Seperginya dari ruangan osis, Dara berlari di sepanjang koridor sekolahan dengan mata yang basah. Berkali-kali menabrak seseorang yang menghalangi jalannya, dan berkali-kali juga ia minta maaf kepada mereka.
Menjadi bahan cacian serta bully'an dari mereka bukanlah hal baru baginya.
"Mata lo butaa ya..." umpat seseorang yang hampir saja terjungkal karena bertubrukan dengannya.
"Ma-maaf kak, saya tidak sengaja." tubuh Dara gemetaran memandang lelaki yang memasang wajah garang di hadapannya. Yang menjadi kebiasaannya adalah menunduk serta terima begitu saja saat mereka membalas perlakuan hal keji kepadanya yang kadang tak masuk akal.
"Alah... Bilang aja lo sengaja, hah?" bentaknya lalu dengan lancang menjambak rambutnya.
Dara kesakitan, ia sampai mendongak karena tarikan rambutnya yang begitu kencang.
"Ah... Ti-tidak kak, saya-"
"Anjeeng siapa yang lempar kepala gue pake ini?" seru lelaki yang ia tabrak tadi, hingga Dara tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Kalo berani muncul lo, berengsekk." umpatnya yang celingukan mencari-cari tersangka pelempar kayu berbentuk balok guna menghapus papan tulis.
"Gue hitung sampe tiga, kalo dari kalian nggak ada yang ngaku. Gue bakal-"
"Bakal?" mereka menoleh ke arah sumber suara. Raut wajah dingin, mata tajam serta langkahnya yang tegap membuat tubuh Jack gemetaran saat sosok lelaki bertubuh kekar menjulang tinggi berjalan ke arahnya.
"Ah lo Bar... Hehe, ini lho gue cuma cari orang rese yang ngelempar gue pake beginian." ujarnya meringis bak pencundang, karena wajah garangnya luntur sudah setelah berhadapan dengan Bara.
"Terus?"
"Ya gue pengen bikin perhitungan aja sama tu orang."
"Kalo gitu lakuin." ujar Bara.
"Hah, maksudnya?"
"Ya lakuin aja sekarang."
"Apanya?" tanyanya yang semakin tak paham dengan ucapan Bara.
"Katanya lo mau bikin perhitungan sama tu orang."
"Iya, emangnya kenapa?"
Bara menyeringai, ia melangkah maju menatapnya yang tingginya sebatas dadanya saja.
"Gue orangnya." ujarnya lirih sambil sedikit menuduk tepat di hadapannya.
"Gue orang yang lo sebut rese itu, yang ngelempar lo tadi."
Jack melotot, meskipun ia gemetar ketakutan. Tapi ia masih berlagak garang, karena tak ingin malu di depan teman sekolahnya.
"Maksud lo apa?"
Bara menegakkan tubuhnya lantas berdiri di samping Dara.
Dengan sikap Bara yang berani merangkul pundaknya, membuat perasaan Dara gelisah serta was-was. Ia mencoba menyingkirkan lengan besar yang nyangkut di pundaknya. Tapi sialnya, si pemilik tangan itu malah sengaja mengeratkan rangkulannya hingga tubuh mereka semakin merapat.
"Lepasin kak." ujarnya lirih kepada Bara.
"Maksud gue?" Bara terkekeh lantas melepas rangkulannya, tapi itu bukan karena permintaan Dara.
Bara menarik kasar kerah Jack, ia menatap tajam pemuda itu penuh amarah.
"Jangan menyakiti atau menyentuh bahkan itu ujung kukunya, karena kalo tidak..." Bara melakukan gerakan menggaris leher menggunakan ujung ibu jarinya, ia lantas tersenyum tipis melihat wajah pecundang dihadapanya yang berdiri semakin gemetaran dan mungkin saja sebentar lagi akan ngompol.
"Kalo tidak? Apa yang akan lo lakuin pada kita?" Bara menelengkan kepala sedikit menatap ke arah gadis yang berdiri di belakang Jack, ia menyilangkan kedua lengannya di atas perutnya dengan tatapan angkuhnya.
