Rasanya kepala Dara ingin pecah.
Bara benar-benar menjemputnya di waktu yang ia janjikan. Meskipun Dara menolaknya, tapi tak membuat Bara langsung urun dan tak mempedulikan penolakannya.
Bahkan pemuda itu tak malu hanya untuk menyapa mandor ibu, serta ibunya sendiri yang sedang mencuci sayuran di lahan kebun tetangga mereka.
"Terima kasih bu, sudah memperbolehkan saya menjemput Dara." ujar Bara manis kepada ibu.
"Iya... Duh, gantengnya kamu nak. Ya sudah sana buruan, keburu malem. Dan ingat jangan pulang malam-malam." ujar ibu dengan tangan melambai seakan mengusir dia serta Bara dari hadapannya.
"Tapi bu, Dara-"
"Sudah, sana... Ibu lagi repot bantu mandor ibu ni." sahut ibu Dara yang menunjuk setumpuk sayuran bayam yang sudah terikat beberapa, nampak banyak tanah liat yang menempel di akarnya.
"Kalo gitu, Dara pergi dulu bu." pamit Dara lantas meraih tangan ibunya untuk di cium, Bara yang di belakangnya pun ikut mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Kami permisi bu, pak, mari." Bara menunduk sebentar dan tersenyum menatap mereka.
"Iya ati-ati..." sahut mereka.
*****
"Kakak apa-apaan sih? kasihan kan dia." Bara tetap diam dengan lengan merangkul pundak Dara.
"Kamu mau jagung bakar?" bukannya menjawab gerutuan Dara, Bara mengurai pelukannya lantas menggenggam jemari Dara. "Duduk di sini dulu kalo kamu capek."
Dara menghela nafas panjang lalu mengangguk, ia menurut saja ketimbang melihat Bara bertingkah lagi dan memukul orang tak bersalah lagi.
"Wah gantengnya...." Dara menoleh ikut memandang arah seseorang yang mereka maksud, sudah jelas dan pasti itu adalah Bara.
"Gue udah cantik belum?" tanya salah satu dari mereka, sambil merapikan rambutnya.
"Udah-udah."
"Sip..."
Berjalan penuh percaya diri, menghampiri Bara yang sedang mengantri di depan penjual jagung bakar.
"Hai..." dengan senyum andalan gadis itu berdiri menyapa di sebelah Bara. Tapi sang pangeran yang di gadang-gadang, sama sekali tak menggubrisnya.
"Boleh kenalan nggak?" ujarnya dengan nada suara lemah lembut, matanya begitu berharap Bara akan menyambut jabatan tangannya.
Tapi memang pada dasarnya Bara seperti papanya, sikapnya akan semakin dingin kepada para gadis yang terang-terangan mengejarnya.
"Sendirian ya?" Bara berlalu saja dengan jagung bakar di tangannya.
Tapi gadis itu tetap saja membuntutinya, melihat Bara diam dan berjalan santai di sampingnya bahkan tak menunjukan respon penolakan apapun. Hal itu membuat dirinya bersikeukeuh ingin berkenalan dengan Bara si pemuda tampan malam ini..
"Apa kamu sudah punya cewek kak?"
"Berengseekkk..." ujar Bara.
"Apa?" matanya terbelalak saking terkejutnya saat Bara meresponnya dengan umpatan kasar lalu melempar jagung bakar sembarangan yang tadi pemuda itu beli.
"Apa mak-"
"Lepaskan dia." seru Bara lagi.
Percayalah, gadis yang tadi merasa ia maki pun seolah di kacangin karena Bara sudah berancang-ancang memukul seseorang yang ia sendiri tak tahu siapa mereka. Sudahlah menyerah saja, pikirnya. Dan ia memutuskan kembali ke sekelompok gadis berpenampilan rainbow cake, yang datang bersamanya.
"Gue bilang lepaskan dia." seru Bara lantas menarik kasar sosok pemuda yang memeluk Dara, hingga pemuda itu terjungkal dan terkejut melihat ekspresi tak biasa Bara.
"Bro? What the hell are you doing?" ujarnya sambil mengusap siku tangan yang lecet karena terbentur lantai.
"Lancang sekali lo peluk dia?" Bara langsung menarik pergelangan Dara dengan tatapan dingin.
"Bro? Lo?" Danang terkejut bukan main, ia memandangi jemari yang sudah bertautan serta tatapan penuh amarah dari sahabatnya tak lupa juga perlakuan kasar terhadapnya.
"Kalian?" Danang bangkit dan berdiri sambil mengusap wajahnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya bertanggar di pinggang. Ia tertawa pelan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, rasanya ingin menertawakan dirinya sendiri karena selama ini tak pernah menyadarai akan hubungan kedua pasangan itu.
"Sejak kapan kalian berhubungan Dara?"
"Saya, saya. Kak biar Dara jelasin-"
"Bukan urusan lo." Bara tak membiarkan Dara menyelesaikan pembicaraannya dengan Danang, hatinya terasa terbakar mendengar Dara ketakutan seolah gadis itu sedang kepergok selingkuh.
"Bro...! Brooo...! Baraaa....!" seru danang dari kejauhan, tak membuat Bara menoleh atau menghentikan langkahnya.
"Lepaskan saya."
Sedangkan Dara. Dirinya mencoba melepaskan cengkraman jemari Bara di pergelangan tangannya dengan meronta dan tangisnya.
"Lepas.... Hiks, hiks." Bara seakan tuli, amarahnya memuncak melihat makna dari tatapan Dara ke Danang.
Ia sangat amat tahu bahwa gadis yang ia inginkan begitu mengagumi sahabatnya.
Dengan langkah kakinya yang lebar ia menarik paksa Dara seakan menyeret domba peliharaan.
"Masuk....!" seru Bara karena Dara seakan menolak di dorong masuk ke dalam mobilnya.
"Lepas kak." ujarnya lirih dengan mata basah memohon menatap Bara.
"Masuk...!"
"Bro..." Bara langsung menoleh ke belakang memandang tangan seseorang yang sudah memegangi lengannya.
"Jangan kasar, kasar lah bro. Kasian dia." ujar Danang, nafasnya terengah-engah karena mengejar langkah Bara.
"Singkirkan tangan lo!"
"Bro..."
"Gue bilang sing-kir-kan ta-ngan lo...!" mata Bara menggelap menatap Danang yang nampak khawatir dengan gadisnya.
Ya...
Bara sudah memutuskan bahwa Dara adalah miliknya, gadisnya, dan tak seorangpun boleh menyentuhnya atau menaruh rasa pada Dara.
Gila memang, tapi itulah Bara.
Terlahir dari darah keturunan Prasodjo, yang akan bersikap posesif dan bahkan menyingkirkan apapun tanpa ampun bagi siapapun yang berani menghalanginya. Terdengar keji, dan berlebihan. Tapi masalah perasaan bagi mereka bukanlah tipuan atau omong kosong belaka. Karena lelaki yang terlahir dari keturunan Prasodjo berani bersaing dan menyakiti siapapun demi mendapatkan perempuan yang ia cintai. Kecuali, mereka harus bersaing dengan saudara yang sesama Prasodjo maka bersikap diam dan membiarkan perempuan memilih pujaan hatinya siapa diantara mereka.
Lihat lah sekarang.
Bara bahkan sudah meninju wajah tampan sahabatnya, karena merasa muak dengan sikap sok pedulinya terhadap Dara.
"Lo kasar banget hah? Lo nggak kasian lihat dia nangis." seru Danang yang sudah tersungkur menerima pukulan bertubi-tubi dari Bara, ia sungguh tak percaya dengan sikap berlebihan Bara yang terlalu cemburu padanya.
"Okay, fine....!" ujarnya mengangkat tangan dan berusaha bangkit berdiri menghadap Bara, matanya melirik sejenak keadaan Dara yang sudah menangis menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
"Gue pergi." Danang menghela nafas panjang dan menepuk pelan pundak Bara.
"Jangan kasar dengan cewek atau membentaknya, itu membuat mereka takut bro. Dan ingat jangan sakitin dia lagi, karena lo pasti tau kalo gue tertarik padanya makanya lo ajak dia pergi disaat gue udah punya janji sama dia buat jalan bareng malem ini."
Danang hendak pergi dari hadapan Bara, tapi ia berjalan mendekat dan memaku tatapan amarah Bara tanpa menunjukan rasa takut sama sekali.
"Gue cinta sama Dara, dan gue harap lo jaga dia baik-baik. Karena kalo nggak, gue tak segan merebut dia dari lo." Danang memutar badan dan melangkah menjauhi Bara yang sudah semakin marah karena api cemburu.
Setelah itu, entah kemana Bara membawa gadisnya pergi. Tapi yang jelas, usai ia menelepon mandor ibu Dara agar menyampaikan pesan dengan nada suara sopan hingga memastikan mendapat kepercayaan dari orang tua Dara. Bara melajukan mobilnya jauh bahkan keluar dari perbatasan kota.
"Kak Bara, kakak mau bawa saya kemana?" diam, Bara sedari tadi hanya diam dengan mata fokus memandangi jalanan.
"Kak-" ucapannya terpotong sendiri saat matanya menangkap bangunan indah yang berdiri kokoh di tengah-tengah perkebunan teh.
"Malam den Bara." Bara mengangguk dan memarkirkan mobilnya di teras rumah tersebut.
"Turun!"
"Huh?"
Bara tak sabar dengan respon lelet dari gadis itu, ia pun menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Kakak turunin kak." rengek Dara yang sepertinya sudah lelah menangis dan meronta. Tapi tetap sama, reaksi datar dan kaku Bara tak menjawabnya hanya tetap menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Ka-kak Bara, ini sudah larut malam. Ibu saya akan mencemaskan saya." Dara gugup bukan main, pasalnya Bara membawanya masuk kamar dan mengunci pintu.
Setelah menurunkannya dari gendongannya, pemuda bertubuh tinggi itu terus berjalan mengikutinya. Tapi Dara menghindari, maka ia berjalan mundur dan was-was tak membiarkan Bara mendekatinya.
"Aaahh..." Dara tersentak saat kakinya tersandung dan membuatnya jatuh hingga tidur terlentang di ranjang empuk.
"Kak Bara..." ujarnya lirih dengan tangan yang menahan d**a Bara yang sudah merangkak di atas tubuhnya.
"Kak minggir, jang-" Bara membungkam bibir Dara, ia mencium gadis itu kasar. Dirinya tak peduli Dara memukul pundaknya mencubitnya bahkan menjambak rambutnya.
Bara semakin lancang merobek baju yang di kenakan Dara, gadis itu tentu terkejut masih berusaha meronta agar Bara tak bertindak jauh lebih dari ini.
"Kak, jangan kak..." Bara benar-benar kalap, dirinya mencumbu Dara dengan kasar ia bahkan sudah menelanjangi tubuh Dara dan dirinya sendiri pun juga.
"Kak.... Jangan kak." kekuatan Dara tak seimbang dengan pemuda yang menjamah tubuhnya, dirinya menangis kencang dan meminta tolong kepada siapapun berharap seseorang menghentikan kegilaan Bara.
"Jangan kak, jangan. Aaarrghhh." Dara menjerit kesakitan, Bara memasukan kejantanannya yang sudah berdiri tegak keras dan kokoh ke bagian intim Dara yang sangat sempit begitu kasar tanpa ampun.
Bara menumbuknya dengan kasar, ia seperti kesetanan meskipun telinganya mendengar Dara memohon dan menangis hingga beberapa menit kemudia gadis itu mendesah erotis karena Bara menggoda setiap bagian intimnya.
Keduanya mencapai puncak pelepasan dan Bara rubuh diatas Dara yang juga terengah-engah sedikit erangan. Tapi tak lama kemudian Dara tidur terlelap dengan Bara yang sudah memeluknya dari samping.
"Nggak akan ada yang memiliki kamu sayang, selain aku." ujar Bara begitu lembut menatap Dara yang terlelap di dadanya, ia mengecup dalam kening Dara dan akhirnya ikut terlelap menyusul gadis pujaannya.