Imbas atau impas?

1232 Kata
"Pa..." "Hmm...?" Bimo mendongak menatap putranya, ia lantas memeriksa ponselnya memastikan sekarang pukul berapa. "Kamu bolos bang?" "Bara mau bicara sesuatu sama papa." ujarnya tanpa menjawab pertanyaan papanya. Bimo mengerutkan alisnya, ia lantas menutup laptopnya dan beranjak dari kursi kerjanya. "Duduklah." ujar Bimo sambil mengendikan dagu ke arah sofa di depannya ia duduk. Bara menurut, ia meletakan tas ranselnya di lantai lantas berdeham dan duduk berhadapan dengan sang papa. "Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" suara berat Bimo yang tenang membuat Bara memaku tatapan matanya, sejenak ia ragu dengan pemikirannya tadi. Namun setelah sekelibat wajah Dara yang menangis kecewa dengannya membuatnya yakin untuk mengutarakan isi hatinya. "Bara setuju sekolah di UK." Bimo tak terkejut, ia mengangkat satu alisnya lantas terkekeh pelan. "Boleh papa tau apa alasannya?" Bara menghela nafas panjang, gemuruh di hatinya membuatnya ingin sekali menjerit dan menerima tamparan keras dari sosok yang menjadi idolanya. "Bara baru saja melakukan pelecehan. Dia gadis satu sekolah Bara, dan dengan lancangnya Bara menciumnya tanpa ijin darinya pa..." ujarnya lirih, kepalanya menunduk bukan karena malu dan takut di bully oleh papanya. Tapi dia sangat menyesali perbuatan yang ia lakukan pada gadis yang sudah mengacak aduk perasaannya. "Cium?" ujar Bimo memastikan. "Iya pa..." "Terus gadis itu menangis?" "Iya pa..." "Mengumpati kamu karena kecewa dan akhirnya kamu menyesal?" "Iya pa..." Sebenarnya ini adalah sesuatu yang biasa dan lucu menurut Bimo, hanya saja saatnya tidak tepat. Ia benar-benar ikut merasakan apa yang putra sulungnya alami. Bara yang biasa ketus dan datar, mendadak murung dan seolah meminta sebuah pertolongan darinya. "Kamu sudah minta maaf padanya bang?" ujar Bimo dengan nada pelan. "Sudah, tapi itu tak membuatnya mudah memaafkan Bara." Bimo terkejut melihat putranya itu menitikan air mata saat putranya kembali menatapnya. Hatinya ikut terasa tercubit mengetahui betapa kacaunya perasaan putra sulung kebanggaannya. Bimo menghela nafas panjang, tubuhnya mencondong dengan siku tangan bertumpu di atas kedua pahanya. "Dengar...!" Bimo menatap lekat wajah Bara. "Papa senang mendengar kamu ingin sekolah di sana, dan nantinya melanjutkan memimpin perusahaan papa." dirinya diam sejenak membaca situasi apakah Bara mampu mencerna perkataannya. "Hanya saja papa tidak ingin, kalo kamu menghindari kesalahanmu." Bimo beranjak dari duduknya, lantas mengambil sebotol air mineral di kulkas lantas menyodorkannya ke Bara. "Minum dulu, agar perasaanmu tenang." Bara menerimanya, ia langsung menegak habis air tersebut. Nafas terengah-engah, punggungnya bergetar karena dia sekarang menangis sejadi-jadinya. "Maafkan Bara pa, maaf..." Bimo tersenyum mendengar itu, ia menepuk pundak Bara karena dirinya bangga dengan pemikiran Bara yang mau mengakui kesalahannya. "Carilah dia, dan mintalah maaf agar rasa bersalahmu berkurang." Bimo mendeham, ia sendiri akan selalu merasa hutang maaf kepada istrinya bila mengingat kelakuannya dulu. "Papa akan memikirkan keputusanmu yang ingin sekolah di England, kamu mandilah dan beristirahatlah." Bara mengangguk, ia menyeret tas ranselnya dan keluar dari ruang kerja papanya. Setelah menutup pintu kayu itu, Bara merogoh saku celananya dan mencari nomor telepon milik Dara. "Benar kata papa... Gue musti mendapatkan maaf darinya." ujarnya sungguh-sungguh. Bara berlari menuruni tangga, ia bahkan tak mempedulikan seruan Riana terus memanggilnya. "Abang...!" seru Riana begitu ia tahu putranya sempat pulang ke rumah. "Kenceng banget desahnya sayang.." Riana yang tahu tangan siapa yang memeluk pinggangnya karena mendengar suara berat membisiki dirinya, ia menginjak kaki lelaki di belakangnya dengan keras, lalu menghentak lengannya yang nakal mencubit ujung putingnya. "Arrrghhh sakit yank." Bimo mengaduh kesakitan, tapi Riana malah berlalu meninggalkan nasibnya yang malang. "Semakin tua, mesumnya makin parah aja." Riana menggerutu sebal. "Nggak malu apa kalo ada yang liatin tingkahnya, aaahhh..." ia tidak sedang mendesah, tapi itu pekikan kencang Riana karena tubuhnya melayang yang sudah berada dalam gendongan sang suami. "Turunin nggak?" bentaknya sambil memukul pelan d**a Bimo. "No..." "Mas malu mas." Bimo menggeleng