. Kemana gadis itu...? gumamnya dalam hati. Mata Bara menyapu setiap sudut ruangan hingga akhirnya ia menyerah dan berniat pergi dan melangkah keluar dari perpustakaan tersebut. "Makasih banyak ya kak Dara." Bara mendadak mematung saat matanya menangkap sosok yang selama ini ia cari. "Sama-sama, maaf ya kalo saya nggak bisa datang malam ini ke rumah kamu. Saya harus membagi tugas untuk les kalian." "Ah nggak papa kak, begini saja sudah cukup." Dara menghela nafas lega mendengar itu. "Sekali lagi maaf ya, dan makasih sudah mau ngertiin saya." seseorang yang bercakap dengan Dara itupun pamit dan meninggalkannya seorang diri. Melihat itu, Bara akhirnya mendekat menghampiri Dara. "Apa kita bisa bicara sebentar?" Bara gugup bukan main, dirinya tahu kehadirannya yang mendadak, akan membuat gadis itu heran dan juga terkejut. Dara menatap wajah Bara sekejap, ia menghela nafas panjang dan merapikan semua barang miliknya, berniat menghindari lelaki yang berdiri menjulang tinggi di hadapannya. "Tunggu...!" Bara menahan lengan Dara yang membisu berlalu melewatinya, rasa-rasanya ingin sekali ia menyeret gadis itu ke ruang pribadinya agar orang sekeliling mereka tak memperhatikan percakapanya dengan Dara seperti sekarang ini. "Ikut aku." perintahnya, ia sudah tak nyaman disana. Persetan dengan mata mereka, yang jelas Bara tak ingin perasaannya menggila seperti kemarin-kemarin. "Lepasin." Dara mencoba berontak tapi sia-sia karena genggaman tangan lelaki itu sangatlah kencang. "Lepasin kak, sakit..." ujarnya lagi memohon agar Bara melepaskan dia. Tapi lelaki itu seolah tuli tak menggubris keluhannya, hingga tak terasa air mata Dara keluar karena merasa tak nyaman dengan tatapan sinis dari para gadis yang selama ini terang-terangan tertarik pada Bara. "Saya bilang lepasin." seru Dara menyentak kencang tangannya, hingga akhirnya ia bisa terlepas dari genggaman Bara. "Jalan sendiri ikut aku, atau kamu memaksa aku menggunakan cara lain?" ujar Bara dingin penuh intimidasi, tapi hal itu seolah tak lagi membuat gadis itu takut padanya. "Maaf, saya harus kembali masuk kelas." Dara menolak, ia yang hendak menghindari Bara pun gagal, sontak ia memekik terkejut karena tubuhnya melayang sebab Bara menggendongnya ala bridal style. "Kakak gila? Turunin saya kak!" Dara panik bukan main, dapat di lihat mata Bara penuh amarah membuatnya takut dan bergidik ngeri. Bara melangkah cepat hingga akhirnya mereka berdua masuk ke dalam ruang ketua osis. "Apa yang kakak lakukan?" Dara melotot tak percaya dengan tindakan Bara, setelah ia turun dari gendongan lelaki itu rasa-rasanya Dara ingin sekali menampar wajah tampan yang lancang menyentuhnya. "Kita harus bicara Dara." ujar Bara dengan nada rendah, tangannya mencoba meraih Dara tapi gadis itu selalu melangkah mundur ketakutan. Hal itu membuat Bara frustasi, dirinya tak berniat membuat Dara terkejut atau semakin takut kepadanya. Bara menyusupkan jemarinya di rambut dan menghempaskan tubuhnya duduk di kursi tunggal. "Oke, aku nggak akan menyentuhmu lagi. Dan maaf hal itu membuatmu tak nyaman." ujar Bara menyesal kepalanya menunduk berharap Dara sudi mendengarkan penjelasan dari Bara. "Saya harus pergi." "Dara... Please... Kita harus bicara sebentar, beri