Bara pun menyingkirkan tubuh Jack dengan mendorong kepalanya pelan kesamping kanan agar tak menghalangi pandangannya, menatapnya datar, sepertinya ada yang ingin bermain-main dengannya, pikir Bara. Ia pun memasukan kedua tangan ke saku celananya, lantas mengangkat kedua alisnya seolah menerima tantangan gadis di hadapannya.
"Bakal gue hancurin hidup siapapun yang mengganggunya." ujar Bara tenang tapi cukup membuat gadis itu tercengang dan segera memperbaiki raut wajahnya lantas tergelak seolah ucapan Bara adalah sebuah lelucon.
"Sejak kapan lo peduli sama cewek culun ini, cih." ujarnya mendecih lantas memandang jijik ke arah Dara.
"Sejak lo menganggumi gue, dan mengirim foto telanjang lo ke gue." ujar Bara menyeringai, ia sangat menikmati wajah-wajah sampah pecundang tak tahu diri seperti mereka.
Bara lantas melangkah mendekati Dara dan meraih jemari gadis itu. Menariknya pergi dari kerumunan para domba dunguu, tapi langkahnya terhalang karena gadis yang menantangnya menahan lengan satunya.
"Lo suka sama jalaang ini?" Tak suka dengan ucapan itu, wajah Bara menatapnya marah dan itu berbeda jauh dengan Dara, seluruh tubuhnya tak berdaya saat mendengar kata-kata tak pantas itu tertuju padanya. Kakinya yang tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk berdiri membuatnya sedikit terhuyung tapi dengan sigap Bara menahan dan merengkuh tubuhnya.
"Dengar ya Jes." Bara langsung membopong tubuh Dara tanpa mempedulikan raut wajah keruh Jesica.
"Di sini, yang pantas mendapat julukan itu adalah lo sendiri." ujarnya dingin lantas berbalik hendak beranjak dari hadapan gadis gila itu.
Tapi Bara berhenti di langkah pertamanya, ia menoleh kembali menatap gadis yang sudah berdiri gemetar dengan tatapan sulit di artikan.
"Dan lo benar... Gue memang suka sama gadis yang kalian sebut culun ini, karena dia lebih berharga daripada kalian yang rela membuka paha kepada pria-p****************g di luar sana." ujar Bara lagi yang memang geram dan muak dengan tingkahnya.
"Lo..." matanya melotot nafasnya menggebu jelas tak terima dengan ucapan Bara.
Bara hanya tersenyum sinis dan berlalu meninggalkan tempat itu. Ia tak lagi mempedulikan teriakan Jesica yang mengumpat sumpah serapah kepadanya.
Dara melongo dengan sikap Bara.
Dan dari bawah sini dirinya bisa melihat jelas wajah Bara.
Meskipun hatinya sedih mengingat tatapan sengit dari orang lain saat memandangnya, Dara mulai merasa nyaman berada di dekat Bara. Ia bahkan mulai mengaggumi pemuda itu, yang sekarang tepat di depan matanya.
"Sudah puas memandangiku?" ujar Bara tanpa menoleh kepadanya.
Dara meringis, ia menutup rapat matanya karena malu saat kepergok menatap lekat rahang tegas Bara.
"Biar aku antar pulang."
Dara langsung membuka mata lebar-lebar, dirinya lantas melompat saat Bara hendak menurunkannya dan membuatnya ambruk dengan tubuhnya yang lumayan keras menghantam lantai parkiran sekolah.
"What you doing?" melihat aksi gadis nekat itu, benar-benar membuatnya terkejut dan langsung pusing di buatnya.
"Saya pergi dulu kak." pamitnya, tetapi Bara dengan sigap menarik kerah bajunya bagian belakang, seolah Dara itu adalah kucing.
"Mau kemana, hmm?"
"Lepasin kak." ujar Dara yang memaksa mengurai cengkraman tangan Bara namun itu hanya sia-sia.
"Lepasin kak, saya kecekik ni." rengeknya, sama sekali tak di hiraukan Bara.
Lelaki itu langsung menyambar lengan Dara dan mendorong tubuhnya agar masuk ke dalam mobilnya.
"Aku bilang, aku antar pulang." ujarnya setelah duduk di balik kemudi.
Bara yang mengejutkan Dara karena tubuhnya mencondong ke arahnya, membuat gadis itu menutup rapat-rapat wajahnya, karena dia pikir dirinya akan mendapat serangan tak terduga lagi.
Klik... bunyi sabuk pengaman yang sudah menyilang di dadanya membuat Dara langsung membuka mata dan menatap tali berwarna hitam itu hingga tak sengaja menjadikan wajah mereka berdekatan.
Mata mereka bersibobrok. Lagi-lagi detakan jantung yang bak genderang mengiringi deru nafas mereka.
Dara yang mulai menyadari rasa tak nyaman itu, ia langsung mendeham dan membuyarkan pesona Bara terhadapnya hingga suasana di dalam mobil begitu nampak canggung.
Bara menjelaskan bahwa dirinya hanya membantu memakaikan sabuk pengaman Dara, karena signal yang selalu berbunyi bila tak mematuhi peraturan berkendara.
"Sudah sampai." ujarnya yang memarkirkan kendaraan di depan halaman rumah kecil.
Dara melongok ke depan memastikan, lantas dirinya berniat melepaskan sabuk pengamannya tapi entah kenapa malah tersangkut.
"Sini aku bantuin." ujar Bara.
"Nggak usah...!" sahut Dara yang langsung menghentikan gerakan Bara.
"Susah bener sih." gerutunya membuat Bara menghela nafas panjang.
"Biar aku bantu Dara."
"No...!" Bara hanya memandangnya pasrah karena ia tak ingin membuat Dara semakin tak nyaman padanya.
"Ini kenapa macet gini sih." Bara tak sabar dengan sikap ngeyel Dara, ia berniat membantu tapi malah membuat keduanya sama-sama terkejut.
Cup...
Lagi. Kedua bibir itu menyatu lagi.
Melihat Dara yang nampaknya belum menyadari situasinya, membuat Bara memanfaatkan kesempatan itu.
Ia melumat bibir gadis itu, menyecapnya merasakan manisnya rasa aroma buah bery yang membuat Bara melayang terbuai olehnya.
Bara masih betah melumatnya, lalu ia menggigit bibir bawah Dara hingga gadis itu memekik tapi tertahan karena Bara langsung menyusupkan lidahnya dan mengabsen deretan gigi Dara hingga lagi-lagi mengulum bibir gadis itu meskipun tak ada balasan dari Dara.
Bara pun mengakhiri ciumannya, ia menatap lekat mata Dara yang nampaknya masih linglung membuat perasaan Bara jadi tak karuan.
"Dara? Dara? Hey?" Bara melambaikan tangan di depan wajah Dara tapi gadis itu nampaknya masih betah melinglungkan diri.
"Dara? Dara?" panggil Bara lagi, lalu menggoyangkan sedikit pundaknya berharap manusia linglung di hadapannya sadar.
"Dar-"
Plaakkk... tamparan keras mendarat di pipi kiri Bara.
Ia langsung menatap gadis di hadapannya dengan tatapan terkejutnya tapi langsung merasa dirinya naif karena melihat mata sang gadis sudah basah bercucuran air mata.
"Dara..." ujarnya lirih.
"Maafkan aku... Aku, aku-"
"Kamu benar-benar berengsekkk." maki Dara tak membiarkan Bara menyampaikan penyesalannya.
Dirinya langsung turun dari dalam mobil Bara, dengan satu kali hentakan mengurai kaitan sabuk pengamannya dan lari masuk ke dalam rumah kecilnya.
Bara menunduk, ia sangat membenci dirinya sendiri untuk sekarang.
Kenapa otaknya selalu melenceng untuk mencicipi semua yang ada di gadis itu, meskipun selama ini dirinya selalu merasa tak tertarik dengan makhluk lawan jenisnya.
"Apa yang lo perbuat Bara..." ia menghantuk-hantukan kepalanya di belakang sandaran.
"Benar kata dia. Lo itu berengsekk....." ujarnya lirih, lantas menatap kembali rumah tersebut, dimana Dara menghilang di balik pintu kayu itu.
Turun menghampirinya itu tidak mungkin, apalagi mengingat raut wajah kecewa gadis itu membuat hatinya terasa tercubit. Ia akhirnya memutuskan kembali pulang ke rumah. Rasanya begitu tak sabar dirinya ingin menemui Bimo, lelaki yang berperan penting menanam benih dirahim ibunya.