tak menghiraukan ancaman istrinya akan ini dan akan itu padanya. "Turunin. Ah..." tubuhnya sudah mendarat di ranjangnya, saat Bimo melemparnya pelan. "Dasar gila." "Apa kamu bilang yank?" Bimo melotot, tapi itu tak membuat Riana takut. Ia turun dari ranjang tapi tak lama tubuhnya kembali terlempar di ranjang. "Riri mau masak mas, ish..." Bimo bak kesetanan, dirinya mengikat tangan dan kaki Riana dengan dasi lantas mengambil gunting dari dalam laci. Sreeekkk... Sreekkk... Krek, krek, krek... Riana melotot, daster serta pakaian dalamnya menjadi korban praktek desain fashion oleh Bimo. "Apa yang mas lakukan! Lepasin nggak." serunya sambil meronta-ronta. Hatinya sedikit ngeri saat Bimo menggunting semua kain yang menempel di tubuhnya. Sudahlah, kondisinya sekarang layak dikatakan seorang gadis tak berdaya yang di perkosaa oleh om om tampan hidung belang. Riana hanya bisa pasrah mendesah menerima kelakuan Bimo yang gila menggagahinya seperti ini. Suaminya itu memang gila, tapi dia suka. "Ini hukuman buat istri yang ngatain suaminya gila." ujarnya kemudian mengerang panjang karena ia mencapai titik puncak kenikmatan. "Alasan, emang dasarnya mesum." Bimo terkekeh melihat raut wajah istrinya yang berlagak garang. Ia gemas dan hendak menyerang Riana harus gagal karena Bara masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. "Abang kalo masuk ketuk pintu, bisa nggak?" ujar Bimo sebal karena putra sulungnya malah berjalan mendekati dia dan Riana yang sedang menutupi tubuh polosnya menggunakan selimut. "Bara nggak sabar kalo harus nunggu papa untuk selesai di permainan kedua." "Lagian ada apa lagi?" ujar Bimo sewot. "Ajarin Bara ngerayu gadis pa." Riana melongo, sebenarnya ia malu saat putranya harus memergoki dirinya seperti sekarang ini. Tapi ia tak kalah terkejut mendengar Bara berbicara seperti itu. "Kamu yang berbuat salah, kenapa harus papa yang ngajarin?" ujar Bimo sambil menyeringai. "Jadi papa nggak mau bantu?" "Ogah." "Oke." Bara beranjak dari tempatnya tapi berhenti di bibir pintu. "Ma, mama jangan mau di ajak papa bermain di kamar lagi. Karena papa memasang kamera kecil di nakas, dan papa akan memutar kembali video kalian di ruang kerjanya." Setelah mengatakan itu, Bara pun menyeringai menatap wajah Bimo yang ketakutan. Ia menutup pintu kamar orang tuanya tersebut dan keluar untuk melanjutkan misinya demi merayu gadis yang menjadi pujaannya sekarang. "Minggir..." Riana mendorong tubuh Bimo saat Bimo mengeratkan pelukannya. "Yank, yank. Abang cuma bercanda yank, masa gitu aja kamu percaya sih yank." ujarnya memelas. Riana meliriknya tajam, sembari memakai daster yang baru ia ambil dari dalam lemarinya. "Karena putra kita selalu berkata jujur, nggak kaya papanya." "Yank..." "Mulai malam ini, Riri tidur dengan Ai." "Mana bisa begitu." ujarnya tak terima dengan keputusan istrinya. "Terserah...!" BLAMM... Riana menutup keras pintu kamarnya, membuat Bimo mengacak rambutnya gemas. "Haish, baru aja dapat jatah dua kali. Masa kudu puasa lagi sih." gerutunya meratapi nasibnya sendiri. "Ini semua gara-gara abang, awas aja nanti kamu bang." gumam Bimo. "Aaarrghhh, sebenarnya anak siapa sih abang ni. Apa dia nggak kasian liat papanya harus merana begini." Bimo merengek sendirian di kamarnya, ia benar-benar sebal dengan kelicikan putranya bila dia membuat Bara jengkel karenanya. Salah siapa mengganggu kesenangannya, pikir Bimo. Tapi ya jangan membalasnya begini lah, ujarnya kesal dalam hati. Sudahlah, di dalam rumahnya hanya Bara seorang rival sepadan baginya. Sialan memang. "Awas kamu bang, tunggu pembalasan dari papa." ujar Bimo yang kembali merengek sambil memandangi juniorrnya begitu malang. Juniorr sayang juniorr malang harus terkena imbas perbuatan kedua lelaki beda generasi itu. Di tempat yang lain di waktu yang sama, Bara bak kesetanan setelah melihat pemandangan di depannya. "Fuck... fuck.... fuck..." umpatnya marah saat melihat Dara di peluk oleh seseorang yang tak di kenalnya. "Lo menolak gue, tapi lo malah asik-asikan pelukan dengan orang lain, cih." Matanya menggelap karena amarah, ia menggengam setir kemudinya erat-erat. "Lihat saja, sampai mana lagak lo yang sok menolak gue. Dasar kutu buku tak tahu diri." gumamnya lantas melajukan kendaraannya meninggalkan tempat tinggal Dara tanpa sepengetahuan gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN