Bukan rahasia lagi, setelah hari dimana Bara mengungkapkan bahwa dirinya menyukai Dara. Seluruh pelajar yang bersekolah di sana menatapnya penuh permusuhan, karena gadis yang di juluki kutu buku itu mampu menjerat hati sang pangeran sekolah.
Hari dimana sebelum itu, Dara masih bisa melaluinya meski itu begitu berat belum di tambah pukulan hinaan cacian yang di alaminya tak seberat dengan hari setelah Bara mengganggunya.
Dara bak mayat hidup, bully'an bak lalat buah yang silir berganti menghantuinya.
"Punya mata nggak sih...!?" ujar seseorang ketus, saat Dara yang jalan lempeng tiba-tiba ada sesuatu menghalangi kakinya.
"Ma-maaf..." ya... Hanya itu yang mampu ia utarakan, beralasan apapun tak akan membuat mereka puas. Yang ada malah gunjingan tak jelas dan itu sunguh menyakiti perasaannya.
"Cih, dasar culun.." mereka berlalu dari hadapan Dara, tapi tak ketinggalan dengan tangan yang menoyor kepalanya.
Apa yang harus ia perbuat sekarang?
Ya, dia harus sabar. Karena tiga bulan lagi mereka akan melewati masa dimana para murid kelas akhir merayakan kelulusannya.
"Pagi..." Dara menoleh ke samping, ia tersenyum dan memperbaiki letak kaca matanya yang bertengger di hidung mancungnya.
"Pagi kak..." Dara pun melangkah cepat, sebelum para dedengkot sengkuni mengelabui dirinya.
"Kok buru-buru, nanti jatuh lagi loh."
"Haha." gadis itu tertawa garing, ia hanya merasa tak nyaman dengan pemuda yang selalu baik dan ramah kepadanya.
"Sudah sarapan?"
"Sudah kak, makasih." sahut Dara.
"Sarapannya apa?"
"Huh?" Dara menoleh tak mengerti dengan pertanyaan pemuda itu.
"Haha lupakan, hanya saja aku belum sarapan." gadis itu mengangguk dan ber'O' ria.
"Kalo gitu kakak buruan ke kantin, sebelum jam masuk kelas."
"Nggak mau ah, males."
"Kok gitu?" tanyanya heran.
"Karena nasi goreng di sana tak se mantap masakanmu, hehe."
Tak tahu kenapa, hanya sebuah pujian kecil terlontar dari mulut pemuda di sampingnya, membuat Dara tersipu malu.
"Kayaknya enak deh kalo pagi sarapan nasi goreng buatan kamu."
"Kakak mau Dara bikinin?" pemuda itu tertawa renyah dengan pertanyaan Dara.
"Aku hanya bercanda, cantik." ujarnya lantas mengacak pelan puncak rambut kepalanya.
"Nggak papa kok kak, Dara seneng kalo kakak mau dan suka."
"Terus kamu suka nggak sama aku?"
"Ya?" tanya Dara tak mengerti arah pembicaraannya.
"Hahaha, kamu benar-benar menggemaskan Dara." ujarnya terkekeh pelan.
"Kalo gitu aku duluan ya..." Dara mengangguk, ia tersenyum memandangi punggung pemuda yang sudah melangkah jauh di depannya.
"Benar-benar murahan." sontak ia menoleh ke arah sumber suara itu, nampak Bara yang berlalu melewatinya dengan wajah dinginnya.
Dara menghela nafas panjang, setelah hari dimana dirinya di cium oleh pemuda itu di dalam mobil. Yang harusnya ia marah kepadanya, itu malah berbalik cerita karena Bara seolah tak mengenalnya lagi bahkan menganggapnya tak ada.
"Apa yang lo liat kutu buku? Lo benar-benar berharap Bara menyukai lo?"
Mulai lagi....
Apa salahnya memiliki mata hanya untuk memandang pemuda tampan pujaan mereka.
Dara tak menghiraukan segerombol gadis cantik yang selalu langganan membully dirinya.
"Si kutu buku nggak akan selevel dengan kita."
Masih bisa di dengar jelas cacian mereka terhadapnya, ia semakin melangkah cepat karena berada di dekat para gadis cantik tadi akan berpotensi mati cepat karena serangan jantung tak bahagia.
"Kamu harus kuat Dara, pertahankan perasaan tak peduli dengan cemoohan mereka." ujar Dara menyemangati dirinya sendiri.
"Dua bulan lagi ujian, dan setelah itu kelulusan membebaskanmu dari mulut pedas mereka."
Ia mengatur nafasnya berkali-kali dan di rasa perasaannya tenang Dara keluar dari kamar mandi, segera masuk ke dalam kelasnya.
*****
"Bara kemana guys?"
Bagas yang baru gabung dengan mereka dengan membawa banyak makanan di tangannya pun membiarkan berserakan di meja kantin hadapan mereka.
"Tuh dia jalan kemari." mereka menoleh ke pintu masuk kantin, nampak Bara dengan buku di tangannya.
Selain tampan, Bara memang merupakan salah satu murid yang rajin dan menonjol bila berhubungan dengan study.
Bagas tersenyum dan melambaikan tangan, " woy sini bro."
Bukannya menghampiri mereka, Bara malah duduk di samping gadis yang memunggungi mereka seolah mereka nampak akrab.
"Ba-bara." Jessica terkejut melihat pemuda yang ia taksir duduk di sebelahnya.
"Dengar..." Jessica memandangi lengan yang melingkar di pundaknya, seharusnya ia suka karena Bara mau bersentuhan denganya.
Tapi melihat raut wajahnya yang dingin, membuat sekujur tubuhnya merinding ketakutan.
"Ba-bara ada yang mau lo omongin?"
"Lo pasti cukup pintar buat mengingat ucapan gue dulu." ujarnya mendesis tepat di telinganya. Mungkin dari sudut pandang lain, mereka terlihat mesra dan seolah memiliki hubungan khusus karena Bara tak menunjukan rasa angkuh dan tak suka terhadapnya.
"Apa maksud lo?"
"Ck, gue harap lo nggak lupa. Dan-"
Pemuda itu meraih jemari tangan Jessica lantas menggenggamnya dan meremasnya pelan seakan ia mengaggumi jemari lentik mulus Jessica.
"Gue nggak pengen, jemari lo putus karena masih saja mengganggunya."
Dingin, ucapanya dingin bak es menusuk jantung. Sorot mata tajam penuh peringatan, sangatlah jelas bahwa itu sebuah ancaman.
"Ngomong apaan sih lo, nggak jelas banget haha." Jessica menarik paksa tangannya yang sudah di remas keras oleh Bara, ia kesakitan dan berusaha menampilkan wajah baik-baik saja.
"Wah kalian berdua serasi banget." ujar siapa saja yang memuji kebersamaan mereka.
Bara tersenyum tipis, ia lantas beranjak dari duduknya tapi kembali membisiki sesuatu ke Jessica.
"Camkan itu...!" Bara membelai rambutnya dengan gerakan sayang, lantas menepuk pipinya dan tersenyum menyeringai.
"Lo pacaran sama tu cewek?" ujar Wilson pelan dengan semangkok bakso di tangannya mengiringi langkah Bara yang hendak menyusul ketiga temannya.
Apapun yang Bara lakukan selalu menjadi pusat perhatian siapapun.
"Tidak."
"Terus ngapain lo cium-cium dia?" Bara hanya terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu.
"Sudahlah, gue lapar." Wilson mengangguk ia pun bergabung dengan ketiga sahabat lainnya yang sudah duduk manis menunggu kepala suku mereka.
"Lo semua nggak lupa kan, ntar malem kita bakal ke cafe." ujar Wilson.
"Sorry bro, gue nggak bisa."
Bara menatap Danang yang seolah canggung karena membatalkan janji mereka.
"Emang lo ada acara apa nanti?"
"Gue musti ke perpustakaan kota."
Pruuttt... Uhuk,uhuk...
"Lo tadi bilang apa?" ujar Rafael yang sudah merasa tenang akibat tersedak.
"Ke perpus."
"Sejak kapan lo main ke tempat begituan."
"Sejak gue tertarik sama seseorang." ujar Danang malu-malu.
"Wuah lo lagi kasmaran bro?" ujar Fikri antusias lantas tepuk tangan.
"Akhirnya putra desain kita kenal cewek juga guys." serunya meski terlihat mengejek tapi dalam hati ia juga merasa bangga.
"Berengsekk lo."
Mereka terkejut saat Bara tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya, "Eh lo mau kemana."
Tak ada jawaban dari Bara, sungguh membuat keempat sahabatnya itu tak mengerti kenapa kepala suku mereka nampak seperti tak baik-baik saja.
"Dia kenapa sih?" tanya Fikri menatap Rafael, Wilson serta Danang bergantian. Tapi mereka hanya mengendikan kedua bahunya tak mengerti juga.
*****
"Nanti malam kamu, aku jemput."
"Huh? Maksudnya?"
"Nanti malam ikut aku pergi." Dara mengerutkan alis tak mengerti menatap Bara.
"Dan kamu harus mau, karena ini perintah bukan ajakan." ujar Bara tegas dingin menusuk.
"Apa sih maksudnya, nggak jelas banget." Dara menggelengkan kepala tak percaya dengan maksud dari kata Bara, yang tiba-tiba saja mengajaknya pergi.
"Jangan pergi dengan siapapun, karena jam lima aku akan memjemputmu." Bara berlalu setelah mengatakan itu, ia tak peduli dengan ekspresi Dara yang melongo karena tak paham dengan tujuan Bara.
"Emangnya dia siapa, se'enaknya saja ngatur-ngatur orang." ujarnya tak percaya dengan sikap Bara tadi.
"Dasar cowok tukang perintah." gerutunya.
deg...deg...deg...deg...
Selalu begini, bila dirinya berdekatan dengan Bara maka reaksi jantung Dara akan berdetak gemuruh tak karuan.
Dara mengatur nafas berkali-kali, mengontrol perasaan kurang ajar ini yang dia yakini bahwa dirinya memang mengagumi Bara. Pemuda dingin, aneh, yang kalau bicara seolah tak memikirkan perasaan orang lain.
"Tenang Dara, anggap aja tadi cuma bayangannya saja. Huuufffttt." ia meniup anak rambut yang menutup jidatnya, lantas kembali merangkum sebuah catatan yang nantinya akan dia jadikan sebagai bahan untuk les privat kepada anak-anak seangkatan atau adik kelasnya.