aku waktu lima menit. Dan jangan lagi kamu menghindariku." Bara tidak tahu harus berkata apa lagi di hadapan gadis itu, wajahnya sekarang bahkan memelas berharap Dara mau menuruti permintaannya. Ayolah, itu hanya lima menit. "Maaf kak, saya tidak bisa." Dara tersenyum tipis lantas berbalik tapi detik berikutnya tubunya tertarik ke belakang dan menabrak d**a Bara. Sumpah posisi ini membuat jantung keduanya berpacu begitu cepat, bahkan Bara dapat melihat jelas rona merah di pipi gadis itu, meskipun ia sendiri merasa malu dan canggung. "Jangan memaksaku bertindak lebih Dara." desis Bara di sela-sela giginya, ia menarik dagu gadis itu lantas menyambarnya begitu kasar mempertemukan bibir mereka hingga Dara terkejut, dan terpaksa melayangkan tamparan keras di pipi Bara. "What you doing assholee...!" pekik Dara sembari mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, matanya langsung bercucuran karena Bara telah berani melecehkannya. Bara sendiri terkejut dengan perbuatannya, matanya bisa menangkap jelas raut wajah kecewa dan penuh dengan kesedihan di wajah Dara. "Ma-maaf..." otaknya seolah buntu bahkan tak tahu kalimat apa yang pantas untuk mengutarakan penyesalannya. "I hate you..." seru Dara yang masih terisak hingga langkahnya mundur pelan dan akhirnya berlari keluar dari ruangan ketua osis itu. "Arrrggghhhh...." Bara geram, hingga ia meninju papan tulis berwarna putih di ruangan itu. "Lo bodoh Bara, lo benar-benar bodoh." nafasnya memburu mengingat tindakan cerobohnya terhadap Dara yang tak sesuai rencananya dari awal, rasanya sekarang tangannya ingin sekali meninju apa saja agar amarahnya tersalurkan. "Hey, lo gila bro?" Wilson dan ketiga sahabat lainnya dan satu gadis yang termasuk bagian dari anggota osis terkejut melihat kekacauan di ruangan osis. "Lo kenapa Bara? Ada apa dengan tanganmu itu ?" pekik Nilam saat mengetahui darah menetes dari sela-sela jari Bara. Rafael, Fikri, Wilson, dan Bagas sontak memandangi arah mata Nilam. Mereka melongo melihat Bara seakan tak merasakan sakit sama sekali. "Bro obatin dulu luka lo." seru Rafael dengan sigap mengambil kotak p3k, Wilson yang pada dasarnya sudah pernah mempelajari ini pun bergerak cepat membalut luka Bara. "Lo keluar dulu ya, ada yang ingin kita bicarakan, dan ini urusan lelaki." ujar Bagas kepada Nilam, dan langsung diangguki gadis itu yang dengan cepat beranjak keluar dari ruangan. "Lo kenapa bro?" tanya Fikri. "Sepertinya gue setuju dengan usulan bokap gue untuk nerusin sekolah di UK." ujar Bara lirih setelah bisa mengontrol amarahnya. "Lo nggak bercanda kan?" Bara menggeleng, ia mengambil ranselnya dan berpamitan kepada ke empat sahabat untuk pulang lebih awal. "Sebenarnya kenapa sih dia?" Fikri yang paling sensitif terhadap kondisi situasi dengan hati sahabatnya mengerutu heran dengan sikap Bara. "Sudah, biarin dia tenang dulu. Mungkin dia lagi ada masalah." ujar Bagas menengahi lantas membantu Wilson membersikan serpihan kaca figura, serta papan tulis yang sudah berlubang karena menjadi korban amukan Bara. "Bocah gemblung itu selalu saja merusak barang berharga kalo lagi kumat seperti itu." gerutu Rafael yang di tanggapi kekehan sahabat lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN