"Dara!?"
"Bangun Dara..." seseorang menggoyang pelan pundaknya karena Dara terlelap begitu pulas dengan posisi kepala bersandar di atas meja.
Tubuh Dara langsung menegap, sedangkan mata Dara berkedip-kedip seperti orang linglung.
Dimana aku..? Pikirnya.
Dia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Sudah sore, anak-anak lain sudah pada pulang karena sekolah sudah mau tutup." ujar lelaki paruh baya itu sambil menutup jendela kaca.
Dara tersentak dan langsung menoleh ke arahnya. Seketika sirine dalam dirinya langsung berputar mengingatkannya bahwa apa yang dia alami baru saja itu tidak nyata.
"Makasih pak Asep, maaf Dara ketiduran." penjaga sekolah itu tersenyum tipis lantas keluar dari perpustakaan.
"Huffftt.. Ternyata cuma mimpi." gumam Dara saat memeriksa penampilannya dan menatap jam dinding di atas pintu.
Selepas kepergian Bara yang menghampirinya dan mengatakan hendak menjemputnya tadi, Dara kembali melanjutkan catatannya. Mungkin karena akhir-akhir ini ia pulang larut malam karena memberi les privat kepada adik kelasnya membuatnya capek dan mengantuk. Hingga tak terasa ia tertidur di perpustakaan usai sekolah di bubarkan tadi dan terbangun di waktu yang sudah menunjukan pukul lima sore.
Dara mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lantas merapikan barang-barangnya yang akan di bawa pulang.
Tanpa memikirkan hal lain, dia pun berniat langsung pulang ke rumah, takut ibunya mencari.
"Kenapa nggak bilang, kalo tema kencan kita hari ini adalah seorang pelajar!?" ujar seseorang begitu datar membuat Dara melonjak karena kaget mendengar suara berat yang berasal dari balik gapura sekolahan.
"Ya ampun... Ngagetin aja tau nggak." ujarnya mengusap dadanya sendiri sambil menatap tajam Bara yang berdiri menyandarkan punggungnya di tembok.
Mata Dara baru menyadari untuk pertama kalinya kalau pemuda yang di berdiri di depannya telah memakai pakaian santai karena mereka tak pernah bertemu di luar sekolah.
Bara dengan penampilan begitu mempesona, tubuh tingginya yang hanya mengenakan kemeja casual berwarna merah dengan ketiga kancing paling atas terlepas menampilkan dadanya yang kekar sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, serta celana panjang kain warna hitam terkesan dewasa dan maskulin. Dara memandangi dari ujung kepala sampai kaki tanpa berkedip, sosok yang menjadi idola di sekolah itu memang pantas di idolakan karena dia benar-benar tampan.
Matanya yang tajam meski begitu datar saat menatap seseorang, alisnya yang tebal dan tertata rapi, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang merah dan berisi begitu seksi membuat Dara ingin mencicipinya dan mengulangi lagi ciuman untuk ketiga kalinya bersama dia.
Tiba-tiba saja sekelibat adegan panas dalam mimpinya tadi terpampang jelas beserta desahan dan suara decit ranjang yang membuat sekujur tubuh meremang. Wajah Dara langsung memerah tak kuasa menahan rasa malu yang begitu lancang berfikiran kotor bersama pemuda di hadapannya itu.
"Mesum."
"Huh, apa?" mendadak telinganya tuli, andai saja Bara tak mendorong pelan jidatnya dengan jari telunjuknya.
"Kamu... Mesum..." ujar Bara sedikit menunduk menjajarkan wajahnya dengan wajah Dara, hal itu membuat gadis yang di pandanginya begitu lekat menjadi salah tingkah.
"Si-si-siapa yang mesum." Ia mendorong pundak Bara agar sedikit menjauh lalu beranjak meninggalkannya.
"Pulang bersamaku."
"Nggak!" sahutnya.
"Dara..."
"Nggak, aku nggak mau!" Bara sontak menarik kerah baju Dara dari belakang.
"Apaan sih kak, sakit tau." seru Dara yang mencoba melepas cengkraman pemuda itu.
"Dara mau kan, pulang sama aku?" Bara mengulangi perkataannya lagi.
"Aku bilang nggak mau!" ujarnya penuh penekanan.
Apa kalian tahu? Sebuah penolakan yang Dara lakukan justru membuat Bara sangat sangat senang. Dirinya merasa bahwa Dara sepertinya sudah nyaman berada di dekatnya.
Kenapa begitu? Karena Dara sekarang tak berbicara formal dengannya, tanpa embel-embel saya melainkan aku.
"Kenapa nggak mau?" tanya Bara menuntut penjelasan setelah melepaskan kerah Dara.
"Karena males dan capek."
"Oke."
"Aaaaahhh... Kak Bara..." serunya saat tubuhnya kembali melayang karena Bara lagi-lagi membopongnya.
"Turunin nggak!" Bara menggeleng, ia melangkah begitu ringan tanpa merasakan berat sama sekali meskipun Dara meronta-ronta minta di turunkan.
"Kak malu kak..." rengek Dara.
"Kenapa malu?"
"Ya itu di lihatin mereka." ujarnya sambil menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya. Bara menoleh ke arah yang Dara maksud, tapi menurutnya tak ada yang aneh, hanya sebagian orang dengan tatapan sedikit heran serta iri kepadanya.
"Mereka itu sebenarnya pengen tapi nggak bisa." ujarnya tetap dengan nada datar.
"Siapa?"
"Yang katamu sedang lihatin kita." Dara lantas mengintip Bara dari sela-sela jarinya, meskipun hanya nampak rahangnya yang tegas, tetap saja tampan.
"Apa aku setampan itu?"
"Ya?" Dara menatap Bara tak mengerti, tapi saat pemuda itu menunduk dan membalas tatapannya ia kembali salah tingkah.
"Apa aku setampan yang ada di pikiranmu?"
"Si-si-siapa bilang kakak tampan?"
"Kamu."
"Kapan?" ujarnya tak terima.
"Barusan."
"Nggak, nggak... Aku nggak pernah bilang seperti itu." Dara menggeleng cepat membuat Bara terkekeh dengan keluguan gadis itu.
"Dasar bodoh, otak m***m, dan penipu ulung."
"APA? Apa yang kakak katakan tadi?" seru Dara.
"Siapa yang bodoh?"
"Kamu." sahut Bara.
"Siapa yang m***m?"
"Kamu." sahut Bara lagi.
"Siapa yang penipu."
"Kamu..." lagi-lagi Bara menjawab pertanyaan Dara begitu cepat, dan itu membuat Dara geram lantas mengigit d**a Bara yang nampak bidang, hingga lelaki itu meringis kesakitan karena gigi Dara begitu tajam seolah ingin merobek kulitnya.
"Lepasin Dara." gadis itu menggeleng.
"Sakit hey...!" tetap saja tak di lepaskan oleh Dara.
"Dara lepasin." lagi-lagi gadis itu menggeleng membuat Bara menghela nafas panjang dan menahan kesakitan.
Tapi lama-lama Dara merasa kasihan karena menggigitnya begitu keras, ia lantas menjauhkan wajahnya dari d**a Bara yang nampak sudah basah karena air liur yang keluar saat ia menggigit dadanya.
"Sudah menggilanya?" Bara menatap Dara yang meliriknya ketakutan, dengan bibir cemberut seolah kesal terhadapnya.
"Aku tadi sudah bertemu ibumu, dia sedang di rumah tetanggamu." Dara langsung mendongak menatap Bara dari bawah, karena pemuda itu masih betah menggendongnya.
"Kapan kakak ke rumah?"
"Barusan, makanya aku tau kalo kamu masih di sekolahan." Dara menggigit bibir bawahnya, di otaknya kembali berputar dengan kejadian yang ada dalam mimpi tadi. Hanya saja Bara menemui ibunya sendirian.
"Malam ini Dara ada les privat, jadi nggak bisa ikut kakak pergi."
"Kata siapa nggak bisa."
"Aku sendiri lah."
"Kenapa nggak bisa?"
"Kan tadi aku sudah bilang, kalo malam ini ada les privat."
"Siapa yang les?"
"Ya mereka, yang mau les privat." ujar Dara ragu.
"Siapa namanya?"
"Ummm itu, itu..."
"Jangan banyak alasan, aku tau malam ini kamu tidak ada acara." ujar Bara datar membuat Dara mendelik tak suka.
"Sebenarnya kakak siapa sih, sok tau banget." Dara kesal bukan main, sudah hampir setahun ia menghindari pemuda ini. Kenapa dia harus muncul lagi di hadapan Dara sih. Mana sukanya main perintah lagi.
Hal itu membuat Dara ingin sekali menjambak rambutnya lalu mengepangnya dan memberi karet kecil berwarna pelangi. Biar tahu rasa..!
"Aku Bara... Albara Erste Prasodjo." Dara mendecih tak suka dengan nada bicara Bara yang nampak percaya diri, seolah dia orang yang paling tampan. Meski kenyataannya begitu sih.
"Pokoknya aku nggak mau keluar malam ini, takut."
"Takut?" Dara mengangguk cepat membuat Bara mengerutkan alis tak mengerti.
"Takut kenapa?"
"Ya pokoknya takut."
"Beri alasan yang tepat Dara, jangan setengah setengah seperti ini."
"Nggak ada alasan yang lain, aku cuma takut terjadi sesuatu." ujar Dara sungguh-sungguh, semakin membuat Bara tak mengerti lantas menatap Dara penuh intens.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Iya ada."
"Apa itu? Bisa kamu beritahu aku?"
"Kakak yang mengganggu pikiranku." Bara terhenyak mendengar itu, alisnya menukik dan mengerut benar-benar tak paham dengan perkataan Dara.
"Bisa nggak kalo bicara yang pasti-pasti aja?"
Dara menghela nafas panjang lantas menatap Bara begitu tajam.
"Turunin."
"Nggak."
"Turunin kak."
"Nggak, sebelum kamu jelasin kenapa menolak ajakanku."
"Ya aku bilang kan takut."
"Itu bukan alasan yang jelas."
Dara seolah kehilangan akal menghadapi Bara yang pintar membolak balikan omongan.
"Okay, fine... Aku cuma nggak mau mimpiku jadi kenyataan." ujar Dara yang akhirnya mengutarakan uneg-unegnya.
"Mimpi?"
"Ya mimpi."
"Emang kamu mimpi apaan?"
"Mimpi begituan sama kakak." ujar Dara keceplosan, tapi detik berikutnya ia langsung menutup wajahnya karena malu di tatap Bara yang seolah ingin mengejeknya.
"Dasar mesum." ujarnya menyeringai.
"Nggak...!"
"Iya kamu mesum."
"Aku bilang nggak...!"
"Bocah m***m yang suka mimpi basah."
"Apaan sih kak." seru Dara yang membuat Bara tertawa terbahak-bahak tanpa mempedulikan orang lain dengan pandangan mereka yang menatapnya aneh.